Oleh: Denny Siregar*

Ketika banyak berita mengharu biru tentang kisah Audrey, saya justru menahan diri.

Audrey adalah kisah tentang perseteruan anak ABG di Pontianak yang saling berebut pacar. Masalah kemudian menjadi runyam ketika rivalnya membawa 10 teman wanitanya dan "menyiksa" Audrey dengan menelanjanginya.

Berita yang beredar, bahwa para pelaku membenamkan sesuatu ke alat kelamin korban sehingga robek dengan alasan "untuk menghilangkan keperawanan".  Dan berita ini menyebar secepat api membakar hutan, mengisi ruang-ruang media sosial.

Ditambah berita bahwa ada usaha "damai" karena pelaku anak pejabat. Dan bumbu-bumbu pun semakin lengkap sehingga gemparlah Indonesia dengan petisi "Save Audrey".

Di sini kita belajar bahwa masyarakat kita masih suka nonton sinetron yang heboh dengan segala bumbu cerita yang panas dan pedas. Harus ada tokoh protagonis dan antagonisnya. Harus ada korban dan pelakunya.

Semakin lengkap ketika Hotman Paris pun ikut komentar. Dan Presiden Jokowi turun gunung menekan kepolisian supaya menyelesaikan secepatnya kasus Audrey.

Beberapa hari kemudian, turunlah hasil visum bahwa sama sekali tidak ada memar, benjolan, apalagi kelamin robek seperti yang diberitakan. Bahkan pelaku akhirnya mengakui bahwa tidak ada kisah-kisah seram seperti yang diceritakan di media sosial. Itu hanyalah perkelahian biasa di antara mereka.

Antiklimaks. Ternyata jalan cerita tidak seperti yang diharapkan.

Di sini kita belajar bahwa masyarakat kita masih suka nonton sinetron yang heboh dengan segala bumbu cerita yang panas dan pedas. Harus ada tokoh protagonis dan antagonisnya. Harus ada korban dan pelakunya.

Dan kisah ini tambah seru ketika salah seorang pelaku, cewek berjilbab, malah berfoto di kantor polisi. Ia di-bully habis oleh netizen yang menjadi hakim dengan ketok palu bulat.

Ditambah si pelaku mengunggah foto-foto di Instagramnya dengan caption yang seolah mengejek. Makin sempurnalah sosok antagonisnya. Dan makin membuat netizen bersemangat mem-bully-nya.

Saya iseng berkunjung ke Instagram anak itu, ada ribuan komen yang mayoritas mem-bully dia dengan bahasa-bahasa kejam.

Entah apa yang terjadi ketika netizen akhirnya mendapat informasi resmi berupa visum bahwa sebenarnya tidak ada kengerian seperti yang mereka bayangkan. Tidak penting. Yang penting adalah netizen sudah melampiaskan apa yang ingin mereka lampiaskan.

Dan siapa pun yang menentang keinginan arus kuat sudut pandang netizen, akan juga di-bully habis-habisan. Itulah kenapa saya menahan diri untuk tidak komentar.

Dari kasus ini kita akhirnya bisa menyimpulkan bahwa kisah-kisah sinetron masih digemari oleh masyarakat. Harus ada unsur putih dan hitamnya, supaya makin seru. Harus ada unsur pertarungannya supaya makin menggebu.

Apakah ini hanya terjadi di negara ber-flower saja ? Tidak juga ternyata. Karena negara maju pun juga menggemari model sinetron seperti ini cuma namanya jadi soap opera. Yah, cerita beginian memang menghibur dan bisa sejenak melupakan kepenatan.

Rasanya secangkir kopi sudah terhidang. Ia harus ditambah gula, karena rasa pahit itu tidak punya banyak cerita.

*Denny Siregar penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga: