UNTUK INDONESIA
Lumbung Pangan Mataram di Kota Yogyakarta dan Manfaatnya
Pemkot Yogyakarta meluncurkan program Lumbung Pangan Mataram. Berikut adalah manfaatnya.
Salah seorang tentara ikut merontokkan gabah dengan mesin manual membantu warga saat panen di salah satu lahan pertanian di wilayah Kota Yogyakarta. (Foto: Tagar/Gading Persada)

Yogyakarta - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta meluncurkan Lumbung Pangan Mataram untuk tiga wilayah sasaran pembinaan hingga akhir 2020 ini. Melalui Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) setempat Lumbung Pangan Mataram merupakan program pertama kalinya pemkot yang bersumber dari Dana Keistimewaan (Danais).

Kepala Dispertan Kota Yogyakarta Suyana, menyebutkan ketiga wilayah sasaran program tersebut berada di Purbayan Kotagede, Suryodiningratan Mantrijeron, dan Blunyahrejo Tegalrejo. "Tahun 2019 sebenarnya sudah ada empat wilayah untuk Lumbung Pangan Mataram namun itu di bawah pembinaan DIY. Sedangkan kami baru tahun ini dengan tiga wilayah sehingga totalnya nanti sudah ada tujuh wilayah," papar Suyana, Selasa, 20 Oktober 2020.

Baca Juga:

Dia menyebut, untuk Lumbung Pangan Mataram yang baru pertama kalinya dikelola Dispertan membutuhkan alokasi dana mencapai Rp 600 juta. Bentuk kegiatannya lebih bersifat pembinaan wilayah hingga mampu memproduksi hasil pangan secara mandiri. Dia menyebutkan, setidaknya terdapat tiga aspek yang harus dipenuhi dalam menggulirkan program tersebut, yakni karbohidrat, protein dan sayuran.

Sedangkan jenis sektor pertanian yang menjadi fokus garapan bisa disesuaikan kesepakatan di wilayah. "Misal untuk karbohidratnya bisa menanam ubi jalar, singkong atau lainnya. Begitu pula untuk protein bisa dari ayam, lele. Kalau sayuran seharusnya beraneka ragam, tidak satu jenis," ungkap dia.

Tahun 2019 sebenarnya sudah ada empat wilayah untuk Lumbung Pangan Mataram namun itu di bawah pembinaan DIY.

Lebih lanjut diutarakannya, inti program Lumbung Pangan Mataram juga tidak jauh berbeda dengan Kampung Pangan Lestari yang digulirkan pemerintah pusat. Hanya pelabelannya yang berbeda karena disesuaikan dengan kearifan lokal. 

Di samping itu, wilayah yang menjadi pembinaan juga mendapat pendampingan dari tim Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, terutama Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PSEK) dan Pusat Inovasi Agro Teknologi (PIAT). Dengan adanya pendampingan dari beberapa tim yang sudah sangat ahli tersebut maka harapannya hasil pengelolaan pertanian juga akan maksimal.

Tidak hanya dari segi budidaya di lahan sempit melainkan faktor ekonominya. "Seperti tanaman sayur sawi, dari satu bonggol bisa menghasilkan hingga satu kilogram. Itu sudah berhasil dikembangkan di Pugeran hasil pendampingan UGM. Begitu pula usulan dari PSEK agar disusupi budidaya madu lanceng yang kini harganya cukup mahal," ungkap Suyana.

Baca Juga:

Gayung bersambut. Upaya mewujudkan ketahanan pangan juga didukung penuh kalangan TNI. Bahkan salah satu lahan pertanian seluas satu hektar yang berada di Kecamatan Umbulharjo yang pengelolaannya dilakukan oleh Gapokan Ngudi Rukun mendapatkan supervisi langsung dari Kodim 0734/Yogyakarta.

“Di lahan pertanian yang menjadi binaan kami selalu melakukan panen raya rutin rata-rata 12 ton dengan jenis padi IR 64 dimana didapat dari hasil tanam sepanjang Agustus sampai Oktober,” sambung Danramil 07/Umbulharjo Kota Yogyakarta Mayor Inf Nur Wahid.

Menurut dia, hasil panen raya juga selalu didistribusikan ke masyarakat melalui Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta. “Hasil panen ini dikonsumsi warga Yogya sendiri karena Yogya diharapkan bisa menyediakan lahan pertanian sekaligus sebagai Kota Ketahanan Pangan,” tandas dia. []

Berita terkait
Tanam 1.200 Bibit Pohon untuk Ketahanan Pangan Kulon Progo
Sebanyak 1.200 bibit pohon ditanam di seluruh kapanewon di Kabupaten Kulon Progo untuk ketahanan pangan di Bumi Binangun.
Sejarah dan Fakta Hari Pangan Sedunia 16 Oktober
Hari Pangan Sedunia diperingati setiap tanggal 16 Oktober bertepatan dengan lahirnya Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia FAO.
Reforma Agraria Wujudkan Keamanan Pangan
Bonus demografi di Indonesia menyebabkan kebutuhan pangan dan energi meningkat. Untuk itu dibutuhkan pelaksanaan reforma agraria.
0
Tiga Warga Purworejo Edarkan Pil Koplo di Kulon Progo
Polres Kulon Progo menangkap empat orang setelah mengedarkan pil koplo. Tiga di antaranya warga Purworejo, Jawa Tengah.