Menahan Laju Kepunahan Burung Endemik Magelang

Magelang yang dikelilingi sejumlah gunung menjadi habitat beragam jenis burung. Tapi populasi burung endemik daerah itu mulai berkurang.
M Habib Shaleh menangkarkan burung Murai Batu yang kini mulai langka di Kabupaten Magelang. (Foto: Tagar/Solikhah Ambar Pratiwi)

Magelang – Beberapa ruangan kecil berdinding batako berjejer di rumah Habib Shaleh, seorang penangkar burung di Magelang, Jawa Tengah. Ruangan-ruangan itu hanya berpenutup kawat kasa yang diberi semacam jendela berukuran kecil.

Di dalam masing-masing ruangan hanya ada sepasang burung, ranting pohon yang dipasang melintang, dan tempat makanan serta minuman burung.

Habib yang hari itu mengenakan kaus berwarna biru muda dan topi rimba berwarna hijau terlihat berdiri di depan kawat kasa. Lengannya yang berbulu dimasukkan ke dalam ruangan itu melalui jendela kecil yang sengaja dibuat untuk memberi makan burung di dalamnya.

Habib dengan telaten memasukkan sejumput demi sejumput pakan burung ke dalam ruangan yang berfungsi sebagai kandang tersebut.

Sebagai penangkar dan pecinta burung, Habib cukup banyak tahu mengenai jenis-jenis burung yang ada di daerahnya. Dia juga memiliki kenangan masa kecil tentang burung-burung liar di Magelang.

Magelang merupakan daerah dengan kontur wilayah pegunungan dengan banyak lahan hijau di dalamnya. Sedikitnya ada lima gunung yang berdiri kokoh di setiap penjuru wilayah ini, seperti Gunung Merapi di sisi Timur; Merbabu, Andong, Telomoyo di sisi Utara; Sumbing di sisi Barat.

Kondisi itu menjadi habitat beragam jenis burung. Dahulu, Magelang terkenal dengan keberagaman satwa burung yang hidup bebas di alam liar. Kicauan burung-burung itu bahkan dapat didengar tidak hanya di pegunungan dan hutan, namun sampai di persawahan, hingga perkampungan.

"Menurut cerita orang-orang tua kita dulu, kalau kita membajak sawah itu burung jenis Jalak Suren, Jalak Pito, itu mengikuti kita di belakangnya. Dia mencari apa, mencari cacing. Sekarang (burung-burung itu) sudah nggak ada," kata Habib.

Cerita Burung Magelang (2)M Habib Shaleh menunjukkan burung Murai Batu yang ditangkarkan olehnya. (Foto: Tagar/Solikhah Ambar Pratiwi)

Hewan tersebut tak ragu berinteraksi dengan manusia. Itu dulu, ketika lingkungan masih ramah dan tak banyak pemburu dengan senapan angin di pundak.

Populasi yang Makin Sedikit

Bagi Habib, kenangan seperti itu menjadi momen sangat berharga yang tidak mungkin bisa terulang lagi. Pertama karena lahan pertanian yang kini sudah terbatas berganti dengan bangunan dan perkotaan, kedua populasi burung yang kini juga terbatas.

Menurut Habib, dulu ada banyak jenis burung, banyak juga yang cukup tenar pada zamannya lantaran memiliki keistimewaan tersendiri, khususnya dalam hal kicauan. Sebut saja burung Larwo atau Murai Batu khas Jawa, Kepodang Emas, Pentet atau Cendet, Trotok, Kutilang, Kacer Jawa, Ciblek, Sikatan, Derkuku, Jalak Uren, Jalak Pito, Srigunting, dan lainnya.

Jadi sebenarnya Kabupaten Magelang itu merupakan habitat banyak burung. Namun banyak yang kini sudah punah, sedangkan lainnya populasinya kini sangat terbatas dan tinggal beberapa ekor saja. Ada yang masih bisa ditemukan di luar Magelang, tapi jumlahnya juga terbatas.

Kepunahan dan berkurangnya populasi burung ini akibat perilaku manusia. Penangkapan liar menempati urutan pertama sebagai penyebab kepunahan burung-burung endemik Magelang.

Penangkapan liar burung bukan hanya dilakukan oleh pemburu maupun masyarakat pehobi. Saking maraknya, di banyak daerah bahkan bisa ditemui para remaja usia sekolah yang sengaja keluar pada malam hari hanya untuk menangkap burung.

Ada yang menggunakan alat berupa jaring, ada pula yang menggunakan getah pohon tertentu atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah pulut.

"Dan ada berbagai macam cara lainnya. Untuk apa mereka menangkap burung ini, biasanya untuk dijual. Nah penangkapan yang tidak terkendali ini mengakibatkan burung-burung di alam hampir punah," ujar Habib yang juga anggota Komunitas Murai Batu Magelang itu.

Penyebab lainnya adalah penggunaan pestisida. Pestisida yang tersebar luas di lahan pertanian, perkebunan, dan kawasan lain mengakibatkan makanan alami burung mati. Contohnya belalang dan ulat.Ketidakseimbangan rantai makanan ini tentu tidak bisa diperbaiki secara instan oleh manusia.

"Di kalangan para pecinta burung, sampai ada guyonan (kelakar) kalau mau mendengarkan kicauan burung sekarang sudah tidak lagi di alam namun di kandang," ucap Habib.

Untuk bisa menikmati kicauan burung murai misalnya, orang tidak bisa lagi mendengarkannya di bawah pohon yang tumbuh di kebun belakang rumah, atau di hutan. Kicauan tersebut hanya bisa kita dengarkan dari rumah seseorang dengan kandang burung murai di dalamnya.

Kondisi tersebut, kata dia, menimbulkan keprihatinan dan perlu mendapat perhatian bersama. Para pecinta burung yang tergabung dalam komunitas kemudian mendorong agar setiap desa bisa membuat peraturan desa tentang larangan penangkapan burung di lingkungan dan alam masing-masing. Di Kabupaten Magelang, ada beberapa desa yang sudah membuat peraturan desa (perdes) tersebut dan diterapkan hingga saat ini.

Ratusan Penangkar

Bukan hanya peraturan desa yang melarang penangkapan burung, sejumlah pecinta burung juga berusaha menangkarkan hewan yang hampir punah. Tetapi, tidak semua jenis burung menjadi sasaran penangkaran.

Burung kicauan adalah yang paling banyak diminati untuk ditangkarkan. Diantaranya Jalak Uren, Kacer Jawa, Murai Batu, dan Cucak Rowo. Jumlah penangkar burung ini mencapai ratusan di wilayah Kabupaten Magelang. Ada yang hanya menangkarkan beberapa pasang, ada pula yang sampai puluhan pasang.

Cerita Burung Magelang (3)M Habib Shaleh menangkarkan burung Murai Batu yang kini mulai langka di Kabupaten Magelang. (Foto: Tagar/Solikhah Ambar Pratiwi)

Penangkaran burung tidak hanya memperpanjang masa populasi burung, namun juga membawa dampak ekonomi bagi para penangkar. Sebab, burung yang ditangkarkan juga laku untuk dijual dengan harga beragam.

Kelangkaan serta tingkat kesulitan dalam perawatan berbanding lurus dengan harga jual burung. Contoh saja, seekor burung murai yang masih anakan umur 1,5-2 bulan biasa dijual dengan harga Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Untuk murai yang sudah dewasa, jantan, dan berkicau harganya bisa lebih mahal berkali-kali lipat.

Habib menceritakan, rata-rata burung yang ditangkar adalah burung yang mudah dalam hal perawatan. Meskipun dalam prakteknya, merawat seekor burung itu gampang gampang susah. Burung, layaknya makhluk hidup lainnya, memiliki karakter berbeda yang harus bisa dipahami oleh sang penangkar. Mereka juga memiliki pola perawatan berbeda.

"Kalau kita memahami burung itu menangkarnya jadi gampang, kalau kita nggak memahami ya jadi sulit. Kita harus mau mengikuti maunya burung itu seperti apa, karena setiap jenis burung itu beda. Setiap burung itu punya karakter diri sendiri, bahkan setiap sesama burung juga nggak bisa di perlakukan sama. Kita harus memahami bagaimana karakter burung kalau ingin sukses," kata Habib yang menekuni penangkaran burung sejak tahun 2012 lalu.

Semangat para pecinta burung untuk menangkarkan hewan tersebut tentu tidak melulu karena keuntungan materiil yang bisa didapat. Namun, keingingan mereka untuk bisa terus melihat dan mendapati keberadaan burung di alam liar tentu lebih kuat.

Hal itu dibuktikan dengan jenis burung yang ditangkarkan saat ini. Tidak hanya burung kicauan yang berharga mahal saja, namun juga jenis burung endemik dengan harga murah di pasaran.

"Sekarang ini, saya dan teman-teman berkeinginan menangkarkan burung lokal khas Magelang yaitu burung Ciblek. Kenapa saya memilih Ciblek, karena populasi ciblek ini kan memang di Magelang sehingga ketika dilepas nantinya dia mudah beradaptasi," kata Habib.

Berbeda dengan jenis burung kicauan yang memiliki garis keturunan dari luar Magelang. Ketika berhasil ditangkarkan dan dilepaskan ke alam liar, mereka akan kesulitan beradaptasi dan bisa mati karena habitat asli mereka bukan di Magelang.

Para penangkar juga memiliki cara tersendiri dalam mewujudkan kepedulian mereka akan kelestarian burung di Magelang. Caranya, mereka menyisihkan sebagian hasil penjualan burung tangkaran untuk dibelikan burung yang kemudian dilepasliarkan di alam.

"Selama ini kita sama teman-teman kalau punya hasil, kita jual, kemudian hasilnya ini kita belikan burung liar. Seperti perkutut, kutilang, jalak. Burung yang kita beli adalah yang kalau kita lepaskan nanti bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan," ucap Habib.

Sementara itu, salah satu pecinta burung, Arifin, mengaku memelihara burung jenis Kacer di rumahnya. Dia memilih burung tersebut karena memiliki kicauan yang bagus.

"Selain itu, harganya di pasaran juga masih terjangkau. Saya memelihara burung ini karena suka dengan kicaunya, perawatannya juga mudah dan murah," ujar Arifin.

Baginya, memelihara burung tersebut juga adalah bentuk kepeduliannya akan kelestarian burung. [] (PEN)

Baca juga: 

Berkah Pandemi untuk Pedagang Tanaman di Yogyakarta

Kucing Mahal Milik Mantan Relawan Tsunami Aceh

Berita terkait
Legenda Pembunuhan Sri Tanjung dan Surati di Banyuwangi
Setidaknya ada tiga cerita yang disebut-sebut sebagai cikal bakal penamaan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Dua di antaranya tentang pembunuhan.
Nuansa Kental Jawa Klasik Gedung Milik Jokowi di Solo
Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) memiliki gedung bernuansa klasik yang disewakan untuk pesta di Solo. Saat ini gedung itu dikelola oleh Gibran.
Perjalanan Buruh Pabrik di Tangerang Meraih Mimpi
Seorang buruh pabrik di Tangerang yang mengisahkan perjalanan hidupnya mulai saat awal merantau hingga saat ini mendapatkan jabatan di kantornya.
0
Mengenang Kembali Sejarah Hari Lahir Pancasila
Sejarah hari lahirnya Pancasila ditandai oleh pidato Presiden Soekarno pada 1 Juni 1945, Bung Karno berpidato dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai.