UNTUK INDONESIA

24 Adegan Reka Ulang Pengeroyokan Intel TNI di Bukittinggi

Polres Bukittinggi melakukan reka ulang kasus anggota Moge mengeroyok intel TNI. Reka ulang untuk melihat peran masing-masing tersangka.
Polres Bukittinggi melakukan reka ulang kasus pengeroyokan anggota TNI oleh kelompok Moge. (Foto: Tagar/Muh Aidil)

Bukittinggi - Kepolisian Resor Bukittinggi melakukan rekonstruksi penganiayaan dilakukan anggota Harley Owner Group (HOG) terhadap anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) beberapa waktu lalu. Setidaknya ada 24 adegan reka ulang terjadinya pengeroyokan tersebut.

Kepala Kepolisian Resor Bukittinggi, Ajun Komisaris Besar Dody Prawiranegara mengatakan reka ulang dilakukan untuk lebih mengetahui peran masing-masing tersangka sesuai dengan keterangan para saksi dan tersangka. Kegiatan itu juga disaksikan oleh korban dan Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Bukittinggi.

Sehingga di sana dapat diketahui jelas jalan cerita terjadinya pengeroyokan tersebut dan juga memberikan gambaran kepada JPU diproses persidangan nantinya

"Rekonstruksi melibatkan lima pelaku berinisial MS, 49 tahun, JA, 26 tahun, RHS, 48 tahun, TR, 33 tahun, dan BS, 16 tahun," ujar Dody, Sabtu, 14 November 2020.

"Sehingga di sana dapat diketahui jelas jalan cerita terjadinya pengeroyokan tersebut dan juga memberikan gambaran kepada JPU diproses persidangan nantinya," katanya.

Baca juga:

Dody mengklaim bahwa rekonstruksi ini menunjukkan keseriusan dari Polres Bukittinggi dalam proses perkaranya dilaksanakan secara baik dan benar.

Penyidik mempersangkakan terhadap tersangka anak berhadapan hukum dengan pasal nya 170 ayat 1 dan ayat 2 jo 351 jo 55 jo Undang-undang (UU) nomor 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak.

"Sedangkan untuk keempat tersangka dewasa dengan pasal 170 ayat 1 dan ayat 2 jo 351 jo 55 KUHP," tuturnya.

Sebelumnya, polisi menyerahkan berkas perkara kasus dugaan pengeroyokkan yang dilakukan lim orang anggota motor gede (moge) Harley Davidson Owner Grup (HOG) Siliwangi Bandung ke Kejari Bukittinggi.

Dari lima orang tersangka itu, satu di antaranya adalah anak di bawah umur. Tersangka berkasnya sudah rampung itu akan di proses sesuai dengan sistem peradilan anak.

Kasus pengeroyokan terhadap prajurit intel TNI berawal saat rombongan penunggang motor gede (Moge) viral di lini masa. Aksi premanisme itu disebut-sebut terjadi di Simpang Tarok, Kelurahan Tarok Dipo, Kota Bukittinggi.

Video rekaman warga menyaksikan tindakan itu ditonton lebih dari puluhan ribu kali dan dikomentari ribuan netizen. Dalam video terlihat seorang pria tersungkur dan dipukuli oleh sekelompok orang. 

Terlihat juga beberapa warga berupaya melerai aksi itu. Sumpah serapah dan ungkapan prihatin warganet membanjiri kolom komentar. 

"Miris sekali melihat kejadian seperti ini, adab tidak sebagus dengan motor yang dipakai," ujar Sitorahmana.

"Mereka nan manyenggol, karno mamakai sado badan jalan, mereka lo nan mangamuak (mereka yang menyenggol karena memakai semua badan jalan, mereka pula yang mengamuk)," tambah Donykhairizal.

Kronologi yang beredar diberbagai media sosial, aksi itu terjadi Jumat, 30 Oktober 2020 pukul 16.40 WIB. Korban merupakan Anggota Unit Intel Kodim 0304/ Agam. Sementara terduga pengeroyokan merupakan rombongan pengendara motor Harley Davidson.

Dilansir dari akun Instagram TNIlovers, serta diposting juga oleh laman FB Kaba Bukittinggi, sekitar pukul 16.40 WIB Serda Mistari bersama Serda Yusuf berboncengan menggunakan sepeda motor jenis Honda Beat melintas Jalan Dr Hamka.

Dari kejauhan terdengar suara sirene mobil Patwal Polres Bukittinggi. Mendengar suara sirene tersebut Serda Yusuf meminggirkan kendaraannya dan memberikan jalan kepada mobil Patwal Polres Bukittinggi dan diiringi oleh rombongan motor Harley Davidson.

Setelah rombongan berlalu, Serda Yusuf melanjutkan perjalanan menuju Makodim 0304/Agam. Namun dari belakang, datang rombongan motor Harley Davidson terpisah dan menggeber motornya sehingga Serda Yusuf terkejut dan hampir jatuh.

Karena kejadian tersebut Serda Yusuf mengejar dan memberhentikan motor Harley Davidson tersebut. Namun setelah berhenti, rombongan Motor Harley Davidson langsung mengejar Serda Yusuf dan mengeroyok Serda Yusuf dan Serda Mistari.

Saat dipukuli, Serda Yusuf dan Serda Mistari sudah menyampaikan bahwa mereka adalah anggota TNI, namun tidak didengar dan diancam akan ditembak.

Seketika dengan kejadian tersebut, masyarakat ramai dan ada yang sempat merekam video kejadian tersebut dan melerai pemukulan terhadap 2 orang tersebut oleh rombongan motor Harley Davidson.

Setelah dilerai masyarakat, rombongan motor Harley Davidson melanjutkan perjalanan menuju Novotel Kota Bukittinggi, sedangkan Serda Yusuf dan Serda Mistari melaporkan kejadian tersebut kepada Perwira Piket Kodim 0304/Agam.[]

Berita terkait
Polres Bukittinggi Masih Tahan 24 Moge Rombongan Keroyok TNI
Sebanyak 24 motor gede komunitas Davidson Owner Grup Siliwangi Bandung masih ditahan Polres Bukittinggi.
Kasus Moge di Bukittinggi, Uu Ruzhanul Ulum Beri Wejangan
Kang Uu pun menyatakan, insiden yang terjadi di Bukittinggi bisa menjadi pelajaran bagi komunitas otomotif.
Update TNI Dikeroyok di Bukittinggi, 2 Moge Tanpa STNK
Selain penetapan empat tersangka pengereyok TNI, 2 anggota rombongan moge Harley tidak dapat menunjukkan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).
0
24 Adegan Reka Ulang Pengeroyokan Intel TNI di Bukittinggi
Polres Bukittinggi melakukan reka ulang kasus anggota Moge mengeroyok intel TNI. Reka ulang untuk melihat peran masing-masing tersangka.