UNTUK INDONESIA
Tanya Jawab Kasus Kartun Nabi Muhammad di Prancis
Membaca berita pembunuhan yang dipicu kartun Nabi Muhammad di Prancis, seorang anak bertanya bolehkah membunuh orang yang membuat kartun Nabi?
Ilustrasi _ Menara Eiffel di Paris, Prancis. (Foto: Tagar/Pikist)

Jakarta - Kasus kartun Nabi Muhammad SAW di Prancis menjadi perhatian dunia. Kasus berawal dari insiden pembunuhan seorang guru bernama Samuel Paty, yang dipenggal oleh muridnya sendiri, setelah menunjukkan kartun yang ia sebut sebagai Nabi Muhammad. 

Presiden Prancis Emmanuel Macron menganggap hal yang dilakukan Samuel Paty sebagai kebebasan berekspresi. Selain itu, Macron menyerukan agar masyarakat Prancis memerangi radikalisme yang ia sebut sebagai ‘Separatisme Islam’. Bahkan, Macron menyebut bahwa agama Islam dapat mengganggu ketenangan di Prancis, serta menyatakan bahwa seluruh negara Islam sedang dalam krisis. 

Pernyataan Macron dianggap menghina umat Islam, hingga akhirnya sejumlah negara Arab kompak memboikot produk Prancis.

Untuk memahami duduk perkara masalah dan bagaimana sebaiknya kita bersikap, Tagar TV mewawancarai Syafiq Hasyim pada Jumat, 30 Oktober 2020. Syafiq Hasyim adalah Direktur Perpustakaan dan Pusat Budaya Universitas Islam Internasional Indonesia sekaligus Wakil Ketua Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama.

Berikut ini tanya jawab dengan Syafiq Hasyim selengkapnya. 

Hukum Islam melarang Nabi Muhammad SAW dilukis dalam bentuk apa pun, tidak boleh dibuat patung, difoto, digambar, termasuk juga tidak boleh dibuat kartun atau karikatur. Tujuannya adalah untuk menghindari pengkultusan atau pendewaan. Apakah ini benar?

Ya, di sebagian besar ajaran Sunni. Sunni ini adalah mayoritas kelompok terbesar Islam pada saat ini di dunia, dan Indonesia ini adalah termasuk mayoritasnya adalah kelompok Sunni. Nabi juga tidak boleh divisualisasikan, maksudnya tidak hanya menggambar, membuat kartun, juga visualisasi yang lain tidak boleh, misalnya film, video, dan lain sebagainya dalam bentuk orang. 

Memang menurut kelompok Sunni itu tidak diperbolehkan. Ini konsensus di kalangan mereka. Tapi juga sebagian muslim yang lain pernah ada yang memperbolehkan, misalnya kelompok Syiah, dan juga beberapa kelompok Sunni di kawasan Asia Tengah pada zaman dulu sekitar abad 14,15, seperti itu, pernah ada semacam visualisasi Nabi Muhammad.

Bagaimana Anda melihat kasus di Prancis ini?

Kalau saya melihat kasus di Prancis ini tidak semata-mata persoalan itu ya, tapi persoalan yang lebih kompleks lagi, bukan semata-mata visualisasi. Prancis memang salah satu negara yang memiliki sejarah yang unik tentang kehadiran kelompok Islam di Prancis itu sendiri. Sementara Prancis memang memiliki semacam idelogi yang dia sebut sebagai Laïcité kalau orang awam itu disebut sebagai sekularisme.

Di dalam Laïcité ini ada satu hal bahwa simbol-simbol keagamaan tidak boleh tampil di ruang publik, dan kebijakan seperti ini sebagian diterima oleh kelompok imigran muslim. Tapi sebagian lain kelompok imigran muslim tidak bisa menerima tradisi hidup di negara Prancis yang berdasarkan Laïcité itu. Karena ada ekspresi-ekspresi keagamaan orang Islam yang tidak bisa ditampilkan di ruang publik mereka, misalnya larangan memakai jilbab atau simbol keagamaan seperti itu. 

Tapi larangan itu sebenarnya tidak hanya terkait dengan orang Islam, juga dengan seluruh agama itu mendapatkan perlakuan sama di depan pemerintah atau di depan Laïcité yang diperkenalkan di Prancis itu, seperti itu. 

Jadi kompleks masalahnya, tidak hanya soal kartun, juga ada persoalan yang lain, sosial politik ya misalnya kehadiran imigran muslim yang tidak bisa berintegrasi tadi dengan Laïcité dan lain sebagainya.

Peristiwa pembunuhan di Prancis itu tersebar luas di internet dan menjadi pembicaraan juga di kalangan anak-anak. Seorang anak muslim, kelas tiga SMP, bertanya kepada ibunya, apakah boleh membunuh seseorang yang menunjukan kartun Nabi Muhammad? Ibunya menjawab tidak boleh membunuh dengan alasan apa pun. Apakah jawaban itu sudah tepat?

Ya, saya kira benar sebagai seorang muslim tidak boleh membunuh dalam keadaan di luar perang terhadap siapa pun, meskipun itu terhadap orang yang berbeda agama, bahkan membunuh terhadap orang yang berbeda agama itu dilarang di dalam agama Islam, itu jelas. Mungkin penjelasannya begini, bagi sebagian, dihina, mereka menganggap mendapat legitimasi membunuh orang yang menghinanya itu, padahal tidak demikian. Di dalam sejarah, Nabi pun sering dihina oleh orang, diperlakukan tidak baik oleh orang lain, tapi Nabi menanggapinya dengan cara tidak membunuh. Karena oleh agama, hal itu tidak boleh, kecuali dalam keadaan perang. Benar. Itu benar.

Anak kelas 3 SMP itu juga bertanya kepada ibunya, lebih jahat mana antara membuat kartun Nabi Muhammad dan membunuh orang. Ibunya menjawab lebih jahat membunuh orang. Bagaimana menurut Anda?

Ya, ini kan tidak hitam putih ya. Saya setuju membunuh orang jauh lebih jahat ya daripada membuat kartun. Itu pemahaman yang mungkin seharusnya kita miliki. Tapi ada semacam emosi publik bahwa jika orang yang paling disucikan di dalam tradisi Nabi, tradisi Islam, yaitu Rasulullah dihina itu seolah-olah mereka memiliki hak dan legitimasi terhadap orang itu dengan membalas dengan cara kekerasan. Itu tidak dianjurkan.

Tapi dalam pemahaman kita itu bisa hitam putih. Namanya juga orang beragama, ya mungkin sebagian yang beragama menganggap itu sudah memberikan satu legitimasi kepada mereka untuk membunuh siapa pun yang menghina Nabi, meskipun Nabi tidak pernah menganjurkan hal seperti itu. 

Itu sudah merupakan wilayah tersendiri ya, wilayah di mana orang memang beragama itu memang terkadang memiliki fanatisme yang berlebihan yang tidak diajarkan oleh agama itu sendiri sebagai misal.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan pembelaan bahwa menggambar kartun Nabi Muhammad sebagai kebebasan berekspresi. Macron juga mengatakan radikalisme sebagai separatisme Islam, dan ucapan Macron ini dinilai banyak kalangan telah menghina Islam. Bagaimana menurut Anda?

Kita harus memahami dari dua sisi ya, secara sosial politik di Prancis itu sendiri kaitannya dengan agama. Jadi Prancis ini adalah satu-satunya negara di dunia yang memiliki sejarah unik dengan agama termasuk kebencian terhadap agama karena latar belakang mereka yang ditindas oleh pelembagaan agama. Munculnya Laïcité, munculnya sekularisme itu kan pada dasarnya tidak begitu saja ada, tapi orang Prancis pada saat itu pada abad 15,16 atau 17, hidup mereka sangat didominasi oleh Gereja. 

Banyak hal hak-hak politik mereka, hak-hak sipil mereka, hak ekonomi mereka ditindas oleh Gereja, sehingga mereka melakukan perlawanan terhadap Gereja. Mereka punya pengalaman yang disebut dengan bitter experience, pengalaman yang pahit of being christian pada saat itu. 

Karena hidup mereka ditindas, lalu mereka, okelah mereka bersepakat kita singkirkan saja agama, agama yang terlembaga dan agama yang menindas. Urusan agama jangan menjadi urusan yang terlembagakan. Itu serahkan pada pribadi masing-masing. Ruang publik tidak boleh ada hal-hal yang bersifat agama tadi, karena apa, karena mereka punya pengalaman yang buruk sekali terhadap pelembagaan agama di mereka.

Lalu Prancis menjadi sebuah negara besar dan menjadi tujuan dari perpindahan penduduk dari negara-negara muslim, terutama dari negara Francophone. Yang dulu merupakan jajahan negara Prancis, terutama negara-negara muslim di Afrika. Mereka pindah ke negara Prancis karena Prancis adalah negara yang menjajah mereka. Biasanya negara yang dijajah itu lebih nyaman untuk pindah ke negara yang menjajahnya. 

Nah untuk komunitas muslim ini adalah salah satu komunitas besar di Eropa. Namun mayoritas kelompok muslim di Prancis sebetulnya sudah bisa melakukan proses penyesuaian diri terhadap Laïcité tadi terhadap ideologi terhadap tradisi Prancis. Jadi mereka menerima kenyataan bahwa mereka tidak boleh membawa agama mereka ke ruang publik.

Dan oleh sebagian besar kelompok muslim di Prancis, kebijakan Laïcité ini justru memberikan ruang yang lebih besar untuk mereka untuk mengembangkan agama. Karena apa? Karena kalau Prancis ini tidak mengembangkan sistem Laïcité katakanlah christian system in politics itu bisa menyebabkan orang muslim termarginalisasi, tereleminasi. 

Nah, Prancis kan menggunakan sistem yang netral untuk semua agama, sehingga semua kelompok agama memiliki hak yang sama di negara Prancis itu. Tapi ada satu hal yang tidak dibolehkan oleh mereka, jangan bawa agama ke sekolah, jangan bawa simbol-simbol agama ke ruang negara, itu tidak diperbolehkan. 

Kalau kamu bekerja di masyarakat, mendidik agama lewat social platform itu diperbolehkan. Namun, generasi ketiga dari imigran ini banyak yang melihat semacam sistem yang diatur di Prancis ini merugikan mereka, tapi ini sedikit sekali orang yang merasakan seperti itu.

Kemudian perkembangan dunia modern sosial media yang sekarang ini juga turut mempengaruhi orang-orang di Prancis. Di mana orang-orang di Prancis ini mendapat semacam insight atau pengaruh dari dunia luar tentang mereka, seolah-olah oh saya kok ditindas di Prancis, kehidupan saya kok seperti ini dan sebagainya. 

Ada gerakan radikalisme internasional seperti ISIS dan lain sebagainya ini yang menyebabkan ada semacam gerakan-gerakan Islamisme di Prancis. Dan Prancis sebagai negara yang berdaulat merasa bahwa ideologi kita enggak bisa menerima ancaman seperti itu. Karena itu mereka menyusun undang-undang yang menyatakan bahwa radikalisme Islam itu dianggap sebagai kelompok yang menginginkan atau kelompok yang berjuang dalam sistem paralel sistem politik di Prancis dan itu tidak bisa ditolerir. Karena mereka memiliki kecenderungan besar untuk memisahkan diri dari tradisi besar kenegaraan yang sudah dianut berabad-abad di Prancis. 

Kebetulan ini yang menjadi korban adalah kelompom muslim dan sebetulnya di Prancis itu mocking, mentertawakan atau menghina atau membuat ekspresi apa terhadap agama itu tidak hanya terhadap kelompok muslim, juga terhadap kelompok non-muslim, Yesus dan sebagainya. Itu sering juga dibuat karikatur-karikatur yang lucu. 

Peristiwa Charlie Hebdo itu misalnya, salah satu contoh untuk kelompok muslim, tapi selain kelompok non-muslim juga mendapatkan itu, orang-orang pentingnya atau tokoh-tokohnya, Yesus misalnya, itu sering dibuat bahan karikatur, seperti itu.

Emmanuel Macron juga mengatakan agama Islam dapat mengganggu ketenangan di Prancis dan dia juga mengatakan bahwa seluruh negara Islam sedang dalam krisis. Bagaimana menurut Anda?

Ya, latar belakang Macron adalah fenomena dan gejala kebangkitan Islamisme di sebagian kecil masyarakat muslim di Prancis. Dan juga kebangkitan Islamisme di negara-negara besar muslim di luar Prancis, negara-negara di Timur Tengah yang menyokong gerakan radikalisme dan sebagainya. Tapi kalau kita melihat pernyataan Saudi Arabia, Mesir dan sebagainya itu, malah mereka memberikan pernyataan bersama-sama rakyat Prancis itu. 

Saudi Arabia yang terakhir memberikan dukungannya terhadap rakyat Prancis, dan Saudi Arabia menolaK segala ekstrimisme. Tapi Saudi Arabia juga mengkritik Prancis, janganlah membuat semacam hal-hal yang menyinggung masyarakat muslim seperti membuat karikatur Nabi dan sebagainya. Mereka tidak membuat suatu kecaman yang membabi buta. Justru pemerintah Indonesia yang menurut saya memberikan kecaman yang luar biasa tanpa mengerti persoalan yang sesungguhnya terjadi di Prancis itu sendiri seperti apa.

Bayangkan kalau kita di Indonesia ya, Indonesia ini kan munculnya Undang-Undang Ormas 2017 Indonesia merasa terncam dengan ideologi khilafah dan sebagainya, apa yang dilakukan pemerintah Indonesia terhadap HTI? Membubarkan kan? Di Prancis suasananya lebih parah. Bahwa ada gerakan membunuh orang Prancis dan sebagainya, dan Macron merasa saya harus membela negara saya dari ancaman-ancaman seperti itu. Kompleks kan masalahnya? Tidak hitam putih kan?

Nah, ucapan Macron juga disambut banyak pihak dengan aksi memboikot produk-produk Prancis. Anda berada diposisi mana, setuju atau tidak boikot produk Prancis?

Jangankan memboikot, membeli barang Prancis saja enggak kuat saya (hahaha). Ya itu ekspresi biasa, orang wajar marah terhadap Prancis, tapi jangan membunuh orang. Ada korban lagi kan di Prancis, di gereja, tiga orang yang dibunuh. Mestinya kan yang menjadi korban adalah bukan agama lain, karena agama lain juga menjadi semacam hal yang memiliki nasib yang hampir sama dengan kelompok muslim di Prancis. Karena pemerintah Prancis memperlakukan semua agama sama gitu.

Nah, gerakan ekstrem yang banyak ditanggung akibatnya oleh Prancis itu gerakan ekstrem Islam yang memiliki latar belakang agama Islam itu seperti itu pemahamannya. Bukan berarti kebijakan itu membela Kristen dan sebagainya, orang Kristen juga sama di sana. Tapi actual case, kasus-kasus yang aktual itu memang dilakukan oleh kelompok yang memiliki latar belakang agama Islam. 

Jadi respons yang diberikan Macron menjadi spesifik gitu, ini loh kami diganggu oleh kelompok ekstrimis Islam yang tidak semuanya. Tapi dia mengungkapkan bahasa peringatannya kan general. Sebenarnya kelompok mainstream muslim di Prancis itu masih sangat bisa beradaptasi dengan sistem politik di Prancis.

Bagaimana pendapat Anda terhadap orang-orang yang mengecam Emmanuel Macron tanpa mengecam pelaku pembunuhan Samuel Paty?

Ya itu enggak boleh lah, itu enggak adil juga. Pembunuhan itu harus juga dikecam. Kita tidak bisa parsial ya dalam menanggapi kasus ini. Kita harus detail dan harus melihat peristiwanya seperti apa, latar belakangnya seperti apa, pretext-nya sosial dan politik. Kalau pretext-nya, hal-hal yang terjadi sebelumnya kaya apa seperti itu. 

Kalau kita tidak mengecam pembunuhan berarti kita melegalisasi Islam sebagai agama yang menyuruh orang untuk membunuh atau menteror orang. Padahal kan tidak. Yang ingin kita kemukakan kepada Macron adalah yang kamu nyatakan di ruang publik, Macron, itu bukan representasi dari Islam secara mayoritas. Kelompok mayoritas adalah kelompok yang suka perdamaian karena Islam sebagai agama yang damai, terorisme kita kecam dan lain sebagainya, harusnya seperti itu.

Pelajaran apa yang kita bisa ambil dari peristiwa Prancis ini?

Saya kira kalau soal Prancis dan soal isu-isu internasional, kita sering memberikan reaksi yang tidak didasarkan pada pemahaman yang utuh atas peristiwa yang terjadi, konteks yang utuh atas peristiwa yang terjadi. Sehingga kadang-kadang kita melakukan kecaman yang tidak adil juga. 

Kita tanpa memahami apa sih sebetulnya yang terjadi di Prancis, apa sih sebetulnya yang terjadi di misalnya negara Eropa yang lainnya, mengapa pemerintah itu melakukan atau pemerintah mereka itu melakukan kecaman terhadap kelompok Islam tertentu, itu kenapa? Gitu. 

Tanpa pemahaman yang komprehensif, detail, dan sebagainya itu, kita nantinya bisa melakukan reaksi yang berlebihan yang tidak perlu. Dan sebetulnya bisa merugikan kedua belah pihak, karena komentar opini-opini mainstream masyarakat di Prancis pada saat ini ya mereka bersama Macron. Karena mereka benar-benar memahami masalah radikalisme yang riil di sana. 

Lalu bagaimana dengan soal kebebasan beragama di sana, ini juga masalah sendiri bagi Prancis. Ya memang dalam tradisi Prancis, mereka menghormati agama, tapi bagi mereka agama bukan kategori yang penting di ruang publik, itu sejak dulu.

Sehingga buat mereka, membuat karikatur dan lain sebagainya karikatur Yesus, karikatur Nabi Muhammad, dan sebaginya, itu bukan sesuatu yang menurut mereka menyalahi, tapi itu adalah bagian dari asumsi yang sudah lama mereka pegang bahwa religion is not important category in the political social culture life of the friends people. Jadi agama itu bukan merupakan yang penting.

Sementara di Prancis ini ada kelompok masyarakat muslim yang cukup signifikan. Apakah cara pandang Prancis terhadap agama yang seperti itu perlu dipertahankan atau tidak, mengingat di Prancis juga ada masyarakat yang di dalam ajarannya memandang persoalan itu sebagai penting. 

Nah, itu kan perlu dialog, perlu hal-hal yang sifatnya kultural untuk melakukan mutual understanding di antara kedua mereka karena memang tradisinya berbeda. Tradisi muslim seperti ini, tradisi Prancis seperti ini, ada hal-hal yang memang tidak bisa diakomodasi oleh orang Prancis terhadap tradisi muslim. Demikian sebaliknya ada beberapa hal yang tidak bisa diterima oleh orang muslim atas tradisi Prancis. Ini semacam dialog antar-peradaban, tapi sekarang jatuhnya menjadi clash of civilization, bukan dialogue of civilization.

(Nurmania Anggraini)

Simak perbincangan Tagar TV dengan Syafiq Hasyim dalam video berikut ini.



Berita terkait
Aliansi Ummat Islam Sulsel Tuntut Usir Dubes Prancis
Kelompok Islam di Kota Makassar yang tergabung dalam Aliansi Ummat Islam Sulawesi Selatan menuntut Dubes Prancis di usir dari Indonesia
Pernyataan Mahathir Mohamad Soal Prancis Disalahartikan
Mantan PM Malaysia, Mahathir Mohamad, katakan muak karena komentarnya tentang serangan oleh ekstremis Muslim di Perancis telah disalahartikan
Terus-terusan Diboikot, Akhirnya Prancis Merugi
Akhirnya negara Prancis mersakan dampak pemboikotan dan merugi. Alhasil Macron meminta untuk menghentikan pemboikotan.
0
Tanya Jawab Kasus Kartun Nabi Muhammad di Prancis
Membaca berita pembunuhan yang dipicu kartun Nabi Muhammad di Prancis, seorang anak bertanya bolehkah membunuh orang yang membuat kartun Nabi?