UNTUK INDONESIA
Prevalensi Diabetes di Yogyakarta Tertinggi di DIY
Diabetes melitus atau lebih dikenal sebagai penyakit gula diderita banyak warga Kota Yogyakarta yang berumur di atas 15 tahun, prevalensinya tinggi
Ilustrasi cek kadar gula darah (Foto: myinsuranceclub.com)

Yogyakarta - Prevalensi penyakit diabetes melitus (DM), dikenal juga sebagai penyakit gula, yang diderita oleh warga berusia di atas 15 tahun di Kota Yogyakarta jadi yang tertinggi di DI Yogyakarta. Untuk itu Dinas Kesehatan setempat melakukan berbagai upaya agar prevalensi tidak semakin meningkat.

Data Badan Kesehatan Sedunia PBB (WHO) menunjukkan sekitar 422 juta warga dunia menderita diabetes, terutama di negara-negara dengan penghasilan rendah dan menengah.

Diabetes adalah penyakit kronis, yang terjadi ketika pankreas tidak memproduksi insulin yang cukup, atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin yang dihasilkan tubuh. Hal ini menyebabkan peningkatan konsentrasi glukosa dalam darah (hiperglikemia).

Diabetes tipe 1 (sebelumnya dikenal sebagai diabetes yang bergantung pada insulin atau diabetes pada masa kanak-kanak) ditandai dengan kurangnya produksi insulin. Sedangkan diabetes tipe 2 (sebelumnya disebut diabetes yang tidak bergantung pada insulin atau yang timbul saat dewasa) disebabkan oleh penggunaan insulin yang tidak efektif oleh tubuh. Ini sering hasil dari kelebihan berat badan dan aktivitas fisik. Ada lagi diabetes gestasional adalah hiperglikemia yang pertama kali dikenali selama kehamilan.

“Salah satu pemicu penyakit ini (diabetes-Red.) adalah gaya hidup yang kurang sehat karena tidak menjalankan pola makan yang baik dan kurang olahraga,” kata Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Iva Kusdyarini, di Yogyakarta, Minggu, 17 November 2019, seperti dilaporkan Antara.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes RI pada tahun 2018, prevalensi diabetes melitus berdasarkan hasil diagnosis dokter pada penduduk berusia lebih dari 15 tahun mencapai 4,79 persen. Angka tersebut bahkan meningkat dibanding hasil riset lima tahun sebelumnya atau pada 2013 yaitu 3,4 persen. “Prevalensi ini didasarkan pada hasil diagnosis dokter, bukan hasil dari responden saat ada cek kesehatan. Angkanya pasti berbeda,” katanya.

Jika dibanding rata-rata nasional, maka prevalensi penderita diabetes melitus di Kota Yogyakarta mencapai lebih dari dua kali lipat dibanding prevalensi nasional yaitu dua persen. Sedangkan prevalensi diabetes tertinggi di Indonesia ada di wilayah DKI Jakarta. Prevalensi diabetes di Jakarta berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 meningkat dari 2,5% jadi 3,4% dari total 10,5 juta jiwa penduduk DKI Jakarta atau sekitar 250.000 penduduk di DKI Jakarta menderita diabetes.

Secara nasional, prevalensi penderita diabetes juga hanya mengalami kenaikan 0,5 persen dibanding hasil riset lima tahun sebelumnya. Diabetes sendiri merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan stroke.

Berdasarkan data terbaru Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) Kemenkes RI tahun 2018, prevalensi diabetes di Indonesia naik dari 6,9 persen di tanun 2013 jadi 8,5 persen di tahun 2018.

Menurut Iva, salah satu upaya pencegahan yang bisa dilakukan agar terhindar dari risiko menderita diabetes melitus adalah dengan menerapkan pola hidup sehat, terlebih Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta juga intensif menyosialisasikan gerakan masyarakat hidup sehat.

“Sekali lagi, pola makan sehat dan olahraga menjadi salah satu kunci untuk mengurangi faktor risiko menderita penyakit tidak menular ini,” kata Iva.

Selain diabetes melitus, sejumlah penyakit tidak menular yang juga memiliki prevalensi cukup tinggi di Kota Yogyakarta adalah hipertensi yang mencapai 9,94 persen.

Sebelumnya, dalam peringatan Hari Kesehatan Nasional dan Hari Diabetes Sedunia, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menggelar berbagai kegiatan seperti senam massal, pemeriksaan kesehatan dan talkshow.

Perwakilan Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) DIY Bowo Pramono mengatakan, pencegahan diabetes melitus dapat dimulai dengan mengenal berbagai faktor risiko penyakit tersebut di antaranya kolesterol tinggi, berat badan, dan usia.

Sedangkan bagi penderita diabetes militus bisa melakukan langkah dengan mengatur jenis, jadwal dan jumlah asupan makanan yang masuk ke tubuh.

Ia pun menyarankan penderita untuk rutin berolahraga atau menggerakkan badan, misalnya dengan rutin berjalan kaki, atau sekadar menjalankan olahraga ringan lain. []

Berita terkait
Indonesia Masuk 10 Besar Negara Diabetes Terbanyak
Siapa sangka Indonesia termasuk negara dengan penderita diabetes terbanyak di dunia. Berikut fakta-fakta penting terkait diabetes wajib Anda tahu.
Mengenali Gejala dan Jenis Diabetes
Diabetes adalah penyakit yang berlangsung lama atau kronis serta ditandai dengan kadar gula (glukosa) darah yang tinggi.
Waspadai Bahaya Diabetes Melitus di Usia Muda
Riwayat diabetes pada keluarga, pubertas, perempuan, dan pertumbuhan janin yang terhambat dapat meningkatkan terjadinya diabetes.
0
Bappenas: Indonesia Memerlukan Tata Kelola Perikanan yang Terintegrasi
Bappenas menggelar Workshop Perikanan Berkelanjutan dalam Mendukung Percepatan Pembangunan Ekonomi Nasional, di Bali, 11-12 Desember 2019.