UNTUK INDONESIA
Tinggalkan Berita Covid, Nikmati Hidup Anda
Bagus Wasisto, istri dan enam anak terkena covid ketika berada di Madinah. Mereka sudah sehat, baik-baik saja hingga kini. Berikut kisah mereka.
Bagus Wasito dan keluarga. (Foto: Tagar/Facebook/Hanung Bramantyo)

Jakarta - Bagus Wasito adalah adik ipar sutradara Hanung Bramantyo. Bagus beserta istri dan anak-anak terkena Covid-19 di Madinah. Hal ini disampaikan Hanung di akun Facebook, Minggu 26 Juli 2020. Hanung mengunggah catatan Bagus Wasito. "Kisah mengharukan saat adik iparku, juga adik kandungku beserta anak-anaknya terkena Covid 19 di Madinah. Catatan ini bisa menjadi penggugah jiwa dan semangat kita," tulis Hanung pada pengantar unggahan.

Bagus Wasito dalam catatannya menyebutkan ia, istri, dan 6 anaknya mengalami kejadian ini di negeri rantau, bukan di Indonesia. Bagus dinyatakan positif, tapi anggota keluarga yang lain tidak di-swab test. Bagus mengucap alhamdulillah, "Kami hanya diperintahkan untuk mengisolasi diri selama 10 hari setelah hasil tes keluar."

Pengalaman sakitnya ini, kata Bagus, mengajarkannya bahwa suka update berita covid justru memperburuk keadaan. Ia dengan setulus hati menyarankan masyarakat tidak risau, tidak sibuk dengan berita pertambahan positif covid dari hari ke hari, juga tidak perlu sibuk untuk tahu status zona hitam, merah, kuning, di berbagai kota.

"Selalu mengikuti berita tentang covid sebenarnya justru memperburuk keadaanmu karena hanya akan menambah cemas dan cemas dalam kehidupanmu lalu dunia ini serasa sempit menghimpit dirimu. Hidup tercekam oleh Covid-19 yang mengerikan," tuturnya.

Menurut Bagus, jalani saja kehidupan sebagaimana yang dulu dan tetap fokus pada cita-cita dengan tetap mengikuti sepenuhnya protokol yang digariskan pemerintah. "Seperti memakai masker, jaga jarak, cuci tangan dengan sabun atau anti-kuman, lalu bertawakallah kepada Allah. Jauhi kekhawatiran dan kerisauan di hatimu."

Andai nanti suatu saat memang kau mengeluh sakit atau tidak enak badan, kata Bagus, maka beristirahatlah. "Atau kalau memang terasa berat, datanglah ke dokter atau rumah sakit."

Selalu mengikuti berita tentang covid sebenarnya justru memperburuk keadaanmu karena hanya akan menambah cemas.

Covid-19 sekali-kali tidak akan membunuhmu, "Kecuali bila Allah Yang Memiliki langit dan bumi ini memang mengirim malaikat maut kepadamu sebagaimana telah tertulis di catatan takdir bahwa umurmu telah ditentukan sampai saat itu saja. Jika tidak, bagaimanapun kau akan sembuh, karena orang tidak akan bisa mati kecuali didatangi malaikat maut yang mencabut nyawa."

Fokus saja pada tiga hal: cita-cita atau tugasmu sehari-hari, ikuti protokol, dan bertawakal kepada Allah dengan membaguskan ibadah kepada-Nya, dan tinggalkan berita-berita covid.

Mengikuti protokol jangan diabaikan, kata Bagus, "Karena ia akan membantumu. Seandainya ditakdirkan Covid-19 menginfeksimu, insya Allah dengan izin-Nya kemungkinan besar sakitmu tidak akan berat. Karena masker dan jaga jarak akan mengurangi jumlah atau kuantitas virus yang masuk ke tubuhmu. Inilah pendapat sebagian ahli kesehatan yang menyatakan jumlah virus yang masuk ini sangat mempengaruhi tingkat sakit penderita. Wallaahu alam."

Awal Mula Sakit

Sakit yang dialami Bagus Wasito berawal dengan demam yang sangat ringan (37 C) sampai-sampai ia mengira ini adalah gara-gara kecapekan kerja 12 jam di lapangan beberapa hari terakhir.

Pada hari ke-6 sore hari, demamnya meninggi melampaui 38 C dan mulai muncul sedikit batuk-batuk . Pada hari ke-7 pagi, ia pun izin tidak masuk kerja. Setelah sehari beristirahat ternyata demam tidak kunjung reda sehingga ia pun pergi ke rumah sakit malam harinya. "Dan di situlah swab test dilakukan, lalu perjanjian untuk isolasi pun dilakukan dengan menandatangi dokumen. Seriuskah aku terinfeksi covid?"

Sampai di rumah, Bagus mengisolasi diri bukan hanya dengan lingkungan tapi juga dari keluarganya sendiri. "Walau sebenarnya sudah sangat terlambat, karena sebelumnya di antara kami biasa-biasa saja, tidak menjaga jarak, bahkan minum dan makan dari tempat yang sama."

Hari ke-8 demamnya masih bertahan di 38 koma sekian, "Dan aku juga tidak tahu kapan demam ini akan membaik, sementara badanku semuanya terasa sakit -nyeri dan pegal."

Ia berdoa semampunya pada malam itu, "Karena aku sadar hanya kepada Allah satu-satunya jalan bagiku sebagaimana ikrarku dalam setiap salat: 'Hanya kepada Engkau kami menyembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan'. Seandainya ini memang covid, maka doa inilah satu-satunya obat mujarabku dan harapanku."

Tinggalkan semua bacaan dan berita yang akan membuat hidupmu sempit, susah dan pesimis, dan batasi dengan berita yang benar-benar penting dan valid dari pemerintah saja.

Hari ke-9 pagi hari, Bagus mengucap alhamdulillah, "Dengan memuji Allah atas kesempurnaan kasih sayang-Nya, demam tinggiku hilang dan suhu tubuh menunjukkan 37 C, dan aku rasakan nikmatnya tubuhku dan hilang nyeri otot dan pegal selama demam tinggi. Di pagi itulah kurasakan rasa gembira akan datangnya kesembuhan dan ternyata benar, setelah itu berangsur-angsur keadaanku membaik."

Hari ke-11 sore hari datang telepon kepadanya dari dokter yang memberitahu bahwa hasil swab-nya positif, disusul pesan singkat resmi dari Departemen Kesehatan.

Campur aduk rasa hati Bagus pada saat itu. Antara kaget, heran, dan bersyukur. "Di situlah aku betul-betul bersyukur atas hikmah Ilahi yang telah membuat hasil tes swab sangat terlambat. Apa jadinya kalau hasil swab itu diberitahukan kepadaku sehari setelahnya, hari ke -8, saat demamku masih tinggi. Aku sangat yakin bahwa sakitku bukan membaik malah akan memburuk tatkala itu - kalau aku sampai mengetahui bahwa demam tinggi ini gara-gara covid." 

Menurut Bagus, pada saat kondisi tersebut, orang butuh semangat, justru akan down, syok, stres, apabila mendengar dirinya terkena covid, lalu akan terbayang bahwa mungkin saja esok akan sesak napas lalu bisa saja meninggal dunia. "Segala yang negatif yang akan justru memperburuk keadaan. Covid sudah terlanjur menjadi imej mengerikan ibarat monster kematian yang siap mengintai siapa saja."

Karena itu, "Tinggalkan semua bacaan dan berita yang akan membuat hidupmu sempit, susah dan pesimis, dan batasi dengan berita yang benar-benar penting dan valid dari pemerintah saja. Maaf saja, karena update berita covid ini sendiri merupakan ladang empuk mencari duit bagi para pemain berita di internet."

Hasil yang terlambat itu membuat kaget karena Bagus sudah telanjur tidak mengetahui covid telah menginap di rumah mereka. Ia pun berpikir tentang bagaimana nasib anak-anak dan istrinya. "Sekali lagi pengetahuan tentang covid yang telanjur menjadi suatu imej mengerikan hanya membuat rasa panik yang tidak membantu keadaan kami sedikit pun dalam menyelesaikan masalah."

Dari situlah Bagus belajar iman pada takdir. "Segalanya telah Allah catat di lauh Mahfudh sebelum alam semesta ini diciptakan. Tugas kita adalah berdoa dan menyerahkan sepenuhnya kepada-Nya dan berbaik sangka bahwa Allah lebih mengetahui kebaikan bagi kami semua. Iman inilah yang paling bermanfaat dan membuat tenang kami saat keadaan penuh tanda tanya dan penuh ketidakpastian, bukan berita-berita tentang covid."

Sehari Setelah Pengumuman Status Positif

Bagus bercerita, sehari setelah pengumuman bahwa ia positif covid, anak pertamanya mengeluh sakit, tidak enak badan. Istrinya hanya memberinya obat flu mengandung obat tidur agar ia banyak istirahat. "Dan benar, selama tiga hari ia banyak tidur dan tidur, lalu hari keempat kembali sehat seperti semula, Alhamdulillaah."

Tak henti-henti Bagus mengucap syukur, "Tiada lain kami memuji Allah atas karunia ini. Karena dialah orang yang paling kami khawatirkan tertimpa wabah ini karena punya bawaan suka sesak napas kalau terkena flu, asma. Dari artikel-artikel yang banyak beredar, semua bilang bahwa covid sangat berbahaya bagi mereka yang punya sakit bawaan termasuk di antaranya asma, tapi alhamdulillah itu semua tidak terjadi."

Sehari kemudian gantian istrinya merasakan demam ringan dan badan pegal-pegal. "Alhamdulillah hanya berlangsung dua hari dan selanjutnya ia mengeluh pusing-pusing setelah itu ia kembali sehat seperti sedia kala."

Beberapa hari selanjutnya anak keduanya merasakan hal sama, demam ringan (37 C), dan ini berlangsung sekitar 3 hari, kemudian tersisa pusing-pusing dan selanjutnya kembali sehat seperti sedia kala. Bagus lagi-lagi mengucap alhamdulillah.

Istri, anak pertama dan kedua tidak dilakukan swab test, "Tapi justru dari mereka bertiga aku menjadi yakin bahwa covid itu telah bermalam di rumah kami karena ada satu keluhan yang sama di antara mereka yaitu hilangnya indra penciuman dan perasa selama sepekan. Dan ini adalah salah satu ciri khas covid yang justru tidak aku miliki."

Empat anak yang lain, kata Bagus, walaupun mereka saling bergaul, sangat dekat satu sama lain dengan kakak dan ibu mereka, namun mereka baik-baik saja. "Wallaahu a’lam kami menyangka bahwa mereka adalah OTG, Orang tanpa Gejala."

Bagus menutup catatan dengan alhamdulillah, "Segala puji bagi Allah atas segala pertolongan-Nya, kami dapat melewati malam-malam bersama covid sampai akhirnya covid pun pergi, dengan selamat bahkan berakhir dengan kebahagiaan dan penuh rasa syukur." [] 

Baca cerita lain:

Berita terkait
Pedagang Hewan Kurban Tak Terpengaruh Pandemi
Tumpukan rumput menggunung di depan sebuah rumah di kawasan Jombor, Kabupaten Sleman, tepatnya di Jalan Amarta Raya. Aroma khas kambing menguar.
Kawasan Penjualan Buku Legendaris di Yogyakarta
Pokoknya lengkap, mau cari buku kisah nabi, ada. Cari TTS teka teki silang, ada, komik lawas ada. Kawasan penjualan buku legendaris di Yogyakarta.
Bahan Klepon Halal Semua Kok Dibilang Enggak Islami
Klepon ini semua bahannya halal kok dibilang enggak islami. Itu sangat merugikan penjual klepon. Aku bingung, Mas, apanya yang tidak islami.
0
Tinggalkan Berita Covid, Nikmati Hidup Anda
Bagus Wasisto, istri dan enam anak terkena covid ketika berada di Madinah. Mereka sudah sehat, baik-baik saja hingga kini. Berikut kisah mereka.