UNTUK INDONESIA
Pedagang Hewan Kurban Tak Terpengaruh Pandemi
Tumpukan rumput menggunung di depan sebuah rumah di kawasan Jombor, Kabupaten Sleman, tepatnya di Jalan Amarta Raya. Aroma khas kambing menguar.
Seekor domba yang dijual di tempat penjualan hewan kurban Junggring Seloka, Jl Amarta Raya, Jombor, Kabupaten Sleman. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Sleman - Tumpukan rumput menggunung di depan sebuah rumah di kawasan Jombor, Kabupaten Sleman, tepatnya di Jalan Amarta Raya. Aroma khas kambing tercium dari depan rumah. Di halaman rumah, puluhan sapi memenuhi tempat itu. Masing-masing diikat pada semacam tambatan, menggunakan tambang plastik berukuran sedang. Mulut beberapa sapi tampak bergoyang-goyang seperti mengunyah. Sebagian lainnya memakan rumput yang tersedia di hadapannya.

Embusan angin siang membantu menyebarkan aroma itu ke sekeliling lokasi. Tak jarang aroma yang dihasilkan binatang mamalia itu sedikit berkurang tertiup olehnya.

Hanya beberapa meter dari tempat puluhan sapi itu, sekelompok domba menikmati sajian serupa, rumput hijau yang disiapkan pemilik puluhan ternak tersebut.

Sapi dan kambing itu merupakan hewan yang akan disembelih sebagai binatang kurban saat Idul Adha, 31 Juli 2020.

Saat Tagar mendatangi tempat penjualan hewan kurban tersebut, pemilik puluhan ternak itu, Sugiyono, sedang tidak berada di tempat.

Menurut sang istri, yang menyebut dirinya Ibu Sugiyono, 44 tahun, suaminya telah puluhan tahun menjalankan bisnis penjualan hewan ternak, mulai dari beragam jenis sapi hingga domba.

Harga hewan kurban selama pandemi sama saja. Sama tahun kemarin hampir sama. Sapi itu saya jual dari harga Rp 16 juta sampai Rp 27 juta. Kalau kambing Rp 2 juta sampai Rp 3,5 juta.

Pedagang KurbanSapi-sapi yang dijual pedagang hewan kurban di Junggring Seloka, sedang memakan rumput, Rabu, 22 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Sugiyono memiliki dua lokasi penjualan ternak. Lokasi pertama di tempat itu, Jalan Amarta Raya. Sedangkan lokasi kedua terletak tidak terlalu jauh dari lokasi pertama, sekitar satu kilometer.

"Sudah lama, puluhan tahun menjual hewan kurban. Sebelum saya menikah sama suami, suami sudah jualan ternak," ujarnya saat ditemui, Rabu, 22 Juli 2020.

Penjualan hewan ternak tersebut tidak hanya menjelang hari raya Idul Adha. Bedanya, saat hari-hari biasa, yang dijual hanya kambing dan domba. Penjualan sapi hanya dilakukan jika ada pelanggan yang memesan.

Mayoritas pembeli hewan ternak jualannya adalah warga dari sekitar Yogyakarta. Paling jauh dari Kabupaten Kulon Progo. "Langganan kebanyakan dari Yogya. Saya kalau mengirim ke luar, biasanya orang Yogya sini beli buat dikirim ke luar."

Sugiyono membeli sapi dari para peternak yang ada di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Untuk menjaga kesehatan hewan-hewan itu, Sugiyono bekerja sama dengan dokter hewan dan dinas kesehatan hewan setempat.

"Sapinya ambil di peternak di dusun-dusun. Bapak juga ikut kelompok peternak. Biasanya kalau ada ternak yang kurang sehat, ada dokternya yang datang ke sini," kata istri Sugiyono. "Ngeshare di grup WA saja, dokternya sudah langsung datang ke sini."

Pedagang KurbanIstri Sugiyono (kanan) pemilik usaha penjualan hewan kurban Junggring Seloka, seusai memberi makan sapi-sapi miliknya, Rabu, 22 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Kalau sapi yang dijualnya sakit menjelang hari H, Sugiyono harus mengganti dengan sapi yang lain untuk pembelinya. Tapi kalau sapinya sakit sebulan sebelum hari H, dia tidak perlu mengganti, sebab dengan pengobatan yang baik, sapi akan sembuh dan siap disembelih.

"Kalau waktunya masih lama sekitar sebulan, diobati dia bisa sembuh. Cuma kalau sudah kurang tiga hari kan saya harus ganti. Rugi? Ya iya tapi namanya kan pelayanan," kata istri Sugiyono.

Jenis sapi yang dijual Sugiyono cukup beragam, mulai dari sapi PO, Limousin, hingga Simental, yang harganya paling mahal di antara jenis lain, yakni di atas Rp 20 juta.

Harga Hewan Kurban Selama Pandemi

Pandemi Covid-19, menurut istri Sugiyono, tidak banyak berpengaruh terhadap pembelian hewan kurban yang dijualnya. Meski demikian, awalnya dia dan suami sempat khawatir pembeli akan menurun. Namun saat menjelang hari raya Idul Adha, ternyata pesanan hewan kurban tetap seperti musim-musim sebelumnya.

"Pandemi ini enggak banyak ngaruh. Kalau di tempat saya sudah pada langganan semua. Tadinya takut juga, karena saya mau kulakan (beli hewan) itu kok ada pandemi, tapi kok langganan pada minta, gitu. Akhirnya saya carikan," ujarnya.

Permintaan hewan kurban yang tidak banyak berubah dengan tahun-tahun sebelumnya, sama dengan harga hewan kurban yang tidak mengalami banyak perubahan. "Harga hewan kurban selama pandemi sama saja. Sama tahun kemarin hampir sama. Sapi itu saya jual dari harga Rp 16 juta sampai Rp 27 juta. Kalau kambing Rp 2 juta sampai Rp 3,5 juta."Pedagang KurbanTiga ekor sapi kurban ditambatkan pada bambu di lokasi penjualan hewan kurban Junggring Seloka, Rabu, 22 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Harga itu kata dia meningkat jika dibandingkan dengan hari-hari biasa atau sebelum Idula Adha. Pada hari-hari biasa, dengan anggaran Rp 2 juta, pembeli sudah bisa mendapatkan kambing berukuran cukup besar. "Kambing kalau enggak Idul Adha, Rp 2 juta sudah lumayan. Tapi sekarang Rp 2 juta ya sedang-sedang saja."

Peningkatan harga jual ternak itu juga diiringi penambahan pengeluaran Sugiyono untuk pemeilharaan. Dia harus membeli pakan ternak berupa rumput seharga Rp 1 jutaan per truk. "Pakannya ini mencari dan beli dari daerah Delanggu, Jawa Tengah. Satu truk itu sekitar satu jutaan. Itu habis empat hari. Juga mencari di sekitar sini. Kalau enggak mencari, akan banyak sekali pengeluaran."

Selain rumput segar, Sugiyono juga membuat makanan tambahan untuk sapi-sapinya, yakni berupa ampas singkong dicampur bekatul dan kangkung kering. "Kalau kambing, kangkung kering saja sama polar."

Walaupun jumlah pesanan dan harga tidak banyak berubah selama pandemi, tetapi ada perubahan pada sistem pengiriman dan pesanan. Sebagian pelanggan memesan hewan kurban sekaligus meminta Sugiyono menyembelih hewan tersebut. Pesanan semacam itu biasanya berasal dari pengurus masjid yang tidak mau menyembelih di wilayahnya, untuk mencegah terjadinya kerumunan.

"Jagalnya (tukang sembelih) juga kami yang siapkan. Kebetulan suami saya jagal dan banyak teman juga. Untuk hari kedua Lebaran besok kami sembelih 10 sapi di rumah. Mereka enggak sembelih di masjid supaya enggak ada kerumunan," tutur istri Sugiyono.

Pedagang KurbanSeekor sapi kurban di tempat penjualan hewan kurban Junggring Seloka, Jombor, Kabupaten Sleman, Rabu, 22 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Jual Paket Akikah dan Syukuran

Selain menjual hewan ternak hidup untuk disembelih saat Idul Adha dan untuk kebutuhan lain, Sugiyono juga menyediakan paket untuk akikah atau syukuran yang membutuhkan daging kambing. Pelanggan tinggal memesan sesuai kebutuhan, setelah itu segala sesuatu disiapkan Junggring Seloka, nama usaha milik Sugiyono.

Berbeda dengan peminat hewan ternak hidup, tidak menurun, peminat paket pesanan masakan daging kambing justru menurun. "Waktu awal pandemi kemarin sempat sepi juga. Sudah sempat banyak pesanan masuk, tapi kemudian di-pending, gitu."

Meski ada beberapa pesanan yang ditunda atau dibatalkan, tapi menurutnya secara umum pihaknya tidak rugi, sebab paket masakan itu masih bisa dijual pada pelanggan yang membuka warung makan. Paket masakan daging kambing dipatok harga mulai Rp 2 juta hingga Rp 3 juta, tergantung besar kecilnya kambing serta jumlahnya.

"Untuk akikah. Itu sudah dimasak, paket matang. Pelanggan terima jadi. Itu layanan antar, karena sekarang orang lebih suka layanan antar. Prospeknya lumayan, soalnya ini sudah lama, jadi langganan sudah pada suka," kata istri Sugiyono.

Beberapa pelanggan bahkan sampai memesan ulang paket akikah kepada Sugiyono. Ada pelanggan yang sampai 10 kali memesan ulang karena merasa cocok dengan rasa masakan maupun cara penyembelihan serta pelayanannya. "Ada yang langganan sampai 10 kali pesan di sini. Dari anak sampai cucu-cucu pesan ke sini semua." []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Peluh Keringat Buruh Gendong Usia Senja di Yogyakarta
Perempuan-perempuan berusia senja itu begitu perkasa, menjadi buruh gendong bahkan buruh panggul di Pasar Beringharjo Yogyakarta. Ini kisah mereka.
Masker Pengantin di Bantaeng Bikin Secantik Syahrini
Situasi sulit bisa membuat orang menyerah dan kalah, bisa juga membuat seseorang menemukan potensi terbaiknya. Fani di Bantaeng memilih yag kedua.
Bahan Klepon Halal Semua Kok Dibilang Enggak Islami
Klepon ini semua bahannya halal kok dibilang enggak islami. Itu sangat merugikan penjual klepon. Aku bingung, Mas, apanya yang tidak islami.
0
Pedagang Hewan Kurban Tak Terpengaruh Pandemi
Tumpukan rumput menggunung di depan sebuah rumah di kawasan Jombor, Kabupaten Sleman, tepatnya di Jalan Amarta Raya. Aroma khas kambing menguar.