UNTUK INDONESIA
Rekam Jejak Raja Keraton Agung Sejagat di Purworejo
Parade bregada Keraton Agung Sejagat di Purworejo viral. Masyarakat resah. Kemudian raja dan permaisurinya ditangkap. Siapa sosok raja itu?
Dua orang yang mengaku Raja Keraton Agung Sejagat Toto Santoso dan Permaisuri Fanni Aminadia duduk di singgasana. (Foto: Grup Facebook/Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta - Tiga pria berpakaian hitam-hitam berjalan membawa pataka dan bendera Keraton Agung Sejagat. Langkah mereka diiringi suara tipuan suling dan tabuhan drum yang ritmenya pelan.

Di belakang ketiga pria berpakaian hitam-hitam tersebut, berbaris rapi bregada atau pasukan drum band dengan seragam yang sama. Masing-masing mereka memegang satu alat musik.

Langkah mereka yang pelan dan teratur, diikuti oleh bregada lain di belakangnya, yakni pasukan tombak. Para anggota pasukan tombak mengenakan pakaian kuning dengan bawahan merah.

Beberapa warga dan pengguna jalan yang menyaksikan kirab budaya Keraton Agung Sejagat tersebut, bersorak menyaksikan barisan bregada yang menyusuri jalanan aspal yang tidak mulus itu.

Setelah barisan bregada tombak selesai, giliran pasukan panah yang terdiri dari beberapa perempuan, berbaris dengan busur dalam genggaman tangan kiri mereka.

Barisan bregada itu tidak hanya sampai di situ. Di belakang pasukan srikandi tersebut, beberapa pria yang mengenakan surjan atau pakaian adat Jawa berwarna hitam, lengkap dengan blangkonnya, membawa semacam seserahan. Entah entah apa isi seserahan atau sesajen itu.

Lalu, pasukan perempuan berkebaya merah mengikuti di belakang para pembawa seserahan tadi. Kemudian pasukan lain yang juga bersurjan hitam berjalan setelahnya. Mereka membawa gunungan yang terbuat dari beragam hasil bumi.

Di kejauhan terlihat pasukan berkuda. Tapi di depan pasukan berkuda itu, masih ada bregada lain yang mengenakan pakaian serupa pakaian dinas upacara (PDU) untuk kepala daerah, berwarna putih, diikuti oleh pasukan dengan seragam menyerupai PDU berwarna hitam.

Empat baris pertama dari bregada berpakaian mirip PDU warna hitam tersebut, membawa pataka dan umbul-umbul berwarna putih. Jumlahnya antara delapan hingga sembilan lembar.

Tiba-tiba beberapa warga yang menonton kirab tersebut kembali bersorak, saat seorang pria berkuda dengan setelan pakaian merah-merah, tiba di lokasi itu.

Pria itu adalah "Raja" Keraton Agung Sejagad, Toto Santoso. Toto melambaikan tangannya pada warga yang berkerumun. Bibirnya menyunggingkan senyum, seperti seorang pejabat yang menyapa rakyatnya.

Meski duduk di atas kuda, tapi bukan Toto yang mengendalikan kuda itu. Dua pemuda terlihat berada di samping kiri dan kanan depan kuda yang dinaiki Toto. Keduanya yang memegang tali kekang kuda.

Di belakang Toto, menyusul seorang wanita yang juga mengendarai kuda, dia tidak lain "Permaisuri" Keraton Agung Sejagat. Wanita yang mengklaim gelar Kanjeng Ratu Dyah Gitarja ini, bernama asli Fanni Aminadia.

Hampir sama dengan yang dilakukan Toto, Fanni juga melambaikan tangannya pada warga yang menyaksikan kirab tersebut. Beberapa warga berbisik dengan sesama penonton, mengatakan bahwa itulah permaisuri raja.

Selanjutnya, hadir lagi wanita berkuda, tapi pakaiannya berbeda dengan Toto maupun Fanni. Para perempuan itu mengenakan pakaian berwarna putih. Beberapa warga bercanda sambil mengatakan itu adalah para selir.

Kami muncul menunaikan janji 500 tahun runtuhnya Kerajaan Majapahit pada tahun 1518.

Di belakang para wanita berpakaian putih itu, ada beberapa pria berkuda yang mengenakan kemeja putih dengan selendang merah yang diselempangkan di dada. Seluruh kuda yang diikutkan kirab dijaga oleh masing-masing dua pemuda. Mereka yang memegang tali kekang.

Seekor kuda sempat hendak mengamuk. Kuda itu sudah mengangkat kedua kaki depannya, menyebabkan penonton di sekitarnya menyingkir. Beruntung, dua pemuda yang memegang tali kekang bisa mengendalikan kuda itu.

kirab keraton agung sejagatKirab upacara wilujengan Keraton Agung Sejagat menjadi tontonan warga sekitar di Purworejo, Jawa Tengah. (Foto: Grup Facebook/Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Video acara Wilujengan dan Kirab Budaya Keraton Agung Sejagat yang digelar pada Jumat 10 Januari 2020 hingga Minggu 12 Januari 2020 tersebut viral di media sosial.

Bukan hanya melaksanakan kirab, Toto juga mengklaim sebagai Raja Keraton Agung Sejagat, yang istananya berada di Desa Pogung, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Dari video yang beredar, Toto dan Fanni juga melakukan ritual yang digelar pada malam hari. Dalam ritual itu, Toto menyatakan bahwa dirinya adalah keturunan Dinasti Sanjaya dan Syailendra.

"Ingsun anyekseni sejatineng ingsun kang sejati, kang urip tan keno pati langgeng saklawase (Saya bersaksi sejatinya sayalah yang sejati, yang hidup tanpa mati, langgeng selamanya)," ucap Toto saat meresmikan pendopo kerajaan.

Dia juga menjelaskan gelarnya, yakni Toto Santoso Hadiningrat Sri Notonegoro Sri Marwesmara Madusudana Awataranindita Suhtrisinga Parakrama Atunggadewa Sang Hyang Manikmaya Sang Hyang Batara Indra.

Keraton Agung Sejagat Menguasai Seluruh Dunia

Melalui media, Toto juga mengklaim kerajaannya memiliki kekuasaan di seluruh dunia. Kerajaannya menunaikan janji 500 tahun setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit.

"Kami muncul menunaikan janji 500 tahun runtuhnya Kerajaan Majapahit pada tahun 1518," ucapnya saat menggelar jumpa pers di ruang sidang ‘keraton’, Minggu 12 Januari 2020.

Dia juga menyatakan bahwa dirinya memiliki misi untuk menjadi juru damai dunia. Olehnya itu, dia mengumumkan pada dunia bahwa Keraton Agung Sejagat merupakan induk dari pada seluruh kerajaan dan pemerintahan yang ada di dunia ini. "Menyatakan sebagai juru damai terhadap konflik yang terjadi di seluruh dunia," ungkapnya dalam video.

Tidak tanggung-tanggung, Toto bahkan mengklaim bahwa kerajaannya memiliki kelengkapan di Eropa. Pentagon di Amerika Serikat pun merupakan kelengkapan kerajaannya.

"United Nation adalah parlemen dunia. International Court of Justice dan Defence Council. Pentagon itu dewan keamanan kerjaan kami, bukan punya Amerika Serikat,” klaimnya.

Keraton Agung Sejagat Meresahkan lalu Ditangkap

Kegiatan dan pernyataan Toto yang kemudian viral, akhirnya ditanggapi oleh pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo. Terlebih pihak "kerajaan" menarik biaya sebesar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta untuk masyarakat yang ingin bergabung menjadi anggota atau bagian dari kerajaan itu.

Pemkab Purworejo menilai kegiatan Keraton Agung Sejagat meresahkan masyarakat. "Ini jelas sudah meresahkan masyarakat," tutur Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemkab Purworejo Rita Purnomo, Selasa 14 Januari 2020.

Kata Rita, dari penjelasan beberapa saksi, anggota Keraton Agung Sejagat berasal dari berbagai daerah, bahkan ada yang datang dari luar Pulau Jawa.

upacara wilujengan keraton sejagatUpacara wilujengan Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah. (Foto: Grup Facebook/Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Sementara, Asisten III Bidang Administrasi dan Kesra Setda Purworejo, Pram Prasetyo Achmad, menilai ada penyimpangan sejarah oleh Toto Santoso, yang mengklaim sebagai pewaris sah Majapahit bergelar Sinuhun Totok Santoso Hadiningrat.

"Ini terjadi pembodohan publik terkait sejarah dan kebudayaan. Seandainya budaya maka aspeknya harus dipenuhi. Semisal lembaga keormasan maka yang terkait dengan itu juga harus dipenuhi," ujar Pram.

Akibat kegiatan yang dinilai meresahkan masyarakat, Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah kemudian mendalami, dan mengamankan Toto beserta istrinya pada Selasa, 14 Januari 2020.

Keduanya diamankan oleh tim Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah (Jateng), dan dibawa ke Mapolda Jateng.

Ini terjadi pembodohan publik terkait sejarah dan kebudayaan. Seandainya budaya maka aspeknya harus dipenuhi.

Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Jateng, Kombes Pol Iskandar Fitriana Sutisna, membenarkan hal itu. "Iya mas. Malam ini diamankan oleh Reskrimum Polda Jateng dan masih dalam perjalanan," jelasnya.

Kabid Humas menambahkan, keduanya diamankan karena diduga menyiarkan berita bohong terkait berdirinya keraton Agung sejagad di wilayah Purworejo, Jawa tengah yang sudah viral di masyarakat.

Fitriana Sutisna mengatakan keduanya terancam dijerat dengan pasal 14 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang penyiaran berita bohong. "Barang siapa menyiarkan berita atau pemberitaan bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat di hukum maksimal 10 tahun dan atau pasal 378 KUHP tentang Penipuan," jelasnya

Toto juga disebut-sebut sempat bergabung dalam Jogjakarta Development Committee” atau Jogja DEC pada 2016 lalu. Saat itu dia mengatakan, Jogja DEC didirikan dengan penuh welas asih untuk memanusiakan manusia.

Waktu itu Toto yang menjadi Dewan Wali Amanat Panitia Pembangunan Dunia untuk Wilayah Nusantara, juga menyatakan bahwa Jogja DEC berbeda dengan Gafatar ataupun Gafatar jilid dua, serta bukan teroris.

Jogja DEC, kata dia, memiliki jaringan setingkat dunia yang didanai lembaga keuangan tunggal dunia, ESA Monetary Fund yang berpusat di Swiss.

Toto kala itu mengatakan, organisasi ini akan memberikan dana antara 50 hingga 200 dollar AS pada anggotanya. Hingga kini anggotanya belum dan pasti tidak tidak akan mendapatkan dana itu. []

Baca Juga:

Berita terkait
Rumah Raja Keraton Agung Sejagat di Sleman Digeledah
Rumah kontrakan Raja Keraton Agung Sejagat di Sleman digeledah kepolisian. Rumah berkedok angkringan ini biasa digunakan untuk kegiatan anggotanya.
Jadi Anggota Keraton Agung Sejagat Bayar Rp 3 Juta
Anggota Kerajaan Agung Sejagat Purworejo mencapai sekitar 400 orang. Mereka dimintai uang Rp 2-3 juta untuk bisa jadi anggota.
Polisi Tangkap Raja-Permaisuri Keraton Agung Sejagat
Dua orang yang mengaku raja dan permaisuri Keraton Agung Sejagat ditangkap Polda Jawa Tengah. Keduanya diduga melakukan penipuan.
0
Ricuh Eksekusi Lahan di Maluku Tengah
Eksekusi lahan di Desa Waai, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Kamis 5 Maret 2020, berakhir ricuh. Dua polisi luka terkena lemparan batu