UNTUK INDONESIA
Denny Siregar: Mudik Vs Pulang Kampung
Jokowi melarang mudik tapi tidak melarang pulang kampung. Netizen pun ramai membahasnya. Apa sih beda mudik vs pulang kampung? Denny Siregar
Spanduk berisi seruan untuk menunda mudik menjelang puasa dan Lebaran di Jalan Sudirman, Serang, Banten, Kamis, 9 April 2020. Presiden Jokowi melarang mudik Lebaran untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. (Foto: Antara/Asep Fathulrahman)

Saya aja paham kok beda mudik dan pulang kampung yang dimaksud Jokowi. Kata "mudik" dan "pulang kampung" itu kalau secara "arti kata" jelas sama, yaitu sama-sama pulang ke daerah asal. Tapi dalam masa pandemi ini, istilah itu sengaja dibedakan. Catat ya, selama masa pandemi atau wabah.

Pulang kampung diartikan sebagai seseorang yang bekerja di sebuah kota besar. Dia biasanya pulang ke rumahnya, entah setiap hari, entah setiap bulan atau setahun sekali.

Saya termasuk orang yang sering pulang kampung, karena bekerja di kota A tapi rumah di kota B.

Nah di masa pandemi ini, karena kota tempat saya bekerja kena PSBB, saya harus pulang kampung untuk waktu lama. Kenapa? Karena di kota tempat saya bekerja sudah tidak ada kerjaan. Jadi saya pulang ke rumah di kota B dan bekerja di rumah.

Mudik itu tidak punya masalah dengan kerjaan dan ekonomi. Dia mudik ke kota B untuk mengunjungi keluarga besarnya, silaturahmi, beramai-ramai pada momen tertentu, biasanya hari besar agama.

Banyak orang yang seperti saya. Mereka pulang, karena di kota tempat mereka bekerja sudah tidak ada kerjaan. Daripada mereka harus tinggal di kota tapi enggak punya kerjaan, ya lebih baik mereka pulang kampung.

Kalau mereka tetap diam di kota, tanpa pendapatan dan pengeluaran yang besar, mereka ini bisa menimbulkan masalah besar, yaitu masalah sosial. Itulah kenapa pulang kampung tidak dilarang.

Nah, kalau mudik beda lagi.

Mudik itu tidak punya masalah dengan kerjaan dan ekonomi. Dia mudik ke kota B untuk mengunjungi keluarga besarnya, silaturahmi, beramai-ramai pada momen tertentu, biasanya hari besar agama.

Ini yang dilarang.

"Lah, kan pulang kampung sama mudik sama-sama punya potensi menyebarkan virus?"

Memang. Tapi lebih mudah mengkarantina orang yang pulang kampung, karena enggak ada kerjaan di kota. Orang ini biasanya sendirian, karena dia kepala keluarga atau pencari nafkah. Mengkarantina satu orang akan lebih mudah dilakukan Pemerintah daerah.

Tapi kalau mudik, biasanya beramai-ramai dalam satu waktu yang sama. Satu keluarga. Dan mereka akan berkumpul dengan keluarga lainnya di satu rumah.

Bayangkan, gimana karantinanya ketika ada beberapa keluarga dari berbagai kota kumpul di satu rumah dalam waktu yang bersamaan?

Repot, kan?

Makanya, daripada nanti merepotkan Pemerintah daerah setempat, ya dilarang lebih bagus. Itu logika berpikirnya.

Analogi sederhananya dalam bahasa Inggris, pulang kampung itu tunggal, sedangkan mudik itu jamak.

Sekali lagi catat, pembeda antara pulang kampung dan mudik ini hanya saat masa wabah dan tidak berlaku selamanya.

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga:

Berita terkait
Alasan Jokowi Larang Masyarakat Mudik Lebaran
Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengungkapkan alasan di balik larangan mudik lebaran kepada masyarakat karena ada wabah Covid-19.
Pak Jokowi, Perlu Aturan Tegas Biar Orang Tak Mudik
Ketua Bidang Advokasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan hendaknya masyarakat menahan diri untuk tidak mudik.
Jokowi Larang Mudik, Bagaimana Aturan dan Sanksinya?
Kementerian Perhubungan segera menyiapkan Peraturan Menteri Perhubungan yang mengatur pelarangan mudik Lebaran 2020 termasuk sanksi.
0
Jokowi Saksikan Ketua MA Syarifuddin Mengucap Sumpah
Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyaksikan pengucapan sumpah M. Syarifuddin sebagai Ketua Mahkamah Agung (MA) periode 2020-2025.