Semarang - Pria berkulit agak gelap itu mendekati sepeda penuh balon milik kawan yang terparkir di halaman rumahnya di RT 6 RW 1 Tandang, Semarang, Jawa Tengah. Ia memegang sebuah balon, sekilas senyum terlukis di wajahnya. Ia seperti mengatakan, 'Aku pernah berada di posisi ini, yang disebut strata ekonomi kelas bawah, penuh kesulitan dan air mata.'

Ia Suryanto yang pernah jadi kenek, berdiri di sisi pintu bus, berteriak-teriak mencari penumpang. Pernah jadi sopir angkutan umum. Pernah jualan balon mainan, seperti dilakukan seorang temannya yang tadi sepedanya ia dekati. 

Suryanto calon legislatif dari Partai Nasional Demokrat (NasDem) memenangkan pemilihan legislatif 2019, dipastikan bakal menjadi anggota DPRD Kota Semarang 2019-2024.

"Tidak ada hasil yang mengingkari usaha. Kalau bahasa saat saya masih mondok itu man jadda wa jadda. Semangat ini yang dari dulu saya pegang sampai sekarang. Kerasnya hidup di jalanan memberikan pelajaran bahwa saya tidak boleh menyerah," tutur Suryanto kepada Tagar, Rabu 29 Mei 2019.

Suryanto adalah calon legistatif yang dipastikan berhasil melenggang ke Gedung DPRD Kota Semarang. Hasil rekapitulasi penghitungan suara Pemilu 2019 tingkat Kota Semarang menempatkannya di peringkat kedelapan suara terbanyak di daerah pemilihan (Dapil) 3 Semarang, Kecamatan Tembalang dan Kecamatan Candisari.

"Saya mendapat suara by name sekitar 4.600, ditambah suara partai menjadi 8.800-an, ujarnya.

Ayah dua anak itu tampilannya biasa saja, mengenakan kaos oblong kombinasi celana jeans. Dalam beberapa kali kesempatan tatap muka dengan warga, ia sering berpenampilan ala santri, bersarung dan berkopiah.

Tidak ada hasil yang mengingkari usaha. Kalau bahasa saat saya masih mondok itu man jadda wa jadda. Semangat ini yang dari dulu saya pegang sampai sekarang.

Gaya bicaranya merakyat, ceplas-ceplos apa adanya, tidak mencerminkan cara bertutur khas politikus yang mbulet, kata seorang tetangganya.

"Ya beliau memang orangnya seperti itu, apa adanya, humble, tidak memandang rendah orang lain," tutur Nur Arifin, tetangga Suryanto.

Di balik kesederhanaan sosok tersirat perjuangan Suryanto dalam menapaki kerasnya kehidupan. Suryanto dulu, oleh warga Tandang dan sekitarnya diketahui sebagai warga kelas bawah, terpinggirkan oleh keadaan. Jadi kernet dan sopir angkutan kota (angkot), penjual balon hingga menjadi makelar tanah pernah dijalani.

Siapa sangka Suryanto menjadi yang sekarang. Ia telah membuktikan kesaktian man jadda wa jadda.

Ungkapan yang ia dapat di pondok itu bukan sekadar omong kosong.

Man jadda wa jadda artinya siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. 

Hidup di Perantauan

Kisah hidup Suryanto dimulai 46 tahun yang lalu. Ia lahir dari keluarga petani biasa di Bulukerto, Wonogiri, Jawa Tengah. Suryanto kecil tumbuh di lingkungan pedesaan dengan kemampuan ekonomi keluarga yang terbilang kurang mampu. Ini lantaran Suryanto harus berbagi hidup dengan delapan saudara kandungnya.

Nyaris tak mampu meneruskan sekolah menengah pertama usai lulus sekolah dasar karena faktor biaya, pilihan berat sudah harus diambil Suryanto. Pada umur terbilang masih belia, ia terpaksa berpisah dengan kedua orangtua dan keluarga besarnya di Wonogiri. Demi mengejar mimpi, ia merantau ke Magetang, Jawa Timur, ikut kakaknya yang telah jadi perantau lebih dulu.

Di wilayah yang dikenal dengan Telaga Sarangannya ini, Suryanto sekolah di madrasah tsanawiyah di Kedungpanji. Menempuh pendidikan sekolah berbasis pondok pesantren, masa abg (anak baru gede) Suryanto habis untuk belajar agama dan pengetahuan umum setingkat sekolah menengah pertama.

"Di situ saya sekaligus mondok, di pesantren tempat saya sekolah itu. Ya untuk menghemat biaya hidup mengingat kemampuan keluarga juga terbatas," tutur Suryanto.

Hingga ia lulus dan berhasil masuk sekolah yang jadi idaman pelajar Magetan dan sekitarnya. Yakni Sekolah Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Ponorogo

"Dari sekitar 2.000 lebih yang mendaftar, yang diterima hanya sekitar 300 murid. Saya adalah salah satu dari dua santri dari MTs Kedungpanji yang diterima di PGAN. Jadi sekolah ini saat itu memang jadi favorit sehingga sangat ketat persaingannya masuk ke situ," kenangnya.

Tidak jauh beda saat di MTs di Kedungpanji, Suryanto muda harus pintar mengelola uang saku pemberian orangtua. Tak ada waktu untuk main ke mal atau nongkrong di kafe layaknya remaja kebanyakan. Waktu tiga tahun di PGAN lebih banyak dihabiskan di ruang sekolah sekaligus pesantren tempatnya tinggal.

SuryantoSuryanto mengenang masa muda dengan berpose di depan sepeda penjual balon milik kawannya. (Foto: Tagar/Agus Joko Mulyono)

Sopir Angkot

Selepas sekolah menengah atas, Suryanto muda bimbang antara kembali ke kampung halaman atau mencari kerja. Dengan berbagai pertimbangan, termasuk mendengar masukan dari keluarga, ia akhirnya memutuskan hijrah ke Semarang.

Lagi-lagi Suryanto harus hidup menumpang. Di kota lumpia ini ia tinggal di rumah pamannya, seorang anggota Polri. Sempat ditawari sang paman masuk jadi anggota Polri tapi ditolak. 

"Saya memang tidak seperti anak muda pada umumnya saat itu. Kala itu saya ingin berbuat sesuatu yang bisa memberi manfaat ke sesama," Suryanto menghela napas.

Menerawang ingatan, Suryanto kembali menarik napas dalam dan melepasnya pelan. Hidup di kota besar saat itu membuat Suryanto berpikir untuk mandiri. Ia sungkan terus mengandalkan bantuan hidup dari keluarga paman. Terlebih ia sudah menolak tawaran menjadi polisi. Solusi yang diambil adalah dengan melamar pekerjaan berbekal ijazah PGAN Ponorogo.

Namun kenyataan tak semudah angan. Sejumlah pabrik, perusahaan hingga kantor menolak mempekerjakannya. Berbekal informasi yang dikenal dari seorang kawan, ia nekat jadi kernet angkot jurusan Kedungmundu-Johar.

"Itu angkutan orang lain, bukan milik paman. Istilahnya saya ikut bos angkutan," tutur dia.

Suka-duka selama delapan tahun menyusuri aspal Semarang ia lakoni dengan perasaan gembira. Dipalak preman, kena pungli, rebutan penumpang dengan sesama sopir adalah makanan harian. Pun demikian saat naik derajat jadi sopir angkot selama dua tahun.

Semua itu dinikmati. Karena dari pekerjaan sepele itu Suryanto mulai bisa hidup mandiri.

"Zaman segitu, sekitar tahun 1992 sampai tahun 2002-an, pulang bisa bawa uang Rp 8 ribu sampai Rp 11 ribu sudah tergolong banyak," terang dia.

Hidup itu sebenarnya juga sederhana, bagaimana kita bisa memberi manfaat ke sesama. Jika tidak bisa beri manfaat, menurut saya itu adalah suatu kezaliman.

Penjual Balon

Seiring nasib sopir angkot terpinggirkan oleh beragam kebijakan kota, Suryanto banting setir menjadi penjual balon. "Kala itu saya sudah menikah dan hidup mengontrak rumah di Tandang, tapi daerah Tandang atas," ujar dia.

Suryanto menikahi seorang perempuan bernama Samini yang kemudian melahirkan dua anak, Muchamad Bondan Setaji kini jadi polisi, dan Muhamad Aji Kuncoro kini pelajar di sekolah menengah kejuruan di Semarang.

Tak punya modal banyak untuk memulai usaha kala itu, Suryanto meminjam sepeda milik istrinya. "Padahal sepeda itu sebenarnya dipakai tiap hari oleh istri berangkat kerja di pabrik slondok tak jauh dari Tandang. Ya akhirnya istri mengalah, jalan kaki berangkat dan pergi kerja," ucap dia tertawa.

Berbekal sepeda milik istri ini, ia keliling kota menjajakan beragam kreasi balon ke berbagai perumahan di Semarang. Bekerja sebagai penjual balon dijalani selama delapan tahun. Belasan kilo, sering puluhan kilo dikayuh tiap hari demi mendapat rupiah.

"Ilmu mengkreasi balon saya dapat dari keluarga di Wonogiri. Tiap habis salat Subuh saya sudah jalan keliling, dari rumah sampai Bulu, Tanah Mas, Mranggen, Telogosari, Pedurungan dan perumahan lain," cerita dia.

Pernah beberapa kali, kenang Suryanto, seharian berkeliling dengan sepeda tertempel beragam jenis mainan balon, dagangannya tidak laku. "Ya untungnya dagangan sata itu kan bukan dagangan basi. Bisa saya jual lagi besoknya," Suryanto tersenyum.

Makelar Tanah

Seiring hampir 20 tahun merasakan pahitnya kehidupan jalanan metropolitan Semarang, pergaulan Suryanto meluas. Dalam kurun waktu itu pula ia mulai berminat dalam keorganisasian. Bekal pengetahuan agama di pondok pesantren membuatnya tidak sulit membaur di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Tembalang.

Sampai kemudian ia ikut membidani terbentuknya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Kecamatan Tembalang. Tapi pilihan politik akhirnya mengantar Suryanto menjadi Sekretaris Partai Nasional Demokrat (Nasdem) di Kota Semarang.

"Usai tidak lagi jualan balon itu saya menganggur. Tiap hari selama beberapa tahun nongkrong, main catur di depan Pasar Kapling. Tapi kala itu saya juga aktif di NU dan sering diminta untuk memimpin doa di pengajian warga,” ujar dia.

Hingga perkenalannya dengan seseorang yang mengenalkan dunia baru, bisnis jual beli tanah. "Saya jadi makelar tanah setelah diajari oleh teman, Haji Gito," sebut dia.

Sedikit demi sedikit omset bisnisnya mulai membesar hingga mampu membeli rumah yang ditinggalinya saat ini. Dan dengan cita-cita ingin memberi manfaat ke sesama yang telah tertanam sejak muda, Suryanto memberanikan diri mendaftar caleg dari Nasdem di Pemilu Legislatig 2014. Modal kampanye didapat dari keuntungan jual beli tanah yang dikumpulkan selama sekitar lima tahun sebelumnya.

"Tapi saya gagal karena peringkat kedelapan terbanyak. Saat itu hanya ada tujuh kursi sehingga saya tidak jadi. Dan alhamdulillah, didukung jaringan kawan-kawan semasa di jalanan dulu dan warga Tandang sekitarnya, di Pemilu 2019 ini saya mendapat suara signifikan. Di 2019 ini ada penambahan satu kursi sehingga saya lolos," terang dia.

Bagi Suryanto, pahitnya pengalaman di jalanan Semarang mengajarkan beragam pemahaman kebijakan. Satu hal yang selalu tertancap dalam semangat hidupnya sampai sekarang adalah man jadda wa jadda.

"Hidup itu sebenarnya juga sederhana, bagaimana kita bisa memberi manfaat ke sesama. Jika tidak bisa beri manfaat, menurut saya itu adalah suatu kezaliman," tegas dia.

Dan dengan amanah wakil rakyat yang sudah di depan mata, Suryanto punya mimpi besar. "Saya ingin mendorong munculnya ekonomi kreatif untuk masyarakat bawah. Apa pun itu bentuknya. Sopir, penjual balon atau makelar tanah sekalipun terbukti sudah bisa untuk menopang hidup, asal kita ulet dan kreatif," tuturnya. []

Baca juga: