Uni Eropa Ancam Hungaria Terkait dengan UU LGBT+

Uni Eropa ancam akan memberikan tindakan hukum atas UU LGBT+ yang kontroversial terhadap Hungaria
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen (kanan) (Foto: dw.com/id)

Jakarta - UU LGBT+ yang disahkan oleh parlemen Hungaria melanggar "nilai-nilai dasar Uni Eropa," kata Ursula von der Leyen, Presiden Komisi Uni Eropa. Aturan dinilai mendiskriminasi orang berdasarkan orientasi seksual. Uni Eropa Ancam Beri Tindakan Hukum Atas UU LGBT+ Kontroversial Hungaria

Pada Rabu, 23 Juni 2021, von der Leyen mengancam memberi tindakan hukum terhadap Hungaria karena menyetujui undang-undang yang membatasi akses kaum muda ke informasi tentang masalah LGBT+.

Pekan lalu, parlemen Hungaria menyetujui UU kontroversial terkait LGBT+ dan Pedofilia yang nantinya perlu ditandatangani oleh presiden agar sah.

"UU Hungaria ini memalukan," kata von der Leyen dalam konferensi pers.

"UU ini jelas mendiskriminasi orang berdasarkan orientasi seksual mereka. Ini bertentangan dengan nilai-nilai dasar Uni Eropa: martabat manusia, kesetaraan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia," kata von der Leyen.

"Saya akan menggunakan semua kekuatan Komisi Eropa untuk memastikan bahwa hak-hak semua warga negara Uni Eropa dijamin. Siapa pun mereka dan di mana pun mereka tinggal di dalam Uni Eropa."

1. Apa Kata Hungaria Tentang RUU itu?

Perdana Menteri dari partai sayap kanan Hungaria, Viktor Orban, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Jerman dpa, RUU itu ditujukan untuk melindungi anak-anak.

Menteri Luar Negeri Hungaria, Peter Szijjarto, Selasa, 22 Juni 2021, mengatakan undang-undang tersebut akan memungkinkan "orang tua untuk mendidik anak-anak mereka mengenai orientasi seksual hingga usia 18 tahun."

"Undang-undang ini tidak mengatakan apa-apa tentang orientasi seksual orang dewasa,'' katanya.

Olympiastadion di Berlin menyalakan lampu pelangiOlympiastadion di Berlin menyalakan lampu pelangi sebagai bentuk protes terhadap UEFA (Foto: dw.com/id)

Masih dalam wawancaranya dengan dpa, Orban, berpendapat bahwa Hungaria sebenarnya adalah negara yang aman bagi komunitas LGBT+ saat ini.

"Di Hungaria yang komunis di masa lalu, kaum homoseksual dianiaya. Saat ini negara tidak hanya menjamin hak-hak kaum homoseksual tetapi juga secara aktif melindungi mereka," kata Orban.

Di sisi lain, para pengkritik mengatakan UU itu menyamakan pedofilia dengan non-heteroseksualitas, karena khawatir deskripsi yang tidak jelas dapat digunakan untuk menganiaya anggota komunitas LGBT+.

2. Apa Reaksi Kontroversial yang Timbul?

Pembahasan seputar hukum Hungaria terkait LGBT+ telah menarik perhatian khusus dalam beberapa hari terakhir, di saat isu ini juga ramai diperbincangkan dalam kompetisi sepak bola Euro 2020.

Badan sepak bola Eropa, UEFA, menolak permintaan München untuk menyalakan lampu stadionnya dengan warna pelangi LGBT+ saat pertandingan Euro 2020 antara Jerman dan Hungaria pada Rabu, 23 Juni 2021.

Meski begitu, beberapa stadion di Jerman diterangi dengan warna pelangi sebagai bentuk protes atas hukum Hungaria dan keputusan UEFA.

Sebuah pernyataan bersama yang diprakarsai oleh Belgia dan ditandatangani oleh 14 negara anggota UE, termasuk Jerman, Prancis, Spanyol, dan Italia, menyuarakan "keprihatinan besar" terhadap undang-undang tersebut.

"Menstigmatisasi orang-orang LGBTIQ merupakan pelanggaran yang jelas atas hak dasar mereka terhadap martabat, sebagaimana diatur dalam Piagam UE dan hukum internasional,” bunyi pernyataan itu. [pkp/as (AFP, AP, dpa, Reuters)]/dw.com/id. []

Berita terkait
Alasan Paus Fransiskus Dukung LGBT
Paus Fransiskus telah memberikan dukungan paling eksplisitnya kepada serikat sipil sesama jenis .
Selandia Baru Perkenalkan Anggota Kabinet Baru Ada LGBT
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, mengatakan penunjukkan cabinet dari kalangan beragam mewakili pembaruan di negaranya
0
KPK Garap Alda 'The Changcuters'
Plt Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Ali Fikri mengatakan, diantara ke-13 saksi tersebut adalah Arlanda Ghazali Langitan.