UNTUK INDONESIA
Raksasa Penghuni Benteng Belanda di Kalimantan Selatan
Oranje Nassau di Kalimantan Selatan menjadi lokasi tambang batu bara pertama yang dibangun Belanda di Indonesia. Lokasi ini dihuni makhluk gaib.
Tambang batu bara tertua Indonesia Oranje Nassau di Kalimantan Selatan pada Senin, 7 Oktober 2019. (foto: Tagar/Mohammad Apriani).

Martapura - Lokasi bekas tambang batu bara peninggalan Belanda yang juga menjadi banteng pertahanan bernama Oranje Nassau di Desa Pengaron, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, sempat disoroti masyarakat sebagai salah satu tempat angker. 

Juru pelihara lokasi ini, Syahdiani membenarkan, sebelum cagar budaya yang dibangun tahun 1849 itu dikelola pemerintah, kondisinya sangat memprihatinkan, sehingga menimbulkan kesan mencekam dan menjadi momok pendatang.

Seperti tumbuh liarnya semak belukar dan rerimbunan pohon besar tinggi menutupi hampir separuh tempat tersebut, membuat fondasi bersejarah luntur, tertutup kesan horor.

Oranje Nassau terletak tak jauh dari permukiman warga. Keberadaannya dianggap angker dan menyeramkan hingga banyak di antara mereka enggan mendekatinya.

Menurut pria paruh baya ini, ketakutan warga untuk merapat bukan tanpa sebab. Di sana ada sosok makhluk gaib raksasa penunggu bangunan tua peninggalan kompeni. Pengalaman mencekam sudah mereka rasakan sendiri.

Konon, bayangan hitam kerap muncul dan menampakkan diri, membuat mereka yang melihat dengan mata telanjang mengibrit ambil langkah seribu.

Apalagi saat itu pohon kariwaya yang dikenal angker dan diyakini sebagai tempat tinggal sosok raksasa yang tumbuh di atas bangunan disingkirkan.

“Dulu salah satu warga di sini pernah melihat sosok menakutkan. Saat itu menjelang senja warga berniat ke sungai. Saat melintasi jalan setapak tiba-tiba dia melihat sosok raksasa hitam berdiri di depan Oranje Nassau dan tanpa pikir panjang langsung lari terbirit-birit,” ujarnya kepada Tagar pada Senin, 7 Oktober 2019.

Pria yang mengenakan gamis lengkap dengan peci putih itu menceritakan, bukan sekali dua kali sosok penunggu bangunan benteng Belanda mengunjukkan diri. Salah satu kisah menyeramkan pernah dia saksikan langsung, menerpa seorang pekerja bangunan pabrik padi di depan Oranje Nassau.

Syadiani menuturkan, tahun 2011 ada salah satu warga lokal yang biasa disapa guru Anang berencana membangun pabrik padi di seberang benteng. Dia dikenal memiliki kelebihan, karena mampu melihat hal-hal gaib.

Saat itu guru Anang menanyakan ke pekerjanya, apakah pernah diganggu makhluk gaib dekat Oranje Nassau. Namun saat itu dia mendapati jawaban sejauh ini aman-aman saja. 

Guru Anang kemudian berlalu meninggalkan para pekerja itu. Namun tiba-tiba saja, saat pekerja sedang memasang atap bangunan, ada tangan misterius yang menepuk bahu. 

Pekerja tersebut lantas menoleh dan menyaksikan tangan raksasa berwarna hitam menggenggam bahunya. Atas kejadian itu seorang pekerja pingsan di tempat, karena makhluk menyeramkan itu tak juga mau melepaskannya.

"Setelah kejadian itu, pekerja tersebut langsung sakit berhari-hari dan tidak berani lagi bekerja di kawasan tersebut,” tutur Syahdiani.

Namun, setelah Oranje Nassau mulai dibersihkan, dikelola oleh pemerintah daerah dan mulai menyedot banyak wisatawan, kejadian-kejadian mistis otomatis tidak terulang. 

Guru Anang dianggap sebagai sosok penting di tempat ini, karena mengetahui tempat yang disukai jin, kemudian dapat melenyapkannya.

“Setelah tempat ini mulai dibersihkan dan dikelola pemerintah daerah sekitar tahun 2012 lalu, kejadian mistis sosok raksasa penunggu tempat ini tidak pernah terdengar lagi. Apalagi saat itu pohon kariwaya yang dikenal angker dan diyakini sebagai tempat tinggal sosok raksasa yang tumbuh di atas bangunan disingkirkan oleh guru Anang,” kata dia.

Tambang Batu Bara Pertama di Indonesia

Oranje Nassau di Kalimantan SelatanPabrik batu bara tertua Indonesia Oranje Nassau di Kalimantan Selatan pada Senin, 7 Oktober 2019. (foto: Tagar/Mohammad Apriani).

Tambang batu bara bawah tanah Oranje Nassau di Kecamatan Pengaron telah ditetapkan menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Ternyata lokasi ini merupakan pertambangan batu bara tertua yang dibangun Belanda di Indonesia, sebelum pertambangan Ombilin di Sawahlunto.

Kendati baru saja ditetapkan. Di bawah pengelolaan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) desa setempat yang menjadi perpanjangan tangan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banjar, Oranje Nassau mulai dilirik wisatawan.

Ekskavasi tahap II tempat ini telah dilakukan pada Oktober 2014. Disbudpar Kabupaten Banjar kala itu sempat membentuk tim gabungan yang terdiri dari Balai Arkeologi (Balar) Banjarmasin, Balai Penelitian Cagar Budaya (BPCB), Pusat Penelitian dan Pengembangan Cagar Budaya Nasional.

Dituturkan arkeolog Balar Banjarmasin, Nugroho Nur Susanto, hasil ekskavasi tahap II yaitu, tim berhasil menemukan sedikitnya 60 lubang angin dan tiga lorong di lokasi ini. 

Nugi, begitu ia akrab disapa, memprediksi masih banyak lagi lubang-lubang angin dan lorong lain, namun kondisinya saat ini sudah tertutup tanah. 

Banyak kapal sangat bergantung dari bahan baku yang dikeruk dari perut bumi dari Tanah Borneo.

Dia meyakini Oranje Nassau Pengaron merupakan lokasi tambang batu bara pertama Indonesia yang dibangun Belanda pada tahun 1848 dan diresmikan satu tahun setelahnya, atau 10 tahun lebih awal sebelum Belanda membangun tambang batu bara Ombilin di Sumatera Barat.

Oranje Nassau Pengaron, dalam catatannya, hanya beroperasi selama 10 tahun, dari 1849 hingga tahun 1859. 

Meski tergolong tambang batu bara kecil, Oranje Nassau sempat memiliki peran strategis dan penting. Sebanyak 10.000 ton batu bara berhasil diangkat dari perut bumi per tahunnya dari tambang ini.

Meneruskan catatan Kanal Kalimantan, tak sekadar dampak ekonomis tetapi juga politis didapat kompeni, karena batu bara yang dihasilkan mampu memenuhi operasional bahan bakar kapal-kapal Belanda bertenaga uap kala itu. 

Selanjutnya, kapal-kapal dagang, bahkan kapal perang yang digunakan Belanda berlayar mengarungi perairan Nusantara, sangat bergantung dari bahan baku yang dikeruk dari perut bumi Tanah Borneo.

Mengingat peran strategis keberadaan Oranje Nassau itulah, kata Nugi, Gubernur Jendral Gallois di Batavia mewanti-wanti dan memberi amanah ke Rokussen, seorang gubernur jendral baru yang membawahi wilayah pantai timur dan selatan Borneo untuk menjaga dan mempertahankan Oranje Nassau.

Oranje Nassau di Kalimantan SelatanPabrik batu bara tertua Indonesia Oranje Nassau di Kalimantan Selatan pada Senin, 7 Oktober 2019. (foto: Tagar/Mohammad Apriani).

Gubernur Jendral Gallois bahkan sempat berkirim surat khusus dengan Rokussen pada 28 September 1849, tepatnya sebelum proses peresmian tambang ini. 

Dalam suratnya Gallois berpesan, selama Kerajaan Banjar menepati janji-janji yang termuat dalam kontrak dan tidak menghalangi kemajuan pertambangan mutiara hitam (batu bara), maka Belanda akan menjalankan politik bersahabat dan melindunginya.

Bahkan, Belanda akan mendukung penuh dan mengangkat kerabat Kesultanan Banjar sebagai raja atau sultan, dengan syarat seluruh wilayah pertambangan Oranje Nassau diserahkan ke tangan Belanda. 

“Permintaan itulah yang kemudian disambut Pangeran Tamjidullah II. Meski Sultan Adam telah mewasiatkan Pangeran Hidayatullah sebagai penerus takhta,” kata Nugi tahun 2017 lalu.

Awal Pemicu Perang Banjar

Oranje Nassau di Kalimantan SelatanPabrik batu bara tertua Indonesia Oranje Nassau di Kalimantan Selatan pada Senin, 7 Oktober 2019. (foto: Tagar/Mohammad Apriani).

Oranje Nassau merupakan salah satu proyek prestisius yang dibangun Belanda. Meski tergolong tambang batu bara kecil, dengan total produksi tak lebih dari 80.000 ton, namun tambang ini memiliki peran ekonomis dan strategis. 

Karena alasan itulah menurut Nugi kompeni rela mati-matian mempertahankannya agar tambang tak jatuh ke tangan rakyat dan para pejuang dari Kesultanan Banjar.

Dia memandang, pengangkatan Tamjidullah II menjadi Sultan Banjar menggantikan Sultan Adam, dilakukan Belanda sebagai salah satu upaya untuk mengamankan Oranje Nassau. 

Perang Banjar, meletus pertama kali di Oranje Nassau Pengaron dan meluas hingga ke daerah hulu Sungai Barito dan Benteng Tabonio.

Terlebih lagi, Tamjidullah II berambisi menggapai takhta kerajaan. Meski sebelumnya, Sultan Adam telah berwasiat bahwa Pangeran Hidayatullah yang layak menjadi penerusnya.

Meski begitu, perlawanan menentang Belanda terus dilakukan rakyat. Utamanya dari kolega kesultanan penentang kolonialisasi, salah satunya adalah Pangeran Antasari. Kejadian ini menyebabkan meletusnya perang Banjar pada 1859.

“Perang Banjar, meletus pertama kali di Oranje Nassau Pengaron dan meluas hingga ke daerah hulu Sungai Barito dan Benteng Tabonio,” kata Nugi.

Perjuangan Urang Banjar bersama suku-suku Dayak kala itu berhasil menenggelamkan satu kapal perang Belanda. Sengitnya perlawanan pejuang pada Perang Banjar memicu kemurkaan Belanda yang berujung dengan pembubaran Kesultanan Banjar pada 1860. 

Aksi bumi hangus dengan pengeboman dilakukan Belanda usai pembubaran Kesultanan Banjar, termasuk tambang batu bara Oranje Nassau.

Oranje Nassau di Kalimantan SelatanPabrik batu bara tertua Indonesia Oranje Nassau di Kalimantan Selatan pada Senin, 7 Oktober 2019. (foto: Tagar/Mohammad Apriani).

Atas pertimbangan nilai sejarah itulah, kata Nugi, tim dari Balai Arkeologi Banjarmasin, Balai Penelitian Cagar Budaya (BPCB), Pusat Penelitian, dan Pengembangan Cagar Budaya Nasional, yang diprakarsai oleh Dinas Kebudayaan Pariwisata Kabupaten Banjar melakukan ekskavasi untuk mengungkap banyak hal.

Dari ekskavasi yang telah dilakukan, Nugi menaruh harapan besar, Oranje Nassau Pengaron suatu saat dapat ditetapkan menjadi salah satu kawasan cagar budaya nasional, seperti halnya penetapan cagar budaya Ombilin di Sawahlunto.

Menurut dia, akan banyak hal positif yang dapat disingkap dan dipelajari dari Oranje Nassau Pengaron. Baik sisi sejarah, ilmu pengetahuan, dan lingkungan. 

Nilai sejarah misalnya, akan dapat menambah panjang catatan tak hanya sejarah nasional, tetapi juga sejarah lokal.

“Bidang ilmu pengetahuan dan lingkungan, dapat diketahui cara penambangan batu bara tempo dulu yang masih sangat memperhitungkan keberlangsungan ekosistem sekitar lokasi tambang," kata dia.

"Cara penambangan batu bara dengan menggali lubang dan terowongan tak akan merusak permukaan atas tanah. Warga masih dapat bercocok tanam apapun termasuk komoditi perkebunan seperti karet,” tuturnya di Kalimantan Selatan. []

Berita terkait
Macan Gaib di Matang Kaladan Kalimantan Selatan
Objek wisata Matang Kaladan di atas Waduk Riam Kanan, Kalimantan Selatan (Kalsel) pariwisatanya sudah maju. Sebelum ramai, kabarnya ada macan gaib.
Batu Balian dan Legenda Dayak di Kalimantan Selatan
Batu Balian di Desa Paau, Kalimantan Selatan, menjadi legenda penduduk sekitar menyoal pertempuran adu kuat ilmu antar suku Dayak.
Cerita Rakyat Nini Randa dari Kalimantan Selatan
Kambang barenteng merupakan hiasan berbahan bunga legenda Nini Randa dari Kerajaan Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).
0
Pengakuan Kompol Sarponi Korban Bom Medan
Dua perwira yang bertugas di Polrestabes Medan, menjadi korban ledakan bom bunuh diri. Salah satunya, sempat tak sadar dirinya kena percikan bom.