Lawan Kebijakan Australia, Google Ancam Tutup Layanan

Perusahaan teknologi pencarian internet, Google, mengancam akan menghentikan layanannya dari Australia.
Ilustrasi logo Google. (Foto: Unsplash)

Jakarta - Perusahaan teknologi pencarian internet, Google, mengancam akan menghentikan layanannya dari Australia, menyusul rencana pemerintahan Negeri Kangguru mengeluarkan aturan melalui perundang-undangan yang mengharuskan Google membayar konten berita dan karya jurnalistik dari media di negara tersebut yang ditampilkan di laman mereka.

Menanggapi hal tersebut Wakil Presiden Google Australia dan Selandia Baru, Mel Silva, kepada Komite Legislasi Ekonomi Senat Australia mengatakan, jika rancangan tersebut diberlakukan di dalam undang-undang maka tidak ada pilihan selain berhenti menyediakan Google di Australia.

Dengan tajam, Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, membalas bahwa mereka tidak menanggapi ancaman tersebut. Ia mengatakan bahwa semua yang turut bekerja di Australia wajib melakukan cara kerja di sana. Aturan yang telah dibuat pun harus dilakukan semua pihak.

Raksasa teknologi ini diketahui memiliki sejumlah sekutu beken yang sependapat dengannya. Sir Tim Berners-Lee, pencipta web di seluruh dunia, menyampaikan gagasannya yang menyatakan bahwa aturan perundangan tersebut melanggar prinsip dasar web dengan meminta bayaran untuk membuat konten tertentu secara online.

Sementara Vint Cerf, seorang pendiri internet lainnya yang membantu merancang TCP/IP juga sependapat dengan hal tersebut.

Google tidak setuju dengan adanya pemberlakuan undang-undang tersebut, bahkan mereka mengungkit kebijakannya yang tidak menarik atau meminta sejumlah uang kepada warga Australia untuk menggunakan layanan gratis seperti YouTube dan Google Search-nya.

Seperti yang diterangkan Silva dan entri blog yang menyertainya, ia menegaskan bahwa mereka lebih bersedia membayar penerbit khusus untuk produk Google Wartanya-nya dibanding menyetujui peraturan tersebut.

Komisi Persaingan dan Konsumen Australia (ACCC) yang merancang undang-undang tersebut tidak menganggap apa yang disampaikan Google telah cukup. Dalam kenyataanya tidak ada keseimbangan antara bisnis media berita Australia, Google, dan Facebook.

Australia melihat bahwa Google mengambil keuntungan besar dari pendapatan iklan online yang tidak sebanding.

Sejak dunia dilanda pandemi, lebih dari seratus surat kabar lokal di Australia harus ditutup dan memberhentikan jurnalis karena pendapatan iklan menurun. []

(Christine Sheptiany)

Berita terkait
Dibeli Google, Fitbit Tingkatkan Keamanan Data dan Privasi
Aplikasi Fitbit berencana untuk meningkatkan privasi pengguna dari kebocoran data informasi, setelah resmi diakuisisi Google pada 14 Januari 2021.
Microsoft Naikan Biaya Langganan Game Online Xbox Live Gold
Microsoft dikabarkan tengah bersiap menaikkan harga langganan layanan game online Xbox Live Gold.
Kode Program Microsoft Dibobol Hacker
Perusahaan multinasional Amerika Serikat, Microsoft, sedang menyelidiki serangan besar-besaran yang dilakukan oleh peretas alias hacker.
0
Pimpin Peringatan Hari Lahir Pancasila, Jokowi Pakai Pakaian Adat Kalsel
Presiden Jokowi memimpin upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila pada Selasa 1 Juni 2021 dengan mengenakan pakaian adat dari Tanah Bumbu Kalsel.