Denny Siregar: Adolf Hitler Vs Rizieq Shihab

Rizieq Shihab kalau tidak dihadang sekarang, kelak akan jadi Adolf Hitler dalam bentuk lain. Hitler berbaju agama pembuat kerusuhan. Denny Siregar.
Adolf Hitler dan Rizieq Shihab. (Foto: Tagar/Wikimedia Commons/Antara)

Dalam sebuah strategi perang ada yang dinamakan propaganda. Propaganda adalah pesan yang disampaikan berulang-ulang. Strategi propaganda ini bahkan pada Perang Dunia kedua mendapat tempat tersendiri di dalam pemerintahan, terutama dilakukan Nazi di Jerman. 

Nazi bahkan punya menteri propaganda sendiri, bernama Joseph Goebbels. Joseph Goebbels ini adalah orang kesayangan Hitler. Dialah yang berhasil membangun citra Hitler, dari belum menjadi apa-apa sampai menjadi orang yang dielu-elukan mayoritas warga Jerman pada waktu itu.

Strategi Goebbels sebenarnya sederhana, tapi mematikan. Satu di antara teorinya yang terkenal adalah, "Sebarkan terus kebohongan berulang-ulang, sampai orang akhirnya menganggap itu sebagai sebuah kebenaran". Dan itulah yang dilakukan Goebbels. Dia memainkan narasi bahwa keterpurukan warga Jerman yang mayoritas pribumi adalah karena dikuasainya ekonomi oleh kelompok kecil Yahudi.

Goebbels terus mengeksploitasi penderitaan warga Jerman dan menunjuk ras Yahudi sebagai biang dari segala masalah dunia. Warga Jerman yang hidup dalam kemiskinan, akhirnya merasa apa yang disampaikan Goebbels lewat informasi-informasi yang disebarkan lewat kelompok bawah tanah adalah sebuah kebenaran.

Mereka sedang mencari pembenaran, kenapa hidup mereka miskin. Dan kemiskinan yang mereka hadapi setiap hari hanya bisa diobati dengan ilusi, kalau kelak suatu waktu mereka akan kaya, menguasai negeri, dunia, dan bisa menegakkan kepala. Goebbels sangat paham situasi ini, karena mempunyai banyak intelijen yang memasok informasi apa yang diinginkan warga Jerman pada saat itu.

Dan semua ilusi warga Jerman yang menderita dan butuh harapan itu, diwujudkan Goebbels dalam satu sosok, sang revolusioner, sang pencerah, orang yang akan membawa Jerman menjadi pemimpin dunia, orang yang akan mengangkat mereka dari keterpurukan. Namanya Adolf Hitler.

Hitler adalah orang yang cocok sebagai simbol Goebbels. Dia orator ulung. Ideologis. Kebenciannya kepada Yahudi terpupuk oleh pemikiran dalam pengalaman dia sehari-hari yang miskin. Dan Hitler pun menjadi kandidat untuk dibesarkan oleh kelompok pengusaha fasis yang ingin merebut ekonomi dari kelompok Yahudi. Mereka tergabung dalam Partai Sosialis Nasional atau disingkat Nazi, di mana Hitler dijadikan pemimpin mereka.

Rizieq kalau tidak dihadang sekarang, dia kelak akan menjadi Hitler dalam bentuk lain di negeri ini. Hitler berbaju agama dan akan membuat kerusuhan di mana-mana.

Infografis Rizieq ShihabSeberapa Penting Rizieq Shihab. (Infografis: Tagar/Bagus Cahyo Kusumo)

Goebbels kemudian merancang beberapa gambar Hitler dalam posisi yang sudah diatur untuk memainkan persepsi publik. Maka bermunculanlah baliho-baliho Hitler di seluruh Jerman dengan slogan-slogan yang heroik, seperti "Ras Arya adalah ras terbaik di dunia", sampai narasi kebencian bahwa semua masalah itu karena Yahudi berkuasa.

Dihajar setiap hari dengan gambar Hitler dan slogan-slogannya, dan dibombardir dengan informasi-informasi bohong yang semakin lama dianggap sebagai sesuatu yang benar, warga Jerman pun terhipnotis. Mereka akhirnya mengangkat Hitler sebagai sosok yang akan menyelamatkan hidup mereka dari penderitaan, kemiskinan, keterpurukan, dan dari segala masalah mereka sekarang. Hitler menjadi nabi baru, sosoknya diagung-agungkan. Dia kemudian berkuasa, dan begitulah ceritanya sampai akhirnya seluruh dunia terlibat dalam sebuah perang yang mematikan.

Model yang sama dengan yang dirancang Goebbels di Jerman, terjadi di Indonesia. Coba saja perhatikan narasi-narasi yang beredar banyak di media sosial. Kebencian terhadap China, bangkitnya PKI, ditindasnya umat muslim di Indonesia yang mayoritas, adalah narasi-narasi bohong yang treus disebarkan untuk membangkitkan ketakutan dan membangkitkan kebencian, yang nanti akan berujung pada sebuah revolusi besar.

Dan untuk sebuah revolusi, dibutuhkan sosok mirip Hitler, seorang orator ulung, yang bisa menyihir orang dengan kata-katanya. Seorang yang rasis, yang dalam pikirannya hanya bagaimana cara berkuasa, meskipun itu harus mengorbankan banyak jiwa. Sosok itu hanya ada di Rizieq Shihab sekarang. Dan bumbu-bumbu pun ditambahkan bahwa ia adalah cucu Nabi, dan siapa pun yang menghina cucu Nabi ia tidak akan dapat surga karena dibenci Tuhan.

Hitler menjadi nabi baru, sosoknya diagung-agungkan. Dia kemudian berkuasa, dan begitulah ceritanya sampai akhirnya seluruh dunia terlibat dalam sebuah perang yang mematikan.

Selain cucu Nabi, Rizieq juga ulama yang harus diikuti perkataannya meskipun ia banyak salahnya. Semua kebobrokannya ditutupi dan yang disalahkan adalah aparat keamanan karena mengkriminalisasi ulama. Dan yang terakhir, ia diberi penghias bahwa ia adalah Imam Besar.

Sesudah bangunan suci mirip Nabi itu berhasil dipakaikan ke Rizieq Shihab, lalu dibuatlah media propagandanya di mana-mana, lewat baliho dan spanduk-spanduk yang disebarkan di mana-mana. Teori Goebbels dipakai, sebarkan kebohongan berulang-ulang sampai dia menjelma menjadi sebuah kebenaran.

Dan bahayanya, ketika banyak orang benar-benar menganggap bahwa Rizieq adalah pahlawan Islam, pengikutmya makin lama makin bertambah. Model pengikutnya pasti mirip dengan model pengikut Hitler pada masanya. Bodoh, miskin, punya masalah, pengangguran, dan mereka yang suka diberikan mimpi-mimpi bahwa kelak Islam akan berjaya.

Kalaupun ada yang berpendidikan, biasanya mereka menggunakan barisan itu sebagai kendaraan untuk kepentingan kelompok mereka pribadi. Propaganda Rizieq ini benar-benar didanai dan dimainkan oleh kelompok elite politik yang ingin mendapatkan kekuasaan.

Itulah kenapa ketika Pangdam Jaya menghancurkan baliho-baliho itu, orang-orang politik itu teriak. Rizieq adalah investasi mereka sejak lama. Dan ketika simbol propaganda itu dihancurkan, hancur juga harapan mereka untuk bisa memenangkan pertarungan di pilkada dan pilpres kelak.

Model propaganda seperti Rizieq ini berbahaya. Dia membangun kebencian-kebencian lewat slogannya, sekaligus menipu masyarakat umum bahwa Islam sekarang sedang ditindas penguasa. Dan kalau tidak dihentikan sekarang, atau simbol-simbolnya dihancurkan, kelak dia akan menjelma menjadi monster yang bisa mengumpulkan banyak orang bodoh dan melakukan kejahatan besar dengan bungkus agama.

Pangdam Jaya sudah melakukan hal yang benar. Dia sudah mematikan api kecil yang kalau dibiarkan akan membuat negara dalam kebakaran besar. Jokowi juga sudah benar dengan membangun ekonomi dan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya, supaya tidak banyak pengangguran yang dimanfaatkan kelompok kecil elite politik yang ingin berkuasa untuk kekayaan mereka dan kroninya.

Rizieq kalau tidak dihadang sekarang, dia kelak akan menjadi Hitler dalam bentuk lain di negeri ini. Hitler berbaju agama dan akan membuat kerusuhan di mana-mana. Cuma memang menghancurkan simbol Rizieq tidak mudah. Kalau ia dihabisi dengan cara keras, akan muncul Rizieq-Rizieq lain yang mungkin akan jauh lebih gila. Dan suatu saat kita akan lebih repot menghadapinya.

Mumpung dia belum menjadi besar, mari kita hancurkan simbol-simbol mereka dan tumbuhkan simbol baru tentang keragaman, kebhinekaan, dan persatuan atas nama seluruh bangsa Indonesia. 

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Berita terkait
Gegara Rizieq Shihab, Bima Arya Polisikan RS UMMI
Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto melaporkan pengelola Rumah Sakit (RS) UMMI ke Polresta Bogor, lantaran hasil swab tes Rizieq Shihab.
Rizieq Tak Mau Swab Test Lantaran Prasangka Negatif ke Pemerintah?
Ferdinand Hutahaean (FH) menduga penolakan tes usap (swab) yang dilakukan Imam Besar FPI, Rizieq Shihab lantaran prasangka negatif ke pemerintah.
Demo Kecam Habib Rizieq di Magelang Dibubarkan Polisi
Aksi tolak provokasi Habib Rizieq Shihab di Magelang dibubarkan polisi. Demo tak patuhi protokol kesehatan.
0
Sejumlah Aturan Baru PPDB 2021 untuk SD Hingga SMK
Kemendikbudristek menetapkan delapan aturan baru dalam PPDB 2021 mulai dari perubahan batas usia hingga daya tampung sekolah pada zonasi peserta.