UNTUK INDONESIA
IPW: Titiek Soeharto Tidak Ditangkap Karena Rekonsiliasi
Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S Pane menyebut Keluarga Cendana sebagai big dalang kerusuhan Mei 2019.
Kondisi terkini Jalan Wahid Hasyim Jakarta dijaga ketat satuan Brimob pada Kamis dini hari 23 Mei 2019. (Foto: Tagar/Nanda Febrianto).

Jakarta - Dalam sebuah acara di Stasiun Televisi Metro TV, Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S Pane menyebut Keluarga Cendana sebagai big dalang kerusuhan Mei 2019. Bahkan, Neta meminta pihak kepolisian memeriksa Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto.

Dalam wawancara dengan Tagar, Neta menegaskan pernyataannya mengenai big dalang tersebut. "Sebenarnya, di Metro TV itu sudah jelas perinciannya. Kalau dibuka semua itu jelas perinciannya, kenapa sampai kemudian pada kesimpulan big dalang itu," ujarnya.

Ia menjelaskan tudingannya dimulai dari demo di depan Bawaslu, di mana Titiek Soeharto juga hadir di situ. Kemudian malamnya terjadi kerusuhan. 

Baca juga: TKN dan BPN Respons Keluarga Cendana Dalang Rusuh

Saat ditanya, kenapa dia tak melaporkan Titiek ke polisi, ia mengatakan sudah melaporkan, bahkan sudah bertemu dengan beberapa pimpinan Polri dan mendesak agar Titiek Soeharto harus diperiksa.

"Menurut informasi sudah ada upaya ke sana (pemeriksaan), tapi sejumlah elit mengatakan ini proses rekonsiliasi sedang terjadi," katanya.

Ia mengatakan dari informasi yang diperoleh sebenarnya polisi sudah mau mengarah untuk memanggil Titiek. "Tapi kemudian ada upaya dari elit meminta polisi landai dulu, karena proses rekonsiliasi sedang berlangsung. Kenapa kita keluarkan juga pernyataan di Metro TV, kemarin itu antara 01 dan 02 sudah rekonsiliasi dan kita dapat informasi A1, sebagai rekonsiliasi itu cawapres 02 akan masuk ke kabinet 01," ucapnya.

Ia melanjutkan politik itu tidak matematika. Ia mencontohkan Afrika Selatan ketika Nelson Mandela 36 tahun dipenjara rezim Apartheid, 25 tahun diantaranya di sel seluas 1x1 meter. 

"Tapi ketika dia terpilih menjadi presiden dia mengatakan bahwa 'kita harus belajar untuk menghapus dendam masa lalu.' Sehingga dia bentuk proses rekonsiliasi dan hasilnya Afrika Selatan maju sekarang, bahkan jadi tuan rumah Piala Dunia, mata uangnya lebih tinggi dari rupiah," katanya.

Berkaca dari itu, tambahnya, kenapa bangsa Indonesia tidak melakukan rekonsiliasi?  

"Tidak perlu hanyut dalam dendam, karena dendam itu yang justru menghancurkan bangsa. Jadi rekonsiliasi ini merupakan solusi terbaik. Dan kita dapat informasi, hal itu sedang ditempuh oleh 01 dan 02. Kalau itu yang lebih baik untuk bangsa dan negara kenapa kita harus terlibat dendam, saling hukum menghukum?" tanyanya.

Baca juga: Neta Sebut TS Cendana Dalang Kerusuhan 21-22 Mei 2019

Menurutnya, untuk Indonesia yang lebih baik, Indonesia yang maju dan terciptanya tertib sosial, rekonsiliasi harus dilakukan. "Selama ini, sejak Presiden Soeharto jatuh kita terjebak dalam dendam-dendam yang tidak berkesudahan dan membuat Indonesia semakin terpuruk."

Ia mengatakan IPW mendukung rekonsiliasi tersebut, serta mendukung Jokowi membentuk kabinet rekonsiliasi. "Artinya semua komponen yang bisa membangun Indonesia ke depan, membawa Indonesia lebih baik, ya diakomodir saja," kataya.

Sebelumnya, Neta S Pane meminta pihak kepolisian untuk memeriksa Titiek Soeharto terkait kerusuhan aksi 22 Mei.

Hal tersebut diungkapkan oleh Neta S Pane dalam sebuah wawancara di acara Metro TV News Room.

Rujukan Neta yang menduga Keluarga Cendana terlibat dalam kerusuhan ini berdasarkan para tersangka yang telah ditangkap polisi.

"Kemudian sebagian besar yang diperiksa polisi itukan orang-orangnya Prabowo, orang-orangnya 02. Untuk itu kita berharap polisi segera membongkar, " kata Neta S Pane. []


Berita terkait
0
Sabu Seberat 50 Kg di Medan Dibawa Pakai Keranjang
BNN menggagalkan peredaran 50 kilogram narkoba jenis sabu dari rumah semi permanen di Medan.