UNTUK INDONESIA
Hantu Cantik Mata Putih di Kuburan Letta Bantaeng
Wajahnya cantik dengan dua bola mata berwarna putih. Sosok hantu penunggu lorong kuburan di Letta Banteng itu terlihat sedih.
Lorong samping kuburan Letta, Bantaeng, tempat kemunculan hantu berwujud wanita cantik dengan dua bola mata warna putih. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Bantaeng - Dua perempuan asal Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, melakukan uji nyali di kawasan pemakaman di Kelurahan Letta, Kecamatan Bantaeng. Dan mereka menjumpai sosok hantu penunggu kuburan berwujud wanita cantik dengan dua bola mata berwarna putih.    

Waktu itu sekira pekan ketiga pada bulan Maret tahun 2009. Emi, masih duduk di bangku sekolah menengah kejuruan (SMK). Ia tercatat sebagai siswi SMKN 1 Bantaeng, jurusan administrasi perkantoran atau yang lebih dikenal dengan sebutan jurusan sekretaris.  

Emi masihlah gadis belia berusia 17 tahun. Banyak kisah dan cerita kala menjalani masa berseragam putih abu-abu. Salah satu cerita yang tak pernah ia lupakan adalah aksi uji nyali bersama kawannya pada malam Jumat di bulan Maret hampir sebelas tahun lalu itu 

Di kalangan kawan-kawannya, Emi dikenal sosok perempuan pemberani. Ia tidak mengenal rasa takut akan cerita mistis. Justru punya rasa penasaran tinggi terhadap sesuatu yang bagi kawannya dianggap menakutkan. Semakin aneh dan menyeramkan, semakin ingin menjumpai hal itu. Tak peduli seseram apa suasana yang bakal dihadapi karena ia benci dibuat penasaran. 

Malam itu, Emi melihatnya. Si cantik pemilik mata putih, hantu wanita yang menampakkan diri di lorong samping kuburan Letta. Pemakaman umum Letta terletak di bilangan jalan Dr. Samratulangi, wilayah Kelurahan Letta. 

Dia bilang apapun yang nantinya saya lihat, tidak boleh teriak, tidak boleh bicara, menegur, dan tidak boleh menatap.

Hantu cantik Bantaeng2Ilustrasi sosok hantu mata putih yang suka duduk di dekker tepi jalan dekat kuburan Letta, Bantaeng. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Berawal dari sebuah tantangan dari kawannya, Fira, teman sekolah yang juga tetangganya. Siang hari sebelum berangkat ke kuburan, saat kelas tengah tak ada pelajaran lantaran guru tak masuk, Emi, Fira dan teman gengnya menghabiskan waktu bertukar cerita misteri. 

Di antara mereka, Fira punya kelebihan dibanding teman maupun manusia pada umumnya. Gadis itu bisa melihat sosok tak kasat mata. Namun sebagaimana jiwa labil yang belum cukup paham dengan apa yang dilihatnya, kemampuan itu dijadikan bahan untuk bercanda dan menantang rekannya untuk melakukan uji nyali.

"Jadi, Fira waktu itu sambil terkekeh dia ngomong, kalau kalian sahabatku kalian juga mesti lihat apa yang bisa kulihat, nanti kuantar ke tempatnya," kata Emi saat bercerita kepada Tagar lewat telepon seluler, Jumat, 21 Februari 2020.

Sayang sekali, di antara lima orang gadis dalam kelompok itu hanya Emi yang bersedia menjawab tantangan. Ia menyatakan diri untuk ikut dalam uji nyali yang akan dilakukan malam itu juga, malam Jumat, malam yang dianggap lebih angker dibanding malam-malam lainnya. Entah kenapa menyanggupi tapi ia merasa semakin dihujani rasa penasaran setiap kali Fira bercerita sensasi bertemu makhluk astral.

Tak terasa, malam hari pun tiba. Selepas Isya, Emi pamit kepada orang tuanya. Ia berjalan menuruni tangga rumah panggung yang dihuninya. Sesekali berbalik melirik jam dinding di ruang tengah yang masih samar-samar dilihat untuk memastikan ia tidak terlambat dari waktu perjanjian.

Wajah Sedih Hantu Cantik

Emi menghentikan sejenak ceritanya. Dari seberang telepon terdengar ia menarik nafas dalam-dalam, mungkin sembari mengingat kejadian yang telah lebih dari 10 tahun berlalu itu. Beberapa saat ia kembali melanjutkan cerita dengan suara yang semakin pelan. Sepertinya ia takut membangunkan bayinya. Ya, Emi saat ini adalah perempuan berusia 27 tahun dengan satu anak setelah menikah pada 2019.

"Fira datang setelah hampir 1,5 jam saya menunggunya di depan rumah, kami baru meninggalkan rumah sekitar pukul 21.00 Wita lewat," tuturnya. 

Pikir Emi, waktu itu Fira akan membawanya ke tempat yang jauh, ke pesisir pantai yang sepi mungkin, ke atas bukit yang tinggi atau ke rumah-rumah yang tak berpenghuni. Namun apa yang dibayangkannya semua keliru. Emi justru dibawa berputar mengelilingi kota kecamatan selama hampir satu jam dan kembali menuju jalan pulang yang mengarah ke kampung mereka. 

Hampir saja Emi terpancing emosi karena mengira teman mainnya itu tengah mengerjaninya. Ketika sampai di sebuah pertigaan sebelum menuju permukiman mereka, Fira membelokkan motor ke kanan, arah yang berlawanan dari rumah.

Jam menunjukkan pukul 22.30 WIB. Untuk ukuran wilayah, ukuran jam segitu di Bantaeng pada 2009, sudah tidak terdengar keriuhan di rumah penduduk maupun aktivitas warga di jalanan. Semuanya sudah sepi. Kehidupan di daerah memang sesederhana itu, tak ada pusat keramaian yang buka hingga larut malam. 

Sosok itu, ketika melihatnya saya merasa dia adalah perempuan yang sedih atau sedang menangisi sesuatu, entahlah.

Hantu cantik Bantaeng3Dekker di dekat kuburan Letta, Bantaeng, yang selalu jadi tempat duduk hantu cantik berwarna putih dari ujung rambut sampai ujung kaki. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Dan Emi mengakui, berboncengan dengan kendaraan roda dua bersama Fira pada malam hari di jalanan kota kecamatan kala itu adalah bagian dari aktivitas yang tak lazim. Tapi anggapan itu diabaikan, mereka berkeliaran untuk hal yang sama sekali tak jelas tujuannya.

"Kami naik motor memasuki lorong samping pekuburan Letta, sampai di ujung lorong Fira berhenti. Selama 10 menit kami menunggu tanpa tujuan di sana. Lalu Fira kembali menyuruhku duduk di motor sambil bicara serius. Dia bilang apapun yang nantinya saya lihat, tidak boleh teriak, tidak boleh bicara, menegur, dan tidak boleh menatap," tutur Emi

Emi menuruti segala yang dipinta Fira. Awalnya ia tidak mengerti permintaan macam apa yang dilontarkan Fira tadi. Ia juga sama sekali tidak merasakan tanda-tanda adanya mahluk halus di sekitar mereka. Sampai tak berapa lama dari pesan itu, pandangannya tertuju pada sebuah cahaya dari kejauhan. 

Semakin dekat, semakin jelas cahaya yang disaksikannya membentuk sosok manusia yang duduk di dekker jalan sebelah kanan. Sosok tak jelas itu membungkuk dan menundukkan kepala dalam-dalam. Bulu kuduk Emi mulai berdiri. Ia merasakan tengkuknya dingin dan seolah ada sesuatu yang sengaja meniup leher belakangnya hingga menambah sensasi dingin pada malam itu.  

Nampak jelas sosok berkerudung putih dengan kulit seperti wanita Jepang duduk di bantalan beton dengan posisi kedua kaki berselonjor ke aspal. Waktu itu kejadian aneh pun terjadi. Motor yang mereka gunakan tiba-tiba seperti mengalami penurunan power mesin. semakin mendekati sosok yang akan segera mereka lalui semakin lambat pula laju motor. Sekalipun Fira terus berupaya membetot gas agar mereka berdua segera berlalu dari sosok itu.

"Fira menarik gas sekuat tenaga tapi percuma, motor tetap berjalan lambat seolah ditarik oleh sesuatu sehingga sangat susah untuk lari kencang. Saya sendiri melanggar apa yang diperintahkan Fira. Saat kami tepat berada di depannya, sosok putih itu perlahan mengangkat kepala dan memperlihatkan wajahnya. Kami bertatapan, rupanya sangat cantik tapi kulitnya terlalu putih, begitu juga kedua matanya, putih semua," ucap Emi dengan nada serius

Motor yang mereka gunakan baru berjalan normal setelah kurang lebih 10 meter sosok itu terlewati di belakang mereka. Fira menyatakan kapok, tak lagi ingin menantang atau menguji keberanian temannya. Begitupun Emi, sampai saat ini tak dapat melupakan tatapan kosong yang ia saksikan. 

"Takut tentu saja iya. Tapi ada hal lain yang saya tangkap pada waktu itu. Sosok itu, ketika melihatnya saya merasa dia adalah perempuan yang sedih atau sedang menangisi sesuatu, entahlah," kata dia. 

Keesokan hari, pada Jumat siang sepulang sekolah, mereka menyambangi tempat yang semalam membuat bulu kuduk merinding. Emi dan Fira mencoba bertanya pada warga sekitar tentang apa dan siapa sosok tersebut. Sayang sekali, tak satupun yang berani berbicara. Hingga saat ini, cerita hantu cantik si mata putih tetap tersimpan tanpa ada yang tahu bagaimana kisah makhluk tersebut di kehidupan sebelumnya. []

 Baca juga: 

Berita terkait
Danang, Pemancing Tegal yang Tidak Takut Setan
Seorang warga Tegal menghayati benar hobi memancingnya. Kerap memancing selama sebulan tapi tak pernah diganggu setan. Seperti apa ceritanya?
Si Baju Merah, Penunggu Kampung Maricayya Bantaeng
Rambutnya hitam tergerai, memakai baju merah panjang sampai menyentuh tanah. Dia penjaga Kampung Maricayya di Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Hantu Perempuan Menangis di Stasiun Manggarai
Hantu di Stasiun Kereta Api Manggarai, Jakarta Selatan populer di masyarakat. Seorang masinis pernah mendengar perempuan menangis di dekat peron.
0
Relaksasi Kredit, Bank di Daerah Masih Saja Menagih
Presiden Jokowi membuat kebijakan relaksasi kredit saat pandemi Covid-19, praktiknya petugas bank milik negara masih ada yang menagih bunga kredit.