UNTUK INDONESIA
Kami Bangga Rakit Mobil Esemka
Tagar menyambangi areal pabrik tempat mobil Esemka dirakit, menemui beberapa orang untuk bertanya mengenai dampak proyek mobil swasta tersebut.
Deretan mobil Esemka di halaman pabrik perakitan PT Solo Manufaktur Kreasi di Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu, 7 September 2019. (Foto: Tagar/Padhang Pranoto)

Boyolali - Lengang. Begitulah kondisi pabrik mobil Esemka PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK), sewaktu Tagar menyambangi tempat itu di penghujung pekan, Sabtu, 7 September 2019.

Padahal, sehari sebelumnya pabrik mobil yang terletak di Desa Demangan, Kecamatan Sambi itu riuh dan gegap gempita lantaran Presiden Joko Widodo hadir meresmikan pabrik sekaligus mobil pikap buatan anak negeri yang diberi nama, Bima.

Terletak di areal persawahan, penampakan pabrik begitu mencolok dengan dominasi warna putih dan merah. Bangunan besar yang berada di perbatasan antara Desa Demangan dan Desa Senting, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali - Jawa Tengah itu telah terlihat bahkan dari jarak 500 meter.

Baca juga: Esemka Sempat Diragukan, Jokowi: Ini Merk Kita Sendiri

Di bagian depan atap gedung dan pada dinding pagar, tertulis jelas identitas pabrik PT Solo Manufaktur Kreasi.

Sepinya kondisi pabrik di akhir pekan, tidak mengendurkan ketatnya pengamanan. Nampak sejumlah tenaga keamanan hilir mudik melintasi gerbang. Sementara pintu di belakang mereka, dibiarkan selalu tertutup.

pabrik perakitan mobil EsemkaDua orang pengendara sepeda melintas di depan pabrik perakitan mobil Esemka, PT Solo Manufaktur Kreasi di Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu, 7 September 2019. (Foto: Tagar/Padhang Pranoto)

Di dekat areal pabrik, Tagar menemui Sumiyati, seorang warga Desa Genting yang masih mengingat betul momen keriuhan peluncuran pabrik mobil PT Solo Manufaktur Kreasi oleh Presiden Jokowi.

Ketika mulai diajak bicara, ia begitu antusias bercerita tentang momen kedatangan orang nomor satu di Indonesia itu ke kawasan pabrik.

Tanpa butuh waktu dan energi besar untuk mengingat-ingat, perempuan renta 80 tahun itu dengan lancar menggambarkan betapa padat dan ramainya suasana di sanasaat itu.

"La wong nyabrang itu lo, sampe angel. Wonge okeh, ana pak polisi, tentara, sing nunggu neng pinggir dalan ya akeh. Ngenteni Pak Jokowi andum hadiah, angger undang-undang diwenehi kaus saka njero mobil. Aku lo malah ora entuk. (mau menyebrang saja susah, ada polisi, tentara, yang menunggu di pinggir jalan juga banyak. Menanti Pak Jokowi memberi hadiah, asal memanggil-manggil nanti dikasih dari dalam mobil. Saya malah tidak dapat) ," kata dia.

Menanti Pak Jokowi memberi hadiah.

Sumiyati menyebut situasi sangat ramai hingga untuk menyebrang jalan pun susah. Petugas kepolisian, tentara, memenuhi jalan. Warga yang menunggu di pinggiran jalan juga ia sebut tak kalah banyak.

Mereka menanti Pak Jokowi memberi hadiah. Ia tahu persis setiap ada warga yang memanggil-manggil, presiden akan memberi hadiah dari dalam mobil. Sumiyati bahkan sempat menyesali diri lantaran justru tak sempat mendapat hadiah pemberian kepala negara.

Kendati begitu, Sumiyati mengaku berbangga bisa melihat sosok presiden meski dari kejauhan.

Ditanya mengenai aktivitas pabrik, Sumiyati mengaku tak tahu banyak, yang dia tahu di tempat itulah mobil-mobil banyak diproduksi. Selain itu, banyak rumah yang dijadikan indekos oleh para pekerjanya.

Sesekali ia juga melihat, beberapa mobil jenis bak terbuka diujicoba. Hal itu dilihatnya dari rumahnya yang memang berbatasan pagar dengan pabrik SMK. Selain itu, ia mengaku tak banyak mengetahui ihwal pabrik

"Ngertine ya niku, sok mobile dilakokake rana-rene. Ten mriki kathah sing nge-kos, wonten sing PKL wonten sing kerja, wonten mandore. (yang saya tahu mobilnya kadang dijalankan ke sana-sini. Di sini banyak yang indekos, mulai dari yang PKL sampai ada yang kerja di situ dan mandornya juga ada)," ujarnya.

Sumiyati menyebut, karyawan-karyawan pabrik mobil tersebut masih berusia muda. "Nggih niku, sing kerja tesih cilik-cilik. Wonten sing ngekos ten ngriku, katah kok. (yang kerja masih muda-muda, ada yang ngekos di dekat situ lo)," tutur dia.

Rakit Mesin

Tagar kemudian menyambangi sebuah rumah indekos yang disebut Sumiyati banyak tempati oleh para pekerja PT SMK. Benar saja, sewaktu memasuki areal kos, terlihat banyak setelan seragam pabrik berupa wearpack ala montir berwarna biru yang tengah dijemur di bawah terik matahari yang menyapu lahan halaman.

Baca juga: Jumat Jokowi Resmikan Esemka

Selain itu, deretan pasang sepatu safety (keselamatan) khas pabrik, juga tampak berjajar di bagian teras kos-kosan.

Gemeretak bunyi anak kunci terdengar dari bagian dalam pintu salah satu kamar kos, usai Tagar mengetuk dan mengucapkan salam.

Beberapa menit kemudian, sesosok laki-laki berperawakan tinggi, berkulit putih dan berambut pendek, keluar dari balik pintu.

Usai Tagar memperkenalkan diri dan mengutarakan niat, pemuda bernama Erry Pratama itu bersedia meladeni wawancara. Ia mengaku sudah setahun bekerja sebagai perakit engine (mesin) di PT SMK.

"Saya dari Kalimantan Barat, Pontianak. Tepatnya dari Kecamatan Semitau, Kabupaten Kapuas Hulu. Sudah satu tahun saya bekerja di sini," kata dia, membuka cerita.

Erry mengungkapkan, sebelum bekerja di Boyolali ia merupakan pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bagimu Negeriku, Semarang. Di sana, ia mengambil jurusan otomotif sesuai dengan minat dan bakatnya.

Erry mengaku memperoleh informasi terkait perusahaan yang membuka lowongan kerja di pabrik mobil PT SMK, sesaat sebelum menamatkan pendidikan menegahnya di sekolah itu.

Meski pada mulanya ia merasa asing dengan istilah Mobil Esemka, toh pada akhirnya Erry yakin untuk membuat surat lamaran pekerjaan ke tempat itu, usai menggali informasi mengenai pabrik di laman internet.

Hasilnya memuaskan, ia diterima untuk bekerja sebagai karyawan di perusahaan baru tersebut.

"Sebulan ada masa training, kemudian bekerja di bawah arahan supervisi. Ya sampai sekarang," kata pemuda 19 tahun tersebut.

EsemkaDeretan mobil Esemka di halaman pabrik perakitan PT Solo Manufaktur Kreasi di Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu, 7 September 2019. (Foto: Tagar/Padhang Pranoto)

Bekerja di pabrik, Erry ditempatkan pada divisi perakitan mesin. Tugasnya, merakit komponen mesin utama. Dalam satu divisi yang bekerja dari pukul 08.00 sampai pukul 17.00, mereka bisa menghasilkan 90 mesin utama yang mendayai mobil Bima Esemka.

"Prosesnya untuk membuat sebuah mesin jadi itu cukup panjang. Dibagi per-line, jadi nanti saya kebagian memasang apa, teman saya nanti apa. Setelah itu dicek, dengan komputerisasi, sudah tepat belum. Kalau belum diperbaiki," kata Erry.

Dari proses perakitan mesin, produksi berlanjut pada penyatuan dengan komponen lain hingga perakitan bodi kendaraan pada bagian akhir. Setelah itu, dilakukan proses pengujian di kawasan sekitar pabrik.

Adapun, divisi-divisi yang terdapat di pabrik tersebut antara lain, divisi monocoque, gasoline engine, diesel engine, transmisi dan axle. Selain itu terdapat pula divisi pengecatan dan pengujian.

Hal serupa dikatakan oleh Dandi Eka. Pemuda asal Desa Karanggondang, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara itu, mengaku senang bisa bekerja di PT SMK. Musababnya, ia merasa ilmu yang didapatnya semasa sekolah, dapat digunakan maksimal di pabrik itu.

Ada yang menjatuhkan, ada yang bilang dari Cina.

Dandi mengaku tidak mendapat kesulitan berarti selama setahun bekerja sebagai perakit mesin. Menurutnya, tipikal mesin buatan Jepang dan mesin mobil Bima Esemka, tidak memiliki perbedaan yang signifikan.

"Tidak berbeda jauh sih. Hampir sama. Hanya saja, kalau mobil ini (Bima Esemka) tidak rumit. Penempatan beberapa bagian ada yang lain, jika dibanding mobil-mobil buatan Jepang yang pernah saya tangani selama di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan)," kata dia.

Ia menambahkan, keistimewaan mobil Bima Esemka dengan produk lain adalah komponennya yang lokal. Selebihnya, relatif sama dengan mobil-mobil yang kini beredar di jalanan.

Erry PratamaErry Pratama menunjukan wearpack yang selalu dipakainya saat merakit mesin mobil Esemka, Sabtu, 7 September 2019. (Tagar/Padhang Pranoto)

Bekerja adalah Kebanggaan

Baik Erry maupun Dandi mengaku bangga dapat menjadi bagian dari pabrik perakitan mobil buatan anak negeri. Mereka menampik keras, bahwa mobil yang mereka hasilkan buatan (rebadge) dari kendaraan Cina.

Pemuda-pemuda itu berharap, kerja keras mereka selama setahun di PT SMK, berbuah apresiasi dari masyarakat.

"Ada yang menjatuhkan, ada yang bilang dari China lah. Padahal operator produksinya semua anak-anak dari SMK. Supervisornya juga dari Indonesia, lulusannya D1 atau S1," kata Dandi.

Selain SMK-SMK dari Jawa Tengah, ada pula lulusan sekolah kejuruan yang berasal dari luar Jawa. Seperti Medan dan Nias.

Hal senada diungkapkan Erry. Menurutnya, kebanggaan dapat merakit mobil buatan anak negeri, juga menular pada ayah ibunya. Kedua orang tuanya di Kalimantan Barat, bahkan seringkali memberi nasihat. Terkait beberapa rumor yang beredar tentang mobil Esemka.

"Dulu pas waktu ada rumor-rumor tidak bagus, bapak ibu saya bilang, sabar. Kalau sabar dan teliti pasti hasilnya bagus," kata Erry.

Terakhir, mereka berdua berharap produk-produk Esemka, bisa diterima masyarakat. Saat ini perusahaan diakuinya tengah fokus mengembangkan mobil Esemka Bima 1.2 dan Bima 1.3, yang menggunakan bahan bakar solar maupun bensin.

"Pesanan sudah banyak, saat ini sih menurut supervisor saya untuk mobil pick up pertanian dulu," kata keduanya.

Pangkas Pengangguran Desa

Kehadiran pabrik mobil di Boyolali, tidak hanya bermanfaat pada dunia otomotif Indonesia. Desa Demangan, sebagai tempat berdirinya pabrik tersebut, turut meraih berkah, termasuk dalam hal pemberdayaan warga.

Hal itu dikatakan oleh Kepala Desa Demangan Rosyid Setiawan. Menurutnya, sudah ada perjanjian antara perusahaan dan pemerintah desa terkait penyerapan pekerja lokal.

"Bargaining kami minimal 25 persen dari jumlah pekerja berasal dari desa. Itupun harus masuk standar kualifikasi dari perusahaan," kata Rosyid, saat dimintai konfirmasi oleh Tagar.

"Misalnya ada dua pelamar, satu dari sini (Desa Demangan) satu dari luar. Kalau dilihat nilainya sama ya artinya didahulukan yang dari sini," kata dia.

Rosyid SetiawanKepala Desa Demangan, Rosyid Setiawan. ditemui Tagar, Sabtu, 7 September 2019. (Foto: Tagar/Padhang Pranoto)

Selain itu, nantinya diharapkan agar perusahaan melalui mekanisme Corporate Social Responsibility (CSR), ikut membangun desa. Di antaranya dengan ikut membina lingkungan.

Minimal 25 persen dari jumlah pekerja berasal dari desa.

Akan tetapi, Rosyid paham hingga saat ini belum ada proses jual beli yang terjadi di pabrik tersebut. Oleh karenanya, ia berharap agar kedua belah pihak saling menghormati.

"Latar belakang saya juga pengusaha, usaha buku. Jadi saya tahu belum ada penjualan, masih investasi sifatnya. Kan masih ada proses selanjutnya setelah dibuat. Jadi kami tak akan membebani," ujarnya.

Rosyid mengatakan, tanah seluas lebih kurang 11 hektar yang kini ditempati PT SMK sebagai areal pabrik, merupakan lahan milik Kas Desa Demangan.

Dalam perjanjian yang dibuat sebelum masa kepemimpinan Rosyid, tanah tersebut disewa dalam jangka waktu 30 tahun, dengan masa pembayaran tiap tahun sekali.

Disinggung mengenai kemungkinan pemerintah desa setempat memakai kendaraan Esemka, Rosyid mengaku hingga saat ini belum ada pembicaraan. Namun, ia berharap jika sudah pada waktunya, kerja sama itu bisa dilakukan.

"Saat ini belum. Kalaupun nanti ada seperti itu, ya bisa lah untuk digunakan sebagai kendaraan ambulans bagi masyarakat," kata Rosyid.

Diberitakan sebelumnya, Presiden Joko Widodo meresmikan pabrik dan meluncurkan produk perdana PT SMK, Pick Up Bima, Jumat, 6 September 2019. Pada acara tersebut, presiden menyanjung keberanian produsen mobil swasta itu.

"Teknisi-teknisinya oleh anak-anak SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), inisiatornya yang dulu saya kenal juga ada di sini semua. Dalam pembuatan mobil tak hanya memproduksi saja, tetapi bagaimana penjualnya," kata Jokowi.

"Tadi di belakang saya lihat mesin dan komponen dirakit, suplier dan komponen banyak dari lokal, meskipun belum sampai 80 apalagi 100 persen. Tetapi yang pertama patut kita acungi jempol. Tidak mudah, tidak gampang, masuk pasarnya juga tidak gampang, tapi kalau kita menghargai karya kita sendiri, brand dan prinsipal kita sendiri, ini akan laku," ucap Presiden ke-7 Indonesia itu.

Jokowi mobil EsemkaPresiden Joko Widodo (kanan) didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kiri) mengamati salah satu produk mobil keluaran pabrik mobil Esemka saat meresmikan pabrik mobil PT. Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) di Boyolali, Jawa Tengah, Jumat, 6 September 2019. (Foto: Antara/Aloysius Jarot Nugroho)

Jokowi menilai, penggunaan suplier dan komponen lokal akan berdampak pada industri kecil. Ia pun mengajak masyarakat Indonesia untuk turut mendukung kerja-kerja yang dilakukan oleh perusahaan tersebut.

"Kemudian, saya tanya untuk harga karena untuk memproduksi juga mudah, tapi pasarkan sulit. untuk produksi pertama ini cukup kompetitif, tadi tanya ke manajemen harganya 95 juta off the road. Feeling saya, laku keras," kata Jokowi.

"Ini adalah produksi pertama, kualitas cukup baik, kalau ada kurang-kurang dikit ya namanya produksi pertama. Tapi sudah sangat bagus," kata Presiden Joko Widodo yang didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. []


Berita terkait
Komponen Esemka Lemparan China?
Presiden Direktur PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) Eddy Wirajaya merespons tuduhan mobil pabrikan China. Berikut profil komponen pemasok Esemka.
Fadli Zon Sarankan Jokowi Mobil RI-1 Diganti Esemka
Wakil Ketua DPR Fadli Zon meminta Presiden Joko Widodo mengganti mobil kepresidenan Republik Indonesia (RI-1) dengan mobil Esemka.
Esemka Bima Resmi Diluncurkan, Cuma Segini Harganya
Selain meresmikan pabrik, kunjungan ini juga sekaligus menjadi peluncuran dua varian mobil Esemka, yaitu Bima 1.2L dan Bima 1.3L.
0
Revisi UU KPK, Jokowi Minta Masyarakat Bersuara ke DPR
Presiden RI Joko Widodo menyampaikan tanggapannya terkait keputusan Revisi Undang-Undang KPK. Ia mengaku, ide awal revisi tersebut dibawa oleh DPR.