UNTUK INDONESIA
Gagal Pesta Setelah Sebar 2.500 Undangan, Efek Covid-19
Dua bulan sebelumnya acara pesta telah diumumkan, 2.500 undangan telah disebar termasuk untuk para pejabat. Covid-19 menghancurkan segalanya.
Ilustras - Balon perayaan pesta. (Foto: Pixabay/rMeghann)

Tangerang - Hati Ahmad Syaifudin dan Siti Juliana hancur-lebur, rencana yang dipersiapkan dengan matang sejak jauh hari, berantakan dalam sekejap karena pandemi Covid-19. Peristiwa ini terjadi akhir Maret 2020. Pasangan suami istri yang sama-sama berusia 35 tahun ini selama dua bulan menyiapkan pesta sunatan dua anaknya, Abdul Karim, 10 tahun, dan Dwi Arif, 3 tahun. Harapan membahagiakan buah hati demikian besar berakhir kekecewaan mendalam.

Syaifudin akrab disapa Udin, bersama keluarga tinggal di Poris Indah, Kecamatan Batu Ceper, Kota Tangerang, Banten. Ia menceritakan situasi tidak enak itu saat ditemui Tagar di kantor Kepolisian Resor Metro Tangerang Kota, 25 Maret 2020.

Udin mengatakan perayaan hajatan sunatan Abdul dan Arif rencananya digelar 27 Maret 2020. Tapi tiga hari sebelumnya ia terpaksa membatalkannya setelah berkomunikasi dengan pihak kepolisian. 

Sebelum sampai pada keputusan menunda pesta tersebut, Udin sudah mengupayakan berbagai cara agar acara tetap digelar, termasuk beberapa kali meyakinkan pihak kepolisian agar diberikan izin menggelar pesta. Ia ingin berbagi kebahagiaan kepada sanak keluarga, kerabat, tetangga, dan para tokoh setempat.

"Satu minggu sebelum acara, saya sangat gencar berkomunikasi dengan seluruh elemen keamanan untuk berusaha agar acara pesta khitanan kedua putra saya bisa berlangsung sesuai rencana yang saya dan keluarga sudah susun," tutur Udin dengan pandangan melayang.

Terakhir, tiga hari sebelum acara, Udin ke kantor polisi, meyakinkan polisi agar acara tetap bisa digelar, tapi pihak kepolisian tetap tidak memberikan izin. Pada saat itu Udin berkata di hadapan polisi, ia tetap akan melangsungkan acara.

"Kenapa saya ngotot, karena segala persiapan sudah matang. Bahan-bahan masakan sudah saya beli semua, termasuk bahan-bahan kue. Saat ini pun di rumah saya sedang melakukan pemasangan tenda," ujar Udin.

Kalau untuk membayar kesedihan sih mungkin masih terlalu jauh, tetapi beban pikiran saat ini lumayan agak berkurang. Tinggal istri saja yang masih syok.

***

Dari kantor polisi, Udin menemui orang tua yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Ia meminta sanak saudara berkumpul untuk membantu menemukan solusi.

Tak lama kemudian, kakak dan adik Udin datang. Rumah mereka semua berdekatan. Udin, anak keenam dari 8 bersaudara ini lantas menceritakan komunikasi terakhirnya dengan pihak kepolisian. Terjadi pro kontra pendapat di kalangan keluarga, ada yang menyarankan pesta tetap digelar, ada yang menyarankan ditunda saja. Udin mendengarkan semua masukan hingga pada kesimpulan menunda pesta sunatan dua anaknya.

Enya, ibunda Udin, membesarkan hati Udin agar memahami situasi. "Semua sabar. Mungkin ini memang sudah jalan terbaik yang dikasih Allah," Udin menirukan ucapan ibunya.

Udin dengan berat hati berusaha memahami penjelasan polisi, bahwa berbahaya mengumpulkan banyak orang membentuk kerumunan, rentan meluaskan penyebaran virus corona penyebab penyakit Covid-19. Memaksakan kehendak berpesta di tengah pandemi artinya membahayakan diri sendiri, keluarga, dan juga orang lain.

Udin mengucapkan terima kasih kepada ibunda dan saudara. Berikutnya ia harus melakukan sesuatu yang paling tidak ia inginkan, yaitu memberi tahu kedua anaknya tentang keputusan pahit itu.

Sampai di rumah, Udin melihat senyum Abdul dan Arif, senyum yang tidak biasa. Kedua anaknya itu sudah disunat, tinggal gelar pesta saja untuk melengkapi kebahagiaan. 

Udin menangkap isyarat senyum anaknya yang tidak biasa, seperti tahu ia akan menyampaikan kabar yang tidak diinginkan.

"Kedua anak saya seolah sudah tahu tentang apa yang akan saya sampaikan kepada mereka, begitu pula istri saya tercinta," kata Udin.

Dengan bibir gemetar, ucapan terbata-bata dalam nada lembut, Udin menceritakan semua, termasuk hasil pertemuan dengan polisi dan hasil musyawarah bersama keluarga besar.

"Mohon maaf, acara hajatan sunatan Abdul dan Arif ditunda dulu. Soalnya dengan kondisi seperti saat ini, kita enggak bisa memaksakan untuk tetap bikin acara. Nanti malah mengakibatkan hal yang enggak diinginkan kepada para tamu undangan dan juga keluarga besar kita," tutur Udin kepada dua anak dan istrinya.

Spontan Abdul dan Arif, dua anak ini tangisnya pecah. Istrinya juga tak kuasa menahan air mata. Udin tahu rasanya. Segala persiapan sudah matang, namun harus digagalkan tiga hari sebelumnya.

Sejak dikasih tahu acara enggak jadi, sampai hari ini Nana menangis terus, enggak mau diajak ngobrol.

***

Tenda hajatan berukuran empat kali enam meter sudah berdiri kokoh di lapangan, terpaksa harus dibongkar hari itu juga. Beruntung belum ada dekorasi panggung.

Udin kemudian meminta tolong saudara yang membuat desain undangan, agar segera dibuatkan pengumuman penundaan acara untuk disebar melalui telepon seluler. 

Dua bulan sebelum acara, Udin sudah membuat dan menyebar sebanyak 2.500 undangan termasuk untuk jajaran pejabat hingga Wali Kota Tangerang. Tidak ketinggalan seluruh jajaran Dinas di mana ia bekerja.

Udin menghubungi Wakil Wali Kota Tangerang, meminta maaf dan meminta nasihat mengenai gagalnya pesta sunatan dua putranya.

Ia sudah mengeluarkan banyak biaya untuk persiapan pesta, kini ia dipusingkan dengan melimpahnya bahan baku masakan termasuk bahan kue. Ia tidak tahu mau diapakan itu semua. Ia sedang tidak bisa berpikir. Begitu pula dengan istrinya yang ia panggil dengan nama akrab Nana.

Sampai dua hari kemudian, Yaya, kakak perempuannya datang bersama suami, "Terus rencana ini barang mau diapain, Din?" Udin menirukan ucapan kakaknya.

"Belum tahu, Mpok, mau di-apain. Belum kepikiran mengurus itu," kata Udin. "Sejak dikasih tahu acara enggak jadi, sampai hari ini Nana menangis terus, enggak mau diajak ngobrol."

Mendengar hal itu, Yaya dan suami berinisiatif membeli barang belanjaan yang tidak jadi dipakai untuk hajatan. Yaya membeli satu karung beras berukuran 250 liter dengan harapan bisa mengurangi beban pikiran Udin.

Yaya membagikan beras tersebut kepada sanak saudara, "Allhamdulillah semua kakak dan adik serta orang tua kebagian," kata Yaya.

Udin kemudian menjual beberapa bahan masakan ke tetangga dan saudara yang lain. Bersyukur semua mengerti kondisi Udin dan bisa membantu meringankan beban sedikit demi sedikit.

Meski tidak semua laku dijual, tetapi paling tidak bahan baku masakan yang terjual bisa mengembalikan modal hajatan Udin, meski tidak sepenuhnya.

"Kalau untuk membayar kesedihan sih mungkin masih terlalu jauh, tetapi beban pikiran saat ini lumayan agak berkurang. Tinggal istri saja yang masih syok," ucap Udin.

Sekitar satu minggu istri Udin mengurung diri di kamar, tidak mau ditemui sanak keluarga dan tetangga. Bahkan untuk mengobrol dengan Udin pun seperlunya saja.

Udin berusaha menabahkan diri. Ia percaya waktu adalah penyembuh paling ampuh. Seiring berjalannya waktu, keluarganya akan kembali menemukan keceriaan. Kehangatan di dalam rumah akan hadir kembali. Sanak saudara datang silih berganti untuk bersilaturahmi turut menguatkan hati.

Ia tahu pandemi Covid-19 adalah cobaan luar biasa, bukan hanya menguji kesabarannya, tapi juga kesabaran seluruh orang di dunia. Ia berserah diri, berdoa, berharap wabah secepatnya berakhir. "Bukan untuk saya saja, tapi semua, agar semua bisa kembali menjalankan aktivitas dan rutinitas dengan normal lagi." []

Baca juga:

Berita terkait
Covid-19 Menular Lewat Seks, Penelitian Ilmuwan China
Penelitian ilmuwan China menemukan Covid-19 dalam air mani atau semen pria yang terinfeksi parah. Dianjurkan menghindari seks pada masa pandemi.
Siasat Warga Bali Bertahan di Tengah Covid-19
Tak ada yang lebih parah dari dampak virus Covid-19 ini. Saya sudah merasakan semuanya saat bom Bali, musibah Gunung Agung, virus Sars, Flu Burung.
Bulan Madu Menunggang Kuda Besi ke Pulau Dewata Bali
Bulan madu menunggang kuda besi ke Pulau Dewata Bali, kenangan sebelum Covid-19 datang. Kaum jomlo pada masa pandemi harus tabah membaca ini.
0
Nenek Chuvina Asal Rusia Juara Lempar Pisau Dunia
Kemenangan pelempar pisau amatir ini mengejutkan banyak orang, namun ada juga yang menyebutnya sebagai keberuntungan pemula.