UNTUK INDONESIA
Sundutan Rokok Ungkap Kekerasan Anak SD di Kudus
Seorang anak SD di Kudus mengalami kekerasan fisik oleh ayah tirinya. Sang guru pun geram dan membongkar penganiayaan itu.
SW memperlihatkan bekas penganiayaan yang dilakukan ayah tirinya, Kamis, 27 Februari 2020. Kasus kekerasan anak itu akhirnya dilaporkan oleh guru dan warga ke polisi. (Foto: Tagar/NNC)

Kudus - Seorang guru sekolah dasar (SD) swasta di Kudus, Jawa Tengah, membongkar dugaan penganiayaan yang dialami oleh salah satu anak didiknya. SW, 9 tahun, inisial dari siswa itu diduga mengalami kekerasan dalam rumah tangga oleh ayah tirinya. 

Bermula dari SW yang tidak masuk sekolah selama sepekan, sang guru, Ro, 45 tahun, menemukan bekas sundutan rokok dan lebam di sejumlah bagian tubuh siswanya. "Setelah seminggu tidak berangkat, kami kaget karena melihat pipi dan tangannya ada bekas sundutan rokok. Di badannya juga ada bekas-bekas lebam," kata Ro kepada sejumlah awak media di sekolahnya, Kamis, 27 Februari 2020. 

Ro menuturkan sejak sekolah di tempatnya mengajar bulan Januari lalu, SW dikenal sebagai anak yang pendiam dan jujur. Sikap pelajar kelas tiga ini banyak disukai para gurunya. SW juga punya paras tampan dan berkulit putih. 

Setelah seminggu tidak berangkat, kami kaget karena melihat pipi dan tangannya ada bekas sundutan rokok.

Namun keberadaan SW mulai menimbulkan tanda tanya bagi guru dan kepala sekolahnya setelah sepekan terakhir tidak menunjukkan batang hidungnya. "Tidak ada pemberitahuan kenapa dia tidak masuk sekolah, membuat kami khawatir," ujar dia. 

Kekhawatiran itu akhirnya terbukti. Tadi pagi saat berangkat sekolah Ro melihat ada bekas-bekas penganiayaan di tubuh SW. Anak ini pun akhirnya buka suara dengan kekerasan yang dilakukan ayah tirinya, Nv. Penganiayaan oleh pria yang saban hari kerja sebagai tukang parkir itu terjadi di rumah kosnya di kawasan Kecamatan Jati. 

Dari penuturan SW, Nv memukulinya dengan botol pengharum ruangan usai mengetahui ia mengambil pensil di sekolah. "Padahal itu pensil hasil temuan di bawah meja. Pensil buangan. Ayahnya mengira SW mencuri pensil rekan sekolah. Lalu memberi pelajaran dengan digebukin," tuturnya.

Ro menyatakan ia sedari awal sudah menaruh kecurigaan SW kerap mendapat penganiayaan dari ayah tirinya. Sebelumnya, dua kali bocah itu absen sekolah dalam kurun waktu lama tanpa alasan yang jelas. 

"Jadi setelah SW dipukuli, biasanya orang tuanya melarang dia sekolah sampai seminggu. Setelah lukanya mengering, anak itu baru boleh berangkat sekolah," katanya.

SW membenarkan kerap mendapat perlakuan tak manusiawi dari ayah tirinya. Dipukuli, disundut rokok, digigit adalah penganiayaan yang kerap diterimanya. Pernah jari tangannya dijepitkan ke pintu, bahkan kuku kakinya dicabut oleh Nv hanya karena persoalan sederhana.

"Pernah saya tidak mau makan siang karena sudah makan bekal di sekolah. Lalu dipukuli sama ayah," ujarnya lirih.

Kepala sekolah tempat SW belajar, BA pernah menegur Nv yang dianggapnya berlebihan dalam mendidik anak. Namun peringatan itu diabaikan sampai kemudian ia menceritakan nasib SW ke pemilik indekos dan tetangganya. Ternyata cerita itu dibenarkan pemilik kos yang juga pengurus RT setempat dan warga sekitar. 

"Awalnya, kami tidak memiliki bukti untuk melaporkan. Dan ternyata ada warga yang mengetahui kalau kuku SW dijepitkan ke pintu oleh ayahnya," kata BA.

Kasus tersebut akhirnya dilaporkan oleh guru, pengurus RT dan perangkat desa ke Polsek Jati. NV akhirnya digelandang polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, Rabu malam, 26 Februari 2020. "Semalam pukul 22.00 WIB ayah SW dibawa ke Mapolres Kudus. Dan di sana, dia mengakui perbuatannya itu," ujar Ro. 

Ke depan, pihak sekolah meminta SW dapat diasuh oleh kakek atau ayah kandungnya. Pola asuh anak yang lebih baik diharapkan dapat menyembuhkan mental dan rasa traumatik yang dialaminya. "Ayah kandungnya sedang dicari. Semoga besok SW bisa hidup dengan lebih baik," ucap dia. []

(NNC)

Baca juga:

Berita terkait
Siswa MI Usus Bernanah Korban Perundungan di Sleman
Siswa MI kelas 1 di Sleman diduga menjadi korban perundungan kakak kelasnya. Diduga dipukul di bagian perut hingga ususnya bernanah dan infeksi.
Kronologi Penganiayaan Siswi SMP di Purworejo
Polisi mengungkap motif dan kronologi penganiayaan tiga pelajar ke siswi SMP di Purworejo. Berawal dari uang.
0
Bubarkan Salat Berjemaah di Parepare Berujung Polisi
Seorang camat di Kota Parepare Sulsel dilaporkan ke polisi karena berusaha membubarkan jemaah yang hendak salat Jumat berjemaah.