UNTUK INDONESIA
Sosok Ayah Tiri Pelaku Kekerasan Anak di Kudus
Warga sekitar indekos Nv di Kudus tak menyangka jika Nv tega melakukan kekerasan terhadap anak tirinya, SW. Seperti apa sosok ayah tiri itu?
Kamar indekos yang ditinggali keluarga Nv di Kecamatan Jati Kudus. Ayah tiri pelaku kekerasan terhadap anak itu dikenal sebagai sosok yang biasa, tidak pernah bermasalah dengan tetangga indekosnya. (Foto: Tagar/NNC)

Kudus - Kasus dugaan kekerasan anak yang menimpa SW, 9 tahun, mengagetkan warga sekitar indekosnya di Kecamatan Jati, Kudus. Bocah kelas tiga sekolah dasar itu mengalami beberapa kali kekerasan fisik yang diduga dilakukan oleh ayah tirinya, Nv.

Orangnya biasa saja. Wajahnya memang sangar.

Pemilik indekos SW, Nur Aini mengatakan Nv dalam kesehariannya terlihat normal dan tidak pernah bermasalah dengan penghuni indekos lainnya. "Orangnya biasa saja. Wajahnya memang sangar. Kesehariannya, kalau pagi biasanya mancing. Lalu malamnya kerja jadi juru parkir," tutur Eni menggambarkan sosok pria difabel yang tidak memiliki lengan kanan itu, Kamis, 27 Februari 2020.

Enam bulan kos di rumahnya, Eni mengaku tidak pernah mengetahui aksi kekerasan yang dilakukan Nv pada anak tirinya. Bahkan ia, tidak pernah mendengar suara jerit atau tangisan korban saat dianiaya. Para tetangga kos juga tidak pernah ada yang memberikan laporan aksi itu kepada dirinya maupun suami selaku pemilik indekos. Karena itu, Eni kaget dengan terungkapnya kasus ini.

"Katanya si anak, dia tidak mau nangis saat dipukul karena diancam," ujar dia.

Dari Eny diketahui, bahwa Nv tercatat sebagai warga Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara. Sedangkan ibu kandung SW, SS, merupakan warga Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Keduanya menikah di tahun 2017 dan dikaruniai seorang anak laki-laki yang kini berusia delapan bulan.

Dari pernikahan sebelumnya, Nv dikaruniai dua anak yang kemudian dipondokkan di salah satu pondok pesantren di Kudus. Sedangkan SS, 35 tahun, dari pernikahan sebelumnya juga dikaruniai dua putra. Putra pertama ikut kakek dan putra keduanya, SW, diasuh bersama Nv.

"Mereka tinggal berempat. Sehari-hari adik SW diasuhkan di dekat ini. Sehingga saat siang hari, SW tinggal berdua bersama NY. Sebab ibunya kerja di garmen dan pulang malam," jelas tutur sambil menunjukkan kamar kos SW dan keluarganya. 

Ro, guru SW yang mengungkap kasus kekerasan anak tersebut, mendesak kepolisian melakukan tes kejiwaan terhadap Nv. "Pelaku perlu di tes kejiwaannya. Karena sikapnya yang arogan dan alasannya melakukan kekerasan kepada anak tirinya tidak masuk akal," ujar Ro, guru SW 

Wanita 45 tahun itu mencurigai jika Nv mengalami gangguan kejiwaan. Karena sebagai orang tua normal tentu tidak tega melakukan tindakan semacam itu kepada anak bawah umur. Meskipun korban bukan anak kandung, tapi tidak semestinya diperlakukan tidak manusiawi seperti menyundut rokok, memukul, menjepit jari hingga melepas kuku jari, 

"Kalau dibilang tidak normal tapi masih bisa diajak berbicara dengan baik. Tapi kalau dibilang nomal, kok ringan tangan," ucapnya. 

Terpisah, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kudus Ajun Komisaris Rismanto mengatakan masih melakukan pendalaman atas kasus penganiayaan terhadap anak bawah umur tersebut. Penyidik masih mempelajari sangkaan pasal di UU Perlindungan Anak yang akan diterapkan. Terkait tes kejiwaan akan dilakukan. "Ini proses penyelidikan masih terus berlanjut," sebut dia. [] 

(NNC)

Baca juga: 

Berita terkait
Sundutan Rokok Ungkap Kekerasan Anak SD di Kudus
Seorang anak SD di Kudus mengalami kekerasan fisik oleh ayah tirinya. Sang guru pun geram dan membongkar penganiayaan itu.
Walhi Soroti Tewasnya 4 Anak di Lubang Tambang Kudus
4 bocah tewas di kubangan bekas tambang di Kudus. Walhi menilai ada kelalaian pemerintah dibalik kejadian tersebut.
Cerita Pilu Anak Yatim Bergizi Buruk di Jeneponto
Bocah berumur satu tahun tujuh bulan itu diam di pangkuan ibunya. Tubuhnya lebih kecil dari bocah-bocah seumurannya. Cerita pilu dari Jeneponto.
0
Bubarkan Salat Berjemaah di Parepare Berujung Polisi
Seorang camat di Kota Parepare Sulsel dilaporkan ke polisi karena berusaha membubarkan jemaah yang hendak salat Jumat berjemaah.