UNTUK INDONESIA

Profil RJ Lino, Tersangka Korupsi Pelindo II Dipanggil KPK

RJ Lino tersangka korupsi Pelindo II sejak 15 Desember 2015, tidak pernah ditahan hingga lima tahun kemudian KPK memanggilnya. Ini profilnya.
RJ Lino atau Richard Joost Lino, mantan Direktur Utama PT Pelindo II. (Foto: Tagar/Liputan 6)

Jakarta - Richard Joost Lino akrab disapa RJ Lino, mantan Direktur Utama PT Pelindo II, berstatus tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan "Quay Container Crane" (QCC) di PT Pelindo II. Komisi Pemberantasan Korupsi, Jumat, 26 Maret 2021, memanggilnya untuk penyidikan kasus tersebut. 

Ali Fikri, pelaksana tugas juru bicara KPK mengatakan dalam siaran pers, Jumat, "Yang bersangkutan dipanggil sebagai tersangka."

Komisi Pemberantasan Korupsi terakhir memeriksa RJ Lino tanggal 23 Januari 2020. RJ Lino sampai saat ini belum ditahan meskipun telah ditetapkan sebagai tersangka pada 15 Desember 2015. 

KPK masih menunggu audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas kerugian negara dalam pengadaan QCC tersebut. KPK juga mengakui bahwa lamanya penyidikan RJ Lino sebagai utang perkara yang mendapat perhatian publik.

Nawawi Pomolango, Wakil Ketua KPK, beberapa waktu lalu mengatakan, "KPK saat ini telah menerima perhitungan kerugian negara dari BPK terkait dengan pemeliharaan dan saat ini, BPK dalam proses melakukan perhitungan kerugian negara untuk pengadaan dari QCC oleh PT Pelindo II."

RJ Lino ditetapkan KPK sebagai tersangka karena diduga memerintahkan pengadaan tiga QCC dengan menunjuk langsung perusahaan HDHM (PT Wuxi Hua Dong Heavy Machinery. Co.Ltd.) dari China sebagai penyedia barang.

Yang bersangkutan dipanggil sebagai tersangka.


Menurut KPK, pengadaan tiga unit QCC tersebut tidak disesuaikan dengan persiapan infrastruktur yang memadai - pembangunan power house - sehingga menimbulkan inefisiensi atau dengan kata lain pengadaan tiga unit QCC tersebut sangat dipaksakan dan suatu bentuk penyalahgunaan wewenang dari RJ Lino selaku Direktur Utama PT Pelindo II demi menguntungkan dirinya atau orang lain.

Analisa perhitungan ahli teknik dari Institut Teknologi Bandung menyatakan analisa estimasi biaya dengan memperhitungkan peningkatan kapasitas QCC dari 40 ton menjadi 61 ton, serta eskalasi biaya akibat dari perbedaan waktu terdapat potensi kerugian keuangan negara sekurang-kurangnya 3.625.922 dolar AS, atau sekitar Rp 50,03 miliar berdasarkan Laporan Audit Investigatif BPKP atas Dugaan Penyimpangan Dalam Pengadaan 3 Unit QCC Di Lingkungan PT Pelindo II (Persero) Tahun 2010 Nomor: LHAI-244/D6.02/2011 Tanggal 18 Maret 2011.


Profil RJ Lino

Richard Joost Lino atau ada yang memanggilnya RJ Lino lahir di Ambon, 7 Mei 1953. Lino yang semasa kecilnya akrab dipanggil "Manneke" ini adalah insinyur sipil dari Institut Teknologi Bandung yang menjadi Direktur Utama PT Pelindo II (Persero) sejak 2009 hingga 2015.

Lino mengawali kariernya di PT Pelindo II (Persero) sebagai staf di Direktorat Jenderal Hubungan Laut, Departemen Perhubungan, pada tahun 1978. Di sini Lino, pada 1978-1979, dipercaya menjadi manajer proyek pembangunan Pelabuhan Tanjung Priok atas dana Bank Dunia. Sejak itu hingga 1990 Lino membina karier di PT Pelindo II.


RJ LinoRJ Lino atau Richard Joost Lino, mantan Direktur Utama PT Pelindo II. (Foto: Tagar/kbr.id)


Prestasi Lino selama berkarier di PT Pelindo II (Persero) dinilai cukup baik. Lino dipilih memimpin PT Pelindo II sejak 2009. Dalam posisi sebagai Direktur Utama, Lino menorehkan kontribusi luar biasa. Dia berhasil menambah keuntungan bersih PT Pelindo sebesar Rp 1,26 triliun atau meningkat 32,92 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurutnya, proyek-proyek besar bernilai triliun rupiah yang dikerjakan PT Pelindo II (Persero) sangat tergantung pada project human resources. Untuk mewujudkan harapannya itu, pada rentang tahun 2009-2012, ia mengirimkan 100 pegawai Pelindo II untuk mengambil program master degree di luar negeri seperti Belanda, Belgia, Inggris, Swedia, dan China.

Kebijakan lainnya, yang dianggap berhasil membawa PT Pelindo II (Persero) meraih keuntungan adalah kebijakan pengembangan sistem teknologi komunikasi dan informasi yang terpusat dan terintegrasi, yang dalam penilaian orang telah menyebabkan “the company’s better performance”.

Pencapaian panjang Lino tersebut didukung juga dengan latar belakang pendidikannya yang sarat ilmu pengetahuan yang beragam. Lino menyelesaikan pendidikan diplomanya di bidang hydraulic, di Belanda. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke India, Jepang, Amerika Serikat, hingga mendapatkan gelar Master of Business Administration, Institute for Education and Development of Management (IPPM) di Jakarta.


Profil PT Pelindo II

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau sering dikenal dengan Pelindo II adalah Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dibidang logistik, secara spesifik pada pengelolaan dan pengembangan pelabuhan. Saat ini Pelindo II mengoperasikan 12 Pelabuhan di 10 Provinsi Indonesia dari Sumatera Barat hingga Jawa Barat.

Pelindo II menjadi salah satu BUMN strategis di mana seluruh pelabuhan yang dikelola memiliki posisi yang signifikan dalam keterhubungan jaringan perdagangan internasional berbasis transportasi laut. 


Pelindo IIAktivitas bongkar muat peti kemas dengan latar depan Gedung PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau Pelindo II di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu, 24 November 2019. (Foto: Tagar/Antara/Andika Wahyu)


Perusahaan yang dibentuk Pemerintah sejak tahun 1960 ini telah berubah status usaha dari PN sejak pendiriannya berlanjut menjadi Perum pada tahun 1983 dan akhirnya menjadi Perseroan Terbatas pada tahun 1992. 

Perubahan status usaha itu tak lepas dari gegap gempitanya Pelindo II untuk menjalankan fungsinya sebagai pelaksana teknis kegiatan logistik di bidang kepelabuhanan, yaitu membangun Pelabuhan terbesar di Indonesia, Tanjung Priok. Pencapaian sukses pernah diraih perusahaan ini sebagai The Best Port Practices in Asia-Pacific Region pada Tahun 1980-an. 

Ada masa akibat tidak adanya perkembangan signifikan dalam kegiatannya membuat Pelindo tertinggal dan terkucil, tapi Pelindo II tidak malu menghadapi perubahan dan bergerak bersama dengan perubahan. Pelindo II pun berubah, kawasan pelabuhan diperluas, fasilitas pelabuhan diperbarui dan tata kelola manajemen perusahaan dirombak total untuk menciptakan gerak usaha yang lebih adaptabel, resilien dan progresif dalam perkembangannya sebagai pengelola pintu perdagangan Indonesia. 

Setelah menjalani serangkaian penataan, revitalisasi dan transformasi, Pelindo II hadir menjadi pengelola dan pengembang kegiatan logistik, tidak sekadar pelabuhan tapi juga berbagai usaha yang terkait dengan logistik sebagai energi perdagangan Indonesia.


Lima Tahun Berlalu

RJ Lino masih Direktur Utama PT Pelindo II pada awal Desember 2015. KPK menetapkan RJ Lino sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan "Quay Container Crane" (QCC) di PT Pelindo II pada 15 Desember 2015.

Lima tahun berlalu sejak status tersangka tersebut RJ Lino tidak pernah ditahan KPK, dengan alasan KPK belum mendapatkan cukup bukti. Hingga pada hari Jumat, 26 Maret 2021 KPK memanggil RJ Lino untuk diproses lebih lanjut.




Berita terkait
Gubsu Edy Ajak Pelindo Beresi Kampung Kumuh Belawan
Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi menegaskan bahwa kehadiran Pelindo I harus bisa membangun dan mensejahterakan masyarakat Belawan.
Pelindo II Targetkan Pertumbuhan Kinerja Operasional di 2021
PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) sampaikan pihaknya targetkan pertumbuhan kinerja operasional di tahun 2021.
Respons KPK Terkait Praperadian MAKI Soal RJ Lino Ditolak
Respons KPK terkait praperadian MAKI soal RJ Lino ditolak. “Pada prinsipnya KPK sudah tegaskan bahwa argumentasi penghentian secara materil tersebut keliru," ungkap Febri Diansyah.
0
Profil RJ Lino, Tersangka Korupsi Pelindo II Dipanggil KPK
RJ Lino tersangka korupsi Pelindo II sejak 15 Desember 2015, tidak pernah ditahan hingga lima tahun kemudian KPK memanggilnya. Ini profilnya.