UNTUK INDONESIA
Untuk Menjadi Seorang Komikus, Aku Nggak Perlu Jago Matematika
'Untuk menjadi seorang komikus, aku nggak perlu jago matematika,' kata seorang anak suatu hari pada ibunya.
Ilustrasi: haruskah anak dijejali banyak mata pelajaran, haruskah anak menguasai semua mata pelajaran? (Foto: Istimewa)

Jakarta, (Tagar 5/2/2018) - "Untuk menjadi seorang komikus, aku nggak perlu jago matematika," kata seorang anak suatu hari pada ibunya. 

Ia sebut saja namanya Lea, mengaku tidak nyaman di sekolah, dengan gaya mengajar guru yang katanya kadang membosankan, juga hapalan-hapalan dan rumus matematika yang membuatnya pusing.

Sangat jarang anak memiliki bakat dan minat pada semua mata pelajaran, juga sangat jarang anak menguasai semua mata pelajaran dengan sama kuatnya. 

Adalah lazim seorang anak kuat dalam pelajaran menggambar, tapi lemah dalam pelajaran matematika, atau sebaliknya. Ada juga anak jago Bahasa Inggris, tapi lemah pelajaran menggambarnya. 

Melihat karakter anak-anak yang tidak mungkin memiliki kemampuan sama di segala bidang, menjadi pertanyaan sejak lama, apa manfaat dari ujian yang diseragamkan pada semua anak di Tanah Air. 

Kurikulum 2013 yang dipakai hingga sekarang menurut Ketua Dewan Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Wuryadi, memiliki beberapa kelemahan. Di antaranya menurutnya, pemerintah seolah melihat semua guru dan siswa memiliki kapasitas yang sama.

"Ujian Nasional hanya mendorong orientasi pendidikan pada hasil dan sama sekali tidak memperhatikan proses pembelajaran. Hal ini berdampak pada dikesampingkannya mata pelajaran yang tidak diujikan dalam UN," ujarnya.

Kabar baiknya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy sudah dipanggil Presiden Joko Widodo untuk membahas penyusunan kurikulum baru pengganti kurikulum 2013.

"Kurikulum 2013 itu intinya, core kurikulum. Itu kemudian bisa diimprovisasi. Misal, jurusan elektro, elektro itu kan sangat umum. Nah, maunya Presiden Joko Widodo itu lebih spesifik sehingga betul-betul proses belajar-mengajar merespon kebutuhan pasar yang terus berubah," kata Muhadjir di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (2/8/2017).

Kalau visi Presiden ini bisa diterjemahkan dengan tepat dalam praktik, tentu artinya proses belajar disesuaikan dengan bakat anak. Tentu ini menyenangkan bagi anak, membuat anak nyaman di sekolah yang adalah rumahnya yang kedua. (af)

Berita terkait
0
Canda Bawa Bom, Penumpang di Adisutjipto Diamankan
Penumpang pesawat AsiaAsia di Bandara Adisutjipto Yogyakata diamankan setelah bercanda membawa bom. Dia terancam terkena sanksi pidana.