UNTUK INDONESIA
Denny Siregar: Cara Benny Tjokro Menggarong Jiwasraya
Kejahatan kerah putih selalu sangat rumit karena dilakukan orang super pintar. Lihat bagaimana Benny Tjokro menggarong Jiwasraya. Denny Siregar.
Benny Tjokro. (Foto: Mata Mata Politik)

Kemarin sidang perdana kasus asuransi Jiwasraya mulai digelar. Bisa dibilang ini kasus besar karena negara, dalam hal ini PT Asuransi Jiwasraya sebagai BUMN, rugi sampai Rp 17 triliun. Itu bukan uang sedikit, karena di sana ada uang ribuan nasabah.

Bagaimana sebenarnya kronologi kasus ini? Rumit penjelasannya. Kejahatan kerah putih atau disebut white collar crime, selalu merupakan kejahatan yang paling rumit karena dilakukan orang-orang yang super pintar. Tidak mudah mendeteksi jejak kriminal mereka, karena di setiap jejak mereka selalu memasang jebakan sehingga selalu lolos dari hukum.

Oke, kita sederhanakan saja ya. Asuransi Jiwasraya sebenarnya sudah lama merugi. Sejak tahun 2006. Kalau tidak salah, Badan Pemeriksa Keuangan atau BPK sudah melihat Jiwasraya memainkan laporan keuangannya supaya kelihatan untung, padahal rugi besar.

Manipulasi laporan keuangan ini dinamakan window dressing. Secara bisnis kalau kita taruh uang kita di asuransi, uang itu pasti diputarkan perusahaan asuransi itu ke banyak investasi. Dan kita sebagai nasabah asuransi, biasanya dapat manfaat seperti jaminan ketika kita sakit, perusahaan asuransinya lah yang bayar.

Selain model standar seperti itu, ada lagi model yang saving plan. Kita taruh duit di perusahaan asuransi itu dalam bentuk investasi, dan mendapat bagi hasil dari keuntungan sebesar 9 sampai 13 persen setahun dari uang yang kita taruh di sana. Pastilah mereka menawarkan bagi hasil yang lebih tinggi daripada kita taruh uang di bank.

Jadi kalau kita taruh uang Rp 1 juta di sana, kita dapat bagi hasil lebih dari Rp 100 ribu setahun. Masalahnya, namanya investasi ada yang untung dan ada juga yang rugi. Sedangkan perusahaan asuransi seperti Jiwasraya itu tetap harus membayar keuntungan kepada nasabahnya, meskipun investasi mereka rugi. Mulai paham, kan?

Benny Tjokro kemudian mempersiapkan perusahaan-perusahaan yang harga sahamnya murah, tapi 'kalau digoreng oleh Benny Tjokro' perusahaan itu bisa tiba-tiba nilai sahamnya tinggi.

Kasus JiwasrayaKomisaris PT Hanson International Tbk (MYRX) Benny Tjokrosaputro bersiap menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Senin, 9 Maret 2020. (Foto: Antara/Aprillio Akbar)

Gini deh, misalnya si Rocky datang ke gua, "Den, gua punya duit Rp 1 juta nih. Bisa gak dengan duit ini lu kasih gua penghasilan Rp 100 ribu setahun?"

Ya gua terimalah duit si Rocky, siapa tahu ketika gua investasikan duitnya, gua dapat untung Rp 300 ribu. Yang Rp 100 ribu gua kasih ke si Rocky, gua dapat Rp 200 ribu. Cuan, kan? Uang si Rocky akhirnya gua investasikan ke perusahaan si Mardigu. Eh, ternyata si Mardigu cuma ngomong besar.

Bilangnya triliuner, tapi nyatanya abal-abal, malah sibuk jualan seminar. Ya rugi deh. Tapi kan gua juga tetap harus bayar si Rocky keuntungan Rp 100 ribu.

Kebayang gak, gua ini sebagai perusahaan asuransi Jiwasraya dengan nasabah puluhan ribu Rocky-Rocky lain yang investasi ke sini. Ruginya sudah pasti triliunan rupiah. Terus bagaimana caranya gua harus mengembalikan duit si Rocky itu? Di sinilah kuncinya.

Manajemen Jiwasraya tahu, ketika mereka masuk ke dalam perusahaan, Jiwasraya sebenarnya sudah rugi besar. Tapi mereka dipaksa untuk menjadikan Jiwasraya untung. Bagaimana caranya? Ya, tarik duit nasabah lagi dan berinvestasi lebih besar lagi.

Di sinilah masuk yang namanya Benny Tjokro. Menurut Wikipedia, Benny Tjokro adalah cucu dari pendiri Batik Keris. Cuma si Bencok, nama panggilan Benny Tjokro ini, lebih jago main saham daripada jadi pengusaha batik. Dia sudah dikenal di dunia saham, sebagai pemain gorengan. Jadi bukan tahu bulat saja yang digoreng dadakan ya, saham juga bisa, apalagi kalau yang menggoreng sekelas Benny Tjokro.

Nah, ngobrol punya ngobrol, si Benny Tjokro tahulah Jiwasraya punya masalah besar, yaitu utang triliunan rupiah ke para nasabahnya. Benny pun mendekati para Direktur Jiwasraya, biasanya sih sambil main golf, "Eh, gini deh. Gimana kalau gua yang mainin uang nasabah Jiwasraya? Tenang. Di tangan gua, lu bisa dapat keuntungan besar yang bisa dipakai bayar utang nasabah. Enak, kan? Pasti untung besar," kata si Benny meyakinkan para Direktur.

Direktur Jiwasraya tertarik dong. Tapi mereka juga pengin nebeng duit ke si Benny. Mereka bilang, "Terus gua dapat apa?" Benny jawab, "Tenang, gua atur semua. Lu pasti dapat komisi gede." Di sinilah terjadi peristiwa korupsinya, ketika para direktur memperkaya diri mereka sendiri.

Para direktur sudah dapat komisi, broker seperti si Benny juga sudah dapat komisi, nasabah yang punya duit di asuransi yang gigit jari.

JiwasrayaTerdakwa kasus dugaan korupsi pengelolaan dana dan penggunaan dana investasi pada PT Asuransi Jiwasraya (Persero) menjalani sidang perdana di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu, 3 Juni 2020. Sidang tersebut beragendakan pembacaan dakwaan untuk enam orang terdakwa yaitu Direktur Utama PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro, Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Tbk Heru Hidayat, Direktur Keuangan Jiwasraya periode Januari 2013-2018 Hary Prasetyo, Direktur Utama Jiwasraya periode 2008-2018 Hendrisman Rahim, mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya Syahmirwan, Direktur PT Maxima Integra Joko Hartomo Tirto. (Foto: Antara/Galih Pradipta)

Benny Tjokro kemudian mempersiapkan perusahaan-perusahaan yang harga sahamnya murah, tapi 'kalau digoreng oleh Benny Tjokro' perusahaan itu bisa tiba-tiba nilai sahamnya tinggi. Misalnya, Jiwasraya beli saham perusahaan Benny Tjokro sebesar Rp 1.000 per lembar saham. Benny menjanjikan saham itu nanti naiknya sampai Rp 1 juta per lembar saham. Jadi, nanti Jiwasraya dapat untung ratusan miliar rupiah. Gila, kan? Beli Rp 1.000 per lembar, dapat untung Rp 1 juta per lembar. Siapa yang enggak hijau matanya? Dan ini transaksi jutaan lembar saham.

Masalahnya, namanya juga investasi, apalagi yang mainin si Benny, Jiwasraya jangankan untung Rp 1 juta, saham-saham itu anjlok sampai Rp 50 per lembar saham. Rugi bandarrr.

Para direktur sudah dapat komisi, broker seperti si Benny juga sudah dapat komisi, nasabah yang punya duit di asuransi yang gigit jari. Dan angka kerugian yang sudah mencapai triliunan rupiah di Jiwasraya itu langsung bengkak menjadi Rp 17 triliun. Ambyar.

Yang enak ya si Benny Tjokro. Dengan main goreng-menggoreng saham seperti itu, harta pribadinya saja sudah mencapai Rp 9 triliun. Aset tanahnya di mana-mana. Dan dia masuk sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia.

Karena utangnya menumpuk, Jiwasraya pun gagal bayar hasil investasinya ke nasabah. Nasabah pun teriak dong, "Oi, duit gua ke mana? Balikin dong."

Kejaksaan Agung dengar, dan orang-orang yang terlibat pun ditangkap satu per satu.

Begitu penjelasan sederhananya. Kalau penjelasan detailnya, waduh rumit banget. Bisa botak kepala kita lihat bagaimana Benny Tjokro dengan lihai memainkan gorengannya.

Tapi dengar-dengar, dari para terdakwa, Kejaksaan Agung sudah menyita harta mereka total sebesar Rp 13 triliun. Wow, besar juga. Dan ini menjadi harapan baru buat para nasabah kalau satu waktu, uang mereka akan dikembalikan. Maklumlah, yang investasi di Jiwasraya ini bukan saja orang kaya, tapi juga orang yang hampir seluruh tabungan hidupnya diinvestasikan supaya dia bisa mendapat penghasilan tambahan di sana.

Mari kita dukung Kejaksaan Agung segera menuntaskan kasus goreng-menggoreng saham ini dengan tersangka utama Benny Tjokro. Semoga cepat selesai dan kita harus apresiasi kalau pemerintah ingin masalah ini segera tuntas dan nasabah tidak dirugikan.

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga:

Berita terkait
Gali Korupsi Jiwasraya Kejagung Periksa Benny Tjokro
Tim jaksa penyidik Kejagung kembali memeriksa tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi Benny Tjokro.
Duit 5 Broker Korsel Bisa Raib Inves di Benny Tjokro
Lima broker asal Korea Selatan (Korsel) terancam kehilangan duitnya yang diinvestasikan pada perusahaan Benny Tjokro.
Profil Benny Tjokro, Tersangka Korupsi Jiwasraya
Benny Tjokro, cucu pendiri grup Batik Keris Kasom Tjokrosaputro ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya.
0
Jual Sabu Ibu 2 Anak Ditangkap Saat Makan di Sumbar
Polisi menangkap NM, 38 tahun, ibu dua anak di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat karena diduga menguasai narkotika jenis sabu-sabu dan pil ekstasi.