UNTUK INDONESIA
Ibu di Yogyakarta Gantungkan Bekal Makanan Gratis
Seorang ibu di Sleman, Yogyakarta, merasa iba di tengah pandemi Covid-19. Dia mencentelkan bahan makanan untuk warga yang membutuhkan.
Ardianti, 53 tahun saat menggantung bahan sayuran di halaman rumahnya (Foto: Tagar/Evi Nur Afiah)

Sleman - Ardianti, 53 tahun, seorang ibu rumah tangga di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, merasa iba terhadap masyarakat yang terdampak pandemi virus Corona. Dalam kondisi yang serba sulit ini, banyak pekerja yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau dirumahkan tanpa gaji.

Meskipun dirinya ikut terdampak, namun Ardianti, merasa peduli terhadap orang lain apalagi persoalan kebutuhan pangan. Dengan rezeki seadanya, Ardianti bersama anaknya membagikan bekal makanan seperti sayur mayur secara gratis.

Ardianti membagikannya dengan cara yang tidak biasa. Bahan makaan sengaja digantungkan di halaman rumahnya menggunakan kayu. Dengan harapan, warga yang membutuhkan bisa mengambilnya.

"Untuk siapa saja (bahan sayurannya). Tapi harapannya yang mengambil secara fisik dia orang tidak punya. Atau secara psikologis betul membutuhkan," kata Ardianti saat ditemui di rumahnya pada Rabu, 29 April 2020.

Ardianti mengatakan, di sekitar rumahnya, banyak masyarakat yang di-PHK dan dirumahkan. Meskipun mereka tergolong orang yang mampu jika dilihat dari rumah dan kendaraannya, namun siapa yang tahu di situasi seperti saat ini kondisi keuangan mereka kurang stabil. Hal itulah yang mendorong dirinya untuk membantu orang lain.

Janda anak tiga ini berusaha untuk membuat tetangganya bisa makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan membagikan sayur yang digantungkan di depan halaman rumahnya.

Tapi harapannya yang mengambil secara fisik dia orang tidak punya.

Dia mencentelkan bahan makanan itu sejak 7 April 2020 lalu. Dengan modal uang Rp 200 ribu, dirinya bisa menyantelkan beberapa bahan makanan yang terdiri dari mie instan, telor, sayuran dan beberapa potongan gula Jawa. 

"Ada beberapa tetangga yang di-PHK dan dirumahkan, tapi kita tidak ndak tahu apakah orang-orang ini masih memiliki uang untuk kebutuhan hidup atau tidak," ucapnya.

Bahkan dirinya sempat berdebat kecil dengan anaknya terhadap barang yang akan diberikan secara gratis itu. Anaknya khawatir, barang tersebut diambil oleh orang yang berkecukupan.

Ia menjelaskan prinsip yang dia pegang hingga hari ini adalah tetangga bantu tetangga. Artinya orang yang dapat membantu kesulitan manusia lain adalah orang yang ada di dekatnya.

"Saya bilang sama anak. Kalau kita resah siapa yang berhak dan tidak berhak mengambil malah mengotori hati dan niat kita, jadi biarin saja. Semoga memang orang yang benar membutuhkan," ujarnya.

Wanita yang tinggal di Dusun Rajek Lor, Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman ini memberikan bahan sayuran karena dirasa manusia lebih baik menjaga imunitas tubuh dengan mengonsumsi makanan bervitamin.

Seiring berjalan waktu, kata Ardianti, banyak tetangga yang ingin menyumbangkan rezekinya dengan memberi satu ikat kangkung. Saat meletakkan bahan makanan ini tidak ditentukan. Ia mengungkapkan kadang menggantungkannya pada pagi, siang bahkan sore.

"Tetangga bantu tetangga, pikiran saya pertama kali adalah orang yang bisa membantu tetangganya adalah orang yang paling dekat dengan lingkungan itu," kata lulusan S1 Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Kabar baiknya, memasuki bulan Ramadan bantuan dari warga sekitarnya bertambah banyak. Bahkan ada yang memberi satu kuintal beras untuk dibagikan kepada warga yang membutuhkan. "Saya gak kepikiran ada yang bantu. Saat ini banyak amanah, donasi dan bantuan dari orang lain berdatangan," ucapnya.

Di bulan puasa ini, dirinya juga sempat menggantung beberapa makanan berbuka saat sore hari. Namun begitu, tidak banyak tetangga yang mengambil dan rencananya akan diganti dengan pemberian sayur seperti biasa. 

"Beberapa hari lalu saya menggantung takjil, tapi tidak ada yang mengambil. Saya fikir membagikan sayur-mayur memang lebih dibutuhkan warga sekitar," katanya. []

Baca Juga:

Berita terkait
Marak Peminta Bantuan Dampak Covid-19 di Yogyakarta
Para peminta bantuan marak di Yogyakarta saat pandemi Covid-19 ini. Warga diminta tidak memberikan bantuan di pinggir jalan.
Skema Bantuan Dampak Covid-19 di Kota Yogyakarta
Sebanyak 53.319 KK di Kota Yogyakarta akan mendapatkan bantuan dampak Covid-19, baik dari Kemensos, provinsi dan pemkot.
19 Kendaraan Masuk Yogyakarta Diminta Putar Balik
Bukan isapan jempol, pemudik masuk Yogyakarta dari zona merah Covid-19 diminta putar balik.
0
Kata PKS, Presiden Jokowi Lemah dan Plin Plan
Pemerintahan Jokowi periode dua ini masih saja seperti dulu. Lemah dan plin plan. Terlihat saat wabah Covid-19 melanda negara ini. Kata orang PKS.