Banda Aceh, (Tagar 9/10/2018) –  Merespons musibah bencana gempa dan tsunami yang terjadi di Palu-Donggala, Sulawesi Tengah, Aksi Cepat Tanggap dengan Masyarakat Relawan Indonesia mengirimkan lima orang relawan. Tim relawan yang dikirim terdiri atas dr teuku Muhammad Iqbal sebagai tenaga medis, Zulfikar dan Mursalin sebagai tim assesment dan distribusi serta Ibnu Khaldun dan Rozi sebagai tim rescue.

Kelima relawan berangkat pada Minggu (7/10) sore via Bandara Sultan Iskandar Muda Blang Bintang untuk selanjutnya transit di Bandara Soekarno Hatta Tangerang. Tim relawan melanjutkan penerbangan ke Makassar pada Senin (8/10) dan tiba di sana pukul 07.00 WITA.

Husaini Ismail selaku kepala Aksi Cepat Tanggap Aceh mengatakan, pengiriman lima orang relawan ke sana dalam rangka membersamai Palu–Donggala karena memang Palu–Donggala masih butuh banyak sekali bantuan.

Relawan Aksi Cepat TanggapAksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh mengirimkan lima relawan bantu korban Palu-Donggala. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

“Relawan ACT-MRI terus saja dikirim dari berbagai daerah di Indonesia. Baik itu tim rescue, medis, assessment dan lainnya," kata Husaini kepada wartawan, Selasa (9/10).

Sementara pada Senin (8/10), pihak ACT juga mengirimkan 1.000 ton bantuan kemanusiaan yang terdiri atas beras, sembako, air mineral, obat-obatan, selimut, tenda dan lainnya melalui Surabaya.

"Kita dari ACT Aceh selalu siap menampung segala bantuan untuk kita salurkan ke Sulawesi Tengah. Semua bergerak, saling bahu membahu meringankan duka saudara-saudara terdampak bencana," ujarnya.

Saat tiba di Makassar, sambung Husaini, tim relawan dari Aceh langsung bergabung dengan 18 relawan ACT yang sudah tiba terlebih dahulu, relawan berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Salah satu tim relawan assessment dari Aceh, Zulfikar menambahkan, sebelum memutuskan untuk berangkat ke Palu tim relawan dari Aceh sudah mempersiapkan segala hal jauh-jauh hari terutama menyangkut dengan mental.

“Mental menjadi modal utama kita turun ke lokasi bencana, berhubung yang kita hadapi ini bukanlah situasi normal,” ungkap pemuda yang juga pernah terlibat sebagai relawan gempa Pidie Jaya.

Seluruh relawan ini, nantinya akan ditugaskan bersama tim masing-masing sesuai kemampuan yang dimiliki. Pengarahan dan lokasi penempatan akan langsung dibagi begitu mereka tiba di posko Induk di Kota Palu.

Saat ini, evakuasi masih menjadi salah satu agenda utama Tim Rescue Emergency Response ACT. Apalagi mengingat medan yang hancur terbilang parah, belum lagi ada wilayah-wilayah yang tertutup lumpur sehingga semakin menyulitkan proses evakuasi. Kondisi jenazah yang dievakuasi pun banyak yang sudah tidak utuh lagi, sehingga harus segera dilakukan pemakaman agar menghindari munculnya risiko lain.

Selain itu, Dapur Umum juga telah diaktivasi di berbagai titik pengungsian di Palu, Sigi dan Donggala. Masih banyak kebutuhan di berbagai titik lainnya mengingat jumlah pengungsi mencapai puluhan ribu jiwa.

Sementara itu, kapal kemanusiaan mengantarkan 1.000 ton bantuan untuk Palu-Donggala.
Pangan, medis, dan logistik kian mendesak dibutuhkan oleh penyintas gempa dan tsunami di Palu, Donggala, Sigi, dan wilayah terdampak lainnya di Sulawesi Tengah (Sulteng). Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memberangkatkan kapal kemanusiaan untuk Palu dan Donggala.

Pemberangkatan kapal kemanusiaan menjadi ikhtiar serius penanganan kedaruratan, setelah lebih dari sepekan bencana tersebut melumpuhkan ibu kota Sulteng dan sekitarnya.
Kapal kemanusiaan berangkat pada Senin (8/10) dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya menuju Pelabuhan Taipa, Palu.

Senior Vice President ACT sekaligus Presiden Global Wakaf N Imam Akbari mengatakan, betapa besarnya dampak bencana di Palu dan Donggala. Hampir semua sendi kehidupan di Palu lumpuh, terlihat dari krisis yang melingkupi wilayah tersebut selama sepekan terakhir. Tidak hanya korban jiwa dan luka, gempa dan tsunami juga menghancurkan infrastruktur serta membuat pangan, air bersih, dan logistik menjadi langka. Bahkan krisis juga terjadi di daerah lain, seperti Parigi Moutong dan Sigi.

“Dampak bencana Palu dan Donggala amat besar, oleh karena itu kami juga berikhtiar besar untuk mendampingi warga terdampak di masa tanggap darurat ini. Evakuasi dan layanan medis masih berlangsung. Bantuan logistik dan pangan terus didistribusikan dari berbagai wilayah di Indonesia,” papar Imam, Senin (8/10).

Bencana Palu dan Donggala menggugah empati dari berbagai elemen masyarakat Indonesia, termasuk PT ASDP Ferry Indonesia (Persero). Bersama ACT, BUMN di bidang transportasi laut tersebut menyiapkan kapal berkapasitas 1.000 ton untuk melayarkan bantuan ke Palu. Kapal tersebut yakni KM Melinda, kapal yang didapuk sebagai kapal kemanusiaan untuk Palu dan Donggala.

Rudi Hanafiah selaku General Manager PT ASDP Ferry Indonesia Cabang Surabaya mengatakan, dalam setiap peristiwa bencana, ASDP selalu membantu dan mengirimkan armadanya. Hal ini mengingat ASDP memiliki armada yang cukup memadai dan efektif menjangkau lokasi bencana di seluruh Indonesia.

“Secara khusus kami memiliki kapal dan kapasitas angkut secara besar, oleh sebab itu kami perlu bekerja sama dengan pihak yang lebih berpengalaman (ACT) dalam pendistribusian bantuan ke lokasi bencana,” terang Rudi.

Apalagi, imbuh Rudi, kapal yang mengusung bantuan kemanusiaan ke Palu ini diberangkatkan dari dermaga Ujung, Tanjung Perak Surabaya.

“Ini adalah kali pertama kapal bantuan berangkat dari Surabaya dalam kapasitas besar. Oleh sebab itu, ini kesempatan besar membantu saudara-saudara kita di Palu,” jelasnya.

Selain melalui Surabaya, ASDP sebelumnya telah memberangkatkan kapal bantuan yakni KMP Julung julung dari Toli Toli Sulawesi Utara ke Palu dan KMP Drajat Paciran dari Surabaya ke Palu.  ASDP berkomitmen  mengirimkan bantuan ke Palu melalui beberapa kota, yakni Balikpapan, Mamuju, Toli Toli, Bitung, Surabaya dan Jakarta.

Kapal kemanusiaan juga membawa ambulans. Adapun lima ratus ton beras dikumpulkan langsung dari Kabupaten Blora dan sekitarnya. Ratusan ton beras dipanen oleh petani lokal binaan Global Wakaf-ACT, melalui program Lumbung Pangan Wakaf (LPW).

Ratusan ton sisanya berupa sembako, air mineral, obat-obatan, pakaian baru, paket sanitasi, kebutuhan pangan bayi dan balita, selimut, tenda, dan lainnya. Berbagai jenis bantuan pangan dan logistik dihimpun dari masyarakat Indonesia, seperti dari Blora, Ngawi, Bojonegoro, Yogyakarta, Solo, Semarang, Malang, dan Surabaya. Semua dihimpun sejak Rabu (3/10) hingga Ahad (7/10) di gudang Indonesia Humanitarian Center (IHC) Surabaya yang berada di Pelabuhan Tanjung Perak.

“Ini menandakan betapa besarnya empati dan kepedulian masyarakat Indonesia terhadap derita saudara-saudaranya yang tertimpa bencana di Palu dan sekitarnya. Semoga animo kepedulian ini bisa terus membersamai warga Palu, Donggala, dan Sigi hingga masa pemulihan nanti,” pungkas Imam.

Keberangkatan kapal kemanusiaan untuk Palu dan Donggala diikuti keberangkatan kapal serupa dari wilayah lainnya, seperti Jakarta, Aceh, dan Medan. Tidak hanya itu, logistik juga akan terus dikerahkan dari berbagai daerah untuk pemenuhan kebutuhan dasar bagi penyintas gempa dan tsunami di Palu. []