Tak Ada Demonstrasi 1310 ANAK NKRI di Kota Malang

Rencana aksi mengatasnamakan 1310 ANAK NKRI di Kota Malang tidak terjadi, meski polisi sudah mengerahkan 3 ribu personel untuk pengamanan.
Personel Polresta Malang disiagakan mengatisipasi demo lanjutan penolakan omnibus law. (Foto: Tagar/Moh Badar Risqullah)

Malang - Mengantisipasi akan adanya aksi demonstrasi 1310 menolak Omnibus Law dari massa Aliansi Nasional Anti-Komunis (Anak) NKRI seperti di Jakarta. Sebanyak 3.000 personel aparat pengamanan gabungan dari TNI-Polri dikerahkan di Alun-alun Tugu Malang, Selasa, 13 Oktober 2020.

Kepala Kepolisian Resort Kota Malang Komisaris Besar Polisi Leonardus Simarmata mengatakan dikerahkannya 3.000 personel itu guna mengamankan demonstrasi serupa di Malang seperti di Jakarta. Sekaligus antisipasi kericuhan seperti demonstrasi #MosiTidakPercaya tolak Omnibus Law pada Kamis, 8 Oktober 2020.

Kami siap mendukung TNI-Polri untuk menjaga keamanan dan kondusifitas Kota Malang.

"Kami tidak melarang adanya unjuk rasa. Tetapi, sampaikan secara tertib dan damai. Mari kita jaga Kota Malang tetap kondusif," ujarnya saat apel kesiapan aparat keamanan di depan Balai Kota Malang.

Meski demikian, rencana aksi demonstrasi imbangan dari kelompok Front Pembela Islam (FPI), Presidium Alumni (PA) 212 dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama di Malang itu belum muncul hingga siang hari di Malang. Informasi bahwa akan ada aksi imbangan hanyalah prank belaka.

Malah hanya ada aksi orasi dari Alumni Halokes Malang Mbois Malang bersama Pemuda Pancasila (PP), Sakera Malang dan beberapa organisasi masyarakat (ormas) lainnya di Malang. Mereka melakukan Long March atau jalan kaki dari Masjid Jami' Kota Malang.

Dikomando mobil, mereka juga melakukan orasi-orasi penolakan terhadap tindakan anarkis dan intoleransi di Kota Malang. Mereka juga mengaku siap mendukung aparat pengamanan TNI-Polri dalam menangani demonstrasi berujung kericuhan di bumi Arema.

"Kami siap mendukung TNI-Polri untuk menjaga keamanan dan kondusifitas Kota Malang. Kota Malang cinta damai dan menolak aksi anarkis dan intoleran," ujar salah satu orator dari soundsystem.

Dalam orasinya, mereka juga mengakui bahwa aksi demonstrasi #MosiTidakPercaya tolak Omnibus Law berujung kericuhan kemarin bukan dari kalangan mahasiswa maupun buruh. Melainkan dari beberapa oknum tidak bertanggungjawab.

Oleh karena itu, dia juga meminta aparat kepolisian untuk menindak tegas otak dibalik kericuhan. Dikarenakan sudah merusak fasilitas umum dan aset pemerintah.

"Mereka (otak kericuhan) dari luar. Makanya, kami hari ini ikut turun bersama mengamankan kondusifitas Kota Malang," ujar salah satu orator massa aksi dari Sakera Malang ini.

Sementara, berdasarkan pantauan Tagar, aksi demonstrasi juga belum digelar sampai pukul 15.00 Wib. Sehingga, sebanyak 3.000 personel aparat pengamanan gabungan dari TNI-Polri pun dibubarkan dan dipulangkan kembali ke masing-masing satuannya. [](PEN)

Berita terkait
Polresta Malang Warning Demo Lanjutan: Jangan Ricuh
Polresta Malang mengerahkan 5 SSK jika untuk menindak pendemo yang berbuat rusuh dan melakukan perusakan.
Polresta Malang Diduga Salah Tangkap saat Demo Omnibus Law
Polisi Malang diduga salah tangkap saat demonstrasi penolakan Omnibus Law.
Polisi Tangkap 129 Demonstran Tolak Omnibus Law di Malang
Selain di Malang, setidaknya 634 orang ditahan polisi, termasuk di Surabaya saat demo penolakan omnibus law yang digelar serentak 8 Oktober 2020
0
Permintaan Risma Kepada ASN Kemensos di Hari Lahir Pancasila
Mensos minta semua teman-teman di lingkungan Kemensos menegakkan integritas. Bayangkan bila kita salah mengetik angka bisa merugikan negara.