UNTUK INDONESIA
Presiden Iran Hassan Rouhani dan Kebijakan Corona
Hassan Rouhani menyatakan negerinya menghadapi kasus virus corona Covid-19 dengan persatuan. Ini kebijakan dan profil Presiden Iran tersebut.
Presiden Iran, Hassan Rouhani. (Foto: Istimewa)

Jakarta - Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan kasus virus corona Covid-19 di negerinya mulai mengalami tren penurunan secara bertahap. Meski demikian ia memperingatkan bahwa pandemi penyakit itu belum dapat dikendalikan.

"Bangsa kita telah berhasil mencapai tujuannya, meskipun ada kesulitan, Iran akan mengatasi virus corona dengan persatuan," kata Hassan Rouhani, seperti dikutip Aljazeera.

Sejak mengumumkan kematian pertama akibat virus corona pada 19 Februari 2020, Iran mengambil langkah-langkah untuk mencegah penyebaran virus corona. Apalagi setelah banyak pejabat Iran yang juga terinfeksi virus.

Data peta global hingga Selasa, 7 April 2020, pukul 1930, menunjukkan Iran dengan kasus corona Covid-19 terkonfirmasi positif sebanyak 62.589 orang, di antaranya 3.872 meninggal, 27.039 sembuh, selebihnya sedang dalam perawatan. 

Rouhani mengaku tidak ada rencana untuk melakukan karantina seluruh kota di negara tersebut. Bahkan, Qom, kota yang menjadi pusat penyebaran virus, tempat-tempat suci keagamaan masih dibuka. Situs suci Hazrat Masumeh yang paling dihormati, dikunjungi jutaan peziarah muslim Syiah setiap tahun dari seluruh dunia

Tetapi, pemerintah mengimau orang-orang untuk menghindari berbagai pertemuan, dan diminta tidak melakukan perjalanan ke Qom, namun tempat-tempat keagamaan itu sama sekali tidak ditutup. 

Petugas yang menjaga Hazrat Masumeh mengatakan kalangan yang berkunjung ke sana menganggap tempat itu sebagai sumber pemulihan dan penyembuhan sehingga tidak dapat ditutup.

"Penutupan tempat suci ini akan menjadi langkah besar bagi para ulama dan bukan hal yang akan mereka lakukan, kecuali mendapat tekanan internasional," kata Rana Rahimpour, dari BBC Persia.

Polisi di Teheran telah melarang penggunaan pipa shisha di kedai-kedai kopi dan tempat minum teh di seluruh kota. Pipa-pipa ini sering dihisap secara komunal dan diteruskan dari orang ke orang.

Di provinsi-provinsi yang terkena dampak, sekolah dan universitas telah ditutup dan berbagai pertandingan olah raga, pameran-pameran serta pemutaran perdana film dibatalkan.

Profil Hassan Rouhani

Hassan Rouhani lahir 12 November 1948 di Sorkheh, sebuah kota di provinsi Semnan Iran utara. Nama kecilnya adalah Hassan Feridon. Rouhani lahir dari keluarga religius. Almarhum ayahnya, Haj Asadollah Fereydoun, adalah seorang pemilik toko rempah di Sorkheh. Sedangkan ibunya, tinggal di Semnan bersama putri dan menantunya hingga kematiannya pada 2015.

Iran akan mengatasi virus corona dengan persatuan.

Presiden Iran Hassan RouhaniPresiden Iran Hassan Rouhani. (Foto: Istimewa)

Rouhani menempuh pendidikan di Fakultas Hukum, Universitas Teheran dan lulus pada tahun 1972. Pada kampanye pemilihan presiden, ia mengungkapkan selama kuliah ia harus membayar sekolahnya sendiri yang secara otomatis membetuk karakternya. Setelah lulus, ia mengabdikan dirinya penuh untuk Iran dan mendeklarasikan diri sebagai anti-Shah dan mendukung Khomeini. 

Pada 1973, Rouhani bergabung dengan dinas militer di kota Nishapur, dan beberapa tahun kemudian, ia kembali melanjutkan pendidikannya di Glasgow Caledonian University, Skotlandia, dan lulus pada 1995 dengan gelar Master of Phiposophy (M.Phil) pada bidang hukum, dan gelar Ph.D pada bidang hukum konstitusi (1999).

Pada tahun 1977, ia bersama Khomeini harus mengungsi ke Paris, Prancis karena tekanan penguasa saat itu. Di sana, ia menyuarakan dengan lantang perlawanannya di depan kelompok mahasiswa di Eropa. Ia kembali dengan Khomeini ke Iran setelah revolusi 1979 dan bergabung dengan pemerintah.

Menurut biografi resminya, ia menghabiskan waktunya pada pemerintahan awal di sektor pertahanan, melayani Dewan Pertahanan Agung sebelum memimpin Dewan Tinggi untuk Mendukung Perang selama perang Iran/Irak. Dia naik menjadi wakil komandan perang dan akhirnya diangkat menjadi wakil komandan dari Angkatan Bersenjata pada tahun 1988. 

Pada tahun 2000, ia terpilih menjadi anggota lembaga keagamaan, Majelis Ahli, yang memilih Ayatollah. Pada tahun 2003 ia diangkat menjadi perunding nuklir Iran, satu-satunya ulama pertama yang memegang peran itu, karena ia produktif, ia mendapatkan julukan “syekh diplomat.” 

Dalam suatu konferensi pers, tepatnya satu hari setelah terpilih sebagai presiden, Rouhani kembali menegaskan janji-janjinya politiknya di hadapan masyarakat Iran, di antaranya mengkalibrasi ulang hubungan Iran dengan seluruh negara dunia, membuat Iran menjadi negara yang lebih terbuka, memperbaiki posisi Iran secara internasional, dan menawarkan transparansi nuklir guna memulihkan kepercayaan internasional.

Seorang pengawal revolusi, Mayor Jenderal Mohammad Jafari pernah mengkritik pemerintahan Rouhani. Menurutnya, sistem dan prosedur administrasi Iran sudah mulai terinfeksi doktrin Barat. Hal tersebut akan berakibat fatal bagi revolusi, khususnya pada arena politik. Namun, tampaknya masyarakat Iran masih mempercayai Iran di bawah kepemimpinan Rouhani. Alhasil ia kembali terpilih pada 2017 dengan jumlah suara yang bahkan lebih besar dari pemilu sebelumnya. 

Partai politik

  • Asosiasi Rohaniawan Kombatan
  • Partai Republik Islam (1979–1987)

Pasangan

  • Sahebeh Rouhani (m. 1969)

Almamater

  • Universitas Kaledonia Glasgow (Ph.D., M.Phil.)
  • Universitas Tehran (B.Sc.)
  • Qom Hawza

Karier

  • Pengacara
  • Profesor riset
  • Penulis. []

Baca juga:

Berita terkait
Tung Desem Waringin Positif Covid-19, Ini Profilnya
Pakar marketing dan motivator Tung Desem Waringin dinyatakan positif terjangkit penyakit Covid-19. Lebih dua minggu setelah tes. Ini profilnya.
Profil Naek L Tobing, Meninggal Usai Positif Corona
Seksolog Naek L. Tobing mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Senin, 6 April 2020 pukul 10.15 WIB.
Profil Syarif Hidayat, Penemu Ventilator Pasien Covid-19
Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Dr. Syarif Hidayat penemu ventilator untuk pasien Covid-19 yang sulit bernapas. Ini profilnya.
0
Gara-gara Handphone Suami Tega Bunuh Istri di Bandung
Hanya masalah handphone, seorang suami di Bandung tega membunuh istrinya yang sedang hamil tujuh bulan.