Apa yang Sebenarnya Terjadi Pada Saat Koma?

Koma merupakan level tidak sadar diri paling dalam. Penyebabnya ada pada gangguan di otak.
Ilustrasi makanan untuk redakan kolesterol tinggi. (Foto: Tagar/Pixabay)

Jakarta - Ada kalanya melihat seorang pasien yang mengalami kondisi koma sangat membuat frustrasi, karena banyak orang beranggapan umurnya tidak lama lagi. Selain rasa sedih di dada, mungkin ada satu pertanyaan yang muncul, apa yang sebenarnya yang dirasakan oleh orang yang sedang koma?

Apakah rasanya seperti tidur, apakah mereka bermimpi atau justru mereka tak merasakan apa-apa sama sekali.  Koma merupakan  level tidak sadar diri paling dalam. Penyebabnya ada pada gangguan di otak. Berikut beberapa penjelasan soal koma.


1. Otak orang koma aktif

Penggunaan alat Electroencephalography (EEG) menunjukkan kalau neuron dalam otak ternyata masih tetap aktif dan bekerja.


2. Berbeda dengan orang tidur

Ternyata orang yang sedang koma lebih mirip orang yang dibius total. Otak mereka berfungsi dalam titik terendah kesiagaan, artinya mereka masih bisa dengar tapi otaknya tidak bisa memproses atau bahkan respon apapun bunyi yang masuk ke telinga.


3. Tersadar dari koma

Orang yang tersadar dari koma bisa ingat kejadian yang dialami ada juga yang tidak sama sekali semuanya tergantung seberapa parah kondisinya.

Ada 2 jaringan utama pengatur kesadaran di otak yang terganggu waktu koma. Bagian batang otak yang tugasnya mengatur respon dasar tubuh berfungsi tapi dengan sangat-sangat kecil. Inilah yang menjadi alasan kenapa pas kita cubit atau mukul orang koma, tidak bangun hanya meninggalkan luka saja.

•Koma memiliki penggolongan. Kondisi koma yang masih bisa memberikan sedikit gerakan pada tubuh masuk dalam kondisi vegetatif, sedangkan kondisi otak yang masih ada aktivitas tapi tidak ada gerakan sama sekali digolongkan dalam kondisi katatonia. Yang terakhir dan masuk dalam kondisi tidak dapat ditolong adalah mati otak, situasi di mana otak benar-benar tidak berfungsi, namun kondisi tubuh masih normal.

•Terkait waku sadar, tergantung banget sama seberapa parah kerusakan otak yang dialami karena nyatanya lama waktu bisa beda-beda dari hitungan hari bahkan sampai tahunan. Contoh kasus pembalap hebat Michael Schumacher yang kecelakaan waktu main sky iya koma selama 6 bulan atau kasus super langka waktu perempuan bernama Munira Abdulla yang terbangun setelah 27 tahun tak sadar diri.

Umumnya koma didapatkan oleh mereka yang mengalami luka di kepala. Misalnya; gegar otak, pendarahan otak, kurangnya oksigen hingga merusak otak, overdosis obat-obatan, hingga keracunan, yang pada dasarnya terjadi karena tubuh mengalami trauma. Maka, tetap berhati-hatilah dalam segala aktivitas. []

(Vidiana Lihayati)


Baca Juga






Berita terkait
Waspadai Kabut Otak Pasca Positif Covid-19
Tak ada pengobatan khusus untuk gejala kabut otak pasca Covid-19 ini, namun banyak strategi yang digunakan untuk meningkatkan kembali fungsi otak.
Picu Kerusakan Otak, Stop Penggunaan Earphone Terus Menerus
Mendengarkan musik dengan earphone bisa menyebabkan kerusakan pada saraf otak, bahkan memiliki efek kerusakan yang sama seperti penyakit.
5 Narkoba Bikin Ketergantungan Merusak Otak dan Mematikan
Jika dikonsumsi tanpa pengawasan, zat-zat ini membuat konsumennya menjadi ketagihan dan mengganggu kerja otak, dan bahkan bisa mematikan