UNTUK INDONESIA
Setan Geunteut, Usai Magrib Culik Anak Kecil di Aceh
Hantu geunteut boleh saja dianggap sebagai mitos belaka. Namun, kesaksian korban yang diculik di Aceh, membuktikan jika makhluk gaib ada di sana.
Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Aceh Barat Daya - Emak-emak di Aceh punya senjata andalan untuk menakuti anaknya yang enggan pulang ke rumah. Meski azan magrib telah berkumandang, para bocah masih saja bermain, seperti tak kenal waktu, mereka malas pergi mengaji. Di era modern seperti sekarang ini, tidak jarang para ibu masih akan menakut-nakuti anaknya diculik hantu geunteut. 

"Bek tubit watee maghreb, enteuk dicok lhee geunteut", bila dialih bahasakan artinya, "jangan keluar saat maghrib, nanti diambil geuntuet".

Geunteut adalah sosok makhluk gaib yang konon kerap menculik anak-anak saat bermain di tempat terbuka setelah matahari mulai meredup.

Makhluk gaib ini digambarkan seperti bayangan hitam, berwajah menyeramkan dengan rambut panjang terurai. Tubuhnya memanjang tidak terhingga jika diratapi ke atas, dan sebaliknya, geunteut pun memendek ketika ditatap ke bawah. 

Sorotan matanya tajam. Anak yang diculik akan dibuat setengah sadar dan merasa sangat nyaman dibawa sosok ini sampai lupa diri sejenak, tak sadar sedang diculik makhluk gaib.

Kalau cerita-cerita memang pernah saya dengar. Tapi saat itu tidak terfikir diculik geunteut.

Nantinya, bocah akan dibawa ke atas pohon kelapa atau pohon-pohon besar lainnya, terlantar di lokasi yang jarang terjamah manusia. Namun, ada juga korbannya yang ditemukan warga di kolong jembatan, rumah kosong, bahkan kompleks pemakaman.

Saat sadar, bocah itu akan linglung, menangis tersedu-sedu karena setelah melek mata, berada di tempat yang tidak dia kenali sebelumnya, tidak tahu ke mana arah pulang. Orang yang menemukannya pasti sudah paham apabila anak itu merupakan korban penculikan geunteut.

Bocah Diculik Geunteut Selepas Magrib

Dukun, Misteri, GaibIlustrasi gaib. (Foto: Pixabay)

Bisik-bisik warga di Aceh menyebut sosok ini memang ada dan nyata, karena beberapa orang pernah menjadi korban penculikan sosok gaib pemangsa anak-anak ini.

Seperti yang diutarakan Ansari, warga Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh. Sekitar tahun 2004, seusai shalat magrib, dia sangat terkejut dengan riuh bising teriakan puluhan warga yang memanggil-manggil nama, Jasman.

Dihantui rasa penasaran, Ansari keluar rumah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan bocah berusia 11 tahun itu, sehingga warga pontang-panting mencarinya di saat hening malam datang.

Warga terus mencari. Sebagian mencari ke rumah teman mainnya. Pokoknya tidak ada yang curiga Jasman dibawa sama hantu.

Dari mulut ke mulut Ansari mengetahui, Jasman menghilang dalam sekejab mata. Ibunya menghiraukan anak itu bermain di halaman rumah saat magrib datang. 

Tersadar di luar tidak lagi terang, dia mencari buah hatinya agar segera masuk ke dalam rumah. Namun, ibu tiga anak ini tidak melihat batang hidung Jasman yang terakhir dia lihat tengah bermain di pekarangan rumah saat sore hari.

Darni nama wanita itu. Dia risau, hatinya meringis, beberapa kali memanggil, namun Jasman tidak kunjung menyahut. Dia melolong, berteriak histeris mencari-cari anaknya yang hilang.

Teriakan minta tolong Darni, sontak membuat warga kaget dan berkumpul di halaman rumahnya. Usai mendengar penjelasan Darni, warga sepakat berpencar mencari Jasman.

"Semua sudah panik saat itu. Ibunya nangis-nangis sambil meneriaki nama anaknya itu. Sebagian ibu-ibu menenangkan dia," kata Ansari, kepada Tagar, di kediamannya, Selasa, 17 September 2019.

Menurut dia, saat itu belum ada warga yang curiga apabila Jasman diculik setan geunteut. Walau, warga sudah mengetahui kisah sosok makhluk gaib penculik anak ini dari orang tuanya terdahulu. 

Mereka menduga Jasman hanya pergi ke rumah temannya atau sengaja mengumpat supaya tidak disuruh pergi mengaji.

"Warga terus mencari. Sebagian mencari ke rumah teman mainnya. Pokoknya tidak ada yang curiga Jasman dibawa sama hantu," tuturnya dengan nada tegas.

Setelah mencari sampai tiga jam tidak kunjung ketemu, sekitar pukul 22.00 WIB, ada warga yang mengusulkan untuk mengumandangkan azan di musala terdekat. 

Hal tersebut terbukti mujarab. Tidak lama berselang, Jasman ditemukan tergeletak tidak sadarkan diri di bawah rumah panggung kayu yang tidak berpenghuni. Tempat itu hanya berjarak 11 meter dari kediamannya.

"Kan aneh, padahal rumah tersebut sudah dicek warga namun tidak ditemukan. Sebelum azan Jasman tidak ada, setelah diazankan dan warga kembali mencari-cari, ternyata Jasman malah sudah ada dan terbaring di tanah alas rumah panggung kayu tua itu," ucapnya dengan raut wajah terheran-heran.

Ketika Jasman sadar, dia menceritakan, sewaktu memasuki magrib, dia melihat bayangan hitam yang bergerak sangat cepat ke arahnya. Setelah itu, dia langsung tidak sadarkan diri. Benar-benar tidak ingat hal yang selanjutnya terjadi.

"Beberapa saat setelah sadar, dia langsung menangis dan memeluk ibunya. Dia berkata ada bayangan hitam yang menghampiri. Bayangan itu sangat cepat datang," ujar Ansari.

Dihampiri Geunteut dan Hilang Berhari-hari

Kampung Setan di SinjaiKampung Setan yang memiliki makhluk halus berupa kepala bocah dan wanita cantik. (Foto: Istimewa)

Kejadian yang tidak jauh berbeda ternyata juga pernah dialami Jamaluddin, warga Desa Mataie Kecamatan Blangpidi. Dia mengatakan, pada tahun 2002 lalu, anak laki-lakinya yang bernama Safri, saat itu masih berusia berusia 10 tahun, pernah hilang selama dua hari.

Saat itu, kata dia, hari sudah magrib dan tepat pada malam Jumat. Safri, putranya, pamit kepada dia untuk pergi mengaji. Padahal, lokasinya hanya berjarak 50 meter dari kediamannya. Mengaji saat memasuki waktu magrib memang sudah menjadi kegiatan rutin bagi anak-anak di Aceh. 

Memang berbeda di hari itu, karena Safri biasanya pergi beribadah hanya jalan kaki. Malam itu putranya berangkat mengaji dengan menggowes sepeda, yang baru saja dibelikan oleh Jamaluddin.

Itu si Saf (nama panggilan untuk Safri), dia pernah diculik geunteut. Dua uroe gadoh (dua hari hilang).

"Ceritanya sudah lama, tahun 2002 dulu. Itu si Saf (nama panggilan untuk Safri), dia pernah diculik geunteut. Dua uroe gadoh (dua hari hilang)," kata Jamaluddin, Rabu, 18 September 2019.

Dia mengaku tidak dihampiri firasat buruk, kalau malam itu putra tersayangnya akan hilang dibawa makhluk gaib selama dua hari. Apalagi, lanjutnya, rutinitas mengaji seusai magrib hingga pukul 21.00 WIB memang sudah menjadi rutinitas Saf dalam setahun terakhir.

Jarum jam saat itu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Pria yang berprofesi sebagai petani ini tidak ingin berpikiran yang tidak-tidak. Jamaluddin menganggap, Saf tidak langsung pulang meski sudah selesai mengaji, lantaran sedang bermain sepeda yang baru dia hadiahi.

Namun, satu jam dia tunggu-tunggu Saf tidak kunjung pulang, baru dia merasa khawatir. Jamaluddin kemudian mendatangi tempat Saf mengaji untuk menyuruhnya pulang. 

Setiba di sana, dia syok mendengar pengakuan guru ngaji dan teman-teman Safri. Mereka berkata, kata dia, malam itu putranya tidak hadir dalam pengajian.

"Saya datang ke tempat dia mengaji. Waktu itu sudah jam 23.00 WIB. Saya mulai khawatir karena dia belum juga pulang. Sampai di situ saya langsung panik karena teungku (ustad) dan teman-temanya bilang Safri tidak pergi mengaji," ujarnya.

Jamaluddin kemudian bergegas pulang untuk memberitahukan kepada keluarga dan masyarakat sekitar untuk membantu mencari putranya dimulai dari tempat-tempat yang sering didatangi Saf, serta menyisir rumah teman-temannya, hingga saudara yang bermukim di sana.

"Ibunya sudah nanggis-nangis saat itu. Sebagian warga mencari di tempat yang sering didatangi Safri. Ada juga yang mencari di rumah teman dan saudara kami yang jauh-jauh," kata dia.

Setelah satu jam mencari, seorang pemuda setempat bernama Kasman mengaku melihat Safri mengayuh sepeda pelan. Tetapi saat itu pandangannya tampak kosong. 

Ketika dia panggil, bocah itu tidak merespons, malah mengacuhkannya. Dengn cueknya Saf terus menggowes sepeda, absen mengaji, justru mengarah ke luar dari desa tempat ia tinggal.

“Si Kasman beritahu saya. Dia bilang Saf menuju ke arah keluar desa. Saya jadi bingung. Safri bukan anak bandel, dia anak yang penurut, tidak mungkin dia bohongi saya dengan mengaku mengaji tapi malah keluyuran,” tuturnya dengan raut wajah sedih.

Ikut Aku ke NerakaFilm horor Indonesia Ikut Aku ke Neraka rilis pada Jumat, 12 Juli . (Foto: Youtube/Rapi Films)

Mendengar kesaksian warga, Jamaluddin mengaku kian panik. Terlebih saat melihat istrinya pingsan, masyarakat berduyun-duyun berdatangan ke rumahnya, hingga ada yang memberi saran untuk mencari Saf ke luar desa. Saat itu, ada juga yang mengusulkan untuk mengumandangkan azan dan sebagian lainnya memberi usul untuk melapor ke polisi.

“Istri saya sempat pingsan, apa tidak bertambah panik saya. Warga mengusulkan untuk mencari hingga ke luar desa. Ada juga yang menyuruh untuk lapor polisi dan azan. Tapi saat itu warga mengutamakan mencari dulu. Sampai pagi kita mencari tapi tidak dapat,” kata Jamaluddin.

Hari berikutnya, pencarian makin gencar dilakukan, menanyakan kepada warga yang tinggal di luar desa, dengan menunjukkan foto dan ciri-ciri Safri, maupun mendatangi kecamatan-kecamatan tetangga, hingga ke tempat "orang pintar". Namun, upaya itu sia-sia karena Saf tidak kunjung ditemukan.

“Saya sudah ke tempat orang pintar saat itu, tapi tidak berbuah hasil. Istri saya sejak malam itu tidak henti-hentinya menangis seraya memanggil nama anaknya,” ujar dia.

Kabar tentang hilangnya seorang bocah di desa, mulai menyebar dari mulut ke mulut, tersiar hingga ke kabupaten tetangga. Tidak henti, keluarga dan masyarakat setempat terus berusaha mencari, meskipun sejauh ini hasilnya nihil. Jamaluddin meyakini, anaknya akan kembali pulang dengan selamat meski sudah tidak ada kabar selama dua hari.

“Hari Minggu itu tetap kami cari. Saya tidak tahu kenapa saat itu sangat yakin anak saya akan pulang dengan selamat. Saya terus berusaha mencari pokoknya,” tutur dia.

Sedikitpun tidak terlintas di benaknya, apabila Saf diculik geunteut. Sebab, yang Jamaluddin ketahui tidak pernah ada kasus penculikan anak oleh hantu. 

Adapun, yang dia dengar hanya cerita mitos belaka, karena warga di tempat dia bermukim tidak pernah diculik makhluk gaib.

“Kalau cerita-cerita memang pernah saya dengar. Tapi saat itu tidak terfikir diculik geunteut,” kata dia.

Umumnya, di Bumi Serambi Mekkah usai azan magrib digunakan untuk melaksanakan salat di musala, makan bersama, mengajari anak mengaji, dan membaca.

Di hari ketiga, sekitar pukul 10.00 WIB, atau hari Senin, saudara Jamaluddin tiba-tiba saja mengabarinya bahwa dia mendapat kabar dari sopir bus lintasan Banda Aceh-Medan, di Kabupaten Nagan Raya atau kabupaten tetangga, telah ditemukan seorang anak laki-laki berusia sekira 10 tahun di SPBU.

“Saya langsung yakin itu anak saya. Saya dan beberapa tetangga langsung menuju ke sana dengan motor. Saat tiba, benar itu anak saya. Setelah mengucapkan terimakasih kepada pihak SPBU yang telah memberi makan selama dua hari, kami langsung pulang,” ujarnya.

Cerita yang dia dengar dari Safri, awalnya, di persimpangan jalan saat berangkat mengaji tiba-tiba saja bayangan hitam panjang menghampirinya. 

Seketika, Saf langsung tidak sadarkan diri. Saat tersadarkan diri, dia mengaku sudah berada di jalan nasional atau orang di daerahnya menyebut Jalan Rayeuk (Jalan Besar) yang dia tidak pernah lintasi sebelumnya.

Lantaran merasa takut, Safri terus menangis di pinggir jalan. Dia merasa sangat lemas saat itu, kedua kakinya terasa sakit. Tidak berselang lama, seorang pria tua mengunakan becak motor menghampirinya. Oleh orang tersebut, Safri dibawa ke SPBU, kemudian meninggalkannya di sana bersama sepeda barunya.

“Bapak itu beberapa kali menanyakan anak siapa dan di mana rumahnya untuk diantar pulang. Namun Safri tidak tahu, oleh karena itu dia ditinggal di SPBU yang tidak jauh dari lokasi ditemukan,” kata dia.

Sebutan geunteut untuk hantu ini diyakini karena kaki makhluk gaib itu sangat panjang. Masyarakat di Aceh menggambarkan geunteut memiliki panjang sejajar dengan pohon kelapa. Ada juga yang menyebut sosok ini dapat berlari cepat dan berbentuk bayangan hitam.

Waktu magrib, memang sudah menjadi kebiasaan masyarakat Aceh berkumpul, setelah seharian penuh terpisahkan dengan pelbagai aktivitas. 

Umumnya, di Bumi Serambi Mekkah usai azan magrib digunakan untuk melaksanakan salat di musala, makan bersama, mengajari anak mengaji, dan membaca.

Rasanya tidak terlalu berlebihan bagi para orang tua di Aceh, menakut-nakuti anaknya dengan hantu geunteut, agar si anak masuk ke dalam rumah saat magrib tiba.

Cara menakuti anak dengan geunteut dapat dikatakan sebagai salah satu upaya orang tua zaman dulu untuk membentuk pribadi anak yang penurut dan memperkenalkan norma-norma di Aceh sejak dini. []

Berita terkait
Menelusuri Lokasi Nyata Kisah Horor KKN Desa Penari
Kisah KKN Desa Penari yang ditengarai berada di Banyuwangi, menjadi viral di media sosial Twitter karena hal mistik di sana begitu menyeramkan.
Kuntilanak Penculik dari Bantaeng Sulawesi Bernama Anja
Menjadi cerita turun-temurun Anja sosok kuntilanak menakutkan di Banteang, Sulawesi Selatan, karena kerap menculik anak kecil selepas magrib.
Versi Lain Lokasi KKN Desa Penari di Banyuwangi
Sejumlah warganet menduga, cerita horor KKN di Desa Penari terjadi di sebuah lokasi di Banyuwangi,
0
Akhyar Nasution Persilakan KPK Geledah Kantor Wali Kota
Terkait OTT KPK Wali Kota Medan Dzulmi Eldin, Akhyar mengaku sampai saat ini belum bisa berkomunikasi dengan wali kota.