UNTUK INDONESIA
Kopi Lelet Lasem Rembang, dari Isengnya Tukang Kapal
Nama kopi lelet sudah melegenda dan dikenal pecinta kopi Tanah Air. Tapi taukah Anda tentang sejarah kopi khas Lasem, Rembang, tersebut?
Biji kopi yang digunakan bahan utama kopi lelet khas Lasem, Rembang. (Foto: Tagar/Rendy Teguh Wibowo)

Rembang - Kabupaten Rembang bukan wilayah penghasil kopi. Namun dari kreativitas warganya, lahir brand kopi yang melegenda bernama kopi lelet. Bermula dari keisengan para tukang pembuat kapal di Kecamatan Lasem yang selalu ndulit (mengoles) rokoknya dengan ampas kopi.

Menikmati seduhan kopi di pagi hari sudah menjadi rutinitas bagi sebagian besar warga pesisir pantai Laut Jawa di Kabupaten Rembang. Terlebih bagi masyarakat yang tinggal di Kecamatan Lasem. Hanya saja mereka punya ritual khas di sela menikmati secangkir kopi.

Kebiasaan itu bisa dibilang nyleneh (tidak lazim). Ampas kopi yang biasanya dibuang karena dianggap tidak ada manfaatnya lagi, justru dioleskan ke batang rokok. Cara ini diyakini bisa menambah cita rasa rokok kala diisap.

Dan karena itu lah akhirnya lahir istilah untuk secangkir kopi di Lasem bernama kopi lelet. Lelet dan ndulit, dalam bahasa Indonesia bisa diartikan mengoles atau melumur. Jadi segelas kopi dan batangan rokok yang telah diolesi ragam hiasan ampas kopi lelet sudah menjadi pemandangan harian di warung kopi yang betebaran di Rembang.

Gilingannya (kopi) itu sangat halus, itu membuat kopi cita rasa kopi ini semakin kuat dibanding kopi lainnya, dan juga bisa untuk melelet rokok.

Agenda rutin ngopi dan nglelet rokok tersebut tanpa disadari terbawa saat warga Lasem tengah berada di rantauan. Mereka membawa bubuk kopi sendiri dan hanya memesan secangkir air panas dan gula saat di warung. Sebab kopi lelet tidak mungkin bisa dijumpai di luar Rembang.

"Saat kuliah di Bogor dulu, kebiasaan nglelet ini kebawa, bawa bubuk kopi sendiri. Hampir tiap pagi dan malam saya ngopi sambil meleletkan ampasnya ke rokok. Teman-teman akhirnya ikut-ikutan dan jadi ketagihan. Jadi kalau pas pulang mereka minta dibawakan kopi lelet ini," tutur Aribowo, 28 tahun, saat ditemui Tagar di sebuah warung kopi di kawasan Desa Ngempal, Rabu malam, 18 Maret 2020.

Bagi pemuda Desa Babagan, Lasem ini, menikmati kopi lelet punya sensasi tersendiri yang tidak bisa didapat di kopi-kopi lain. Proses roasting tradisional dengan metode sangrai membuat kopi lelet punya ciri khas.

"Gilingannya (kopi) itu sangat halus, itu membuat kopi cita rasa kopi ini semakin kuat dibanding kopi lainnya, dan juga bisa untuk melelet rokok," ucap dia.

Tak hanya kopi dari sisi minumannya, ampas yang digunakan untuk melelet rokok menghasilkan aroma kopi saat dihisap. Selain menambah awet rokok, kepulan asapnya menebarkan keharuman kopi khas Rembang.

"Kalau tidak dilelet itu ada yang kurang rasanya, kalau ngopi ya (rokok) harus dilelet. Aroma kopinya itu yang bikin sedap saat rokok dibakar, mungkin karena saya memang hobi ngopi," ujarnya tertawa.

Sejarah Kopi Lelet

kopi lelet1Galangan kapal tuan Berendsen di Desa Dasun, Lasem, pada 1930, turut mewarnai sejarah kopi lelet. (Foto: Sejarah Kota Lasem)

Ternyata, meski menjadi kopi otentik dari Rembang, hanya segelintir orang yang mengetahui sejarah panjang secangkir kopi lelet. Merasa tertarik untuk mengulik cerita sejarahnya, Tagar menyambangi kediaman Ernantoro, sejarawan yang sangat hafal seluk beluk sejarah di Lasem.

Rumah Toro, sapaan akrabnya, berada di kawasan Desa Gedongmulyo. Sebelumnya, kami telah janjian lewat pesat WhatsApp untuk mengulas sejarah kopi lelet. Senyum ramah menyambut dan Tagar dipersilahkan Toro masuk ke ruang tamu.

Tak disangka, Toro telah menyiapkan denah perkembangan kopi lelet yang digambarkan pada sebuah papan tulis. Tak ketinggalan suguhan segelas kopi menjadi penghangat cerita pada Jumat, 20 Maret 2020, selepas Jumatan.

Maka dimulailah asal usul kemunculan kopi lelet di kisaran tahun 1930. Awalnya kopi lelet bernama kopi sedulit. Kala itu, Desa Gedongmulyo dikenal sebagai desa pusat penjualan kopi sedulit pertama di Lasem.

Kopi tersebut banyak disuguhkan di deretan warung di kawasan perbatasan dengan Desa Dasun. Diketahui, Gedongmulyo dan Dasun dipisahkan oleh Sungai Babagan, sungai yang membelah wilayah Lasem sejak tahun 1700.

Dengan cara mengoleskan ampas kopi yang airnya telah mereka minum menggunakan jari telunjuk atau biasa disebut didulit.

Warung makan yang juga menyuguhkan kopi sedulit itu biasa melayani pekerja kapal di galangan yang ada di Desa Dasun. Usai kerja atau pas jam istirahat siang, para pekerja biasa menyeberangi Sungai Babagan untuk menikmati segelas kopi sedulit.

"Dulu berjejer banyak warung-warung yang jualan kopi dan pembelinya para tukang yang kerja di galangan kapal. Mereka melewati jembatan kecil yang menghubungkan dua desa tersebut untuk menuju ke warung," tutur dia.

Berhenti sejenak Toro mempersilahkan Tagar menikmati suguhan kopi. Mumpung masih hangat, katanya. Sambil menunjuk denah sejarah kopi lelet, pria itu kembali melanjutkan ceritanya. Ia menyebut nama seorang Belanda, Berendsen, sebagai pemilik galangan kapal di Dasun.

Setidaknya ada enam galangan yang dimiliki Berendsen kala itu. Sampai di sini, Toro kemudian memperlihatkan foto zaman dulu yang memperlihatkan gambar enam galangan kapal yang ia maksud. "Banyak warga pribumi Lasem yang bermata pencarian dengan bekerja di galangan kapal itu," sebut dia.

Dan dari sejumlah warung makan langganan para pekerja kapal, warung Mbah Toyib kerap dijadikan tempat nongkrong sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing. Dari tempat itu lah muncul kebiasaan unik untuk menambah awet rokok yang mereka isap.

"Dengan cara mengoleskan ampas kopi yang airnya telah mereka minum menggunakan jari telunjuk atau biasa disebut didulit," ujar dia.

Lambat laun kebiasaan tersebut menular dari pekerja satu ke pekerja lain hingga kawasan warung tersebut dikenal dengan sebutan warung kopi sedulit.

Pindah saat Jepang Datang

kopi lelet2Warung kopi Wak Nasir di Desa Ngemplak, Lasem, Rembang, menjadi cikal bakal kopi sedulit yang berubah nama menjadi kopi lelet. (Foto: Tagar/ Rendy Teguh Wibowo)

Kehadiran tentara Jepang pada tahun 1942 ternyata membawa pengaruh pada penyebaran kopi sedulit. Herlena, pewaris galangan kapan di Dasun, membakar semua usaha yang dirintis ayahnya. Perempuan berdarah Belanda dan Jawa itu tak ingin galangan kapal milik keluarganya dikuasai Jepang. Ia pun mengamankan diri ke Blora.

Galangan kapal ludes tak tersisa, warung kopi Mbah Toyib jadi sepi pembeli. Ya wajar saja karena mayoritas pelanggannya adalah para pekerja galangan. Ditambah sikap tentara Jepang yang kerap mengintimidasi warga pribumi, pria tua itu memindahkan usahanya ke Desa Ngemplak, Lasem.

"Akibat desakan tentara Jepang, dan galangan kapal juga sudah terbakar, tidak ada yang kerja di sana lagi akhirnya Mbah Toyib ini pindah jualannya," ucap dia.

Bertempat di pinggiran sungai arah Warugunung, Mbah Toyib mulai merintis lagi usaha kopinya. Warung itu ia jadikan juga sebagai rumah tinggal. "Sampai sekarang warung Mbah Toyib masih di sana. Tapi karena Mbah Toyib sudah tidak ada (meninggal), usaha itu saat ini diteruskan oleh keturunannya," kata Toro.

Toro pun mengajak Tagar mengunjungi warung kopi Mbah Toyib yang kini dikelola oleh cucunya bernama Wak Nasir. Wak Nasir adalah generasi ketiga, meneruskan usaha yang diwariskan generasi kedua, Mbah Kasmi.

Warung itu terlihat sederhana, berukuran sekitar 3 x 4 meter dengan dominasi warna biru. Lokasinya di pinggir jalan arah pegunungan Kajar, tepat di depan rumah yang dihuni Wak Nasir bersama keluarganya.

Saat Tagar tiba, warung Wak Nasir cukup ramai. Sejumlah warga asyik bercengkrama dengan warga lain ditemani secangkir kopi. Mereka sepertinya tidak asing dengan kehadiran awak media mengingat banyak wartawan yang datang ke warung itu untuk mengulik seputar kopi lelet.

Kopi Sedulit Jadi Kopi Lelet

kopi lelet 3Pecinta kopi lelet Lasem, Rembang, tengah melelet batang rokok dengan ampas kopi lelet. (Foto: Tagar/Rendy Teguh Wibowo)

Usut punya usut, perubahan nama kopi dari sedulit menjadi lelet ternyata juga terpengaruh dari cara mengoles ampas kopi dan alat yang digunakan. Soal kapan persisnya perubahan nama itu, baik Wak Nasir maupun Toro hanya mengangkat bahu.

"Saya mulai jualan pada tahun 1984 nama kopinya sudah kopi lelet," ujar Wak Nasir.

Toro pun lantas membeberkan perbedaan utama sedulit dan lelet. Meski ampas kopi sama-sama dioleskan di batang rokok tapi ada perbedaan teknik saat melumurkannya. Jika sedulit menggunakan jari tangan saat mengoleskan ampas kopi dan asal-asalan tanpa pola, lelet tidak demikian.

"Kalau lelet sudah menggunakan alat bantu seperti sendok, benang, dan lidi untuk mengoleskan ampas kopi ke batang rokok. Pola leletnya juga variatif dan unik," ucap dia.

Ada yang suka membuat pola layar pada perahu menggunakan sendok, tapi ada juga yang membuat motif batik menggunakan lidi yang diruncingkan ujungnya. Meski bisa dibilang aktivitas iseng namun lewat coretan di batang rokok dapat menjadi strategi untuk makin menggaungkan batik khas Lasem.

"Sekarang sudah tidak pakai jari, pakainya kalau tidak sendok ya benang. Kalau pakai lidi itu yang mau bikin gambar batik," tutur Toro.

Penyajian Kopi Lelet

kopi lelet4Tungku yang dipakai Wak Nasir memanaskan air untuk menyeduh kopi lelet Lasem, Rembang. (Foto: Tagar/Rendy Teguh Wibowo)

Wak Nasir mengaku masih mempertahankan cara tradisional saat merebus air untuk kopi, yaitu menggunakan arang dan tungku yang terbuat dari tanah liat. Sebab metode itu akan memunculkan aroma khas dan panasnya air lebih awet.

Saya mulai jualan pada tahun 1984 nama kopinya sudah kopi lelet.

Untuk pembuatan bubuk kopinya, secara umum tidak jauh beda dengan kopi pada umumnya. Proses sangrai atau penggorengan tanpa minyak dilakukan selama 30 menit untuk dua kilogram biji kopi. Hanya saja, di proses penyelepan atau penggilingan biji kopi yang telah disangrai harus dilakukan secara berulang

"Harus tujuh kali selep, biar halus jadinya nanti. Kalau kurang dari itu hasilnya kasar, tidak bisa digunakan untuk lelet. Kayak kopi-kopi biasa jadinya," ucap pria 51 tahun itu.

Hal lain yang membedakan kopi lelet di warung Wak Nasir adalah di proses pembuatan minuman kopinya. Ia menggunakan sendok obat untuk takaran kopi dan gula. Cara memasukkan gula ke gelas juga tidak biasa, yakni dengan melemparkan gula ke atas mulut gelas.

"Dari dulu ya pakainya ini, pakai sendok obat. Satu cangkir takarannya 1,5 sendok kopi dan gulanya sama, 1,5 sendok," terangnya.

Wak Nasir biasa berjualan ditemani sang istri. Segelas kopi ukuran biasa dijual dengan harga Rp 3.000. Jika gelas besar dibanderol Rp 5.000. Ia berjualan mulai pukul 08.00-18.00 WIB. "Kalau dulu bukanya sampai malam. Karena sekarang banyak warung kopi, jadi habis Magrib tutup, istilahnya ya bagi-bagi rezeki," ujar dia. []

Baca juga: 

Berita terkait
Sensasi Kopi Durian Berpadu Kecap Manis di Sleman
Kopi durian berpadu kecap manis di Sleman, Yogyakarta memberi sensasi tersendiri. Silakan mencobanya.
Miliki Cita Rasa yang Khas, Kopi Indonesia Jadi Incaran Masyarakat Kyrgyzstan
eberapa pengusaha Kyrgyzstan yang mengunjungi stand bahkan mengutarakan ketertarikan menjadi distributor bagi produk kopi instan tersebut ke pasar Kyrgyzstan.
Sensasi Menyeruput Kopi di Warkop Dottoro Makassar
Kenikmatan kopi yang ada di Warkop Dottoro Makassar, Sulawesi Selatan tidak tertandingi.
0
Covid-19 di 17 Negara Eropa Antara 11.000 - 200.000
Penyebaran virus corona baru (Covid-19) di Eropa melanda semua negara bahkan di beberapa negara kasusnya jauh di atas jumlah kasus di China