UNTUK INDONESIA
Skenario Menyambut Wisatawan Usai Pandemi di Sleman
Pelaku wisata di Sleman, Yogyakarta, mulai berbenah menyambut wisatawan.
Jeep Merapi. (Foto: merapiadventure)

Sleman – Pelaku wisata di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyiapkan beberapa skenario untuk melayani wisatawan di tengah pandemi Covid-19. Diprediksi paling cepat destinasi dibuka seusai masa tanggap darurat Covid-19 atau 30 Juni mendatang.

Ketua Asosiasi Jeep Wisata Lereng Merapi Wilayah Barat Kabupaten Sleman, Dardiri mengatakan skenario itu salah satunya yakni perubahan jalur yang ada dilalui wahana hobi dan uji nyali ini. “Jalur baru yang akan dilalui saat ini baru kami petakan. Nantinya lebih menyusuri alam, dan tidak banyak melewati pemukiman warga,” katanya saat dihubungi melalui telepon pada Selasa 2 Juni 2020.

Dardiri mengungkapkan tidak terlalu banyak melewati pemukiman. Alasannya karena masyarakat sekitar lereng Merapi di Kabupaten Sleman masih banyak yang belum teredukasi mengenai cara penularan maupun bagaimana pencegahan Korona. “Beberapa jalur di pemukiman juga masih ditutup,” katanya.

Dardiri menyebut nantinya untuk jumlah wisatawan yang diangkut dalam satu jeep pun hanya dua orang. Berbeda ketika sebelum masa pandemi Corona bisa mengangkut empat orang dalam satu armada. “Sesuai anjuran dari dinas pariwisata agar tetap bisa menjaga protokol kesehatan Covid-19, dalam satu jeep diisi dua wisatawan saja,” tuturnya.

Wisatawan inginnya jalur kan yang ada sedikit ekstrem.

Dia mengatakan dengan hanya dua wisatawan dalam satu jeep nantinya juga akan mengubah tarif layanan. Sebab jika masih menggunakan tarif lama, yakni antara Rp 300 ribu sampai Rp 750 ribu mereka pastinya akan keberatan. “Jadi nanti akan kami ubah, dari yang sebelumnya kami jual per paket satu paket antara 300 sampai 750 ribu nanti kami menjual per jam. Per jam kisaran Rp 150 ribu,” ujarnya.

Pemberlakuan per jam, baik pengelola maupun wisatawan sama-sama diuntungkan. “Wisatawan inginnya jalur kan yang ada sedikit ekstrem. Jadi nanti yang penting wisatawan terpuaskan dan kami juga tidak rugi,” katanya.

Dardiri mengatakan diprediksi layanan ini baru bisa dinikmati para wisatawan pada Juli atau akhir tanggap darurat Corona di Sleman berakhir. Ketika memang disambut baik, pihaknya akan tetap meneruskan konsep ini. “Paling cepat setelah 30 Juni atau setelah tanggap darurat. Karena persiapan ini membutuhkan waktu yang lama,” ucapnya.

Breksi SlemanKolam ikan yang ada di area Taman Tebing Breksi, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Kamis, 12 Desember 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Menurut dia, sudah sekitar 2,5 bulan Asosiasi Jeep Wisata Lereng Merapi wilayah barat Kabupaten Sleman berhenti operasi karena pandemi Korona. Akibatnya sekitar 6.500 sampai 7.000 orang kehilangan mata pencahariannya. Ia pun berharap dengan mulai dibukanya nanti ekonomi bisa perlahan bergerak.

“Ada 887 armada jeep yang aktif di anggota kami. Kami hitung sekitar 6.500 sampai 7.000 orang yang kehilangan mata pencaharian selama pandemi ini,” katanya.

Sementara, marketing destinasi wisata Tebing Breksi, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman Chiprianus Tugiyanto atau Antok, mengatakan pihaknya telah menyiapkan sarana prasarana untuk menyambut wisatawan. “Sarana umum kami siap. Lebih dari 25 wastafel sudah disiapkan di setiap titik kumpul dan lokasi strategis,” kata dia.

Antok mengatakan pengelola wisata Tebing Breksi saat ini baru menghitung jumlah wisatawan yang boleh masuk dan durasi kunjungannya. Ia menyebut pastinya nanti akan ada pembatasan supaya bisa tetap menjaga protokol Covid-19 seperti jaga jarak. “Pembatasan tentu kami lakukan, supaya tetap bisa diberlakukan social distancing bagi pengunjung,” katanya.

Antok menyebut mengenai kapan nantinya dibuka, pihaknya akan menunggu arahan dari instansi terkait. “Kami menunggu kebijakan dari pemerintah. Kalau pemerintah mengatakan boleh buka, kami akan buka dengan menerapkan sistem keamanan kesehatan bagi pengunjung seoptimal mungkin,” kata dia. []

Baca Juga:

Berita terkait
New Normal Yogyakarta di Mata Sri Sultan HB X
Gubernur DIY Sri Sultan HB X tidak ingin terburu-buru menerapkan new normal di Yogyakarta. Berikut alasannya.
Data Corona yang Sembuh dan Meninggal di Yogyakarta
Update Covid-19 di Provinsi DIY per 1 Juni 2020, total 237 kasus dengan rincian 62 masih dirawat, 167 sembuh dan 8 meninggal.
Update Covid-19 Yogyakarta: Sehari 9 Pasien Sembuh
Update pasien Covid-19 di DIY per Sabtu, 30 Mei 2020: sembuh 159 orang, masih dirawat 66 orang, meninggal delapan orang.
0
Skenario Menyambut Wisatawan Usai Pandemi di Sleman
Pelaku wisata di Sleman, Yogyakarta, mulai berbenah menyambut wisatawan.