UNTUK INDONESIA
Si Baju Merah, Penunggu Kampung Maricayya Bantaeng
Rambutnya hitam tergerai, memakai baju merah panjang sampai menyentuh tanah. Dia penjaga Kampung Maricayya di Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Kuburan tua dikelilingi tembok membentuk rumah kecil di Kampung Maricayya, biasa dikunjungi peziarah dari berbagai daerah bahkan dari luar Bantaeng, Selasa, 7 Januari 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Bantaeng - Di tengah kota Kecamatan Bantaeng, ada satu kampung yang tak lepas dari misteri. Hingga kini cerita tersebut masih sering jadi buah bibir masyarakat setempat. Bukan sekadar cerita masyarakat biasa, namun memang terdapat sebuah sumur dan kuburan tua yang dikeramatkan. Peziarah kuburan tersebut masih banyak hingga saat ini, dan datang dari daerah-daerah di luar Kabupaten Bantaeng. Saat Tagar datang ke lokasi, ada lilin merah kecil di atas kuburan pertanda seseorang baru saja berkunjung, entah siapa dan untuk apa.

Kampung Maricayya namanya, terletak di Jalan Dr. Samratulangi, Kelurahan Letta, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan. Yakni sebuah kabupaten yang terletak sejauh 120 kilometer dari Kota Makassar. Kampung Maricayya tidak begitu sulit ditemukan. Letaknya berada persis setelah jembatan tak jauh dari patung Andi Mannappiang. Yaitu sebuah tugu patung setinggi kurang lebih 3 meter terletak di jalan poros kabupaten.

Sumur dan kuburan tua yang dikeramatkan warga tak lepas dari cerita orang-orang yang hidup pada zaman dulu. Konon, cerita tersebut berkaitan pula dengan kisah si Baju Merah yang merupakan sosok penjaga kampung Maricayya. Sosok itulah yang sejak dulu mendiami dan 'menjaga' kampung Maricayya. Penunggu tersebut bahkan tidak ragu-ragu menampakkan diri di malam-malam tertentu. Beberapa warga setempat bercerita kepada Tagar telah menyaksikan penampakan itu dengan mata kepala mereka sendiri.

Jalan menuju sumur tua dan kuburan itu sendiri berada di dalam sebuah lorong selebar tak lebih dari 2 meter. Atau lebih mudah jika mencari kantor Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Bantaeng. Karena lorong tersebut berada tepat di sebelah kanan kantor Baznas. Dari jalan raya menuju lorong sejauh kurang lebih 100 meter lalu berbelok ke kanan. Dari posisi tersebut, sumur tua akan langsung terlihat dari jarak 2 meter di sisi kanan.

Biasanya setiap malam Jumat dia datang dan berdiri tak jauh dari sumur tua.

Kampung MaricayyaJalan raya depan Lorong samping Baznas Bantaeng, pintu masuk menuju sumur tua dan kuburan di Kampung Maricayya, Selasa, 7 Januari 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Selasa, 7 Januari 2019, Wahyuni salah satu warga kampung Maricayya menemani Tagar menengok sumur tua dan kuburan yang dikeramatkan di sana. Pagi itu, masih dalam setelan daster ala mamah muda ia meluangkan waktu untuk Tagar. Sehabis membersihkan rumah dan mengurus anak kecilnya ia mengajak untuk berkunjung ke rumah bapaknya yang tinggal masih sekampung dengannya. Kebetulan, si bapak, yakni Abdul Kadir adalah salah satu tetua yang cukup banyak tahu cerita di daerah tersebut.

Waktu itu langit sedang terang, tapi tanpa matahari. Dan tidak cukup gelap untuk dikatakan mendung. Jam menunjukkan sekitar pukul 10 pagi. Mungkin matahari sedang beranjak naik, tapi tertutup awan tebal. Ini memang musim hujan. Sejak awal tahun baru 2020 hujan deras dan angin kencang 'menghantui' masyarakat kabupaten bumi Butta Toa ini. 

Dari rumah Wahyuni, menghabiskan waktu sekitar 3-5 menit berjalan kaki untuk tiba di rumah bapaknya. Di rumah panggung itulah, Tagar mendengar banyak kisah si Baju Merah yang konon 'menjaga' kampung Maricayya. Serta cerita-cerita tentang sumur tua dan kuburan yang dikeramatkan.

Kampung MaricayyaJalan masuk menuju sumur tempat si Baju Merah sering menampakkan diri di Kampung Maricayya, Bantaeng, Sulawesi Selatan, Selasa, 7 Januari 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Si Baju Merah Penunggu Maricayya

Tagar bertemu sosok sepuh berusia 78 tahun bernama Abdul Kadir. Ia terbaring di atas ranjang pendek di sebuah ruangan di dalam rumah miliknya. Pria yang lahir pada zaman pendudukan Jepang di Butta Toa ini rupanya tidak bisa berjalan lagi sejak beberapa bulan terakhir. Kata Wahyuni, putrinya, bapaknya menderita penyakit jantung dan pernah jatuh di toilet pada Agustus atau September 2019. Sejak itulah, si bapak tak lagi bisa menggunakan kedua kakinya. Hanya bisa bangun dan duduk di pembaringan yang kini ia tempati.

Ia tersenyum ramah menyambut tamu yang mengunjunginya. Perawakannya tinggi besar, masih cukup bugar untuk seumuran orang tua. Rambut putih yang memenuhi kepalanya perlambang ia telah hidup cukup lama dan melihat tumbuh kembang beberapa generasi mudanya. Setelah beberapa basa-basi perkenalan, ia pun mulai bercerita tentang si Baju Merah.

"Rambutnya hitam panjang sekali, dia pakai baju merah panjang sampai ke tanah," tutur Abdul Kadir. Ia warga asli setempat, mengaku sering melihat sosok si Baju Merah.

Kampung MaricayyKuburan tua yang dikeramatkan di Kampung Maricayya, Bantaeng, Sulawesi Selatan, Selasa, 7 Januari 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Tak ada yang tahu nama atau jenis penunggu tersebut. Selama ini sangat jarang ada yang berinteraksi dengan makhluk tak kasat mata itu. Kata Kadir, si Baju Merah datang hanya berjalan berkeliling sambil berdiam saja. Tak dapat dibayangkan betapa menyeramkannya jika bertemu sosok ini secara langsung. Namun bagi Kadir, kemunculan si Baju Merah adalah hal yang sudah biasa baginya.

"Biasanya setiap malam Jumat dia datang dan berdiri tak jauh dari sumur tua," katanya. Bahkan dulu, sewaktu lampu listrik belum masuk ke kampung itu, setiap pukul 10 malam si Baju Merah biasanya terlihat berkeliling kampung.

Sumur Tua dan Kuburan Keramat

Kadir bercerita, dahulu ada pohon sukun besar tak jauh dari sumur tua. Namun salah seorang warga nekat menebang pohon tersebut. Konon, pohon itu adalah persinggahan si Baju Merah. "Beberapa tahun lalu terjadi kebakaran, hangus 8 rumah. Nah, cerita itu dikaitkan dengan amarahnya Pajaga Kampong karena pohon tempatnya ditebang." Kadir menyebut si Baju Merah dengan sebutan Pajaga Kampong atau yang dalam bahasa Indonesia berarti penjaga kampung.

Kampung MaricayyaSumur tua di Kampung Maricayya, Bantaeng, Sulawesi Selatan, Selasa, 7 Januari 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Hingga saat ini ia masih melihat beberapa kali si Baju Merah berdiri di depan sumur tepat di mana pohon itu dulunya berdiri. Kadir, lelaki kelahiran 1942 ini juga mengingat sedikit kisah sewaktu zaman pendudukan Jepang. "Dulu Jepang lepas bom pas di samping sumur, orang-orang lari semua karena takut, waktu itu saya masih kecil sekali."

Sekitar 5 meter berjalan dari sumur, adalah tempat makam atau kuburan yang dikeramatkan. Kuburan itu dikelilingi tembok sehingga tampak seperti berada di dalam ruangan berbentuk rumah kecil.

Kata Kadir, satu kuburan keramat tersebut sebenarnya ditempati dua jenazah. Satu berjenis perempuan, satu berjenis laki-laki, seorang haji. Namun ia tak tahu pasti identitas dari laki-laki itu. Ia hanya tahu sedikit cerita tentang jenazah perempuan yang ada di bawah sana. Konon, si perempuan adalah seorang pembantu salah satu Karaeng atau orang besar di kampung Maricayya pada zaman dulu.

Pada suatu hari si pembantu ini memasak nasi sampai hangus. Mengetahui hal tersebut Karaeng pun marah dan memaki. Ia menyuruh pembantunya memakan semua nasi hangus itu. Tetapi dengan isak tangis penyesalan, si pembantu menolak dan pergi dari rumah Karaeng. "Dia gali lubang dan kubur dirinya di sana."

Hingga saat ini banyak orang berziarah dan mengeramatkan kuburan tua itu. Bahkan kata Kadir, pernah salah satu warga kampung melakukan hajatan tapi lupa membawa makanan untuk sesajen di kuburan. Alhasil, salah satu keluarga pengantin jatuh sakit. Oleh Kadir, ia pun dibawa ke kuburan. Kabarnya, si sakit sembuh setelah dari sana. []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Kerajaan Tuyul di Gunung Suru Sleman
Bukit itu tak terlalu tinggi namun jalan setapak menuju puncak cukup curam. Warga mengenalnya sebagai Gunung Suru lokasi kerajaan tuyul di Sleman.
Suman, Anak Makassar Berpenyakit Aneh
Suman, seorang anak laki-laki berusia 10 tahun di Makassar, tidak diketahui kenapa ada benjolan sebesar kepalan tangan orang dewasa di dadanya.
Saat Banjir Hantam Rumahku di Kemang Pratama Bekasi
Rudi Andono menceritakan situasi, detik-detik mencekam saat air banjir menghantam rumahnya di Kemang Pratama Bekasi hingga ia dan keluarga terusir.
0
Mobil Balap F1 Tes Pramusim di Barcelona
Mobil-mobil baru Formula 1 akan berbarengan membuat bising Sirkuit Barcelona-Catalunya, Spanyol, untuk menjalani tes pramusim