UNTUK INDONESIA
Letusan Gunung Tambora yang Mengubah Wajah Dunia
Letusan Gunung Tambora mengubah pola musim di Eropa, biasanya Mei-Agustus panas tiba-tiba tidak panas sama sekali, tertutup awan bak guguran salju.
Kawasan Gunung Tambora. (Foto: Balai Taman Nasional Tambora)

Mataram - Kisah letusan Gunung Tambora menjadi pitutur yang tidak lekang oleh zaman dan diceritakan dari masa ke masa. Dahulu kala, kawasan di sekitar Gunung Tambora merupakan daerah yang subur yang terletak di bagian Timur Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Pelbagai sumber menyebutkan tanah vulkanik yang subur dan mata air yang jernih mengalir dari lekuk Gunung Tambora, seolah-olah memenuhi kebutuhan hidup seluruh makhluk yang ada di lerengnya. Begitu pula dengan masyarakat di tiga kerajaan saat itu, tepat berada di bawah kaki Gunung Tambora, yaitu Sanggar, Tambora, dan Pekat.

Seorang ahli geologi, Kusnadi, yang juga merupakan Ketua Ikatan Ahli Geologi Nusa Tenggara (IAGI Nusra) kepada Tagar di Mataram, menceritakan tiga kerajaan tersebut bisa disebut makmur karena pertanian dan perkebunan rempah-rempah tumbuh dengan subur di sekitar kerajaan.

Hal itu membuka kesempatan dagang dengan negara luar. Hal ini terlihat dari temuan artefak berupa keramik dan perkakas lainnya membuktikan betapa makmurnya kerajaan-kerajaan ini waktu itu.

Sebagai gunung api aktif, tutur Kusnadi, kejadian letusan merupakan hal yang lumrah di puncak Gunung Tambora, tapi tidak benar-benar berdampak buruk bagi ketiga kerajaan saat itu. Sampai pada tahun 1815, kejadian yang sangat memilikan itu terjadi.

Kehidupan berjalan sebagaimana mestinya pada tahun tersebut, tetapi keanehan sudah mulai terjadi dari tahun sebelumnya.

Gunung TamboraKawasan Gunung Tambora. (Foto: Balai Taman Nasional Tambora)

"Kehidupan berjalan sebagaimana mestinya pada tahun tersebut, tetapi keanehan sudah mulai terjadi dari tahun sebelumnya. Suara gemuruh dan dentuman lebih sering terdengar dari atas gunung. Getaran-getaran gempa vulkanik pun makin sering terjadi dan bahkan binatang liar yang jarang terlihat di perkampungan penduduk sering menampakkan diri," tutur Kusnadi.

Masyarakat dengan pemahaman yang kurang, tidak terlalu menanggapi keanehan-keanehan tersebut hingga pada akhir Maret atau di awal bulan April tahun 1815, kejadian-kejadian aneh makin sering terjadi. Hingga pada suatu subuh di tanggal 11 April tahun 1815 gemuruh dan dentuman yang sangat dahsyat terdengar dari arah puncak Gunung Tambora.

Masyarakat di Kerajaan Pekat dan Kerajaan Tambora yang tepat berada di lereng bagian Utara dan Barat Laut tidak sempat menyelamatkan diri. Kedua penduduk kerajaan itu tertimbun jutaan kubik material pyroklastik panas yang mengalir bak air bah dan jatuh seperti air hujan yang deras. Dalam sekejap dua kerajaan hilang ditelan bumi.

"Kerajaan Sanggar yang berada lebih jauh masih berkesempatan menyelamatkan diri. Sehingga tidak semua penduduk kerajaan musnah. Hanya saja dampak lanjutan dari kejadian itu membawa wabah dan bencana kelaparan bagi masyarakat kerajaan sehingga banyak yang meninggal setelahnya," ucapnya.

Letusan Tambora tahun 1815 ini tercatat sebagai salah satu letusan terdahsyat sepanjang masa.

Gunung TamboraKawasan Gunung Tambora. (Foto: Balai Taman Nasional Tambora)

Kejadian letusan dahsyat berlangsung tiga sampai lima hari lamanya, seluruh makluk hidup yang ada di lereng Tambora terutama di bagian Utara, Timur dan Barat, musnah oleh lontaran batu pijar dan awan panas yang mengalir bak gelombang tsunami. Kejadian ini membawa pilu yang sangat mendalam bagi seluruh masyarakat yang masih selamat, mereka banyak kehilangan sanak saudara dan menghadapi wabah penyakit akibat menghirup debu vulkanik dan kelaparan berkepanjangan karena pertanian dan perkebunan musnah.

Di belahan bumi lain, seperti Eropa dan Amerika, kejadian tersebut mungkin tidak langsung dirasakan dampaknya tapi kejadian yang terjadi pada musim gugur tersebut seketika mengubah pola musim di Eropa yang biasanya bulan Mei sampai Agustus sebagai musim panas, tiba-tiba tidak terjadi musim panas sama sekali. Seketika langit di Eropa ditutupi awan yang tebal dan jatuh bak guguran salju yang tidak mencair.

Awan tersebut menghalangi matahari sehingga tahun tersebut disebut tahun tanpa matahari di Eropa, kejadian tersebut berdampak pada kegagalan pertanian dan perkebunan dibenua itu. Tidak ada tanaman yang bisa tumbuh karena matahari terhalang awan dan terjadi hujan asam yang membunuh tanaman dan hewan ternak.

 Letusan inilah yang dianggap letusan terdahsyat pada abad modern.

Gunung TamboraKawasan Gunung Tambora. (Foto: Balai Taman Nasional Tambora)

Masyarakat di Eropa mengalami bencana kelaparan yang parah sehingga tahun terjadi banyak peristiwa besar termasuk kekalahan Napoleon Bonaparte dalam perang di Waterloo. Kekalahan ini menghentikan dominasi dan agresi kerajaan Perancis di Eropa.

"Letusan Tambora tahun 1815 ini tercatat sebagai salah satu letusan terdahsyat sepanjang masa, bahkan ketika letusan Rinjani tua atau Gunung Samalas belum ditemukan, maka letusan inilah yang dianggap letusan terdahsyat pada abad modern," ujar Kusnadi.

Berdasarkan perhitungan jumlah korban baik secara langsung maupun tidak langsung dari kejadian letusan ini adalah 92.000 jiwa, jumlah yang terbilang sangat banyak saat itu. Kusnadi mengatakan, secara morfologi, berdasarkan pemodelan tinggi awal Gunung Tambora sebelum meletus adalah sekitar 4.300 meter dari permukaan laut (mdpl) dan setelah letusan sekarang tingginya adalah 2.850 mdpl.

Gunung TamboraKawasan Gunung Tambora. (Foto: Balai Taman Nasional Tambora)

Letusan tersebut menghasilkan lubang kaldera dengan diameter rata-rata 7 kilometer dan dalam sekitar 1 kilometer. Setelah letusan tersebut kini muncul gunung api baru yang disebut sebagai Doro Api To'i atau gunung api kecil, tepat berada di tengah Kaldera dan sudah mulai muncul danau di dalam kaldera itu.

Tepat 205 tahun setelah kejadian letusan dahsyat tersebut, sudah lebih dari 2 abad letusan itu terjadi. Wajah Tambora saat ini tentunya sudah sangat berbeda dari saat sebelum letusan, tapi yang pasti pesona, keindahan dan kesuburan kawasan Tambora tetap menjadi daya tarik untuk orang berbondong-bondong datang walau hanya untuk sesaat menikmati keindahannya dan bahkan menetap di sana.

"Setelah letusan tersebut memang tidak ada sejarah lagi mengenai pembentukan kerajaan baru di kawasan ini tapi setelah kejadian itu, pengusaha dari Belanda datang untuk menanam kopi di lereng utara Tambora sehingga sampai saat ini Tambora terkenal sebagai penghasil kopi yang nikmat bernama kopi Tambora," tuturnya.

Gunung TamboraKawasan Taman Nasional Tambora. (Foto: Tagar/Dok. Balai TNT)

Kini, masyarakat yang mendiami Tambora adalah masyarakat yang merupakan percampuran antara suku asli Mbojo dan masyarakat pendatang dari Sasak, Bali, dan Samawa serta dari Jawa.

Nama besar Tambora setelah 2 abad diabadikan sebagai sebuah festival yang mulai dilaksanakan sejak tahun 2015 tepat 2 abad meletusnya Tambora. Sayang dampak Covid-19 festival tersebut urung dilaksanakan tahun ini. Nama besar Tambora juga telah membawanya menjadi salah satu geopark nasional pada tahun 2017 dan dalam proses menuju geopark internasional atau UNESCO Global Geopark. []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Padi Rebah, Air Mata Petani Bantaeng Tumpah
Kisah Hawa, buruh tani di Kabupaten Bantaeng. Ibu dua anak ini mendapati sawah yang ia garap, tanaman padi rebah dihajar hujan dan angin kencang.
Tangisan Anak di Makam Saat Lebaran di Aceh Barat Daya
Selesai salat Id di sebuah desa di Aceh Barat Daya, Rizaldi berjalan cepat menuju makam ayahnya. Ia curhat sambil menangis di pusara ayah.
Lebaran Online Warga Bantaeng dan Keluarga Indonesia
Lebaran online keluarga Mohtarom di Tulungagung Jawa Timur, dan keluarga Muhammad Siddiq di Bantaeng Sulawesi Selatan. Idul Fitri 2020 tanpa mudik.
0
Jadwal Belajar dari Rumah TVRI Jumat 23 Oktober 2020
Program Belajar dari Rumah di TVRI siap menemani siswa pada Jumat 23 Oktober 2020.