Oleh: Denny Siregar*

Saya yakin, banyak pendukung Jokowi yang khawatir menonton debat semalam, termasuk saya.

Performa KH Ma'ruf Amin sebagai pendamping Jokowi, jujur bukan sesuatu yang bisa dibanggakan saat awal Jokowi memilihnya. Selain beliau sudah sepuh, tidak tampak hal yang bisa dibanggakan jika beliau harus debat di panggung.

Apalagi melawan Sandiaga Uno yang tampak muda, segar dan berpengetahuan.

Tetapi ternyata kekhawatiran itu hilang seketika, ketika menonton Kiai menjabarkan program-program Jokowi dengan tenang dan jelas. Bahasa-bahasa yang dipakai pun bahasa milenial, mulai decacorn, black chain, cyber university dan lain-lain. Sandi langsung tampak tua dan ketinggalan zaman ketika mengeluarkan dompet dan ktpnya.

Kebanting sudah.

Pada waktu menjadi pembicara di sebuah kota, seseorang bertanya kepada saya, "Kenapa Jokowi memilih seorang Wakil yang tidak banyak orang suka? Apa yang bisa dibanggakan dari seorang KH Ma'ruf Amin untuk mengangkat namanya?"

Bedakan antara rasa suka dan tidak dengan strategi yang tepat. Anda, saya dan mungkin banyak orang bisa pernah tidak suka kepada sang Kiai. Tetapi sebuah strategi membutuhkan waktu yang tepat dan orang yang tepat pula. Pada situasi sekarang, KH Ma'ruf Amin, harus diakui adalah orang yang tepat, terlepas dari ketidaksukaan kita padanya.

Saya sempat terdiam sejenak. Mengingat bagaimana saya pernah bertentangan dengan KH Ma'ruf Amin saat Pilgub DKI kemarin. Ada hal yang tidak bisa saya hilangkan dari peristiwa yang menyakitkan banyak orang.

Kuseruput secangkir kopi, sebelum menenangkan diri dan mulai menjawab.

"Bedakan antara rasa suka dan tidak dengan strategi yang tepat. Anda, saya dan mungkin banyak orang bisa pernah tidak suka kepada sang Kiai. Tetapi sebuah strategi membutuhkan waktu yang tepat dan orang yang tepat pula. Pada situasi sekarang, KH Ma'ruf Amin, harus diakui adalah orang yang tepat, terlepas dari ketidaksukaan kita padanya.

Jokowi membutuhkan seorang pendamping ulama, untuk meredam semua isu bohong tentang PKI, tentang agama, yang dihantamkan padanya. Dan ia berhasil. Akhirnya, isu itu menghilang dengan sendirinya, seiring dengan kepercayaan orang yang tumbuh karena mulai tidak percaya hoaks yang selama ini didoktrinkan pada mereka.

Dengan menggandeng Kiai, Jokowi juga berhasil merangkul Nahdlatul Ulama, organisasi Islam besar dalam satu barisan. Ini penting bagi Jokowi, karena lawan politiknya menggunakan kelompok Islam fundamental dan HTI untuk menghancurkan namanya.

Kiai Ma'ruf Amin, selain ia menguasai permasalahan ekonomi syariah, ia menguasai pembangunan sumber daya manusia berbasis pesantren, ia juga seorang ulama. Jokowi membutuhkan pendamping yang tepat untuk menjaganya menggolkan banyak program pembangunan Indonesia ke depan."

Dan benar ternyata. Kepiawaian Jokowi dalam memilih bidak-bidak catur, langsung teruji. Perlahan-lahan namanya menguat kembali.

Bahkan survei terbaru SMRC mengatakan, perbedaan elektabilitas Jokowi dan Prabowo semakin besar. Suara untuk Jokowi naik karena ia dipercaya sebagai pemimpin yang selain tegas, visioner juga relijius, dan Prabowo malah terstigma sebagai sarang hoaks.

Penampilan Kiai Ma'ruf Amin dalam debat kemarin malam, seakan menguatkan posisi Jokowi menjadi leader dalam pilpres mendatang. Dan Prabowo cuma bisa menghadang dengan joget-joget untuk menarik perhatian sambil pakai sarung tangan.

Pilpres memang masih sebulan lagi. Tetapi rasanya, "Malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya."

Seruput....

*Denny Siregar penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga: