UNTUK INDONESIA
Suman, Anak Makassar Berpenyakit Aneh
Suman, seorang anak laki-laki berusia 10 tahun di Makassar, tidak diketahui kenapa ada benjolan sebesar kepalan tangan orang dewasa di dadanya.
Komisaris Besar Polisi Yudhiawan Wibisono mendampingi Suman menuju sekolah, SD Inpres Layang II Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu, 11 Desember 2019. (Foto: Tagar/Muhammad Ilham)

Makassar - Suman, seorang anak berusia 10 tahun, tidak diketahui kenapa ada benjolan sebesar kepalan tangan orang dewasa di dadanya. Orang-orang menyebutnya penyakit aneh. Walau demikian, Suman tidak terganggu dengan pandangan sekeliling. Ia memiliki semangat baja untuk tetap belajar di Sekolah Dasar Inpres Layang II Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Tidak ada cerita minder atau bolos.

Ia anak kelima dari pasangan Madi 55 tahun dan Sanni 49 tahun. Keluarga ini tinggal di Jalan Kandea III, Kecamatan Bontoala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Guru dan wali kelas mengenalnya sebagai siswa yang pintar, rajin, tekun belajar, semangat. Suman sering masuk lima besar dalam penilaian ulangan harian dan peringkat dalam rapor. Ia menjadi kesayangan para guru.

“Suman ini anaknya penurut, baik, dan pintar,” kata Wali Kelas Suman, Nur Irma, saat ditemui di sekolah, Rabu, 11 Desember 2019.

Ternyata ada juga teman yang mencibir keadaan Suman, bukan hanya satu orang, tapi untungnya Suman memiliki hati yang besar untuk menghadapinya. Cibiran tidak sanggup menghentikan langkah Suman untuk terus pergi ke sekolah dari hari ke hari.

Nur Irma mengatakan Suman memiliki mental yang kuat. Pantang bagi Suman untuk ngambek, meninggalkan kelas atau membolos saat menghadapi beragam bully-an. “Namanya anak-anak, biasa main-main, dia sering diganggu temannya. Saya sudah tegur mereka agar tidak berbuat begitu kepada Suman."

Suman ini anaknya penurut, baik, dan pintar.

SumanSuman 10 tahun, dengan penyakit aneh berupa benjolan besar di dada. (Foto: Tagar/Muhammad Ilham)

Suatu ketika saat sedang mengikuti pelajaran di kelas, kata Nur, tiba-tiba penglihatan Suman sedikit rabun, pendengarannya juga sedikit menurun. Hal itu tidak membuat Suman izin pulang. Dia terus berusaha menyerap pelajaran yang sedang disampaikan guru.

Tentang penglihatan dan pendengaran berkurang, Nur menduga itu akibat penyakit aneh di dada yang diderita Suman selama ini. “Dia tidak mengeluhkan sakitnya. Dia tetap berusaha belajar. Saat jam istirahat, dia bermain sama teman. Saat jam pelajaran, dia bergegas ke kelas. Disiplin."

Penuturan Ayah Suman

Medi, ayah Suman, menceritakan benjolan di dada Suman muncul saat Suman berusia satu tahun. Benjolan, entah penyakit apa, belum diketahui secara medis. Pada awalnya kecil dan terus membesar seiring berjalannya waktu. “Suman pernah kami bawa ke dokter klinik, dan pernah dikeluarkan isi dari benjolan itu, seperti isi dalam kelapa.”

Benjolan itu hilang. Namun beberapa waktu kemudian benjolan muncul kembali di tempat yang sama. Medi berpikir untuk membawa Suman ke rumah sakit agar anaknya itu mendapatkan pengobatan yang tepat. Namun ia mengurungkan niat, merasa tak berdaya. Ia hanya buruh serabutan dengan penghasilan tidak menentu. Ia juga tidak mendapat kartu kesehatan gratis.

“Suman kalau kepalanya sakit, benjolan di dadanya pasti ikut sakit," kata Medi.

Sampai kemudian pertolongan datang dari arah yang tidak disangka-sangka pada saat Suman berusia 10 tahun. Warga Makassar entah siapa, menceritakan penyakit Suman di media sosial. Kisah Suman pun menjadi viral, menarik simpati dan perhatian dari banyak kalangan. Termasuk tetangga yang tadinya seperti cuek, tidak peduli, kemudian melaporkan kondisi Suman ke pihak pemerintah setempat agar Suman mendapatkan bantuan pengobatan. Laporan tentang kondisi Suman juga disampaikan ke Kepala Polisi Kota Besar Makassar Komisaris Besar Polisi Yudhiawan Wibisono.

SumanSuman mendapat perhatian dari banyak kalangan termasuk kepolisian di Makassar. (Foto: Tagar/Muhammad Ilham)

Yudhiawan Wibisono yang juga mantan Direktur Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan ini pada Rabu pagi, 11 Desember 2019, mendatangi rumah keluarga Suman. Ia berbicara dari hati ke hati dengan Suman layaknya seorang ayah kepada anak. Keduanya berjalan bersama menuju sekolah. Suman terlihat senang. Yudhiawan datang untuk memberikan bantuan pengobatan bagi penyakit aneh Suman.

Petugas dari Dinas Kesehatan setempat juga mengunjungi Suman, membawa Suman ke Rumah Sakit Umum Daya Kota Makassar di Jalan Perintis Kemerdekaan untuk pemeriksaan medis lengkap.

Medi terharu dengan perhatian banyak pihak untuk Suman. “Alhamdulillah, tadi juga tiba-tiba datang orang dari Puskesmas, katanya Suman mau dibawa ke rumah sakit untuk dicek kondisinya. Tadi pas Suman pulang sekolah, ada beberapa orang yang datang ke rumah, sekitar enam orang perawat ke sini."

Warga sekitar kediaman Suman pun merasa senang dan terharu dengan kedatangan petugas dari Dinas Kesehatan Kota Makassar yang memberikan bantuan medis secara cuma-cuma. Dan para tetangga bocah 10 tahun ini berharap penyakit aneh yang dialaminya selama ini dapat segera disembuhkan.

SumanPenjabat Wali Kota Makassar, Iqbal Suhaeb, menjenguk Suman di Rumah Sakit Umum Daerah (RUSD) Daya Kota Makassar. (Foto: Tagar/Muhammad Ilham)

Hari itu menjadi spesial bagi Suman, berbagai bantuan datang ke rumahnya yang hanya beralaskan semen, tak ada kursi. Para pemberi bantuan, lesehan di tikar yang biasa digunakan Suman untuk beristirahat sehabis pulang sekolah.

Hingga tiba waktunya, Suman mendapatakan perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RUSD) Daya Kota Makassar. Penjabat Wali Kota Makassar, Iqbal Suhaeb, adalah orang yang memerintahkan pihak rumah sakit untuk mengobati dan merawat Suman. Iqbal datang ke rumah sakit, menemui Suman dan ibunya. Suman yang sebelumnya terbaring, memakai piyama biru bercorak tokoh kartun, bangkit duduk, menyambut kedatangan Iqbal.

“Kami berinisiatif untuk segera mengobati penyakit Suman ini. Sebentar pukul 15.00 WITA, dia akan dioperasi. Untuk biayanya ditanggung Pemkot Makassar,” kata Iqbal.

Ia sangat salut dengan ketabahan Suman dalam menghadapi penyakit yang dialaminya. Suman tetap gigih untuk tetap melanjutkan pendidikannya, meski mengalami penyakit cukup parah. Kehadiran PJ Walikota Makassar setidaknya memberikan semangat dan dukungan bagi Suman dan keluarga dalam menghadapi cobaan ini.

Keluarga Suman kini dapat bernapas lega, bersyukur, tidak lagi dipusingkan memikirkan biaya pengobatan. Pemerintah Kota Makassar menanggung seluruh biaya operasi hingga Suman sembuh total. Ayah dan ibu Suma berharap operasi akan membuat anaknya menjadi normal, bisa sekolah lagi tanpa di-bully teman-temannya.

Di rumah sakit, Suman menjalani serangkaian tes sampai kemudian dilakukan tindakan operasi oleh tim dokter RSUD Daya Kota Makassar. Berbagai tes dijalani Suman mulai dari tes darah dan urine untuk mengidetifikasi kondisi yang tidak normal, tes Ultrasonography (USG) untuk mengetahui lokasi, ukuran dan penyebaran benjolan pada dada Suman.

Setelah itu, dilakukan tes terakhir pengambilan sampel jaringan benjolan yang kemudian diperiksa di laboratorium (Biopsi). Dari hasil pemeriksaan ini akan diketahui jenis penyakit yang dialami Suman apakah tumor bersifat ganas atau jinak. Ternyata tumor jinak. Suman talah menjalani operasi dengan lancar. Keadaan dadanya sudah rata. Tidak ada benjolan lagi. Tidak ada keluhan lagi. Kini keluarganya tenang. Suman juga bisa ke sekolah dengan tenang. Tidak ada yang mengganggunya lagi. []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Siapa Orang Jawa Pertama Pakai Blangkon?
Blangkon, tutup kepala dibuat dari batik digunakan kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Siapa orang Jawa pertama pakai blangkon?
Ruang Kerja Wagub DKI Sepeninggal Sandiaga Uno
Kursi Wagub DKI Jakarta tak ada yang menduduki sejak Sandiaga Uno mengundurkan diri pada 27 Agustus 2018. 1 tahun 5 bulan kosong, apakah berdebu?
Banjir Makassar Menyisakan Trauma
Di antara suara hujan deras, Imran dan Rahayu menceritakan trauma banjir Makassar 2019. Sangat mengerikan. Hal buruk terjadi pada anaknya.
0
Viral Sidang ZA, Situs PN Kepanjen Malang Diretas
Kasus pelajar bunuh begal di Malang menjadi viral usai ZA didakwa penjara seumur hidup di Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen Malang.
Kontekstualisasi Izin Rumah Ibadah