UNTUK INDONESIA
Reynhard Sinaga dalam Perbincangan Netizen Indonesia
Perspektif beragam netizen Indonesia di Facebook tentang Reynhard Sinaga, mahasiswa S3 di Manchester, pemerkosa 190 pria Inggris.
Reynhard Sinaga. (Foto: Manchester Evening News)

Jakarta - Facebook satu di antara jejaring media sosial favorit netizen Indonesia untuk mengungkapkan pikiran, hari-hari ini hiruk pikuk memperbincangkan Reynhard Sinaga, mahasiswa Indonesia yang memperkosa 190 pria Inggris. Perspekstif mereka beragam. Sudut yang menjadi perhatian juga beraneka ragam. Ada yang menuliskan pikiran secara singkat, ada pula yang panjang. 

Berikut beberapa komentar netizen tentang Reynhard Sinaga.

Gangsar Sukrisno

"Ciri khas media massa Indonesia. Hal yang tidak ada kaitan dengan kejahatan anaknya diungkap. Kenapa kita tidak berhenti pada pelaku dan lantas menyeret-nyeret keluarganya?"

Hasanudin Abdurakhman

"Tadi sekilas saya baca status orang, bunyinya gini: Kan di Inggris homoseksual itu boleh, kenapa Reynhard Sinaga masih memperkosa juga?

Ini pertanyaan orang yang enggak paham beda antara orientasi seksual dengan kejahatan seksual. Yang dilakukan Reynhard itu adalah kejahatan. Kita tidak tahu apa orientasi seksual dia. Tapi kan korbannya laki-laki? Ya. Tapi itu tidak serta-merta memastikan orientasi seksual dia. Seorang hetero (laki-laki) bisa saja memperkosa laki-laki lain. Seorang laki-laki homoseksual bisa saja memperkosa perempuan.

Hubungan seksual, baik secara hetero maupun homo, menurut saya berbeda dengan pemerkosaan. Kita tidak bisa menganalogikan pemerkosaan dengan orang yang lapar lalu mencuri makanan. Pemerkosa sepertinya tidak sedang memenuhi kebutuhan seksual. Apalagi pemerkosa berantai. Ada situasi kejiwaan khusus yang membuat orang memperkosa.

Boleh jadi kepuasan yang dia dapat bukan orgasme, tapi kepuasan karena telah melakukan kekerasan. Sama seperti seseorang yang puas setelah memukuli orang lain, atau bahkan membunuhnya.

Pemerkosaan bukan pemenuhan kebutuhan seksual, tapi penyaluran kelainan jiwa."

Reynhard SinagaReynhard Sinaga. (Foto: Facebook/Reynhard Sinaga)

Erna Gunawan

"Melihat Reynhard Sinaga di media, saya hanya berpikir: bagaimana kehidupan masa lalunya? Bagaimana pola asuh kedua orang tuanya? Bagaimana perjalanan sejarah kejiwaannya? Perilaku kejahatan seseorang tidak pernah muncul secara tunggal dan tiba-tiba.

Kelakuannya memang sangat menyedihkan dan pantas dihukum penjara sangat lama (bahkan seumur hidup... dan seterusnya). Tetapi, tidakkah ia pun pernah memiliki secercah kebaikan?"

Ditya

"Sudah ada yang nanya belom ke korban perkosaan Reynhard Sinaga, 'Siapa suruh keluyuran malam-malam? pakai baju apa waktu itu, baju casual, baju ketat, baju bolong bolong, atau cuma pakai celana dalam?'

Sepertinya kalau korbannya laki-laki bebas dari tudingan-tudingan konyol, tapi kalau korbannya perempuan yang akan dijadikan bahan gunjingan dan tumpuan kesalahan ada di pihak perempuannya. Harusnya pola pikir yang sama juga berlaku untuk korban perkosaan perempuan. Perkosaan adalah tindakan kriminal dan tidak ada relevansinya dengan perilaku keseharian korban."

Ruly Achdiat Santabrata

"Uurrgh. Kami membekali anak-anak kami yang sudah bisa pulang pergi ke sekolah sendiri dengan smartphone yang bisa selalu dideteksi keberadaannya. Mau gimana lagi, boy/girl risikonya sama. Terpaksa Paranoid Parental."

ilus2 opini 7 jan 20Berita tentang Reynhard Sinaga jadi headline di koran Inggris (Foto: bbc.com)

Vika Klaretha Dyahsasanti

"Sebelumnya saya perlu menjelaskan bahwa tulisan ini tak hendak mendiskreditkan LGBTIQ. Penekanan saya adalah pada pemerkosaan yang terjadi. Saya sendiri telah lama menerima LGBTIQ, tidak mengidentifikasikan hal tersebut sebagai penyimpangan, sejak saya membaca di NatGeo bahwa kasus homoseksualitas terjadi pada semua spesies, bukan hanya pada homo sapiens.

Kembali ke topik perkosaan. Hari ini, linimasa saya ramai dengan berita tentang Reynhard Sinaga. Terpidana asal Indonesia kasus perkosaan terhadap 190 pria. Fakta-fakta seputar Reynhard sungguh mencengangkan. Lulusan arsitek dari universitas terkenal Indonesia, master sosiologi dari UK, bahkan saat ditangkap, ia sedang mengambil S3 di Leeds. Berasal dari keluarga bankir kaya. Ia juga terkenal religius, pendiam, dan cukup ganteng. Bukti bahwa kebiadaban bisa dilakukan oleh berbagai kalangan.

Tetapi fakta yang paling menghenyakkan saya tentu saja modus yang ia gunakan untuk mendapatkan korbannya. Reynhard biasanya mendekati pria yang sedang mabuk, tersesat bingung mencari jalan pulang setelah keluar dari klub di malam hari. Dengan berbagai rayuan, para korban akhirnya mampir ke tempat tinggal Reynhard. Ia akan memberi korban minuman beralkohol yang telah dicampur obat bius. Para korban kemudian tak sadarkan diri, saat itulah Reynhard mulai memperkosanya.

Pemerkosaan adalah kejahatan yang sangat biadab. Lebih memprihatinkan lagi, dilakukan seorang terpelajar di negara Barat. Di sana, seks bukanlah hal yang ribet. Dapat dilakukan siapa pun, berbayar atau tidak, tanpa ada tekanan norma dan aturan ketat dari masyarakatnya, sepanjang dilakukan dengan sepakat oleh kedua pihak. Perkosaan hanyalah dilakukan orang biadab, yang bisa jadi dalam kesehariannya selalu gagal membangun relasi dengan orang lain.

Cara yang dilakukan Reynhard itu sangat 'Indonesia', dalam artian ada unsur penipuan yang terlebih dahulu dilakukan sebelum pemerkosaan. Tepatnya, Reynhard memakai cara-cara yang populer dalam kisah-kisah di Indonesia. Tipu menipu. Masih ingat novel Karmila? Tentang mahasiswi kedokteran yang diperkosa setelah lebih dahulu diberi minuman berobat bius.

Saya sendiri, dan saya kira banyak orang lain juga, telah mendengar beratus nasihat agar hati-hati terhadap makanan dan minuman yang diberikan pada kita. Karena bisa jadi berobat bius, untuk kemudian kita jatuh pingsan dan diperkosa. Nasihat yang populer di Indonesia. Bila suatu nasihat terus-menerus disampaikan, bisa jadi perkosaan dengan didahului minuman makanan berobat pembius itu memang terjadi. Bahkan bisa jadi sangat banyak terjadi. Kita hidup di tengah orang-orang yang tak mampu mengendalikan hasrat seksnya (bisa jadi hasrat apa pun) namun tak mampu juga membina hubungan dengan orang lain yang memungkinkannya berhubungan dengan dasar kesukarelaan atau minimal kesepakatan harga.

Penipuan membuat saya mengaitkannya dengan tulisan tentang Mochtar Lubis yang saya baca beberapa waktu sebelumnya. Lubis dalam orasinya, yang kemudian dibukukan dengan judul Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungan Jawab), menyebut ada enam sifat manusia Indonesia yang khas, melekat, dan juga dirasa akan sulit diubah. Keenam sifat tersebut adalah (1) munafik atau hipokrit, (2) enggan dan segan bertanggung jawab, (3) berperilaku feodal, (4) percaya takhayul, (5) artistik, dan (6) berkarakter lemah.

Dalam persidangannya, Reynhard mengaku tidak bersalah karena merasa perbuatannya dilakukan atas dasar suka sama suka. Meski nyata-nyata video bukti menunjukkan korban-korban yang tertidur, bahkan mengorok saat diperkosa. Ia, seperti kata Lubis, enggan bertanggung jawab. Juga hipokrit, karena meski disinyalir telah 10 tahun lebih sering memperkosa, Reynhard menunjukkan kesehariannya sebagai religius.

Entah pemerkosa bisa ditambahkan sebagai salah satu sifat manusia Indonesia atau tidak, sebab dibutuhkan data yang terpercaya dan riset yang panjang untuk itu. Tetapi satu hal, saya kini memaknai pemerkosaan tak sebatas perkosaan fisik, melainkan melekat pada segala sesuatu yang dilakukan dengan paksaan dan merampas milik orang lain. Pengebirian hak-hak liyan.

Maka perkosaan juga terjadi pada ranah budaya. Misalnya pemaksaan pemakaian atribut tertentu dengan dalih moral. Sementara yang dianggap mereka moral itu bisa jadi sebenarnya hanyalah nilai-nilai parsial, suatu nilai yang tidak universal. Dalam artian, tak semua bersepakat.

Akhirnya, pemerkosaan, baik secara fisik ataupun kiasan, aalah perbuatan super keji dan biadab."

Reynhard SinagaReynhard Sinaga. (Foto: Facebook/Reynhard Sinaga)

Sinta Yudisia

"Sisi Psikologis Reynhard Sinaga : Seberapa Jauh Kita Paham tentang Perkosaan?

Ngeri dan ngilu tiap kali membaca, mendengar atau melihat laporan berita perkosaan. Kita berharap jangan sampai diri kita dan setiap anggota keluarga mengalami perkosaan atau nauzubillahi minzalik, menjadi pelakunya. Begitu kasus Reynhard Sinaga (RS) mencuat, hati ini bertanya-tanya, mengapa kejahatan semacam itu bisa terjadi berulang kali? Seharian ini pikiran dan perasaan resah. Berjam-jam membaca berbagai macam referensi dan hasilnya, sungguh membuat saya pribadi merenung. RS diduga melakukan perkosaan sebanyak 195 kali atau lebih. Kasusnya terbongkar 2017 dan sepanjang 2018-2019 menjalani 4 kali sidang. Hasilnya ia dinyatakan bersalah dan mendapatkan hukuman penjara seumur hidup.

Definisi dan jenis perkosaan

'Rape' atau perkosaan didefinisikan sebagai penetrasi pada V atau anal tanpa persetujuan pemiliknya. Penetrasi bisa menggunakan alat kelamin, jari atau objek lainnya sementara objek penetrasi bisa bervariasi antara V, anal, oral. Terdapat berbagai jenis perkosaan seperti penetrative rape, statutory rape, date rape, male rape, dan sebagainya. Ada pula perkosaan dengan ditambahkan penganiayaan.

Ada sebuah penelitian unik tentang perkosaan.

Para peneliti mengumpulkan lebih dari 1.800 responden laki-laki dan mereka diminta untuk mengisi kuesioner. Bentuk pertanyaannya tidak langsung seperti , “Apakah kamu pernah memperkosa orang?” Pertanyaan seperti ini pastilah akan mendapat jawaban “no”. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan antara lain:

Apakah kamu pernah melakukan hubungan intim dengan orang di mana orang tersebut dalam kondisi mabuk?

Apakah kamu pernah menampar pasanganmu saat ingin melakukan hubungan intim?

Apakah kamu pernah menggunakan kekuatan fisik seperti mencekik, memuntir, saat meminta hubungan intim?

Dan sebagainya.

Ketika pertanyaan-pertanyaan yang dengan hati-hati disusun tersebut dilontarkan, mengejutkan sekali betapa banyaknya orang yang merasa tidak melakukan perkosaan. Terlebih lagi, banyak korban yang tidak sadar mereka sedang dianiaya atau diperkosa. Para peneliti kemudian membagi menjadi “rape, attempted rape dan sexual assault.” Percobaan perkosaan yang dilakukan berulang dan tak ada korban atau lingkungan yang sadar, membuat pelaku suatu saat benar-benar melakukan tindak pemerkosaan.

Pernah terjadi, sepasang kekasih yang sudah kelewat batas berpacaran; setiap kali si cowok meminta layanan intim ia akan menyundut ceweknya dengan rokok. Juga mengancam bunuh diri jika cewek itu meninggalkannya. Emosi cewek yang serba kasihan dan tak ingin ditinggal, membuat si cewek mengabulkan apa pun permintaan cowok. Mungkin hubungan itu tampaknya berjalan suka sama suka, tetapi peristiwa menyundut rokok itu sebetulnya sudah masuk 'attempted rape'.

Mitos Perkosaan

Terdapat banyak mitos di tengah masyarakat sehingga perkosaan termasuk jenis kejahatan yang sulit dideskripsikan, didefinisikan, juga dikontrol.

Perkosaan dilakukan oleh orang asing

Pemerkosa adalah orang gila atau psikotik

Kebanyakan pemerkosa terlihat 'berbeda’ dan tidak seperti kita

Ketika melihat dua orang lelaki misalnya, yang satu bertato dan satunya lagi mengenakan pakaian rapi; kita sudah punya asumsi bahwa orang bertato pasti lebih jahat. Padahal belum tentu demikian! Kasus Harvey Weinstein mencengangkan dunia. Ia seorang produser film kenamaan yang memproduksi Pulp Fiction, Heavenly Creature, Shakespeare in Love yang terjungkal oleh gerakan #MeToo , sebuah gerakan untuk berani angkat suara menghadapi kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan.

Mitos yang kita yakini ini membuat kita lebih waspada terhadap orang asing, psikotik, atau yang tampilannya beda dengan orang pada umumnya. Padahal pelaku pemerkosaan bisa jadi orang terdekat, orang waras dan orang yang kesehariannya mirip dengan kita! Karenanya kasus pemerkosaan bisa terjadi di sekolah, kampus, atau tempat kerja. RS sama sekali bukan seorang psikotik. Ia tidak tampak berbeda secara fisik, malah terlihat sama seperti seorang karyawan dan mahasiswa yang stylish.

Reynhard SinagaSisa botol minuman keras di apartemen Reynhard Sinaga. Para korban ditawari minum dan dibubuhi obat bius, kata polisi. (Foto: Greater Manchester Police)

Sehatkah Mental Pemerkosa?

Sejauh ini diduga ada 4 hal yang menyebabkan seseorang menjadi pemerkosa :

1. Kerusakan otak. 3,9% pemerkosa di Swedia mengalami kerusakan otak. Penyebabnya tentu beragam mulai benturan, obat-obatan, trauma, dan seterusnya.

2. Parafilia, adanya gangguan kepribadian yang mengarah pada perilaku seksual menyimpang seperti voyeurism, fetis, ekshibisionisme, sadistic, masokis, dan sebagainya.

3. Attachment problems. Adanya disfungsi dalam relasi keluarga dengan sesama anggota keluarga. Tidak memiliki kelekatan dengan orang-orang terpenting dalam hidup seperti ayah, ibu, saudara, dan sebagainya.

4. CD atau cognitive distortion. Punya pola pikir yang salah terkait beberapa sudut pandang. Misal perempuan adalah objek seks. Atau, orang dalam kondisi lemah lebih tepat dijadikan objek pemuas (orang pingsan, dirampok, atau diperkosa).

Riwayat Klinis Seseorang

Selain 4 hal di atas, kita harus mewaspadai diri kita sendiri dan orang-orang di sektiar kita yang mengalami berbagai hal psikologis sebagai berikut. Hal ini bukan untuk melabeli seseorang, tetapi untuk bersegera mencari solusi atas permasalahan yang terjadi.

a. Pengalaman awal di masa hidup. Masa kanak-kanak adalah masa sangat penting. Manusia yang kehilangan momen bahagia dan kasih sayang di masa ini, cenderung mencari pemuasan dalam hal seks atau dalam bentuk agresifitas. Marilyn Monroe, Jack the Ripper, Adolf Hitler adalah beberapa contoh orang yang mengalami masa kecil demikian buruk sehingga mencari pelampiasan dalam bentuk seks atau agresi.

b. Riwayat sekolah: menjadi korban atau pelaku bullying, konflik dengan otoritas (guru, orang tua, kepala sekolah, dan seterusnya) harus menjadi perhatian. Ketidakmampuan untuk menjalin relasi sehat dengan orang seusia dan orang yang lebih tua akan membawa dampak.

c. Riwayat pekerjaan: gonta ganti pekerjaan? Keluar masuk? Bagaimana seseorang mengatasi konflik dengan rekan kerja dan atasan , harus menjadi catatan.

d. Catatan psikoseksual: riwayat psikoseksual harus menjadi catatan khusus dan mendapatkan perhatian tentang bagaimana penanganan berlangsung. Apakah lebih senang masturbasi dan nonton pornografi ketika stres? Apakah senang menggosokkan alat kelamin ketika masih anak-anak ketika ketakutan? Dan seterusnya.

e. Riwayat penyerangan/ agresifitas : jika pernah melakukan tindakan sangat agresif, berhati-hatilah

f. Minat, hobi, skill, teman: mereka yang memiliki hobi, menguasai skill, dan memiliki teman berarti memiliki kehidupan mental yang lebih sehat.

g. Personality/ kepribadian: bagaimana cara seseorang menghadapi masalah? Apakah self imagenya bagus? Bagaimana perilakunya? Dan seterusnya.

h. Riwayat forensic & psikiatrik sebelumnya: apakah pernah memiliki sejarah kekerasan, menyerang orang, termasuk gangguan psikiatrik lainnya seperti skizofrenia dan seterusnya.

Analisa Reynhard Sinaga

Melihat paparan di atas, ada beberapa hal yang sepertinya paradoks tentang ciri pemerkosa dan sebab-sebab seseorang menjadi pemerkosa. Reynhard cerdas, menarik, banyak teman. Terlihat hangat dan yang juga perlu digarisbawahi, ia cerdas dan berprestasi.

Tetapi berbicara tentang brain injury atau brain damage, ada kemungkinan ia terbiasa mengkonsumsi alkohol dan meng-oplosnya sehingga menyebabnya beberapa fungsi otak terganggu. Ia tak dapat melakukan high thinking order untuk memilah, memilih, menimbang, mengorganisasikan.

Di samping itu, ia telah melakukan beberapa upaya ofensif seperti percobaan permerkosaan atau perkosaan itu sendiri. Sedihnya, diperkirakan 39 persen pemerkosa sekalipun telah menjalani perawatan akan mengulangi lagi perilaku ofensifnya. Apalagi pelaku yang sama sekali tidak menjalani perawatan psikiatrik dan psikologis! Tentu, akan mengulangi kesalahan fatalnya lebih sering lagi.

Hukuman terhadap RS telah ditetapkan.

Mari kita tarik hikmah di baliknya, semoga tidak ada lagi korban atau yang lebih parah lagi, menciptakan pelaku. Seseorang dapat menjadi pemerkosa bila :

1. Mengalami brain damage, boleh jadi karena trauma (trauma keluarga, bully, penganiayaan seksual); oleh obat-obatan atau pornografi

2. Tidak memiliki kelekatan yang baik dan kuat dengan orang tua

3. Mengalami masa kecil yang tidak membahagiakan

4. Masa sekolah yang banyak masalah

5. Terbiasa attempted rape tapi tak ada orang yang menyadari

6. Pernah melakukan kekerasan seksual dan tidak segera menjalani perawatan kesehatan mental

Semoga RS adalah orang terakhir yang melakukan kejahatan mengerikan tersebut. Kita harus mewaspadai diri sendiri dan orang-orang terkasih di sekeliling kita agar mereka tidak menjadi korban, pun tidak menjadi pelaku." []

Baca juga:

Berita terkait
Tujuh Perbuatan Keji Predator Seks Reynhard Sinaga
Reynhard Sinaga terlibat 159 kasus perkosaan dengan korban 48 pria. Perbuatan keji predator seks ini diganjar hukuman bui seumur hidup.
Pemerkosa 190 Pria Reynhard Sinaga Cerdas dan Santun
Reynhard Sinaga, pelaku pemerkosaan 190 pria di Inggris, saat SMP dikenal pelajar cerdas dan santun. Berikut penuturan gurunya.
Komunitas Gay Komentari Kasus Reynhard Sinaga
Reynhard Sinaga seorang gay, mahasiswa Indonesia, memperkosa 159 sampai 190 pria Inggris. Ini komentar komunitas gay di Surabaya.
0
Unggah Foto Syur Tara Basro Terancam 6 Tahun Penjara
Menggunggah foto seksi di media sosial, artis Tara Basro terancam hukuman 6 tahun penjara, juga denda yang tak sedikit.