UNTUK INDONESIA
Denny Siregar: Kharisma Ganjar di Tengah Pandemi
Seperti membaca buku cerita bagaimana seharusnya pahlawan turun beraksi. Itulah Ganjar Pranowo di tengah pandemi Covid-19. Denny Siregar.
Ganjar Pranowo. (Foto: Instagram/ganjar_pranowoo)

Menghadapi wabah ini, paling asyik melihat aksi Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah. Memang antar kepala daerah beda-beda menyikapi situasi saat wilayahnya terkena wabah. 

Ada yang model Ridwan Kamil yang berusaha serius memetakan wabah dan bagaimana cara mengatasinya, terutama karena rakyat Jawa Barat terkenal religius, harus pakai banyak pendekatan agama.

Ada model Anies Baswedan yang kayak kakek-kakek menakuti cucunya. Pokoknya beritanya harus yang seram-seram biar kelihatan jadi pahlawan, padahal enggak pernah turun ke lapangan.

Yang asyik memang model seperti Ganjar Pranowo. 

Dalam situasi kalut dan panik karena ketidaktahuan situasi, biasanya di sinilah karakter seseorang diuji. Dan Ganjar tampil dengan gaya menenangkan. Kharismanya keluar.

Ia turun ke lapangan sambil bersepeda, naik motor, sekadar menyapa warganya sambil bagi-bagi masker. Itulah cara Ganjar mengedukasi warga kelas bawah.

Sebuah komunikasi yang menyenangkan, seperti membaca buku cerita bagaimana seharusnya pahlawan turun beraksi.

Ganjar PranowoGanjar Pranowo dengan kaos No Mudik No Cry. (Foto: Instagram/uksw_salatiga)

Ia hadir dan berkomunikasi dengan mereka, mendengar keluhan sambil mengajari supaya tetap menjaga jarak supaya tidak tertular.

Apakah ini bagian dari pencitraan? Oh, sudah pasti. Kita tahu apa yang dilakukan Ganjar Pranowo dalam menghadapi wabah ini, tentu karena di sampingnya ada banyak wartawan yang terus memberitakan apa yang ia lakukan.

Tapi dalam situasi seperti ini, pencitraan memang sebuah keharusan. Karena dengan pencitraan lewat media, warga akhirnya tahu bahwa pemimpin mereka ada. Dan yang paling penting mereka melihat bagaimana karakter pemimpin mereka sesungguhnya.

Semua kepala daerah, di manapun pasti memainkan pencitraan di saat wabah seperti ini.

Ada Wali Kota di Tegal, yang pencitraan biar dianggap tegas dan melindungi rakyat. Dia kemudian main blokir jalan-jalan, tanpa koordinasi dengan pemerintah pusat. Eh, enggak lama presiden ngamuk, blokir jalanan pun dibongkar secepat kilat.

Ganjar PranowoGanjar Pranowo dengan kaos Maskeran Keren. (Foto: Instagram/radarsolo)

Ada Gubernur Sumatera Utara yang bicara jangan takut ke masjid meski ada wabah, padahal fatwa MUI mengatakan untuk sementara umat beribadah di rumah.

Macam-macamlah model pencitraannya.

Ada lagi model yang tiap hari mengumpulkan wartawan tv, terus konferensi pers melulu tanda ada aksi.

Ganjar Pranowo termasuk yang bisa memainkan komunikasi publiknya dengan baik. Ia membungkus dirinya sebagai pemimpin rakyat kecil, dan ia berhasil. Bahasa komunikasinya tidak berat, mudah dicerna, dan aksi panggungnya juga luar biasa.

Baru-baru ini Ganjar juga menggarap konsep "jogo tonggo" atau saling menjaga antartetangga dalam menghadapi wabah. Sebuah konsep yang mengembalikan kita pada pondasi bangsa yang sudah lama hilang, yaitu gotong royong antarwarga.

Ganjar juga dengan cantik melakukan komunikasi dengan Anies Baswedan, terkait warganya yang merantau di Jakarta dan tidak bisa pulang, supaya diurus Pemerintah DKI Jakarta.

Ganjar PranowoGanjar Pranowo dengan kaos Cuci Tangan Terus Biar Gak Kena Corona Virus. (Foto: Instagram/masganjar)

Sebuah komunikasi yang menyenangkan, seperti membaca buku cerita bagaimana seharusnya pahlawan turun beraksi. Dan Ganjar beserta tim komunikasinya mampu memainkannya dengan sangat cerdik.

Hasilnya apa? Survei SMRC pun keluar, dan Ganjar Pranowo dianggap paling berhasil menangani wabah ini.

Dari 1.200 responden di 34 provinsi, mereka menganggap Ganjar paling sigap menghadapi wabah. Sesudah itu, baru Jawa timur paling cepat nomor dua. Dan DKI Jakarta, meski konpers setiap hari dan masuk tv, cuma mendapat nomor tiga atau medali perunggu saja.

Kita tahulah, Pak Anies Baswedan pasti tidak suka. Dia yang berjuang tampil tiap hari, kok malah Ganjar yang dapat tepuk tangan panjang.

Dan sesuai perkiraan saya, akhirnya muncullah survei tandingan. Survei dari lembaga bernama Median ini memenangkan Anies Baswedan sebagai Gubernur paling tanggap menghadapi wabah.

Okelah kita kasih penghargaan beliau. Sekaligus kasih tahu, "Pak Anies, Median itu tahun 2014 dan 2019, mereka bilang Prabowo menang lho... asal tahu aja."

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga:

Berita terkait
Maaf Ibu, Anakmu Tak Bisa Mudik Lebaran Tahun Ini
Pandemi Covid-19 membuat Lebaran 2020 sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tak bisa mudik, tak bisa sungkem ayah ibu. Setengah mati merindu.
Di Balik Tudingan Konspirasi Dunia Tunda Ibadah Haji
Penundaan ibadah haji di tengah pandemi Covid-19 dianggap ulah konspirasi dunia. Ada yang bilang jika tak ada tawaf, dunia akan berhenti berputar.
Protokol Pasien Cuci Darah Saat Pandemi Covid-19
Pasien gagal ginjal harus rutin ke rumah sakit untuk cuci darah, 2-3 kali seminggu. Tantangan semakin berat di tengah situasi pandemi Covid-19.
0
Kata PKS, Presiden Jokowi Lemah dan Plin Plan
Pemerintahan Jokowi periode dua ini masih saja seperti dulu. Lemah dan plin plan. Terlihat saat wabah Covid-19 melanda negara ini. Kata orang PKS.