UNTUK INDONESIA
Harga Cabai Naik Tak Pengaruhi Produksi Pecel Kediri
Perajin bumbu pecel di Kediri mengaku penurunan harga kacang bisa menutupi biaya produksi saat harga cabai melambung tinggi.
Perajin bumbu pecel di Kabupaten Kediri yang tetap berproduksi meski harga cabai naik. (Foto: Tagar/Fendhi Lesmana)

Kediri - Kenaikan harga cabai yang menembus hingga Rp 70 ribu per kilogram, ternyata tak berdampak pada produksi perajin bumbu pecel di Kediri. Padahal, salah satu bahan produksi bumbu pecel adalah cabai.

Salah satu perajin bumbu pecel di Kabupaten Kediri, Bu Mukti mengatakan usahanya sama sekali tidak terpengaruh dengan kenaikan harga cabai yang mencapai Rp 70 ribu per kilogram. Hal itu dikarenakan secara bersamaan, harga kacang yang juga sebagai bahan utama produksi bumbu pecel mengalami penurunan harga.

"Meski pun harga cabai naik, saya tetap menjual bumbu pecel masakan dengan harga tetap. Harga kacang saat ini lagi turun, sehingga bisa menopang pengeluaran biaya pembelian cabai yang lagi naik," ujar perempuan yang sudah menjalankan usahanya sejak 20 tahun lalu ini.

Bu Mukti mengku untuk harga bumbu pecel produksinya dipasarkan dengan harga Rp 28 ribu dengan berat satu kilogram.

Meski pun harga cabai naik, saya tetap menjual bumbu pecel masakan dengan harga tetap.

"Pokonya satu kilogram beratnya. Kalau ukuran kemasan tergantung pesanan. Harganya tetap sejak tahun kemarin, enggak naik mas," ucapnya.

Bu Manik mengaku bumbu pecel buatanya memiliki rasa khas jika dibandingkan bumbu pecel daerah lain. Menurutnya semua proses pembuatan bumbu pecel murni menggunakan rempah alami tanpa bahan minyak.

"Yang menjadi pembeda lainya, gula yang digunakan untuk bahan adalah gula kelapa, bukan gula tebu. Gula kelapa rasanya dinilai lebih enak ketimbang gula tebu," tuturnya.

Untuk gula kelapa, Bu Mukti mengaku mendatangkan langsung dari Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Untuk satu kali order, biasanya didatangkan sebanyak 15 kwintal

"Ciri khas bumbu pecel Kediri gula kelapanya terasa," ungkap Bu Mukti.

Bu Mukti mengaku, usaha bumbu pecelnya disukai pelangganya dari Jakarta, Tangerang, Surabaya, Malang, bahkan Kalimantan sekali pun. Bahkan, ada warga Kediri yang merantau ke Malaysia membeli bumbu pecel darinya sebanyak 15 kwintal untuk dijual kembali di sana.

"Ada warga Kelurahan Bandar Lor, Kota Kediri yang setiap kali datang ke sini selalu memesan dalam jumlah banyak. Bumbu pecel itu kemudian dibawa ke Malaysia, untuk dijual kembali," ucapnya. []

Berita terkait
Ayah ZA Ikhlas Anaknya Divonis Pembinaan di Malang
Ayah ZA mengaku tidak akan mengajukan banding dan menerima vonis hakin Pengadilan Negeri Kepanjen Malang.
Pengadilan Malang: Vonis Pembunuh Begal Sudah Adil
Humas Pengadilan Negeri Kepanjen, Malang menilai vonis yang diberikan oleh majelis hakim adalah yang terbaik bagi pelaku dan keluarga korban.
Gropyokan, Cara Petani Kediri Cegah Hama Tikus
Petani Desa Paron, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri mulai khawatir akan serangan hama tikus. Untuk itu dilakukan Gropyokan agar bisa panen.
0
Keselamatan Warga Subulussalam Terancam dari Harimau
Harimau kembali mencoba memangsa ternak warga Desa Singgersing, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Aceh.