UNTUK INDONESIA
Suka Kritik Tanpa Data, Dosen Filsafat: Rocky Gerung Filsuf KW, Bukan Ori
Filsafat tidak boleh melalaikan fakta keras bernama data.
Rocky Gerung hadir dalam acara peluncuran buku karya Denny Indrayana bertajuk 'Strategi Memenangkan Sengketa Pemilu di Mahkamah Konstitusi' Jumat, (1/2). (Foto: Tagar/Gemilang Isromi Nuari)

Jakarta, (Tagar, 13/2/2019) – Ilmu filsafat mendadak mentereng disoroti publik, terlebih semenjak eks dosen Universitas Indonesia (UI) Rocky Gerung aktif menjadi pembicara di acara talkshow Indonesia Lawyers Club atau ILC.

Rocky dikenal piawai dalam bersilat lidah, memainkan kosa-kata filsafat guna menguliti beragam kebijakan pemerintahan Joko Widodo, dan opini Rocky yang tajam dalam membedah kritik lewat kata amat disukai oleh para fans fanatik capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Seperti diungkap oleh Dosen STF Driyarkara, A. Setyo Wibowo, ilmu filsafat sering dikatakan sebagai ilmu dari segala ilmu. Berkaca dari tradisi Filsafat Yunani, memang pernyataan itu benar adanya. Namun bila dilebur dalam konteks politik Setyo berpesan: hati-hati dengan klaim filsafat sebagai ilmu yang mampu membahas segala sesuatu.

"Mengapa? Karena bisa saja kecanggihan kata-kata filosofis yang diungkapkan seseorang (Rocky) ternyata terbukti membicarakan hal yang tidak ilmiah. Hati-hati klaim filsafat sebagai ilmu yang universal bisa berujung pada omong doang," ucapnya dalam keterangan tertulis yang diterima Tagar News beberapa waktu lalu.

Menyinggung Rocky Gerung, Setyo mengatakan jika orang merasa tahu mengenai apa itu kitab suci, orang merasa tahu tentang apa itu kitab fiksi, lalu orang merasa tahu bahwa kitab suci adalah fiksi, maka baiknya juga bahwa orang itu terbuka dan justru di situ ada potensi ketidaktahuan.

"Apa itu kitab suci? Sebaiknya kita bertanya pada orang-orang yang belajar serius tentang kitab suci. Saya kira, kalau kita rela belajar dari orang-orang yang paham tentang apa itu kitab suci apa itu jenis sastra fiksi, maka kita akan lebih hati-hati untuk menyatukan keduanya," tandasnya.

Setyo menguraikan jika pernyataan kitab suci adalah fiksi harus diukur dengan data. Karena faktanya banyak orang di Indonesia yang belajar kitab suci.

"Kita bisa berdiskusi dengan mereka yang tahu data itu. Banyak orang di Indonesia mempelajari sastra, sehingga kita bisa mengukur pengetahuan kita tentang apa itu mitos (Nyi Roro Kidul), legenda (Malin Kundang) atau fiksi semisal komik Marvel," imbuhnya.

Baca juga: PDI Perjuangan: Stop Panggil Rocky Gerung Filsuf

Menurut Setyo, filsafat bisa jatuh menjadi omong doang bila menolak berdiskusi dengan data, terutama terkait dengan pembangunan jalan tol yang justru sukses, terlihat dilakukan oleh pemerintahan saat ini.

"Kalau kita hanya beropini, tentu kita bisa omong apa pun. Namun sekali lagi, supaya tidak jatuh dalam omong doang, opini tentang jalan tol sebaiknya dikatakan menggunakan data," tandasnya.

Rocky GerungPengamat politik Rocky Gerung menjawab pertanyaan wartawan saat memenuhi panggilan kepolisian di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (4/12/2018). Rocky Gerung menjalani pemeriksaan sebagai saksi terkait berita bohong penganiayaan Ratna Sarumpaet. (Foto: Antara/Harry T)

Setyo melanjutkan, jika WNI yang tinggal di Taiwan selama 5 tahun tidak pulang ke Tanah Air, bisa saja tergiring opini sesat yang dibangun Rocky Gerung. Sebab, WNI yang kini menetap di Taiwan tidak bisa menyaksikan jalan tol secara langsung, hanya bisa menyaksikan melalui televisi dan youtube, sama halnya dengan saat melihat apa yang diopinikan oleh Rocky yang ramai di Youtube.

"Jalan tol itu nyata ada, bokan hoaks. Saya sendiri sudah naik mobil melewati aspal panjang dari Cikampek sampai Bawen itu dua kali, jalan tol itu ada. Bukan hoaks" tegasnya.

Sebelumnya, Rocky Gerung menilai bahwa pembangunan jalan tol merugikan masyarakat dan justru membuat ekonomi masyarakat tidak meningkat. Tak hanya itu, ia juga menyebut bahwa pembangunan jalan tol hanya membuat kesenjangan antar warga. Lebih lanjut menurut Rocky, seharusnya pembangunan jalan tol juga harus melihat keadaan yang didalami oleh masyarakat sekitar pembangunan jalan tol.

"Jalan tol itu mempersatukan justru membelah keakraban warga. Pembatik di Pekalongan itu enggak punya penghasilan karena orang langsung pergi beli batik di Solo, enggak mampir ke Pekalongan. Saya mengkritik itu. Kalau dibilang menghubungkan, justru jalan tol itu membelah masyarakat," ujar Rocky Gerung saat menjadi narasumber dalam acara ILC, Selasa (5/2).

Menanggapi hal tersebut Setyo Wibowo mengaku heran dengan statement Rocky. Sebab, ia menilai eks dosen yang saat ini tak bisa mengajar di UI lagi karena hanya berijazah S1 itu hanya melandaskan opini yang tak sesuai dengan data terkait diciptakannya jalan tol yang mengkonektivitas daerah di Pulau Jawa.

"Jalan tol itu memisahkan atau menyatukan? Sudah adakah penelitian yang menunjukkan adanya sekian persen pernikahan gagal akibat jalan tol? Berapa ribu majelis taklim yang gagal berkumpul akibat adanya jalan tol Jakarta-Surabaya? Berapa ribu pasangan yang pacaran jarak jauh menjadi tersatukan berkat jalan tol?" urai Setyo terheran-heran.

"Di era terbelahnya saat ini, opini yang berseliweran di medsos dan televisi seringkali terlalu bersemangat sehingga tidak peduli lagi pada data, atau bahkan menciptakan data rekaan yang menjadi mantra untuk menghipnotis publik sehingga tidak tahu lagi mana data mana hoaks," tandasnya.Ia pun tak menyalahkan jika dalam rezim demokrasi ini memang bebas berpendapat dan membentuk apapun opini-nya. Karena memang kebebasan berpendapat telah dijamin oleh UU. Namun, Setyo menyayangngkan opini Rocky Gerung terkait pembangunan tol diucap tanpa dilandasi data-data kuat. Hal itu menurutnya bisa menjadi bola liar yang dapat memantik perdebatan publik.

"Di era terbelahnya kamprestos versus cebongers saat ini, opini yang berseliweran di medsos dan televisi seringkali terlalu bersemangat sehingga tidak peduli lagi pada data, atau bahkan menciptakan data rekaan yang menjadi mantra untuk menghipnotis publik sehingga tidak tahu lagi mana data mana hoaks," tandasnya.

"Filsafat pun tidak lepas dari tuntutan itu. Filsafat tidak boleh melalaikan fakta keras bernama data supaya tidak menjadi obrolan yang menggelapkan, supaya tidak menjadi 'Filsafat KW, seperti sofisme. Meski berkualitas super premium, ia (Rocky) tetaplah KW, bukan ori" pungkasnya.

Baca juga: Denny JA: Rocky Gerung Membikin Akal Sehat Menangis

Berita terkait
0
Polisi Gagalkan Pengiriman Masker di Lutim Sulsel
Personel Reskrim Polsek Nuha, Luwu Timur Sulsel, berhasil menggagalkan pengiriman puluhan dos masker ke pulau Jawa.