UNTUK INDONESIA
Ini Kebutuhan Mendesak Mahasiswa Aceh di Wuhan
Mahasiswa asal Aceh yang berada di Wuhan saat ini mulai kekurangan masker khusus dan makanan.
Kondisi mahasiswa Aceh di Wuhan, Cina. (Foto: Tagar/Istimewa)

Banda Aceh - Direktur Pemuda Pelajar Indonesia se-Tiongkok, Mulia Mardi menyebutkan saat ini yang paling dibutuhkan oleh para mahasiswa asal Aceh yang berada di Wuhan adalah masker khusus dan makanan.

“Merebaknya virus corona di Wuhan berakibat pada menipisnya stok makanan dan masker khusus, saat ini harga makanan bahkan sudah naik hingga lima kali lipat dari harga biasa,” kata Mulia Mardi kepada wartawan di Banda Aceh, Senin, 27 Januari 2020.

Dia mengatakan, kenaikan makanan pokok tersebut dipicu oleh kondisi di Wuhan karena sedang masuk dalam musim dingin, ditambah lagi dengan merebaknya Virus Corona. Kondisi ini juga diperparah dengan banyaknya toko makanan yang tutup.

“Toko makanan yang buka sangat minim dan selalu terjadi antrian panjang karena toko tidak buka setiap saat,” ujar Mulia.

Mulia menambahkan, sejak Desember 2019, otoritas setempat sudah mengeluarkan peringatan terkait merebaknya virus, namun saat itu peringatan yang dikeluarkan adalah Virus Sars. Di awal Januari 2020, otoritas di Wuhan mengeluarkan peringatan baru yang menjelaskan, bahwa virus yang merebak adalah Virus Corona.

Menipisnya stok makanan dan masker khusus, saat ini harga makanan bahkan sudah naik hingga lima kali lipat dari harga biasa.

Ia menjelaskan, saat ini ada sekitar 63 mahasiswa Aceh di seluruh Tiongkok. 33 orang di antaranya berada di Wuhan. Namun sebagian besar pulang atau memanfaatkan waktu liburan untuk mengunjungi daerah lain di Tiongkok.

Mulia adalah salah satu mahasiswa Aceh yang berada di luar Wuhan, saat kebijakan isolasi diberlakukan oleh otoritas setempat. Saat akan kembali ke Wuhan, otoritas setempat tidak memberi izin.

Ia mengatakan, kejadian sebaliknya justru dialami oleh Safriadi dan Intan. Kedua pelajar asal Aceh ini berkuliah di wilayah Wing Cun (luar Kota Wuhan). Namun saat kebijakan isolasi diberlakukan mereka sedang berkunjung ke Wuhan. Bersama 10 pelajar Aceh lainnya, saat ini keduanya berada di Wuhan.

“Saat ini teman-teman di sana sudah mengisolasi diri di kamar. Dengan stok makanan dan stok masker khusus yang terus berkurang. Di musim dingin, memang aktivitas luar ruangan selalu kami batasi, karena suhu berada di angka 8 hingga 4 derajat celcius,” tutur Mulia.

Mulia menyebutkan, saat ini seluruh akses ke Wuhan telah ditutup. Transportasi seperti Subway dan Metro bawah tanah sudah ditutup sejak tanggal 24 Januari 2020 lalu.

“Bus kota dan stasiun kereta api serta bandara juga sudah ditutup, kecuali ada lisensi khusus seperti ambulance dan mobil polisi,” ujarnya. []

Baca juga: 

Berita terkait
Aceh Singkil Siaga Kunjungan Wisatawan dari China
Pihak pelabuhan Aceh Singkil, Aceh mulai memperketat masuknya wisatawan mancanegara di wilayah itu.
Hotel di Aceh Terbakar
Hotel 61 yang berada di Jalan Panglima Polem, Kota Banda Aceh, Aceh terbakar.
Gaji Perangkat Desa Subulussalam Aceh Tak Dibayar
Sejumlah perangkat desa di Subulussalam memprotes karena gaji selama ini tak kunjung dibayar.
0
Jokowi Saksikan Ketua MA Syarifuddin Mengucap Sumpah
Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyaksikan pengucapan sumpah M. Syarifuddin sebagai Ketua Mahkamah Agung (MA) periode 2020-2025.