Jakarta, (Tagar 20/3/2019) - Peneliti dari Seven Strategic Studies Girindra Sandino mengatakan gaya komunikasi politik calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno bak saudagar atau pedagang multi level marketing (MLM). 

"Dia mengklaim kasus-kasus dari nama-nama fiktif. Entah benar atau tidak atau mungkin lupa nama, tapi dia ingin menunjukkan bahwa dia ingin melakukan manuver-manuver komunikasi politik untuk menarik simpati secara kolektif dari contoh-contoh yang dia pernah turun di suatu daerah," ujar Girindra Sandino kepada Tagar News dalam wawancara tertulis, Selasa malam (19/3).

Pemimpin politik yang layak memimpin negara harus lahir di tengah-tengah rakyat, atau pergolakan. Sandi tidak memiliki itu. Berbeda dengan Jokowi, lebih konkret. Singkatnya semakin terbentur, terbentur, terbentuk!

Namun ironinya, lanjut Girindra, "Yang dia bilang nama fiktif. Seharusnya dicatat, sayang buang-buang duit kampanye tapi karakteristik daerah yang didatangi tidak diidentifikasi secara serius persoalan di daerah tersebut."

"Nah, ini sangat berpengaruh terhadap seorang yang akan bermimpi menjadi pemimpin atau pejabat publik. Sandi memang seorang pemimpin, tapi di perusahaan," kata Girindra.

"Proses interaksi dan tumbuh dari proses belajar. Konseptualisasi kepemimpinan sebagai proses intra individual, dyadic, kelompok, proses organisatoris. Pemimpin politik yang layak memimpin negara harus lahir di tengah-tengah rakyat, atau pergolakan. Sandi tidak memiliki itu. Berbeda dengan Jokowi, lebih konkret. Singkatnya semakin terbentur, terbentur, terbentuk!" ujar Girindra pula.

Sandiaga UnoNama-nama yang Disebut Sandi, Fakta atau Fiktif?

Sementara itu, Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo mengatakan, calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno gemar menyebut nama orang dari kalangan bawah untuk menguatkan pendapatnya, untuk meraih simpati calon pemilih, merupakan upaya untuk menarasikan kekurangan pemerintah dari segi mikro.

"Ya saya pikir Sandiaga berusaha untuk menarasikan kekurangan pemerintah dari segi mikro, yakni implementasi kebijakan yang tidak merata," tutur Wasisto Raharjo Jati kepada Tagar News, Selasa (19/3).

Wasisto mengatakan, cara Sandi itu tidak akan berpengaruh pada tingkat elektabilitas pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

"Saya rasa satu sampling tidaklah cukup untuk mengubah suara secara drastis, kecuali sampling tersebut adalah 'korban' ketidakadilan kebijakan," ujarnya.

Dalam debat cawapres Minggu (17/3), Sandiaga Uno di antaranya meminjam nama wanita asal Sragen, Liswati.

"Saya teringat kisah Ibu Lis di Sragen, dimana pengobatannya harus disetop karena BPJS tidak lagi meng-cover. Di bawah Prabowo-Sandi, kami pastikan dalam 200 hari pertama, akar permasalahan BPJS dan JKN kita selesaikan," kata Sandi saat debat.

Senada dengan Wasisto, pengamat politik Juliaman Saragih juga mengatakan bahwa membawa nama-nama orang kecil tidak akan berpengaruh pada tingkat elektabilitas paslon 02.

"Jelas tidak ada kaitan antara elektabilitas Paslon 2 dengan penyebutan nama seperti Ibu Liswati. Penyebutan nama-nama tersebut hanyalah penanda atau bukti dari perjalanan kampanye Paslon 2," ujar Juliaman Saragih kepada Tagar News, Selasa (19/3).

Ia mengatakan, justru hal tersebut menjadi pertanyaan bagi masyarakat Indonesia, pasalnya jika nama-nama yang disebut benar sesuai fakta harusnya diikutsertakan juga dalam debat cawapres yang telah berlangsung.

"Masalahnya, jika nama-nama yang disebut benar sesuai fakta, kenapa paslon 2 tidak mengundang orang tersebut hadir sebagai peserta saat debat?" tutur Juliaman Saragih. []

Baca juga: