UNTUK INDONESIA
Cinta Tulus Istri di NTT, Merawat Suami Lumpuh
Rofina Ona wanita tangguh di NTT. Suami lumpuh tidak membuatnya lari menjauh. 14 tahun ia merawatnya sekaligus mencari nafkah untuk lima anak.
Rofina Ona. (Foto: Tagar/Yos Syukur)

Manggarai Timur - Rofina Ona 56 tahun, perempuan tangguh di Nusa Tenggara Timur (NTT). Suami lumpuh tidak membuatnya pergi menjauh. Ia tetap setia mendampingi bahkan rela jadi pencari nafkah.

Dia tinggal di Kota Ndora, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT

Di balik wajahnya  yang keriput dan senyum mengembang, tersimpan kekuatannya dalam menghadapi ujian hidup.

Dengan jemari yang juga keriput, ia memanggul sayur-mayur, berjalan dari rumah ke rumah untuk menjemput rezeki. 

Kepada Tagar, Selasa,17 September 2019, ibu lima anak dan lima cucu ini menceritakan perjalanan hidupnya sebagai tulang punggung keluarga sejak suaminya lumpuh karena peristiwa naas 14 tahun lalu.

Ande Umar NTTAnde Umar suami Rofina Ona. (Foto: Dok Tagar)

Curahan Hati Rofina Ona

"Ande Umar suamiku kini berusia 56 tahun. Kami dipersatukan dalam pernikahan secara Katolik. Aku melahirkan lima anak kami, tiga laki-laki dan dua perempuan.

Aku tahu suamiku ketika sehat seorang pekerja keras dan mendidik anak-anak kami dengan penuh kasih.

Sampai suatu pagi pada tahun 2002, suamiku memanjat pohon kelapa di belakang rumah. Aku mendengar suara berdebam, benda berat yang jatuh disusul suara suamiku dengan suara parau memanggil namaku. 

'Rofina, Rofina, saya jatuh,' suara suamiku.

Suamiku jatuh dari pohon kelapa setinggi 9 meter. Ia jatuh dalam posisi terduduk. Kami mengangkatnya, membawanya ke rumah sakit. Perawatan dan obat dari dokter sepertinya tidak membuatnya sembuh maksimal, kami kemudian mengupayakan obat tradisional. Namun tidak ada perubahan sampai saat ini.

Suamiku tetap lumpuh, hanya berbaring di tempat tidur, tidak bisa apa-apa, segala hal harus dibantu. Sejak itu aku menjalankan tugas seorang ibu sekaligus sebagai seorang suami. Mencari nafkah. 

Pada malam-malam dalam tangis aku berdoa memohon kekuatan kepada Tuhan. Pada siang-siang aku berkeliling mencari rezeki. 

Selain menjual sayur, aku bekerja apa saja, serabutan yang penting halal. Aku membagi waktu untuk mengurus suami dan anak. 

Pada malam-malam dalam tangis aku berdoa memohon kekuatan kepada Tuhan.

Dapur Ande UmarRumah keluarga Rofina Ona. (Foto: Dok Tagar)

***

Kehidupan yang sulit, tapi mau bagaimana lagi. Kami harus menerima kenyataan dan merawatnya dengan baik.

Aku mendidik anak-anak untuk bahu-membahu dalam mengurus rumah. Membagi tugas. Ada yang menimba air untuk minum, mencari kayu bakar, memasak, dan mengurus bapak.

Anak-anak mengerti kondisi ini. Pada saat suami jatuh, anak ketiga sampai kelima masih kecil

Walaupun suami lumpuh, aku tetap bertekad menyekolahkan anak-anak sampai maksimal yang aku bisa. 

Mereka harus sekolah supaya bisa cari kerja sendiri. Saat ini empat anak kami sudah tamat sekolah menengah atas, sedangkan yang bungsu masih sekolah menengah pertama.  

Selama 14 tahun aku membagi waktu untuk bekerja, merawat suami dan anak. Ketika bekerja merawat kebun, aku meminta izin pada pemilik kebun, jam 12 siang pulang sebentar ke rumah untuk menyiapkan makanan suami kemudian aku kembali lagi ke kebun untuk bekerja. 

Aku mendidik anak-anak untuk bahu-membahu dalam mengurus rumah.

NTT Ande UmarSuami Rofina Ona (tengah) mendapat kunjungan dari orang yang bersimpati.  (Foto: Dok Tagar)

***

Aku pernah mengalami sebagai buruh serabutan dengan upah sepuluh ribu sampai lima belas ribu rupiah. Dari uang itu aku masih bisa menyisihkan uang untuk pendidikan anak-anak.

Sekarang tetap sebagai buruh serabutan, aku mendapat upah lima puluh ribu rupiah sehari, cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Ada saatnya suamiku merangkak ke kamar mandi untuk buang air, sampai kemudian kami membuat wadah di kolong tempat tidur, wadah yang mudah dibersihkan.

Sekarang juga bapak bisa keluar rumah karena ada kursi roda pemberian Pakarasius.

Yang membuatku tegar selama 14 tahun adalah kekuatan suami dan anak-anak. Ketabahan suami dalam menghadapi sakit itu menguatkanku. Anak-anak yang bahu-membahu mengurus ayahnya itu juga menguatkanku.

Suami sabar dan pasrah. Kami menerima kenyataan ini dengan ikhlas. Kami lega anak-anak bisa sekolah di tengah keadaan kami yang serba terbatas.

Anak-anak kami kini sudah besar, ada yang sudah berkeluarga, bisa membantu keperluan rumah tangga terutama membantu biaya pendidikan adik bungsunya.

Aku tidak pernah putus harapan. Aku ingin suami sembuh, dan bisa menyekolahkan si bungsu sampai sarjana.

Suami sabar dan pasrah. Kami menerima kenyataan ini dengan ikhlas.

NTT dan keluargaRofina Ona (belakang, berbaju hitam) bersama suami dan keluarga besar. (Foto: Dok Tagar)

***

Selama 14 tahun suami lumpuh, kami tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Petugas dari Kelurahan Kota Ndora dan Dinas Sosial Manggarai Timur pernah mendatangi rumah kami, mendata kami dan brejanji akan memberikan kursi roda. Namun sampai saat ini tidak pernah ditepati. 

Kami tidak pernah mendapat bantuan beras atau uang. Pemerintah datang hanya menyampaikan janji. Sampai sekarang tidak ada.

Aku tidak mempermasalahkan itu semua. Memang aku harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Meskipun tidak mendapat bantuan dari pemerintah, Rofina tidak pernah mengeluh, bekerja serabutan tetap menjadi andalannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Kursi roda yang diberikan Pakarasius menjadi obat yang luar biasa. Bagiku melihat suami tersenyum dalam kelumpuhan menumbuhkan kekuatan.

Melihat suami tersenyum membuatku semangat bekerja.

Hal yang berat adalah ketika melihat suami putus asa. Namun itu tidak berlangsung terus-menerus. Aku yakin setiap manusia dilengkapi persoalan masing-masing dan setiap persoalan pasti ada jalan keluarnya.

Suami sakit, aku dan anak-anak dianugerahi kesehatan sehingga bisa mengurusnya dengan baik.

Aku berharap semoga ke depan semua baik-baik saja. Anak-anak bahagia dan kami semua bahagia. Kebahagiaan kami adalah kebahagiaan suami. Semoga suami tetap kuat dan tegar. Anak-anak diberi kesehatan dan rezeki oleh Yang Maha Kuasa. Aamiin." []

Kisah sebelumnya:

Berita terkait
Perjuangan Siswa SD di Pessel Melewati Titian Kayu
Siswa SD di Pesisir Selatan, Sumatera Barat harus melewati titian kayu menuju sekolah akibat ambruknya jembatan.
Togo dan Paulina, Temukan Cinta dan Maut Saat Berkemah
Paulina dan kekasihnya, Togo Simanjuntak, berakhir tragis dalam sebuah kecelakaan lalu lintas, sebelum menikmati perkemahan di Bukit Paropo, Dairi.
Kepada Maris Anak Pangkep, Apa Kamu Takut Disunat?
Maris 9 tahun, anak Pangkep, tak henti membaca salawat dan surat-surah pendek Alquran yang ia hapal di luar kepala. Wajahnya pucat pasi.
0
Karnaval Busana Serba Hitam Bulukumba Raih MURI
Karnaval ribuan orang memakai pakian serba hitam di Kabupaten Bulukumba meraih rekor MURI.