Indonesia
Kronologi Kerusuhan Demonstrasi 21-22 Mei 2019
Kronologi kerusuhan demonstrasi 21-23 Mei 2019, peristiwa memilukan yang mencoreng demokrasi di Indonesia.
Polisi menunjukkan tersangka pelaku kericuhan pada Aksi 22 Mei saat gelar perkara di Polres Metro Jakarta Barat, Kamis (23/5/2019). Satreskrim Polres Metro Jakarta Barat berhasil menangkap 183 tersangka pelaku kericuhan dari wilayah Jakarta, Banten, Jabar, Bekasi, Jateng, dan Sumatra saat penyerangan ke Asrama Polri Petamburan, serta mengamankan barang bukti bom molotov, senjata tajam, petasan dan sejumlah amplop berisi uang. (Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso)

Jakarta - Tanggal 22 Mei 2019, salah satu peristiwa memilukan yang mencoreng demokrasi di Indonesia. Sejumlah massa pendukung pasangan calon (paslon) 02 Prabowo-Sandiaga Uno melancarkan aksi unjuk rasa di sekitar gedung Bawaslu RI, berujung dengan kerusuhan. 

Terdapat oknum yang diduga sebagai penumpang gelap demokrasi. Mereka tak henti-hentinya memprovokasi aparatur keamanan negara yang tengah berjaga, memancing agar bertindak represif.

Sinyal demonstrasi akan berakhir ricuh telah terendus sejak siang hari. Sekira pukul 14.00 WIB, massa pengunjuk menyatakan siap mati berjihad untuk memenangkan paslon 02 dalam Pilpres 2019. Sebab, bertepatan dengan bulan ramadan pada zaman nabi Muhammad SAW, perang badar benar-benar terjadi.

"Kami siap mati buat jihad karena ini perang badar," ujar salah satu orator di sekitar gedung Bawaslu RI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, 22 Mei 2019. 

Pedemonstran berulang kali memekikkan gema takbir yang makin menyulutkan semangatnya, memercayai Prabowo adalah presiden terpilih yang memenangkan kontestasi demokrasi lima tahunan di negeri ini.

Mereka yang mengatasnamakan diri sebagai Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat (GNKR) terus memprovokasi brimob dengan meneriakkan kecurangan yang dilakukan polisi saat proses Pemilu 17 April 2019 lalu. 

Bahkan, kala itu ada beberapa orang yang berusaha menerobos pagar kawat berduri yang dipasang membentang di jalan MH Thamrin, samping Gedung Bawaslu RI.

"Pak polisi, Pak polisi tugasmu mengayomi, Pak polisi jangan ikut kompetisi," teriak massa aksi.

Sekira pukul 17.30 WIB, politikus senior PAN Amien Rais berorasi dari atas mobil komando. Saat itu ia mengatakan, Prabowo Subianto sudah ditakdirkan untuk menang. Amien menyebut rakyat akan selalu menjadi pemenang.

"Jadi kita mengikuti takdir Allah itu insya Allah kita (Prabowo-Sandi) menang. Jadi kita terus berdoa. Kita punya Allahuakbar. Bagi Allah semua sepele, jadi kecil. Tidak ada yang bisa mengganggu takdir Allah," kata Amien.

Di atas mobil komando terlihat juga pimpinan Front Pembela Islam (FPI) ustaz Sobri Lubis, ustaz Muchsin Alatas, dan petinggi PA 212 yakni Slamet Ma'arif dan ustaz Bernard. Mereka berjanji akan membubarkan diri pukul 18.00 WIB, sesuai dengan batas waktu demonstrasi yang telah ditentukan.

"Kita hari ini tidak salat isya dan tarawih di sini. Setelah buka puasa dan salat maghrib, kita (massa) bubar dengan tertib," ujar seorang orator, dengan alat pengeras suara yang digenggamnya.

Namun, tak semua demonstran mengindahkan imbauan tersebut. Sekira pukul 18.30 WIB, dari belakang mobil komando, massa mulai melempar batu dan botol air mineral ke arah brimob dan awak media yang tengah meliput demonstrasi menuntut diskualifikasi Jokowi-Ma'ruf. 

Bahkan, ada pula yang sengaja membakar kembang api hingga meletup ke arah brimob yang tengah berjaga di samping gedung Bawaslu RI.

"Tetap satu komando, takbir. Awas provokator ada di tengah-tengah kita," kata orator aksi. 

Alhasil, konflik antara massa dengan aparat keamanan tak bisa lagi diredam. Brimob mulai menembakkan gas air mata ke arah demonstran, supaya massa segera membubarkan diri karena waktu demonstrasi telah usai. 

Namun, hal tersebut tak digubris. Sekelompok massa aksi justru balik melempari aparat keamanan dengan batu, botol, petasan bahkan bom molotov berterbangan ke arah brimob. 

Dari jam ke jam suasana di Bawaslu semakin mencekam. Konflik di antara keduanya bertambah sengit. Beberapa massa terlihat berhasil menembus pagar kawat berduri, mereka melempari brimob agar bergerak mundur ke dalam Bawaslu. 

Ada juga massa aksi yang terlihat membakar ban di tengah Jalan MH Thamrin, dan melakukan pengerusakan pos polisi dengan sengaja. 

Permintaan Prabowo Subianto lewat video pada Rabu pukul 23.22 WIB agar pendukungnya pulang tampaknya tak dituruti. 

Sampai Kamis 23 Mei 2019 dini hari pukul 03.15 WIB, ratusan massa dari berbagai penjuru masih terus melakukan perlawanan terhadap aparat keamanan di sekitar Gedung Bawaslu dan Pertokoan Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta. 

Perlawanan massa terus terjadi. Massa yang berkumpul di Jalan Sabang melempari polisi dengan batu dan petasan, sementara korps Bhayangkara membalasnya dengan tembakan gas air mata dan peluru hampa. Kericuhan meluas hingga sekitaran bundaran Bank Indonesia, kawasan Jalan Kebon Sirih dan sekitaran Jalan Wahid Hasyim.

Sejumlah perusuh kemudian mulai bergeser kembali ke arah perempatan belakang Sarinah Mall. Di sana, mereka terus melakukan aksi provokasi. Massa terpencar diantara puing-puing pembatas jalan yang dihancurkan, sejumlah benda yang dibakar dan genangan air bekas water canon aparat.

Beberapa motor bahkan terlihat dibakar oleh massa, dan beberapa motor lainnya sengaja dijarah, dijatuhkan, dan tergeletak di jalanan.

Sekumpulan massa yang berjumlah ratusan itu diantaranya meneriakan yel-yel 'Turunkan Jokowi', sembari bernyanyi dan bersikap seolah menantang petugas.

Dari kawasan Kebon Sirih, beberapa remaja berusia antara 15 hingga 18 tahun ditangkap dan digelandang anggota TNI pada pukul 02.30 WIB.

Menurut beberapa sumber, bocah-bocah tanggung itu berasal dari wilayah Jawa Barat dan Banten. Kebanyakan dari mereka tampak berpakaian serba putih.

Hingga pukul 03.20 WIB, massa masih belum mau membubarkan diri, meski beberapa aparat dari satuan TNI telah mencoba mendekat dan melakukan proses negosiasi. Sementara petugas dari unsur brimob berjaga-jaga tepat di seberang titik kumpul massa.

Kondisi area sekitar luluh lantak. Bahkan papan nama Sarinah Mall dirusak perusuh hingga hanya meninggalkan empat huruf terbaca INAH.

Pascakejadian, Mabes Polri menangkap 442 orang diduga sebagai perusuh dalam aksi damai di depan Kantor Bawaslu, Jakarta, berlangsung 21-23 Mei dini hari.

Kadiv Humas Mabes Polr Irjen Mohammad Iqbal di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Kamis 23 Mei 2019 mengatakan pihaknya kembali menangkap 185 orang yang diduga sebagai perusuh dalam aksi damai di depan Kantor Bawaslu RI.

Sehari sebelumnya pihak keamanan melalui jajaran Polda Metro Jaya juga berhasil membekuk 257 pelaku yang bertindak anarkis. Sehingga secara keseluruhan jumlah perusuh yang sudah ditangkap sebanyak 442 orang.

"Jadi, pada aksi massa 21-22 Mei itu ada dua segmen. Pertama, massa peserta aksi damai yang spontanitas. Kedua, massa perusuh yang sengaja menyusup untuk membuat rusuh," jelas Iqbal.

Para pelaku, lanjut Iqbal, ditangkap di beberapa lokasi di Jakarta, seperti depan dan sekitar Kantor Bawaslu RI, Patung Kuda, Sarinah, Slipi, Menteng, dan Petamburan. Mereka diamankan lantaran terbukti melakukan perusakan dan pembakaran kendaraan di asrama Polri Petamburan, depan Kantor Bawaslu RI, dan di depan Stasiun Gambir.

Dari tangan pelaku ditemukan pula barang bukti kejahatan. Di antaranya senjata tajam, busur panah, bom molotov, batu, petasan, dan uang tunai yang diduga untuk membiayai aksi tersebut.

Dalam kesempatan itu, Iqbal menyebutkan ada dua kelompok yang menunggangi aksi unjuk rasa tanggal 21-22 Mei. Kelompok pertama adalah simpatisan ISIS. Kelompok kedua dari mereka yang memiliki senjata api. "Mereka ini perusuh. Ini dibedakan dari kelompok aksi damai," kata Iqbal. []

Baca juga:

Berita terkait
0
Romo Benny Sikapi Ceramah Ustaz Abdul Somad
Rohaniwan Katolik Antonius Benny Susetyo Sikapi Polemik Ustaz Abdul Somad