UNTUK INDONESIA
Suatu Pagi di Gerai Emas Aneka Tambang Jakarta Timur
Dio mahasiswa, Anto Wibowo pensiunan, Wawan karyawan. Ini cerita mereka suatu pagi mengantre di gerai emas Aneka Tambang di Pulo Gadung Jakarta.
Gerai penjualan emas milik PT Aneka Tambang (Antam) Tbk. di Jalan Pemuda, Pulo Gadung, Jakarta Timur, Senin, 9 Maret 2020. (Foto: Tagar/Andry Winanto)

Jakarta - Pada hari itu, Senin, 9 Maret 2020, Tagar menyambangi gerai penjualan emas milik PT Aneka Tambang (Antam) Tbk. di Jalan Pemuda, Pulo Gadung, Jakarta Timur. Seorang petugas mengatakan pembeli sudah mengantre sejak pagi. Animo masyarakat yang tinggi membuktikan kesadaran dalam berinvestasi sudah terbangun.

Satu di antara yang berada di antrean itu adalah Dio, seorang mahasiswa berusia 21 tahun. Dio tinggal di tinggal di Bekasi Utara. Ia datang untuk menjual emas yang dimilikinya.

Dio mengatakan mulai menginvestasikan uang yang dimiliki dalam bentuk emas sejak dua tahun lalu. Ia menyisihkan sebagian pendapatan yang diterima sebagai pekerja freelancer untuk mengoleksi logam mulia. Menurut dia, emas dapat menjadi tabungan tersendiri ketimbang dihabiskan untuk kegiatan konsumtif. 

Emas bukan satu-satunya instrumen investasi yang Dio miliki. Ia menyebut dirinya juga sudah merambah pasar modal untuk membeli saham.

“Emas ini saya tabung untuk kebutuhan jangka panjang. Emas akan menghasilkan keuntungan jika disimpan dalam waktu yang lama. Sedangkan saham hanya untuk jangka pendek karena cenderung spekulatif," katanya.

Emas diburu banyak orang karena punya sifat lindung nilai. Kalau situasi sedang bergejolak seperti saat ini, emas menjadi alat pelindung nilai maupun kekayaan yang sangat ideal.

Aneka TambangGerai penjualan emas milik PT Aneka Tambang (Antam) Tbk. di Jalan Pemuda, Pulo Gadung, Jakarta Timur, Senin, 9 Maret 2020. (Foto: Tagar/Andry Winanto)

Sebagian Uang Pensiun Ditabung dalam Bentuk Emas

Anto Wibowo, seorang pensiunan perusahaan swasta, memilih menempatkan sebagian pendapatan yang ia peroleh pada logam mulia ini. Menurut Anto, dirinya sudah sejak lama menyimpan emas guna mencukupi kebutuhan mendadak sekaligus alat investasi dan penyimpan kekayaan. 

Bagi Anto, emas layaknya tabungan pribadi. Karena sifatnya yang sangat likuid, emas dapat dijual kapan saja untuk mencukupi keperluan dalam kondisi mendesak.

“Emas ini mudah dijual. Selain itu emas kan tidak mengenal musiman. Kapan saja punya uang pasti saya beli,” kata dia.

Pokoknya begitu punya kemampuan finansial lebih, ada baiknya langsung beli. Ini juga yang menjadi alasan bahwa waktu terbaik beli emas adalah kapan saja.

Aneka TambangGerai penjualan emas milik PT Aneka Tambang (Antam) Tbk. di Jalan Pemuda, Pulo Gadung, Jakarta Timur, Senin, 9 Maret 2020. (Foto: Tagar/Andry Winanto)

Tak Lagi Puas dengan Deposito

Wawan, seorang karyawan perusahaan otomotif nasional. Kedatangannya ke sini untuk mencoba instrumen investasi logam mulia. Ia menuturkan baru pertama kali mencoba instrumen emas. 

Sebelumnya, Wawan hanya mengandalkan deposito untuk berinvestasi. Ia mengaku tertarik membeli emas lantaran terpincut potensi kilau cuan yang ditawarkan. Ia sadar keuntungan yang ditawarkan logam mulia itu baru akan dirasakan setelah beberapa tahun setelah pembelian.

“Hitung-hitung menabung. Kalau sudah lama harganya bisa naik. Nah, pas naik itu lumayan juga keuntungannya kalau dijual,” ucapnya.

Aneka TambangGerai penjualan emas milik PT Aneka Tambang (Antam) Tbk. di Jalan Pemuda, Pulo Gadung, Jakarta Timur, Senin, 9 Maret 2020. (Foto: Tagar/Andry Winanto)

Virus Corona Bikin Harga Emas Melambung

Pada awal pekan itu terjadi puncak kenaikan harga emas di Tanah Air. Harga emas batangan Antam 24 karat diperdagangkan pada level Rp 851.000 untuk setiap gram. Nilai tersebut merupakan harga paling tinggi yang pernah dicatat Antam dalam sejarah.

Beberapa hari berselang, Tagar berkesempatan bertemu Vice President Precious Metal Sales and Marketing Antam Iwan Dahlan. 

Iwan Dahlan mengatakan pergerakan harga emas yang terjadi saat ini dipengaruhi beberapa faktor.

“Sebenarnya fluktuasi harga emas sudah mulai terasa sejak tahun lalu saat China dan Amerika Serikat melancarkan perang dagang. Kejadian itu membuat harga merangkak naik. Kondisi tersebut diperparah virus corana yang terjadi sekarang, makinlah harga melambung,” kata Iwan.

Pembentukan harga juga banyak terpengaruh indikator di pasar modal, keadaan lantai bursa saham saat itu sedang dalam kondisi terpuruk.

“Saat saham tidak bisa diandalkan dan sedang jatuh, orang-orang lari untuk mencari instrumen investasi yang lebih aman. Salah satu yang diburu adalah emas. Ini juga yang menjadi alasan harga naik, karena demand-nya juga sedang kencang,” ucapnya.

Iwan DahlanVice President Precious Metal Sales and Marketing PT Aneka Tambang Tbk. Iwan Dahlan saat diwawancarai Tagar, pertengahan Maret 2020. (Foto: Tagar/Andry Winanto)

Emas Kebal Inflasi, Melindungi Nilai

Iwan menyebutkan emas sejatinya merupakan instrumen yang memiliki sifat sebagai pelindung nilai. Hal tersebut bisa dilihat dari karakteristik logam mulia ini yang cenderung kebal terhadap inflasi. Sebagai contoh, uang yang disimpan dalam termin yang cukup lama dapat mengalami penurunan nilai akibat inflasi.

“Emas diburu banyak orang karena punya sifat lindung nilai. Kalau situasi sedang bergejolak seperti saat ini, emas menjadi alat pelindung nilai maupun kekayaan yang sangat ideal,” tuturnya.

Karakteristik emas yang cukup unik tersebut dijadikan banyak pelaku usaha perbankan untuk melindungi aset keuangan mereka. Menurut penuturan Iwan, tidak sedikit bank komersil hingga bank sentral di seluruh dunia mengkonversi dana yang dimiliki ke dalam bentuk emas.

Upaya tersebut didasarkan pada asumsi menghindari penurunan nilai mata uang akibat inflasi yang terjadi setiap tahun. Cara ini pula yang menjadi alasan mengapa harga emas terus merangkak naik dari waktu ke waktu, karena memang kebutuhan dan permintaannya cukup tinggi.

“Pokoknya begitu punya kemampuan finansial lebih, ada baiknya langsung beli. Ini juga yang menjadi alasan bahwa waktu terbaik beli emas adalah kapan saja,” ujar Iwan.

Aneka TambangGerai penjualan emas milik PT Aneka Tambang (Antam) Tbk. di Jalan Pemuda, Pulo Gadung, Jakarta Timur, Senin, 9 Maret 2020. (Foto: Tagar/Andry Winanto)

PT Aneka Tambang Tbk. merupakan satu-satunya entitas usaha di Indonesia yang memiliki sertifikat London Bullion Market Association (LBMA) dalam mendukung aktivitas penjualan emas. LBMA merupakan lisensi yang berlaku secara internasional untuk memberikan jaminan bahwa korporasi tersebut menjual secara sah dan bebas dari rantai pasok ilegal, mulai dari tingkat hulu hingga hilir.

Pemberian sertifikat LBMA ini mensyaratkan perusahaan penambangan emas terbebas dari eksplorasi terlarang, penggunaan bahan-bahan berbahaya seperti merkuri, anti-tenaga kerja anak, tidak terlibat dalam aktivitas korupsi maupun pencucian uang, serta jauh dari jual-beli emas bernilai sejarah (heritage).

“Antam merupakan perusahaan tambang yang memiliki konsep berkesinambungan dari hulu ke hilir. Kami punya site yang besar-besar, namun kami juga melayani penjualan eceran. Kesemuanya itu telah lolos audit internasional,” tutur Iwan.

Sertifikasi secara global itu membawa keuntungan tersendiri bagi para customer Antam. Sebab, melalui lisensi berstandar dunia, produk Antam menjadi sangat likuid untuk dijual di mancanegara. Hal ini pula yang menjadi dasar mengapa emas keluaran Badan Usaha Milik Negara pertambangan ini menjadi rujukan pertama untuk memperoleh logam mulia.

“Terkadang, karena standar LBMA yang cukup ketat, saat ingin menjual emas Antam di luar negari itu pembelinya tidak perlu mengecek dengan detail sekali karena lisensinya sudah jelas dan bersertifikat,” ujar Iwan.

Dari sisi kinerja, kondisi kesehatan perusahaan dengan kode miten ANTM ini tergolong cukup baik. Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), ANTM berhasil meningkatkan angka penjualan sebesar 529 persen dalam 13 tahun terakhir. Artinya jika direrata, level pertumbuhan setiap tahun mencapai 40,7 persen.

Kenaikan paling signifikan terjadi pada 2018 dengan penjualan bersih tercatat Rp 25,24 triliun, atau naik 99 % dibanding dengan capaian pada 2017. Lalu, pada laporan keuangan 2018 komoditas emas menjadi penyokong utama kegiatan usaha perseroan. Tercatat pendapatan Antam dari logam mulia itu mencapai Rp 16,69 triliun atau 66 % dari total penjualan bersih pada 2018. Sementara penjualan emas pada 2017 tercatat Rp 7,37 triliun. []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Sanggupkah Industri Event di Bali Hadapi Terjangan Covid-19
Jika seorang turis MICE menghadiri sebuah konferensi atau event, keluarga pun diajak untuk sekalian berlibur di Bali dengan biaya sendiri tentunya.
Seni Menyablon Papadev di Bantaeng
Nirman berdiri di antara tumpukan lebih dari 1000 lembar goodie bag berwarna hitam, pesanan pelanggan. Ia gesit, sangat menguasai pekerjaannya.
Petaka Amonia di Aceh Utara
Aroma busuk amonia mengotori udara Desa Tambon Baroh, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara. Bikin warga pusing, muntah sampai pingsan.
0
Suatu Pagi di Gerai Emas Aneka Tambang Jakarta Timur
Dio mahasiswa, Anto Wibowo pensiunan, Wawan karyawan. Ini cerita mereka suatu pagi mengantre di gerai emas Aneka Tambang di Pulo Gadung Jakarta.