UNTUK INDONESIA
Infeksi Usus, Remaja Tanpa Ibu di Abdya Butuh Uluran Tangan
Tarmizi remaja putra asal Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh membutuhkan uluran tangan pemerintah dan para dermawan karena mengidap infeksi usus.
Tarmizi terlihat berbaring di ruang tamu rumahnya Desa Kuta Tuha Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh. Kondisinya semakin kurus akibat penyakit usus yang dideritanya hingga keluarga sangat berharap bantuan dari pemerintah dan para dermawan untuk biaya berobat, Jumat, 16 Oktober 2020 di Aceh Barat Daya. (Foto: Tagar/Istmewa)

Aceh Barat Daya - Uluran tangan pemerintah dan para dermawan sangat diharapkan oleh Tarmizi remaja putra asal Desa Kuta Tuha Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh untuk biaya operasi atas penyakit infeksi usus yang dialaminya karena kecelakaan saat kerja pada tahun 2019 lalu.

Suryadi ayah Tarmizi mengatakan penyakit yang diderita putra tercintanya itu bermula saat Tarmizi sedang bekerja di salah satu Doosmeer daerah tempat mereka tinggal. Saat sedang memanjat tangga Tarmizi terjatuh, naasnya saat jatuh batang sapu di bawah tangga masuk dalam uburnya hingga tembus ke usus.

Saya harus menjaganya hingga tidak bisa bekerja, sedangkan ibunya telah meninggal lima tahun lalu.

"Sejak kejadian itu, kondisi anak saya terus memburuk dan dia hanya tergeletak di tempat tidur," kata Suryadi, Jumat, 16 Oktober 2020 di Aceh Barat Daya.

Meski Tarmizi sudah menjalani operasi di Rumah Sakit Banda Aceh di Provinsi Aceh pada tahun 2019 lalu dan bolak balik ke Banda Aceh untuk berobat jalan dengan berbekal BPJS. Namun kondisinya tidak kunjung membaik hingga sekarang tubuh Tarmizi semakin kurus.

"Badannya semakin susut dan kurus kering. Sehari-hari dia hanya berbaring dan menahan sakit dengan selang usus pembuangan yang dibungkus kantung kolostomi di bagian badan," sebutnya.

Untuk kembali berobat Suryadi tidak mampu, terlebih di tengah pandemi Covid-19 yang apa saja serba susah, belum lagi tuntutan kebutuhan keluarga dan kini tugas lain yang harus dilakukan Suryadi selain mencari uang adalah mengurus Tarmizi.

"Saya harus menjaganya hingga tidak bisa bekerja, sedangkan ibunya telah meninggal 5 tahun lalu," sebutnya.

Selama ini Suryadi dan Tarmizi hanya mengandalkan bantuan dari tetangga dan relawan. Pasca musibah yang dialami anaknya Suryadi merasa cukup kesulitan, bukan saja untuk biaya hidup, namun juga untuk biaya pengobatan dan pembelian kantung kolostomi untuk anaknya.

"Kalau tidak ada uang beli kantung kolostomi saya buat dari plastik," ujarnya.

Suryadi sangat berharap bantuan dari pemerintah dan para dermawan untuk biaya pengobatan putranya. "Allah maha segalanya, setiap salat saya berdoa agar putra saya diberikan kesembuhan seperti semula," tuturnya. []

Berita terkait
Didemo Mahasiswa, DPRK Abdya Sepakat Tolak UU Cipta Kerja
Ratusan mahasiswa dari berbagai universitas di Kabupaten Abdya, Aceh menolak pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja Omnibus Law.
Tabrakan Beruntun di Abdya Aceh, Mobil Rusak Berat
Kecelakaan beruntun di Gampong Pantee Cermin, Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh.
Dinas Abdya, Aceh Bakal Tertibkan Truk Batu Gajah Nakal
Truk pengangkut batu gajah yang membahayakan pengguna jalan lain di Abdya, Aceh segera ditertibkan.
0
Stok Gas LPG 3 Kilogram Tersisa 6,5 Juta Tabung di Sumbar
Stok gas LPG ukuran tiga kilogram di Sumatera Barat (Sumbar) tersisa 6,5 juta tabung hingga akhir tahun 2020.