UNTUK INDONESIA
Untuk Indonesia
Titik Temu Islam-Kristen dalam Pemikiran Laila Takla dari Mesir
Pemikiran sarjana Kristen Koptik Laila Takla dari Mesir, berorientasi pada titik temu Islam-Kristen untuk tujuan kemanusiaan kita bersama.
Laila Takla - Sarjana Kristen Koptik dari Mesir, penulis buku "al-Turast al-Masihi al-Islami" atau "Tradisi Kekristenan yang Islami". (Foto: Tagar/leilatakla.weebly.com)

Oleh: Syafiq Hasyim* 

Hubungan dua agama besar, Islam dan Kristen, adalah hubungan yang selalu menarik untuk diperhatikan. Para agamawan dan sarjana dari kalangan Kristen maupun dari kalangan Islam saling mewarnai dan menilai satu sama lainnya. Agamawan dan sarjana Islam menilai Kristen, agamawan dan sarjana Kristen menilai Islam.

Saling menilai ini juga memiliki warna yang dinamis, namun kecenderungan umum apabila agamawan dan sarjana muslim menilai kekristenan maka nuansa penilaiannya sangat keras dan sangat kritis. Begitu juga apabila agamawan dan sarjana Kristen menilai Islam, hal yang sama yang kita temukan.

Penilaian di antara kedua kelompok yang saling melemahkan dan saling menegasikan memang menjadi semacam kecenderungan umum di antara para agamawan dan sarjana Islam dan Kristen. Namun, tetap saja masih ada agamawan dan sarjana dari kedua agama, Islam dan Kristen, yang terus berusaha mencari titik temu.

Tidak banyak memang, namun ada saja sarjana yang menjalankan misi itu. Dalam catatan kali ini saya hendak membahas pemikiran seorang sarjana Kristen Koptik yang berusaha melakukan upaya titik temu Islam-Kristen.

Pembahasan ini menurut saya sangat penting dalam era seperti yang kita hadapi, era di mana hubungan antar kedua agama besar ini semakin hari semakin naik tensinya, karena perbedaan-perbedaan saja yang ditonjolkan oleh kedua umatnya.

Fenomena mualaf Kristen masuk Islam yang sering kali memperkeruh suasana dengan kandungan dakwahnya yang menjelek-jelekkan agama sebelumnya pada satu sisi dan fenomena kristenisasi di wilayah-wilayah penduduk muslim terpencil pada sisi lainnya adalah hal yang patut kita perhatikan.

Kita membutuhkan satu pemikiran yang memiliki orientasi pada titik temu untuk tujuan kemanusiaan kita bersama. Pemikiran ini yang saya ingin kemukakan dari sarjana Kristen Koptik bernama Laila Takla. Ide tentang titik temu Islam-Kristen dia tulis dalam buku berjudul "al-Turast al-Masihi al-Islami" atau "Tradisi Kekristenan yang Islami".

Dalam konteks Indonesia, sering kali konsep-konsep yang bagus dirusak oleh mereka yang sebenarnya tidak paham benar soal agama mereka.

Dari judul bukunya saja, Laila Takla ingin mengatakan kedekatan Islam dan Kristen, aspek-aspek penting ajaran kristiani yang juga merupakan aspek-aspek penting dalam ajaran Islam.

Laila Takla sendiri adalah seorang politisi perempuan Mesir dan menjadi perempuan pertama Mesir yang menjabat Presiden Komite Hubungan Luar Negeri untuk Egyption People's Assembly. Takla juga seorang profesor dalam bidang hukum dan manajemen di Cairo University, sebuah universitas yang terkenal di Mesir.

Pokok pikiran Takla semuanya diarahkan untuk ikut menyumbang perbaikan Islam dan Kristen. Pengalaman dia sebagai minoritas Kristen Koptik di Mesir dia tuangkan dalam konsep teologi Kekristenan yang dia sebut sebagai Kekristenan yang Islami.

Antara perbedaan dan pertentangan-pertentangan Islam-Kristen, aspek saling kedekatannya menurut dia jauh lebih besar, karena menurut Takla, Islam-Kristen adalah dua agama yang sama-sama masuk dalam kategori agama samawi atau agama langit.

Tuhan Kristen menurut Takla adalah Tuhan Satu. Tauhid Kristen menurutnya jelas dinyatakan oleh al-Masih, al-Rabbu Ilahuna Ilahun Wahidun, al-Rabb Tuhan kita adalah Tuhan yang Satu. Menurut Takla, al-Masih berkata, U'minu bi l-Lahi Wahidin, aku beriman kepada Tuhan yang Satu.

Di sinilah Takla ingin menuju pada titik temu dengan sistem Ketuhanan dalam Islam yang menganut prinsip Tauhid juga. Ia mengatakan, "Keduanya, Islam dan Kristen, mengimani Tuhan yang satu, tempat bergantung, pencipta langit dan bumi, baik yang bisa dilihat maupun yang tidak bisa dilihat. Tuhan Islam dan Kristen sama-sama memiliki sifat dan nama-nama.

Menurutnya, Bapak, Ibu, dan Roh Kudus yang sering disalahpahami adalah cerminan dari Tuhan yang satu, bukan dimaknai sebagai Tuhan yang berbilang (h.58). Kristen-Islam, menurut Takla, adalah sama-sama agama keselamatan. Salam penghormatan Islam adalah "Assalamu 'alaikum", sementara salam penghormatan Kristen adalah "Assalamu lakum", arti keduanya senada, keselamatan bagi kalian.

Menurut Takla, perdamaian dan cinta kasih (kata salam dan kata mahabbah) diucapkan seribu kali lebih di dalam Injil. Sekali lagi ini untuk menunjukkan bahwa kedekatan Islam-Kristen itu lebih nyata dibandingkan perbedaan-perbedaannya.

Masih ada agamawan dan sarjana dari kedua agama, Islam dan Kristen, yang terus berusaha mencari titik temu.

Pertanyaan bagi kita semua, jika keduanya secara teologis memiliki kedekatan yang lebih besar, mengapa senantiasa kita pengikutnya mencari perbedaan-perbedaan. Seringkali memang konsep teologi yang saling mendukung dan dekat menjadi sesuatu yang lain dan jauh jika dijabarkan oleh kepentingan politik di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kelompok politik saling bertarung dengan mempertaruhkan agama, baik secara terang-terangan maupun secara samar-samar sebagai tameng. Perebutan tanah, wilayah, kekuasaan, dan lain sebagainya, menggunakan topeng agama masing-masing. Di sanalah sebenarnya letak masalah kita bersama.

Kekristenan yang Islami yang ditawarkan oleh Takla seolah-olah mengajak kita semua untuk mengakhiri masalah perebutan kekuasaan politik dan kembali kepada misi Islam-Kristen yang sejati; di mana keduanya adalah memperjuangkan perdamaian dan keselamatan untuk umat manusia.

Melalui Kekristenan yang Islami ini, Takla berusaha menunjukkan kedekatan Kristen-Islam dalam banyak hal, seperti kedudukan al-Masih yang sangat dihormati di dalam sumber-sumber Islam, Kristen adalah agama ahli kitab yang juga dihormati di dalam Islam, dan masih banyak contoh yang lainnya.

Namun, konsep-konsep yang mendukung kedekatan teologis Islam-Kristen dikembalikan lagi kepada bagaimana kita semua menindaklanjutinya dalam kehidupan yang nyata. Dalam kehidupan sehari-hari yang sudah tidak murni lagi kita memperbincangkan masalah ketuhanan.

Ini adalah tantangan kita sebagai makhluk sosial dan politik, selain sebagai makhluk agama. Sebagai catatan, di dalam konteks Indonesia, sering kali konsep-konsep yang bagus dirusak oleh mereka yang sebenarnya tidak paham benar soal agama mereka. Oknum yang sebenarnya marah karena urusan politik lalu menimpakannya pada urusan pembusukan agama.

Mereka tidak membusukkan agama mereka sendiri, namun agama lain yang sebenarnya tidak memiliki persoalan politik dengan mereka. Akhirnya, semua terjatuh pada soal ujaran kebencian. Mari kita menuju pada kedekatan antar-agama, tidak hanya antara Islam dan Kristen, juga dengan agama-agama lain, bahkan dengan keyakinan-keyakinan lokal lainnya.

*Direktur Perpustakaan dan Pusat Budaya Universitas Islam Internasional Indonesia sekaligus Wakil Ketua Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama

Berita terkait
Tanya Jawab Kasus Kartun Nabi Muhammad di Prancis
Membaca berita pembunuhan yang dipicu kartun Nabi Muhammad di Prancis, seorang anak bertanya bolehkah membunuh orang yang membuat kartun Nabi?
Benarkah Orang Yahudi Sangat Menjengkelkan?
Orang Yahudi dianggap sangat menjengkelkan. Banyak dari kita menganggap bahwa Yahudi yang menjengkelkan itu tidak akan berubah sampai akhir zaman.
Benarkah Membantu Orang Beda Agama Tidak Dapat Pahala
Di tengah solidaritas dunia mengatasi pandemi Covid-19, masih ada yang berpikir bahwa membantu orang beda agama tidak dapat pahala. Benarkah?
0
Titik Temu Islam-Kristen dalam Pemikiran Laila Takla dari Mesir
Pemikiran sarjana Kristen Koptik Laila Takla dari Mesir, berorientasi pada titik temu Islam-Kristen untuk tujuan kemanusiaan kita bersama.