UNTUK INDONESIA

Respons KPU Terhadap Keputusan DKPP Pecat Arief Budiman

Keputusan DKPP memberhentikan Arief Budiman sebagai Ketua KPU dianggap bentuk putusan yang berlebihan.
Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia Arief Budiman. (Foto: Dok BNPB)

Jakarta - Anggota Komisi Pemilihan umum (KPU) Evi Novida Ginting Manik menilai keputusan Dewan Kehormatan Penyelenggaraan Pemilu (DKPP) memberhentikan Arief Budiman sebagai Ketua KPU merupakan bentuk putusan yang berlebihan. 

"Berlebihan menurut saya hukuman ini diberikan kepada pak Ketua KPU. Apalagi surat yang beliau keluarkan untuk menyampaikan SK Presiden tentang pembatalan SK pemberhentian saya tersebut," kata Evi Novida Ginting Manik, di Jakarta, Rabu, 13 Januari 2021. 

Itu kan karena Presiden melalui Mensekneg menyampaikan SK tersebut kepada Ketua KPU untuk disampaikan kepada saya.

Baca juga: Siapa Evi Novida Ginting yang Dipecat Jokowi

Surat soal Evi kembali aktif lagi sebagai Anggota KPU tersebut menurut dia sebagai respon karena Presiden Joko Widodo melalui Mensekneg menyampaikan SK pembatalan pemberhentian Evi kepada Ketua KPU. 

"Itu kan karena Presiden melalui Mensekneg menyampaikan SK tersebut kepada Ketua KPU untuk disampaikan kepada saya," ujarnya. 

Dan surat tersebut lanjut Evi sudah diparaf oleh semua anggota KPU lainnya (5 anggota). Hai itu membuktikan surat penyampaian SK pembatalan pemberhentian Evi bukan keputusan pribadi Arief Budiman sebagai Ketua KPU. 

"Jadi apalagi yang diperlukan DKPP untuk membuktikan bahwa surat yang dikeluarkan oleh Ketua KPU adalah surat yang sudah disetujui oleh pleno dan surat atas nama lembaga. Ketua itu kan simbol lembaga," ucap-nya.

Evi pun mengaku sedih atas keputusan DKPP tersebut karena Arief Budiman tak seharusnya menerima putusan tersebut. 

"Sedih lah wong saya bukan peserta pemilu dan hampir 4 tahun beliau menjadi kolega, waktu kejadian itu saya sudah masukkan gugatan (ke PTUN Jakarta) di pagi hari nya via 'Ecourt'," ujarnya.

Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) menjatuhkan sanksi terhadap Arief Budiman yakni pemberhentian dari jabatan Ketua KPU RI. 

Baca juga: Evi Novida Ginting Kembali Jabat Anggota KPU RI

Arief Budiman terbukti melakukan pelanggaran kode etik dan pedoman perilaku penyelenggara pemilu karena mendampingi atau menemani Evi Novida Ginting Manik yang telah diberhentikan DKPP pada 18 Maret 2020 untuk mendaftarkan gugatan ke PTUN Jakarta. 

Tindakan Arief Budiman menerbitkan Surat KPU Nomor 663/SDM.13-SD/05/KPU/VIII/2020 dengan menambah klausul yang meminta Evi Novida Ginting Manik aktif melaksanakan tugas sebagai anggota KPU Periode 2017-2022 merupakan tindakan penyalahgunaan wewenang dalam kedudukan sebagai Ketua KPU RI. 

Yang sepatutnya menurut pertimbangan putusan Majelis DKPP Ketua KPU RI harus memastikan seluruh kerangka hukum dan etika dalam setiap tindakannya. 

Selanjutnya, Arief menurut Majelis DKPP juga terbukti tidak mampu menempatkan diri pada waktu dan tempat di ruang publik karena dalam setiap kegiatan Arief di ruang publik melekat jabatan sebagai ketua KPU. 

Arief juga terbukti menyalahgunakan wewenang sebagai Ketua KPU mengaktifkan kembali Evi Novida Ginting Manik dan bertindak sepihak menerbitkan surat 663/SDM.13-SD/05/KPU/VIII/2020. DKPP berpendapat Arief tidak lagi memenuhi syarat untuk menyandang jabatan Ketua KPU. []

Berita terkait
DKPP Berhentikan Ketua KPU Boven Digoel dan Bawaslu Luwu
DKPP memberhentikan dua ketua penyelenggara pemilu, yakni Ketua KPU Kabupaten Boven Digoel dan Ketua Bawaslu Kabupaten Luwu.
DKPP Jadwalkan Sidang Putusan 12 Perkara Tanpa Pengunjung
DKPP menjadwalkan sidang kode etik penyelenggara pemilu dengan agenda pembacaan putusan terhadap 12 perkara pada Rabu, 23 Desember 2020.
Presiden Jokowi Pulihkan Nama Baik Evi Novida Ginting
Presiden Jokowi memulihkan nama baik Evi Novida Ginting melalui Keppres Nomor 83/P Tahun 2020 Tentang Pencabutan Keppres Nomor 34/P Tahun 2020.
0
Respons KPU Terhadap Keputusan DKPP Pecat Arief Budiman
Keputusan DKPP memberhentikan Arief Budiman sebagai Ketua KPU dianggap bentuk putusan yang berlebihan.