UNTUK INDONESIA
Mendampingi Suami Suspect Corona di Semarang
Suami istri di Semarang ini melakukan perjalanan ke Singapura 9 hari. Dalam perjalanan pulang ke Indonesia, suami menunjukkan tanda gejala corona.
Simulasi penanganan pasien suspect corona di RSUP Kariadi Kota Semarang. Jawa Tengah menambah tiga rumah sakit rujukan penanganan penyakit yang disebabkan virus corona. (Foto: Tagar/Sigit Aulia Firdaus)

Semarang - Silvia Nurul, 28 tahun, warga Kota Semarang, membagikan pengalamannya di Facebook, pengalaman menemani sang suami menjalani pemeriksaan virus corona Covid-19 di Ruang Isolasi RSUP Kariadi, Semarang. Tagar telah meminta izin mengutip cerita yang viral di media sosial tersebut.

Cerita dimulai ketika Silvia dan suami melakukan perjalanan ke Singapura selama sembilan hari, 24 Januari hingga 2 Februari 2020. Ia mengatakan, selama di Singapura, etika bersin sudah dilakukannya. Keduanya selalu mengenakan masker dan rajin mencuci tangan dengan hand sanitaizer.

“Etika bersin, batuk, sudah kami lakukan penggunaan masker, sesering mungkin mencuci tangan, hand sanitizer juga tak ketinggalan,” katanya, sebagaimana ditulis di akun Facebooknya, Senin, 16 Maret 2020.

Sewaktu perjalanan pulang ke Kota Semarang, keduanya membuat janji. Siapa pun di antaranya yang merasa demam, batuk, pilek, dan tenggorokan sakit, harus melapangkan dada, mengikhlaskan diri untuk diperiksa. Bahkan harus bersedia diisolasi jika ada gejala Covid-19.

“Janji kelingking. Selama di Singapura sampai di Semarang kami terus memantau persebaran Covid-19 yang saat itu belum masuk Indonesia,” ujarnya.

Demam Tinggi

Sesampainya di Semarang pada 2 Februari 2020, keduanya memulai aktivitas seperti biasa. Selang satu hari, mereka sudah mulai bekerja kembali, dan pulang ke rumah usai magrib.

“Di malam harinya badan saya mulai semlenget, gregesen, sudah agak was-was. Akhirnya memutuskan untuk meminum paracetamol. Dan alhamdulillah hilang semua saat bangun untuk bekerja,” ujarnya.

Paginya, Silvia yang mendapat sif kerja pukul 04.55, diantar suami ke kantor. Silvia selalu tidur cukup saat mendapatkan sif kerja pagi. Namun, saat itu suaminya yang bekerja di kantor yang sama, hanya tidur dari pukul 01.00 sampai 04.00.

Saya sangat mengapresiasi orang-orang yang sadar melakukan pemeriksaan jika ada gejala Covid-19.

“Siang hari suami mengeluh badannya lemas, dan betul saya pegang sedikit lebih hangat dari biasanya. Paracetamol menjadi pertolongan pertama. Dan memilih makan sup sayur. Kalau kata orang Jawa biar masuk anginnya hilang,” tuturnya.

Pukul 20.00, Silvia mengecek suhu badan sumianya ada di angka 38,6 derajat celsius. Waktu itu ia belum panik lantaran tak dibarengi dengan batuk pilek. Silvia rutin memberi obat sekitar empat jam sekali.

“Mulai panik kerena suhu enggak begitu turun padahal sudah minum paracetamol. Masih bertengger manis di angka 38 derajat,” katanya.

Ia pada malam itu menemai sang suami hingga pukul 04.00. Silvia sempat lega pagi esoknya lantaran suhu badan suami menurun menjadi 37,6 derajat celsius. Ia kemudian beristirahat dan bangun sekitar pukul 09.00.

“Pukul 09.00 saya meminta izin untuk tidak bisa bekerja, karena saat saya cek kembali suhu naik menjadi 38,4 derajat celcius,” ujarnya.

Sempat Ngeyel Diperiksa

Mengetahui suhu badan sang sumi terus naik, Silvia kemudian membawanya periksa ke RSUP Kariadi Semarang. Namun, pada saat itu sang suami menolak.

“Saya ngeyel agar ke rumah sakit, mau corona atau bukan setidaknya sudah ditangani pihak medis. Suami ngeyel menunggu besok saja. Perdebatan yang menguras emosi sebenarnnya karena perjanjian awal tidak ditepati,” katanya.

Menjelang siang, Silvia tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Pada pukul 12.00 suhu suaminya naik menjadi 38,8 derajat celcius. Ia kemudian menghubungi adik ipar yang kebetulan bekerja sebagai tenaga medis di salah satu rumah sakit di Kota Semarang.

“Pukul 14.00 akhirnya diputuskan kita ke UGD Kariadi dengan pertimbangan banyak hal. Salah satunya berdampak ke keluarga dan teman kerja,” katanya.

Adik ipar yang sudah menunggu di RSUP Kariadi meminta KTP dan Kartu BPJS untuk mengurus administrasi. Silvia yang masih menemani sang suami di mobil, mengecek kembali suhu badannya. Betapa paniknya ia mengetahui suhu badan suaminya naik menjadi 39,7 derajat celsius.

“Saya menemani suami sendiri di mobil, karena memang ke RS hanya saya yang antar. Alasannya adalah keselamatan bersama. Kalau toh saya ketularan virus kan harusnya hanya saya saja. Jangan libatkan siapa pun karena kami hanya pergi berdua ke Singapura,” ujarnya.

Sampai pukul 16.00, sang suami tidak dibolehkan turun dari mobil hingga Ruang Isolasi UGD siap untuk memeriksa. Silvia bercerita, suaminya harus masuk ruang Isolasi UGD lantaran melihat riwayat perjalanan dan gejala demam yang tak kunjung turun.

“Pukul 18.00 perawat memberi kabar suami harus diisolasi karena suspect Covid-19. Karena dilihat riwayat perjalanan dan demam yang tak kunjung reda,” katanya.

Petugas Seperti Astronot

Masih pada hari yang sama, usai dinyatakan suspect Covid-19 Silvia menghubungi keluarga dan teman terdekat. Ia menggambarkan ruang isolasi tempat suaminya dirawat.

“Ini ruangan RS seperti biasa. Yang membedakan ruangan ini tidak sembarang orang bisa masuk. Yang boleh masuk pasien suspect, petugas kesehatan yang menggunakan pakaian astronot, dokter yang bertugas lengkap juga dengan pakaian astronot,” tuturnya.

Ia sendiri pada waktu itu hanya bisa melihat suami dari jendela kaca. Jika mau mengobrol, disediakan alat komunikasi 2 arah. Dari 5 Februari hingga 9 Februari 2020, RSUP Kariadi menjadi rumah kedua bagi Silvia. Ia hampir setiap hari bermalam di sana.

“Kawan yang menjenguk juga hanya bisa menyapa dari kaca seperti melihat aquarium. Setiap hari saya melihat suami melakukan pengecekan air liur atau dahak di pagi atau siang hari,” katanya.

Hasil laboratorium kesehatan suaminya yang dikeluarkan membuat Silvia lega. Pada 9 Februari 2020 sekitar pukul 08.00 ia menemui perawat untuk menanyakan kondisi suami.

“Alhamdulillah lancar, suhu normal, hasil lab juga tidak menunjukkan ke arah sana. Hasil tes negatif. Diputuskan dokter ketika menjalani tes terakhir bisa melakukan isolasi mandiri di rumah,” ujarnya.

Hal lain yang membuat Silvia lega adalah ketika mengurus administrasi untuk kepulangan suami, semua pemeriksaan berkaitan Covid-19 ditanggung pemerintah daerah.

“Terima kasih Pak Gubernur, terima kasih Pak Wali Kota. Setelah mengurus administrasi, masih dengan proses isolasi suami turun ke tempat pemulangan dengan kursi roda didorong perawat dengan pakaian lengkap astronot,” katanya.

Sewaktu pulang ia dibekali beberapa obat, di antaranya paracetamol, Vit B Komplek, surat keterangan Covid-19, dan surat wajib lapor ke puskesmas terdekat sampai 14 hari ke depan.

Ia begitu bersyukur dengan hasil pemeriksaan suaminya. Menurutnya, hal yang paling membuatnya tersiksa adalah tidak bisa memeluk suaminya saat menggigil demam tinggi dan tak bisa menyuapi suaminya yang kesusahan makan lanataran tangan diinfus.

Jangan Takut Periksa Corona

Silvia mengatakan alasan dirinya membagikan pengalamannya bukan untuk menakut-nakuti masyarakat. Ia mengajak untuk sadar pentingnya menjaga diri dan lingkungan. Menurutnya, yang paling bahaya adalah jika seseorang merasa kebal dari penyakit.

“Jangan takut memeriksakan diri, karena ini bukan untuk kepentingan Anda semata. Namun juga untuk keluarga dan teman yang kalian sayangi,” ujarnya.

Silvia juga meminta untuk tak memandang negatif orang yang telah melakukan pemeriksaan Covid-19. Menurutnya, seseorang yang telah melakukan pemeriksan Covid-19 adalah orang yang sayang terhadap siapa pun di sekitarnya.

“Saya sangat mengapresiasi orang-orang yang sadar melakukan pemeriksaan jika ada gejala Covid-19. Bagi yang sedang berjuang, semangat. Lawan virus itu dengan pikiran-pikiran positif.” []

Baca juga:

Berita terkait
Denny Siregar: Para Egois Teriak Lockdown
Egois. Mereka yang teriak lockdown yang berarti warga tak boleh keluar rumah, pabrik berhenti, kegiatan ekonomi mati. Tulisan Denny Siregar.
Cristiano Ronaldo Ubah Hotel Pribadi Jadi RS Corona
Bintang Juventus Cristiano Ronaldo dikabarkan mengubah hotel miliknya di Portugal menjadi rumah sakit untuk menangani pasien virus corona.
Bintang Juventus Ronaldo Dikarantina di Portugal
Bintang Juventus Cristiano Ronaldo batal kembali ke Italia. Dia dikarantina di Portugal setelah rekannya, Daniele Rugani, kena corona.
0
Jenis Olahraga yang Aman Selama Puasa
Namun, saat menjalani puasa Ramadan banyak orang yang malas berolahraga karena takut kelelahan, dan batal puasanya.