UNTUK INDONESIA
Untuk Indonesia
Dampak Lockdown Bagi Kelas Atas Menengah dan Bawah
Kalau tabungan kita hanya cukup untuk hidup beberapa bulan, enggak usah teriak lockdown. Kecuali punya tabungan untuk makan tiga tahun tanpa kerja.
Foto aerial perempatan Alun-alun yang lengang pascakebijakan local lockdown di Kota Tegal, Jawa Tengah, Jumat, 27 Maret 2020. Kebijakan ini menuai kontroversi kemudian diubah dengan istilah penutupan jalan di 50 titik lokasi. (Foto: Antara/Oky Lukmansyah)

Oleh: Hermas E Prabowo*

Bagi kelompok masyarakat kelas menengah atas, pembatasan gerak yang ketat dan masif di suatu wilayah (lockdown) tidak jadi masalah. Mereka punya tabungan. Setidaknya untuk hidup beberapa bulan atau tahun ke depan. Tanpa masuk kantorpun, mereka tetap bisa kerja dari rumah dan dapat penghasilan. Sehingga mereka bisa tetap bertahan hidup walau "dipaksa dikurung" di rumah.

Sampai berapa bulan kelas menengah ini bisa bertahan dalam kondisi lockdown?

Mungkin dua minggu bisa. Sebulan juga bisa. Tiga bulan bisa juga. Tapi lebih dari tiga bulan, kelas menengah ini juga akan panik. Karena boleh jadi setelah tiga bulan, perusahaannya tidak bisa menggajinya secara penuh. Bahkan mungkin sudah ada yang terpaksa di PHK akibat kinerja perusahaan tempat dia kerja turun, bahkan bisa jadi kesulitan keuangan.

Kondisi seperti itu sangat mungkin terjadi, mengingat pertumbuhan ekonomi nasional dan global turun sebagai dampak turunnya konsumsi.

Ingat bahwa Indonesia belum menjadi negara produsen. Kita baru bercita-cita ke arah sana. Pertumbuhan ekonomi kita banyak didorong oleh konsumsi, sebagai pilar utama. Bila konsumsi nasional turun, produksi turun, pabrik tutup dan orang banyak kehilangan pekerjaan.

Pada tahap inilah, kelas menengah akan mengalami penderitaan hidup. Tidak bekerja, tidak punya penghasilan, anak-istri tetap harus dipenuhi kebutuhan dasarnya. Yakin mereka akan bisa tetap bertahan di rumah untuk lockdown dalam situasi serba kekurangan seperti itu?

Kalau tabungan kita hanya cukup untuk hidup beberapa bulan, enggak usah teriak lockdown. Begitu perusahaan tidak mampu lagi menggaji kita, bisa dibayangkan kehidupan macam apa nanti yang akan kita jalani.

Kecuali memang kita punya tabungan yang bisa untuk makan tiga tahun lebih ke depan, tanpa harus kerja. Kelompok ini pasti santuy.

Enggak perlu latah seperti India yang melakukan lockdown dan berujung menjadi tragedi kemanusiaan.

Mengapa kita memproyeksikan jangka panjang? Karena kita tidak tahu kapan pandemi global virus corona akan berakhir, apalagi obat dan antivirusnya juga belum ada tanda-tanda untuk diproduksi massal. Artinya perang melawan virus corona butuh strategi jangka menengah-panjang.

Bagaimana dengan kelas bawah? Dengan lockdown kelompok masyarakat kelas bawah langsung terpukul. Mereka tidak bisa kerja, dan tidak bisa makan.

Ohh... kan ada anggaran Negara, dana dari Pemerintah yang bisa digunakan?

Memang betul. Tapi seberapa mampu Pemerintah memberi makan langsung kelompok masyarakat kelas bawah yang jumlahnya puluhan juta?

Dua minggu, satu bulan, dua bulan, tiga bulan? Saya tidak yakin itu.

Lihat sumber pendapatan dari APBN kita. Sebagian besar ditopang oleh pajak. Ketika ekonomi dihantam corona, bisnis melesu, pengusaha mana yang masih mampu bayar pajak.

Jangan dikira, dana APBN yang lebih dari Rp 1.000 triliun itu sudah tersedia uangnya di awal tahun?

APBN kita sama seperti pekerja kantoran. Untuk memenuhi kebutuhan satu, dua, tiga bulan, dan seterusnya ke depan, ngumpulin-nya salah satunya dari tarikan pajak bulan-bulan sebelumnya. Nah kalau ekonomi terhenti karena lockdown, dari mana sumber dana APBN untuk menjalankan roda Negara?

Bagaimana dengan ketersediaan pangan? Sisa produksi beras bulan Januari-Maret 2020 yang belum dikonsumsi hanya cukup untuk makan secara nasional selama 1 bulan 7 hari ke depan.

Okelah, ditambah carry over stok pasar tahun 2019 mungkin ada tambahan konsumsi beberapa minggu.

Kan ada Perum Bulog? Stok beras di gudang Bulog per awal Maret 2020 hanya 1,6 juta ton, hanya cukup untuk konsumsi beras nasional 18 hari. Rata-rata konsumsi beras kita per bulan secara nasional 2,6 juta ton.

Melihat data itu, ketahanan pangan nasional kita (beras) plus-minus dua bulan, dengan catatan bila produksi beras berhenti akibat lockdown.

Ada yang tanya, kan ada sumber pangan lokal dan mi instan? Bahan pangan lokal dan mi instan sudah habis untuk memenuhi 15 persen konsumsi non beras nasional, dan kita tidak pernah lihat bahan pangan lokal dan mi instan surplus produksi melimpah.

Kita juga jangan lupa, ketika kelompok masyarakat kelas bawah dijamin kebutuhan makannya selama masa lockdown, membuat mereka sanggup tinggal dan berdiam diri di rumah.

Apa dampaknya? Seluruh penggilingan padi akan berhenti beroperasi, pasokan beras dari sentra-sentra produksi juga akan terhenti. Ketersediaan pangan jadi taruhannya.

Kalau saya pekerja di penggilingan padi, buruh tani, saya dapat jaminan makan selama lockdown dari Pemerintah, ngapain saya harus bekerja? Lebih baik tinggal di rumah, saya juga pengen selamat dari corona.

Lalu, siapa yang akan bekerja di penggilingan padi? Tanpa mereka, beras tidak akan sampai ke dapur orang-orang kelas menengah itu. Terus kelas menengah mau makan apa?

Enggak perlu latah seperti India yang melakukan lockdown dan berujung menjadi tragedi kemanusiaan.

Lalu bagaimana kalau enggak di-lockdown?

Buat kelas menengah yang sadar, silakan tinggal dan bekerja di rumah. Tetaplah produktif, supaya perusahaan tempat bekerja sehat.

Buat yang tidak punya tabungan dan enggak bisa berdiam di rumah, tetaplah bekerja dengan mengikuti protokol Pemerintah dalam pencegahan virus corona secara ketat.

Batasi pergaulan, jaga jarak aman, biasakan berlaku hidup sehat secara ketat.

Semoga virus corona bisa segera berlalu dari negeri Indonesia, dengan kerja sama yang baik antarkita semua dan kesadaran bersama.

Karena sejatinya kita adalah satu: Satu Indonesia.

*Pelaku usaha UMKM; wartawan ekonomi bidang pertanian-pangan Harian Kompas (2006 - 2017); salah satu pendiri Perkumpulan Masyarakat untuk Pemberdayaan Pertanian.

Baca juga:

Berita terkait
Jumlah Positif Covid-19 di 178 Negara, AS Paling Parah
Terkonfirmasi 784.716 kasus positif terjangkit virus corona Covid-19 di seluruh dunia. Tertinggi Amerika Serikat disusul Italia dan Spanyol.
Arti Zona Merah Kuning Hijau Oranye Pandemi Covid-19
Dalam penanganan kasus pandemi Covid-19 dikenal empat zona, yaitu zona hijau, zona kuning, zona oranye, dan zona merah. Berikut penjelasannya.
Profil Michael Levitt dan Ramalan Badai Corona
Tak perlu lockdown, cukup social distancing, tak lama lagi badai corona Covid-19 akan berlalu. Analisis ilmuwan Michael Levitt. Siapa dia?
0
Jenis Olahraga yang Aman Selama Puasa
Namun, saat menjalani puasa Ramadan banyak orang yang malas berolahraga karena takut kelelahan, dan batal puasanya.